Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 : Malam pertama
Acara selesai, masing-masing tamu juga sudah pulang termasuk Acha dan Via. Hanya tersisa Dewi, sang ibunda yang kayaknya emang sengaja buat menginap di sana.
"Ya ampun, ternyata dia enggak pulang dong!" Risa tepok jidat melihat ibunya gak pulang. Dia malah asik ngopi di ruang tamu.
"Ma, kenapa gak pulang?" Tanya Risa dengan nada sedikit kayak orang ngusir.
"Mama mau mastiin kalian bener-bener satu kamar, gak ada acara kabur-kaburan," jawab Bu Dewi kayanya udah insting anak dan menantunya bakalan pisah ruangan.
Risa dan Rio akhirnya saling berpandangan.
"Ibu lu kayak dukun, kok bisa nebak dah?" Ucap batin Rio yang berusaha ngomong itu dari mata ke mata.
"Kenapa lu malah melototi gue??? Mana gue tahu nyokap gue bakalan nginep!" Balas Risa secara batin yang kayak nyambung sama otak mereka. Satu server berarti.
"Kalian ngapain berdiri di situ? Masuk kamar sana, Mama mau minum kopi sambil nonton dracin kesukaan Mama. Sana-sana, masuk kamar." Ia mengusir keduanya untuk segera ke kamar.
...****************...
Keduanya gak punya pilihan selain mengikuti ucapan wanita tersebut.
Begitu masuk ke kamar Risa langsung melempar bantal dan guling di atas ranjang ke arah Rio.
"Ranjang buat gue, Lu tidur di bawah!" Ketusnya yang langsung berjalan menuju ke arah lemari pakaian.
"Jangan lihat sini, gue mau ganti baju!" Ia menatap Rio tajam sebagai isyarat.
"Siapa juga yang tertarik buat ngintip...," Gumam Rio sambil berbalik membelakangi Risa.
"Apa lu bilang barusan?" Risa nyolot tiba-tiba.
"Udah ganti baju sana, gua gak bakal liat!" Ujar Rio mencoba alihin topik dari pertanyaan Risa yang tadi.
"Gak, lu barusan bilang apa?" Risa kekeh dengan pertanyaan yang sama.
"Elah, bawel banget sih, ngapain dibahas?" Rio membatin lelah.
"Kalo gue tanya dijawab, lu bilang apa tadi?" Risa berjalan ke arah Rio yang masih membalikkan badan.
"Gak ada, gua gak bilang apa-apa, lu salah denger!" Rio berusaha mengelak, tapi tubuhnya malah ditarik dari belakang.
"Jangan lu kira gue enggak denger ya!" Risa menarik pundak pemuda itu untuk menghadap ke arahnya. "Lu bilang kalau lu gak tertarik 'kan?"
"Itu denger, kenapa masih nanya lagi? Maunya apaan sih?" Rio cuma bisa menggerutu dalam hati. Heran dia sama kelakuan Risa.
"Ya maaf, saya salah bicara Bu," ujar Rio yang kini berusaha memakai bahasa yang sopan dan langsung meminta maaf.
"Gak, maksud lu apaan ngomong begitu? Lu remehin gue, pakai bilang enggak tertarik?" Kayanya Risa gak terima banget sama omongan Rio. Dia ngerasa direndahin.
"Arghhh, maunya apaan sih? Jujur salah, minta maaf salah, pusing gua!" Batin Rio udah frustasi akut. Rasanya dia pengen banget ngibarin bendera putih tanda menyerah.
"Terserahlah." Rio cuek akhirnya memutuskan pergi keluar kamar, daripada dia pusing menghadapi Risa yang enggak jelas maunya apa.
Namun, begitu pintu kamar terbuka, di depan sudah ada Dewi yang bisa-bisanya duduk persis di depan pintu kamar mereka. Wanita itu lagi duduk di atas bangku sambil minum kopi, lengkap pakai meja kopi segala.
"Mau kemana Rio?" Tanyanya sambil tersenyum aneh.
"Mau ke kamar mandi Tante," jawab Rio nyari alasan doang.
"Oh, ke kamar mandi sambil bawa bantal dan guling?" Ia melirik ke arah dua benda yang sedang dibawa Rio.
"Enggak kok, lupa aja tadi, hehehe...." Rio gak pakai mikir langsung membuang bantal dan guling itu kembali ke dalam kamar. "Misi, Tante...," ucapnya kemudian yang langsung pelan-pelan pergi menuju kamar mandi.
...****************...
Rio akhirnya terpaksa kembali ke kamar karena dipantau oleh sang mertua. Di luar dia diperhatikan oleh Bu Dewi sementara di kamar dia harus berurusan sama Risa yang lagi ngambek soal perkara kecil.
