Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN YANG TAK DIMENGERTI
Begitu pilu, begitu mengiris hati. Kobaran api, teriakan histeris dari seorang Ibu, dari seorang anak lelaki, dan dari banyak orang. Membuat Wardah, dengan sendirinya berteriak.
"Abang...!!! Abang...!!! AAABBBAAANNNGGG...!!!"
"Wardah! Wardah! Bangun!" Wardah seketika membuka mata. Tersadar lalu mengamati sekitar. Sejenak ia kebingungan, dia masih ingat jelas bahwa, dia berada di dalam hutan barusan. Namun..., di tatapnya sekeliling, dan sadad kalau sekarang dia berada di rumah Budenya, dengan semua saudara dan kedua orang tuanya yang mengamatinya cemas.
"HAH!!!" Wardah mengeluarkan napas kebingungannya.
Di lihatnya, Ibu dan Bapaknya, lalu menatap ke semuanya, mencari jawaban atas apa yang ada di dalam kepalanya.
"Wardah! Kamu nggak apa-apa, Nak?! Kami sangat khawatir, kamu di temukan di dapur dalam keadaan pingsan, dan baru sadar setelah 3 jam kemudian. Wardah? Kamu sakit, Nak? Katakan pada Ibu, sakit apa yang kamu rasakan." Bu Rahma yang sangat khawatir mencecar Wardah dengan pertanyaan-pertanyaan. Namun bukan itu yang Wardah ingin dengar, dia ingin penjelasan mengapa dia berada di sana saat ini.
"Bu, bukannya aku tadi ada di dalam hutan?" Tanya Wardah yang membuat semua orang saling pandang.
"Kamu sejak tadi di dapur, Wardah. Kamu sendiri yang bilang mau bikin bubur, dan menitipkan Ndoro, kepadaku." Parmi menyela.
"Ia Wardah. Pamit bikin bubur, eh malah pingsan. Untung saja tu kompor udah mati. Lain kali, kalau merasa nggak enak badan, kasih tau orang. Kalau tiba-tiba kompor itu meledak gimana? Kita semua bakal mati, Wardah." Sulis menatap sinis kepada Wardah.
Wardah yang sebenarnya masih kebingungan, terpaksa harus bersikap normal. "Maaf, mbak. Aku tidak tau kalau aku akan pingsan di sini."
"Ya sudah. Jangan di ulangi." Sulis lalu pergi. Di ikuti Parmi dari belakang. Sedangkan Beni, masih terdiam. Dia merasa tertekan dengan keadaan yang semakin membingungkan ini. Dia pun pergi tanpa sepatah kata pun.
Beni berjalan sambil merenung. Apakah akhirnya keluarga ini akan binasa? Mengingat, kesalahan yang begitu keji, di tutup rapat oleh mereka, yang seharusnya mereka tak melakukan hal itu. Ibu, sadarlah, dan tobat lah, Bu.
Beni menitikkan air mata. Hingga ia di sadarkan oleh suara Ayahnya.
Wardah yang terlihat linglung, membuat Pak Ardi makin penasaran. Ia pun bertanya kembali dengan suara pelan. "Wardah. Sebenarnya apa yang terjadi?" Pak Ardi mulai bertanya, karena merasakan ada yang ganjil pada diri anaknya.
Wardah menutup mata sejenak lalu ia bercerita. "Pak, aku melihat seseorang yang terus mengintai rumah ini. Sampai pada Bude, yang terkena penyakit aneh. Orang itu bilang, air mata di balas air mata, senyum di balas senyum, dan mati di balas kematian. Saat aku tanya lebih jauh. Dia berlari masuk ke dalam hutan. Dan aku pun mengejarnya, Pak. Namun aku malah tersesat, dan menemukan pohon tua besar, yang sangat menyeramkan. Dan dari sanalah aku bermimpi banyak kejadian, yang aku tidak tau, dan tidak paham dengan mimpiku itu." Papar Wardah berusaha mengingat mimpi yang mengerikan itu.
"Lalu, apa mimpi itu?" Tanya Pak Ardi lagi.
Wardah pun menceritakan soal api, teriakan, dan semua kegaduhan pada malam itu. Sampai akhirnya ia tersadar sudah berada di rumah ini lagi. Pak Ardi sejenak terdiam.
"Sudah, jangan di pikir terlalu dalam. Sana ambil wudhu, lalu sholat. Udah adzan ashar. Habis itu, temui Budemu. Sakitnya tambah parah, dan dia selalu memanggil namamu, Wardah." Ucap Pak Ardi lagi. Lalu pergi bersama, Bu Rahma.
Wardah yang mendengar Budenya semakin parah pun bergegas melakukan kewajibannya dulu. Agar dia secepatnya menemui Budenya yang sangat baik itu.
***
Seno membeku saat mendengar pengakuan dari Wardah, barusan.
"Oh...! Jadi, keluarga mbak Sulis, ceritanya lagi di guna-guna oleh seseorang? Emang nggak bisa di biarin. Aku harus lapor kepada, Embak Sulis ini." Seno berlalu mencoba mencari keberadaan Sulis.
