---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pagi itu, suasana rumah Mala terasa lebih hidup dari biasanya. Para bodyguard baru—yang sebagian didatangkan langsung oleh Tuan Armand—berkumpul di halaman depan. Wajah mereka serius, penuh kewaspadaan.
Mereka bukan orang sembarangan: mantan pasukan khusus, ahli strategi, hingga seorang hacker yang kini menempati ruang belakang rumah Pak Wira sebagai pusat komunikasi.
Tuan Armand berdiri di tengah, tubuh tegaknya memancarkan wibawa yang tak perlu dijelaskan. Di sampingnya, Wira dan Daren, sementara Mala dan Aurelia berdiri tak jauh dari mereka.
Sejak kabar Melisa mengamuk karena menerima surat cerai, Armand tahu situasinya sudah naik level. Musuh tak lagi sekadar emosional—melainkan berbahaya dan nekat.
Namun sebelum semuanya dimulai, ada hal penting yang harus dibereskannya di kota.
---
Di kota besar, Rusdi Adrianata—adik Tuan Armand—sedang memeriksa berkas perusahaan ketika kabar itu datang. Salah satu staf mendekat, menyerahkan ponsel dengan ekspresi gugup.
“Pak… ini dari Tuan Besar.”
Rusdi mengangkat alis. Kakaknya jarang menelepon kecuali ada hal sangat serius.
Setelah percakapan hampir tiga puluh menit, Rusdi bersandar di kursinya, terdiam dengan wajah tak percaya.
“Daren… menikah?” gumamnya. “Tanpa ada satu pun keluarga yang tahu?”
Di sisi meja, Maura—putrinya yang masih berusia 23 tahun—mengangkat wajah dari laptopnya.
“Papa kenapa? Kok tiba-tiba ngomong sepupu?” tanyanya dengan nada santai.
Rusdi menatap putrinya. “Sepupumu itu menikah diam-diam. Dan sekarang istrinya sedang dalam bahaya besar.”
Maura langsung tertawa kecil. “Astaga… Daren? Serius? Sepupu yang dingin kaya freezer itu? Yang kalau ditanya soal cewek selalu jawab ‘sibuk’ atau ‘nggak tertarik dan sekali nya dapat cewek di selingkuhi melulu?.."
Rusdi menghela napas panjang. “Ini bukan urusan lucu, Maura.”
“Tahu, Pa…” Maura tersenyum tapi matanya menunjukkan ketertarikan yang tulus. “Tapi… tumben dia serius soal perempuan. Aku malah senang. Jadi penasaran kayak apa orangnya sampai bisa nembus tembok es Daren.”
Rusdi tidak membalas. Tapi dalam hatinya, ia tahu satu hal: jika kakaknya sendiri sampai turun langsung ke desa, maka ancaman yang dihadapi bukan main-main.
Ia langsung memutuskan untuk mengurus semua pekerjaan perusahaan agar kakaknya bisa fokus memikirkan keselamatan keluarga baru Daren.
---
Di desa, latihan pagi dimulai.
Nina—bodyguard pribadi Mala yang sudah setia sejak awal—melatih Aurelia cara melepaskan diri, mengunci tangan lawan, hingga teknik melarikan diri yang efektif.
Aurelia terengah-engah, namun wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi rapuh, tidak lagi takut berlebihan. Ada kekuatan baru dalam sorot matanya.
“Bagus,” ujar Nina sambil menepuk bahunya. “Gerakanmu semakin cepat. Kamu bakal bisa jaga diri sendiri.”
Aurelia mengangguk, tersenyum kecil. “Aku nggak mau jadi beban lagi. Aku harus melindungi Mala juga.”
Mala yang mendengar itu dari kejauhan hanya tersenyum lembut. Hubungannya dengan Aurelia semakin dekat sejak gadis itu meminta perlindungan darinya. Mereka seperti kakak-adik baru yang saling menopang.
