NovelToon NovelToon
Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu Pengganti / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cerita Tina

Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.

Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.

Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.

Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.

Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.

Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sah!

Sehari sebelum hari pernikahan, Ratna melihat Tisha duduk di halaman rumah. Ia menatap kosong ke arah kebun kecil orangtuanya.

Ratna mendekat, di pikirannya menyimpan banyak tanya.

“Nak…” panggilnya pelan.

Tisha menoleh, tersenyum tipis. “Iya, Bu?”

Sang ibu diam sejenak, lalu berkata, “Kau yakin ingin menikahi duda?”

Tisha terdiam, menatap jemarinya yang saling menggenggam di pangkuan. Butuh waktu sebelum ia bisa menjawab.

Akhirnya ia menghela napas, “Maaf, Bu. Tisha mematahkan ekspektasi kalian, dan harus menikahi duda.”

Ia menatap ibunya dengan mata yang jujur. “Tisha melihatnya sangat bertanggung jawab pada keluarganya. Itu yang membuat Tisha yakin. Mungkin bukan cinta, tapi Tisha tahu dia orang baik.”

Sang ibu terdiam lama, lalu ia mengelus rambut Tisha dengan lembut, “Hatimu sangat besar, Nak.” ucapnya.

“Ibu hanya berdoa, semoga lelaki itu tahu cara menjaga hati yang sebesar milikmu.”

Tisha tersenyum, ia menunduk, lalu memeluk ibunya erat, seerat keteguhan yang sedang ia kumpulkan untuk hari esok.

***

Hari itu, suasana di rumah keluarga Tisha terasa khidmat. Ruangan tamu telah disulap menjadi tempat akad sederhana.

Tisha duduk di kamar bersama ibunya, mengenakan kebaya putih gading dan kerudung lembut yang menutup anggun di bahunya. Tangan ibunya menggenggam jemarinya erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan.

Di luar, suara para tamu mulai terdengar. Willie duduk bersila di depan penghulu, ia tampak rapi dalam baju koko putih dan sarung songket.

Wajahnya tenang, tapi dari gerak matanya, jelas ia menyadari beratnya makna dari janji yang akan ia ucapkan.

Penghulu mulai membacakan khutbah nikah.

“Pernikahan ini bukan sekadar ikatan di atas kertas, tapi ibadah yang disaksikan Allah. Dua jiwa yang bersatu bukan karena harta atau nama, melainkan karena niat yang baik dan tanggung jawab yang besar.”

Saat semua sudah siap, Willie menarik napas dalam, lalu dengan suara tegas, “Saya terima nikahnya Tisha Ramadhani binti Bahri Ramadhani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Suaranya terdengar bulat, mantap, dan membuat semua saksi mengangguk serempak. “Sah!” ucap mereka hampir bersamaan.

Dari balik tabir, mata Tisha berkaca-kaca. Ia menunduk, menyembunyikan air mata kecil yang akhirnya jatuh juga karena haru dan pasrah pada takdir yang kini menuntunnya ke jalan baru.

Beberapa menit kemudian, Tisha keluar untuk melakukan sungkeman. Dan untuk pertama kalinya, mereka saling menatap setelah ijab kabul.

Willie mengulurkan tangan, “Bismillah, mulai hari ini, semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi keluarga.”

Tisha menjabat tangannya, lembut namun pasti. “InsyaAllah,” jawabnya pelan.

Hari itu, dua orang yang diikat oleh kontrak, kini disatukan oleh akad yang sakral dan mungkin oleh takdir yang diam-diam menyusun jalan hidup mereka.

***

Malam sudah larut. Rumah keluarga Tisha itu mulai hening. Alia dan Bi Ratih sudah tertidur di kamar tamu, meninggalkan Willie dan Tisha di ruang tengah.

Tisha akhirnya melangkah pelan masuk ke kamar. Di belakangnya, Willie menyusul dengan langkah canggung. Malam itu mereka terpaksa sekamar berdua, untuk menghindari kecurigaan.

Sesampainya di kamar, Tisha menuangkan air ke gelas di atas meja kecil. “Kalo haus nanti, silakan diminum,” ucapnya datar namun tetap sopan kepada Willie.

Willie mengangguk, "Terimakasih." ucapnya. Tatapannya sempat mengikuti gerak Tisha yang menaiki ranjang dan langsung menarik selimut hingga ke dada.

“Gadis ini berbahaya sekali,” batin Willie. Ia menatap wajah Tisha. Mereka memang sudah muhrim. Tapi sesuai perjanjian, harus tetap ada jarak di antara mereka.

Tisha bisa merasakan tatapan itu, dan membuatnya sedikit gelisah. “Ada apa, Pak?” tanyanya.

Willie cepat mengalihkan pandangannya. “Ah, Bu Tisha memang tidur biasa pakai kerudung, ya?”

“Sebenarnya tidak,” jawab Tisha cepat.

Willie menggaruk tengkuknya, kikuk. “Oh, jadi itu karena saya? Kalau memang nggak nyaman, bisa dilepas saja. Kan kita sudah sah.”

Tisha menunduk, “Saya lebih nyaman begini.”

Ia lalu menatap Willie sejenak. “Mulai sekarang, panggil saya Tisha saja.”

Willie terdiam beberapa detik, lalu mengangguk perlahan. “Baiklah… Tisha.”

Deg, jantung Tisha bergetar. Rasanya agak aneh saat Willie menyebut namanya santai dengan suara rendahnya.

Karena merasa tak enak dan ingin menjaga batas, Willie menarik selimut dari ujung ranjang. “Lebih baik saya tidur di bawah saja.”

Tisha tak menjawab, hanya memalingkan wajahnya ke arah dinding.

Willie kembali bertanya, “Apakah Anda biasa tidur dengan lampu menyala atau gelap?”

“Saya tidak pernah mematikan lampu saat tidur,” jawab Tisha.

Padahal kenyataannya, ia selalu mematikan lampu kamarnya. Tapi malam ini entah mengapa, ia ingin tetap waspada.

Willie mengangguk. “Sebenarnya itu tidak baik untuk kesehatan,” gumamnya, lalu is mulai menggelar selimut di lantai.

Tisha melirik sekilas, kemudian menarik napas panjang. “Pak, apa Anda nyaman seperti itu?” tanyanya.

Willie tersenyum samar. “Ah, saya tidak apa-apa. Saya malah ingin Anda yang nyaman.”

Tisha menatap Willie, “Anda itu tamu. Jangan membuat saya merasa bersalah.” tegurnya.

Willie mengangkat alis, belum sempat bicara. Tisha melanjutkan, “Tidur saja di sini. Tenang, saya tidak akan menggoda Anda. Dan anda tidak bisa sembarangan karena saya juga bisa karate.” ucapnya datar. .

“Dan di sini,” lanjut Tisha dengan mata setengah melirik, “Tidur di kasur tidak saya kenakan biaya kontrak.”

Willie terkekeh pelan. “Baiklah, terima kasih atas pengertiannya.” Ia pun naik ke ranjang dan berbaring di sisi Tisha.

Tisha mengambil guling panjang dan menaruhnya di tengah mereka.

“Ini batasnya,” katanya tegas. “Jangan ada yang melewati.”

“Baik, Nyonya.” Willie tersenyum, suaranya lembut tapi terdengar menggoda. “Selamat malam.”

Tisha kembali menarik rapat selimutnya, “Selamat malam,” balasnya singkat.

Waktu pun terus berjalan. Tisha melirik ke arah jam dinding. Sudah lewat dua jam, namun matanya belum juga bisa terpejam.

Badan Tisha terasa pegal karena terus bertumpu ke satu arah. Ia berbalik pelan, berbaring telentang, lalu menoleh sekilas ke arah Willie yang sudah diam sejak tadi.

Willie sebenarnya belum tidur. Dari tadi, ia hanya memandangi punggung Tisha dalam diam. Begitu merasakan Tisha berbalik arah, ia buru-buru menutup matanya rapat-rapat.

‘Apa dia sudah tidur?’ batin Tisha. Tangannya tergerak refleks, menyapu udara di depan wajah Willie, mencoba untuk memastikan. Wajah pria itu tampak tenang dan datar.

“Syukurlah,” gumamnya.

Matanya terpaku. ‘Jadi, dia suamiku sekarang,’ batinnya pelan.

Tisha terus menatap wajah Willie. Pria itu punya garis wajah yang tegas, hidungnya mancung, alisnya tebal dan rapi. Ada ketenangan di sana, dan entah kenapa, sesuatu di hatinya bergetar pelan.

Ia tersenyum kecil tanpa sadar. Baru kali ini ia memandangi wajah pria itu sedekat ini, begitu dekat sehingga bisa mendengar napasnya yang teratur.

Beberapa detik kemudian, Tisha bangkit, melangkah pelan dan mematikan lampu kamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!