Namun, langkahnya terhenti kala, Parmi berada tepat di hadapannya.
"Mas, ayo kita pulang. Aku mau biara sesuatu sama kamu." Ucap Parmi.
"Aku mau menemui mbak Sulis, Par. Kamu pulang saja dulu."
"Beneran kamu nggak mau? Aku di kasih uang banyak, sama mbak Sulis. Bukaannya kamu pengen beli motor baru?" Ucap Parmi sedikit berbisik.
Seno terkesiap. "Beneran, Par? Kok kamu bisa di kasih uang banyak sih?"
"Ayo pulang dulu, sampai rumah aku kasih tau.
Pokoknya mimpi kamu punya motor bagus, bakal keturutan." Parmi menarik lengan suaminya menjauh.
Seno pun akhirnya lupa dengan niat awalnya. Dia pun
dengan hati gembira mengikuti Parmi.
***
Pak Imam yang telah me rukiyah Bu Saedah pun pulang. Saat itu ia di antar oleh Beni, dan kebetulan di jalan bertemu dengan Sobirin dan Azram.
"Beni! Mau kemana?" Tanya Sobirin bersama Azram.
"Mau antar Pak Imam. Tapi, Pak Imam nggak mau di antar pake motor." Ucap Beni agak lesu.
Pak Imam tersenyum. "Saya ini sudah tua, Ben. Saya harus sering berjalan kaki, agar penyakit tua saya tidak kambuh."
"Iya deh, Pak Imam." Ucap Beni akhirnya.
Sobirin dan Azram mendekat.
Nampak Pak Imam menatap Azram dengan wajah yang sulit di artikan. Azram tersenyum lalu membungkuk sopan kepada Pak Imam.
"Bagaimana keadaan Nenek kamu, Ben? Kabarnya Nenek kamu sedang sakit."
"Iya. Tapi alhamdulillah sudah di obati oleh kedua orang hebat di kampung kita ini. Yaitu, pak Imam dan Bu Bidan Asih. Dan Nenek sudah terlihat tenang dan baikan sekarang." Beni menjelaskan.
"Pak Imam memang sangat baik. Selalu ada buat orang yang kesusahan." Ucap Sobirin bangga.
"Jangan membanggakan manusia, Sobirin. Semua karena kehendak sang pencipta." Pak Imam menimpali.
Azram, Sobirin, dan Beni mengangguk setuju.
"Aku heran, kapan... ya? Terror gaib di kampung kita ini akan selesai. Penyakit aneh lainnya pun, sedang di alami seisi kampung kita ini. Dan parahnya, bukannya sembuh, malah kebanyakan dari mereka yang terkena penyakit, meninggal dunia. Jujur, aku pun takut terjangkit penyakit itu, Pak Imam." Keluh Sobirin panjang lebar.
Beni hanya menunduk diam. Wajahnya berubah sedih. Ini semua kesalahan Ibuku, yang berimbas kepada seluruh penduduk desa. Batin Beni, yang sampai saat ini masih belum punya ide untuk menghentikan semuanya.
"Pak Imam. Mau Tanya!" Seru Beni akhirnya.
"Tanya kok pake ijin dulu, Ben. Tanyakanlah, apa yang membuatmu risau." Jawab Pak Imam tenang sambil terus berjalan menuju rumahnya.
"Jika seseorang itu melakukan kesalahan, lalu kesalahan itu telah membuat keonaran di tempatnya, dan dia akhirnya sadar dan meminta maaf, apakah keonaran itu akan terselesaikan, Pak?!" Tanya Beni serius.
"Setelah semua nya berantakan karena keegoisan oleh orang yang tak pernah merasa bersalah. Aku pikir tak semudah itu, Beni." Azram menjawab tiba-tiba. Beni sempat terkejut, bukan karena Azram yang menjawab, namun lebih ke kata-kata Azram, yang membuatnya
semakin bersedih karena tidak akan ada yang bisa ia perbuat untuk menentramkan desanya kembali kalau begitu.
"Insyaallah. Semuanya pasti ada solusinya. Yang penting benar-benar tulus meminta maaf. Allah maha pemaaf. Tentunya ciptaannya pun akan bisa memaafkannya juga, walau sulit. Setidaknya, keonaran itu sudah mendapatkan titik terangnya." Ucap Pak Imam penuh makna. Beni yang awalnya lesu, kini ada semangat lagi.
"Memang siapa yang berbuat kesalahan sampai membuat keonaran, Ben?" Tanya Pak Imam.
"Eh. Nggak, cuma nanya aja, Pak Imam." Sambung Beni.
Azram menatap lurus ke jalanan dengan tatapan datar.
Sobirin hanya menatap mereka bergantian, antara Beni, Azram, dan Pak Imam.
Dia merasakan ada rahasia di masing-masing antara mereka, yang ia tak paham apakah itu. Sobirin mengingat kembali ucapan Romli, yang dia bilang, pernah melakukan kesalahan, yang berhubungan dengan ke jadian aneh yang di alamai warga saat ini.
"Hehhh...!!" Terdengar suara napasnya yang menandakan dia sangat lelah dengan keadaan yang penuh teka-teki ini.