Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"A-Anda beneran Pak Radit?" tanya Ilham dengan kedua mata membulat.
"Kamu tak dengar saya ngomong apa? Ke ruangan saya sekarang juga!" bentak Radit di dalam sambungan telepon membuat Ilham semakin terkejut.
"Ba-baik, Pak," jawab Ilham, terbata-bata dan gugup tentu saja.
Sambungan telepon pun terputus, Ilham bergeming di tempatnya seraya menatap lurus ke depan, melayangkan tatapan kosongan. Bukannya segera mengikuti perintah sang Presdir, pria itu hanya terdiam dengan pikiran berkecamuk.
"Sial, kenapa Pak Radit tiba-tiba memanggilku ke ruangannya? Apa dia tau apa yang baru saja aku lakuin sama Aqilla? Akh, aku lupa kalau di dalam lift ada CCTV-nya. Kalau kayak gini, karir yang baru aku mulai akan berakhir begitu saja. Dasar brengsek!" umpatnya dalam hati sebelum akhirnya berbalik lalu melangkah cepat ke arah lift.
***
10 menit kemudian
Ilham berdiri di depan pintu bercat coklat dengan hurup kapital berwarna keemasan bertuliskan ruangan "Presiden Direktur" terpampang jelas di permukaannya. Jantungnya berdetak kencang, telapak tangannya mulai berkeringat dengan tubuh gemetar. Rasanya seperti akan memasuki ruangan eksekusi di mana nyawanya dipertaruhkan di dalam sana. Antara hidup dan mati, pria itu menyesal karena sempat berbuat kasar kepada mantan istrinya.
"Semoga Pak Radit mau memaafkan aku atas apa yang baru aku lakuin sama calon istrinya. Ya Tuhan, tolong selamatkan karirku," batinnya.
Pria berusia 35 tahun itu pun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan seraya merapikan dasi yang melingkar di lehernya, sebelum akhirnya mengetuk pintu dengan pelan dan beraturan.
"Masuk!" Suara serak Radit terdengar dari dalam ruangan.
Dengan telapak tangan gemeteran, Ilham meraih kenop pintu dan membukanya, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ketakutan.
"Se-selamat siang, Pak Radit," sapanya dengan senyum ramah.
"Benar dia. Dia laki-laki yang sempat bertemu denganku di Rumah Sakit," batin Ilham, memandang lekat wajah Raditya.
Wajahnya tentu sudah tidak asing lagi karena mereka sempat bertemu di Rumah Sakit satu bulan yang lalu. Meskipun begitu, aura yang terpancar dari pria bernama lengkap Raditya Nathan Wijaya itu terasa berbeda. Tampan dan berkarisma dengan jas hitam lengkap dengan dasi senada.
"Kamu masih ingat sama saya?" tanya Radit, memandang tubuh Ilham dari ujung kaki hingga ujung rambut, seraya menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Ilham menghentikan langkah tepat di depan meja dengan perasaan takut yang luar biasa. "A-apa kita pernah bertemu sebelumnya, Pak? Maaf, ini pertama kalinya saya memasuki ruangan Anda," jawab Ilham berpura-pura lupa.
Radit menarik napas dalam-dalam seraya tersenyum sinis. "Kita pernah bertemu di Rumah Sakit satu bulan yang lalu."
Ilham seketika tersenyum lebar, mencoba untuk menyembunyikan ketakutan. "O iya, saya ingat. Satu bulan yang lalu di Rumah Sakit," jawabnya.
"Sudah menerima undangan dari saya?"
"Su-sudah, Pak."
"Kamu tau siapa yang akan saya nikahi?"
"Dasar brengsek, apa perlu seprontal ini? Bukannya malu mau nikahi bekas istri orang, malah terang-terangan kayak gini. Emangnya gak malu apa menikahi bekas istri bawahannya sendiri?" batin Ilham, diam-diam mengepalkan kedua tangan.
"I-iya, saya tau, Pak. Anda mau menikahi mantan istri saya," jawabnya, memaksakan senyum.
"Hmm ... terima kasih karena kamu sudah membuang berlian yang penuh dengan lumpur itu, Ilham. Meskipun awalnya dipenuhi kotoran, tapi setelah dibersihkan, keindahan dan kilaunya benar-benar menyilaukan mata saya. Walau bagaimanapun, rasanya agak tak enak menikahi mantan istri bawahan saya sendiri."
"Berlian? Pantas saja Aqilla mau sama dia, Pak Radit pandai bersilat lidah, padai merayu wanita. Berlian apaan? Aku pernah mencicipi wanita yang kau sebut berlian itu, Pak, dan rasanya biasanya aja. Tak ada yang spesial. Emangnya Aqilla sespesial itu apa?" batin Ilham, meradang.
"Anda yakin mau menikahi mantan istri saya?" tanyanya dengan wajah datar.
"Kenapa tidak? Dia wanita baik, tulus dan apa adanya."
"Lebih baik Anda pikirkan lagi keputusan Anda untuk menikahi dia, Pak."
"Sudah ku duga kau akan ngomong seperti ini, Ilham. