Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 7.
Nama Radit menggantung di udara, berat dan menyakitkan.
Rangga menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Ayahnya yang mendadak menunduk, ibunya yang memucat dan langsung memalingkan wajah. Beberapa anggota keluarga lain saling berpandangan, bingung harus bereaksi bagaimana.
“Kenapa kalian diam?” tanya Rangga lagi, alisnya berkerut. “Radit ke mana?”
Milea yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang, langsung merasa dadanya diremas kuat. Ia melangkah refleks mendekat, sebelum siapa pun sempat bicara.
“Rangga…” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Radit… nggak bisa datang.”
Rangga menoleh padanya cepat. “Kenapa?”
Tatapan itu polos.
Terlalu polos untuk kebenaran yang kejam.
Nyonya Atalia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Bahunya bergetar, isak tertahan keluar begitu saja.
“Aduh…,” Rangga tersentak. “Mama kenapa?”
Itu memecahkan segalanya.
Suara Ayah Rangga berat saat akhirnya bicara. “Radit… sudah meninggal, Ga.”
Hening.
Begitu sunyi sampai Milea bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Rangga menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya, lalu tertawa kecil. “Bohong, Papa jangan bercanda.”
Tak ada yang menjawab.
Senyum Rangga perlahan menghilang. Matanya bergerak cepat, mencari penjelasan di wajah semua orang. Namun yang ia temukan hanya kesedihan, penyesalan, dan luka lama.
“Kapan?” suaranya mendadak serak.
Nyonya Atalia menurunkan tangannya, dengan suara gemetar ia berkata, “Tujuh tahun lalu.”
Tujuh tahun.
Rangga menggeleng keras. “Nggak mungkin. Kemarin aja dia masih—”
Kepalanya mendadak terasa nyeri. Ia meringis, menutup pelipisnya dengan tangan. “Arhhtt… sakit…!”
Dokter yang kebetulan masuk segera mendekat. “Cukup dulu, jangan dipaksa. Topiknya sepertinya terlalu berat.”
Rangga masih terengah, nafasnya tak beraturan.
Milea spontan memegang tangan suaminya. “Tarik nafas, Rangga. Pelan-pelan...”
Rangga menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Perlahan napasnya mengikuti irama Milea. Beberapa menit kemudian, ia lebih tenang.
Namun matanya berkaca-kaca. “Jadi… aku kehilangan adikku.”
Tak ada yang berani menjawab, mereka seperti sepakat menutup rahasia kelam itu.
Air mata Rangga jatuh begitu saja, tanpa suara. Tangisan yang sunyi, namun menghancurkan.
Milea menelan ludah, dadanya ikut sesak. Ini Rangga yang berbeda, Rangga yang menangis di depan semua orang. Rangga yang tak menyembunyikan luka.
Dan Milea… belum pernah melihat suaminya seperti ini selama empat tahun menikah.
Keluarga akhirnya dipersilakan keluar untuk memberi waktu istirahat. Tinggallah Milea dan Rangga di kamar rawat itu.
Rangga masih terdiam, menatap jendela dengan mata kosong.
“Kalau aku tahu…,” suaranya pecah. “Aku pasti akan pulang lebih sering.”
Milea menggenggam tangan Rangga lebih erat. “Kamu nggak salah.”
“Tapi, aku bahkan nggak ingat pemakamannya.”
Kalimat itu membuat Milea hampir menangis. Ia duduk di tepi ranjang. “Yang penting sekarang... kamu fokus sembuh dulu.”
Rangga menoleh. “Apa kamu akan selalu di sini?”
Milea mengangguk. “Iya.”
“Kenapa? Padahal… kita katanya mau cerai.”
Milea terdiam, ia tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya yang rumit. “Karena sekarang... kamu masih suamiku.”
Rangga tersenyum kecil. “Berarti aku beruntung.”
Hari-hari berikutnya, kondisi Rangga semakin stabil. Namun sikapnya… justru semakin tak terkendali.
Ia selalu mencari Milea. Kalau Milea keluar kamar terlalu lama, Rangga akan meneleponnya. “Kamu ke mana?”
“Ke pantry.” Jawab Milea dari sambungan telepon.
“Kenapa lama?” Padahal baru dua menit, Rangga sudah mengeluh.
Saat Milea masuk kembali, Rangga mengetuk ranjangnya. “Duduk sini.”
“Kenapa?”
“Biar aku bisa lihat kamu dari dekat.”
Dan kalau Milea menolak, Rangga akan mendengus seperti anak kecil. “Kamu galak banget sama suami sakit.”
Milea hanya bisa menghela napas.
Setelah hampir satu minggu, Dokter menyatakan Rangga boleh pulang dan melanjutkan pemulihan di rumah.
Milea menyiapkan semuanya dengan cekatan. Namun saat sampai, Rangga terus menatap rumah besar itu dengan mata berbinar.
“Ini rumah kita?” tanyanya kagum.
Milea mengangguk.
“Besar banget, aku kaya raya ya ternyata.”
Milea hampir tertawa.
Begitu masuk, Rangga langsung berkeliling seperti anak kecil. “Ini kamar kita?”
“Iya.”
“Tidur satu ranjang?”
Milea terbatuk. “Iya… tapi—”
Rangga langsung tersenyum lebar. “Mantap.”
Milea memijat pelipisnya.
Malam pertama di rumah menjadi ujian tersendiri, karena Rangga menolak tidur sendiri.
“Aku pusing,” katanya sambil menarik lengan Milea. “Kamu tidur di sini...”
Milea ragu. Namun akhirnya berbaring di sisi ranjang, tapi tetap menjaga jarak aman.
Lampu kamar diredupkan, namun Rangga justru mendekatkan tubuhnya. Bahkan tangan pria itu sudah mulai meraba tubuh Milea.
“Kenapa kamu kaku banget?” tanyanya.
“Karena… ini aneh.”
“Aneh apa? Kamu istriku.”
Milea menutup mata. “Rangga, aku mohon.”
Akhirnya, Milea merasakan tangan Rangga berhenti. Beberapa detik menjadi hening.
“Maaf, aku pasti membuatmu takut.”
Kalimat itu… membuat Milea hampir menangis. Rangga versi lama, tak pernah berkata seperti itu. Malam itu, Rangga tidur dengan tenang. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung lengan baju Milea.
Dan Milea… terjaga semalaman. Karena kali ini berada di samping suaminya terasa hangat, bukan dingin seperti dulu.
Pagi harinya, Milea bangun lebih dulu. Ia menyiapkan sarapan. Tak lama kemudian, Rangga muncul di dapur dengan rambut acak-acakan ala anak muda.
“Kamu cantik banget pagi-pagi,” ucapnya santai.
Milea hanya menipiskan bibir, dia masih belum terbiasa dengan semua pujian dari suaminya. “Jangan ngomong sembarangan.”
“Pujianku tulus,” kata pria itu sambil tersenyum. Ia duduk, menatap Milea yang mondar-mandir. “Kamu selalu masak buat aku?”
“Iya.”
“Terus kenapa aku mau cerai?” tanyanya polos.
Milea sedikit membeku. “Mungkin, karena… aku bukan orang yang mudah dicintai.”
Rangga berdiri, mendekat. “Kamu salah.”
Pria itu menatap Milea serius. “Kalau aku versi dua puluh dua tahun bisa jatuh cinta sama kamu, berarti masalahnya bukan di kamu.”
Milea menahan nafasnya.
“Berarti, masalahnya ada padaku. Dan aku... nggak mau jadi dia, versi diriku yang brengsek.”
Kalimat itu menghantam Milea tepat di dada. Ia berbalik, berpura-pura sibuk. “Jangan ngomong gitu.”
“Kenapa?”
“Karena nanti, kamu bisa berubah lagi.”
Rangga tersenyum miring. “Kalau begitu, nikmati aja aku yang sekarang.”
Milea menggigit bibir, ia tahu ini berbahaya. Karena setiap hari, Rangga semakin manis.
Terlalu manis.
Dan hati Milea… mulai goyah.
*
*
*
Bersambung...
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