Sementara itu, di sisi lain halaman, Daren dan Mala tengah berbicara. Daren tampak lebih lembut dari biasanya, lebih perhatian. Sesekali matanya melirik Mala untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja.
“Kalau kamu capek, bilang. Jangan dipaksa,” ucap Daren.
Mala menggeleng sambil tersenyum. “Aku baik-baik saja. Lagian aku harus belajar. Bahayanya semakin besar.”
Daren menarik napas panjang, ekspresi khawatir masih menempel di wajahnya. “Aku cuma… nggak mau kamu terluka lagi.”
Mala terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Aku juga nggak mau kamu kenapa-kenapa, Dar.”
Ucapan sederhana itu membuat dada Daren hangat. Baru beberapa hari berada di desa, tapi ia merasa terikat dengan Mala lebih kuat dari yang ia duga. Mungkin karena bahaya yang sama-sama mereka hadapi.
Mungkin karena Mala tulus dan tidak menuntut apa pun darinya. Atau mungkin karena… ia memang sudah jatuh hati lebih dalam dari yang ia sadari.
---
Sementara itu, para bodyguard yang berkumpul menunggu instruksi mulai memperhatikan ketika Tuan Armand melangkah maju.
“Semua dengarkan,” ucap Armand dengan suara tegas. “Mulai hari ini, pengamanan berubah total.”
Suasana langsung hening.
“Kami tidak lagi menghadapi orang yang sekadar cemburu atau marah. Melisa sudah melampaui batas. Ia mengajak kembali orang-orang yang berbahaya. Kita harus bersiap menghadapi skenario terburuk.”
Salah satu bodyguard bertanya, “Tuan, apakah kita tahu pergerakan mereka?”
Armand menoleh ke hacker yang duduk dengan tiga layar laptop terbuka. Pria itu menjawab cepat, “Mereka menggunakan jalur komunikasi yang tidak umum. Tapi saya sudah mendeteksi aktivitas di beberapa lokasi. Saya butuh waktu 24 jam lagi untuk memastikan.”
Armand mengangguk lalu kembali fokus.
“Kita bagi posisi. Rumah Wira tetap jadi pusat. Dua tim berjaga di luar area rumah, satu tim patroli keliling. Hacker tetap siaga untuk memantau sinyal masuk.”
Para bodyguard mencatat cepat.
“Lalu,” Armand lanjut, “Mala dan Aurelia tidak boleh dibiarkan sendirian. Mereka wajib ditemani minimal dua orang setiap saat.”
Nina mengangguk tegas. “Saya yang pegang Mala.”
Sementara bodyguard lain berkata, “Aurelia dengan saya, Tuan.”
Daren berjalan maju. “Ayah, saya mau memimpin tim luar.”
Armand menatap putranya dalam-dalam. “Kau yakin?”
Daren mengangguk. “Saya sudah melihat sendiri bagaimana Melisa bergerak. Saya tahu level bahayanya.”
Armand tersenyum tipis, bangga tapi tetap waspada. “Baik. Tapi ingat… keselamatan Mala prioritas utama.”
Daren menunduk sedikit. “Iya, Ayah.”
Mala yang mendengar itu dari belakang tiba-tiba merasa pipinya panas. Ia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
Aurelia yang berdiri di sampingnya menahan tawa. “Kak Mala… pipinya merah.”
“Diam, Rel,” bisik Mala, malu-malu.
---
Setelah semua rencana disampaikan, Armand menutup pertemuan dengan kata-kata tegas namun penuh keyakinan.
“Melisa bukan lagi sekadar ancaman kecil. Kita menghadapi orang yang sudah kehilangan kendali dan bisa melakukan apa saja. Tapi ingat…” Armand menatap semua satu per satu.
“Selama kita bersatu, selama kalian menjaga disiplin, tidak ada satu pun yang bisa menyentuh keluarga ini.”
Para bodyguard mengangguk mantap.
Assalamualaikum selamat pagi
jangan lupa like komen nya ya...