"Susah bener jadi cowok!" Ujar batinnya merenungi nasib.
"Kenapa lu masuk lagi?" Risa masih saja ketus. Ia melirik Rio yang baru saja membuka pintu dan masuk.
"Emak lu nungguin di depan kayak satpol PP!" Balas Rio cepat. Sekilas tadi ia masih melihat wanita itu berjaga, memastikan Rio kembali lagi ke kamar.
"Emang gitu dia, untuk sementara biarin aja dulu sampai dia yakin," jawab Risa yang memang pastinya sudah hapal sama watak dari Dewi, ibunya sendiri.
Rio gak menjawab, dia cuma garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Bingung. Tapi yah, pada akhirnya dia memilih untuk istirahat, besok dia harus sekolah.
Dengan perasaan malas Rio memungut bantal dan gulingnya yang tercecer gak beraturan di lantai, merapihkan nya menjadi satu, lalu dia pun memposisikan dirinya dengan nyaman untuk tidur di bawah, tepatnya di atas karpet coklat muda di bawah ranjang itu.
Risa setelah melihat Rio benar-benar tidur di bawah merasa agak lega (mungkin juga kasihan). Tapi mau bagaimana lagi? Dia gak bisa tidur bareng sama pemuda yang notabene adalah salah-satu muridnya di sekolah. Selain itu, hatinya, kalau mau jujur, dia masih berharap kepada Dion.
...****************...
Paginya suasana kamar menjadi gaduh karena Dewi mengetuk pintu mereka dan ingin masuk.
Tok
Tok
Tok
"Risa! Rio! Sudah pagi! Ayo bangun, kita sarapan sama-sama!"
Tapi tak ada jawaban. Karena enggak ada respon dari dalam, Dewi akhirnya inisiatif buat ngecek ke dalam dengan memakai kunci cadangan. Yap, ternyata dia bikin kunci cadangan ruangan kamar anaknya sendiri dong! Sungguh sangat (tidak) patut ditiru.
Keributan kecil di luar tentu mengusik mimpi indah Risa.
"Siapa sih, pagi-pagi berisik banget?" Gumamnya sambil mengucek-ngucek mata dan menoleh ke arah pintu kamar.
"Itu emak lu sendiri! Dia kayanya mau masuk deh!" Rio ternyata udah bangun, dan panik menatap ke arah pintu.
"Hah, emang bisa?" Risa terlonjak dari tempat tidur.
"Lah, lu liat aja sendiri itu pintunya gerak!" Rio dengan polosnya nunjuk ke arah pintu kamar.
"Gawat!" Risa gak punya banyak waktu. Buru-buru dia menarik Rio yang sedang berdiri jatuh ke atas tempat tidurnya.
Brukh...!
Pemuda itu terjatuh ke belakang akibat tarikan dari Risa yang bikin dia kini terlentang di atas tempat tidur.
"Ssst! Jangan sampai nyokap tahu kalau semalaman kita pisah ranjang!" Risa menarik tubuh Rio lebih ke atas lagi biar posisinya pas.
Setelah itu Risa langsung tidur tepat di sebelah Rio, memeluk lengannya dengan mesra.
Disaat yang tepat, Dewi, sang ibu membuka pintu dan mendapati pemandangan 'manis' tersebut. Dia sempat tersenyum puas bercampur lega melihat anak dan menantunya ternyata akur.
Dengan langkah perlahan ia mendekati pasangan baru itu. Ditepuknya pundak Risa dan Rio secara bergantian.
"Kalian, ayo bangun, mau sampai kapan tidur terus?" Ujarnya dengan lembut membangunkan keduanya.
"Mmmh...,.udah jam berapa, Ma?" Tanya Risa pura-pura kayak orang baru bangun.
"Jam 6. Ayo bangun, sarapannya sudah Mama siapkan, kamu coba bangunkan Rio."
Risa menggerakkan bahu Rio yang tidur di sebelahnya dengan pose tegak lurus macem polisi tidur yang ada dijalanan dengan mata terpejam paksa.
"Rio bangun, ayo sarapan," ucap Risa dengan nada lembut sok mesra.
Rio reflek langsung buka mata dan langsung berkata, "Ya, ayo," dengan nada datar kayak robot (karena dia lagi tegang), dan tatapannya malah lurus ke atas ruangan kamar.
"Yeh, pe'a! Kenapa dia jadi grogi!" Dalam hati Risa gregetan pengen geplak kepala Rio.
"Ya udah, Mama tunggu kalian di ruang makan, ya." Dewi akhirnya pergi meninggalkan ruangan kamar.
"Fiuh, untung dia gak sadar!" Ucap batin Risa dan Rio kompak (cieeeee).
Gimana selanjutnya hubungan mereka setelah ini??
.
.
.
BERSAMBUNG....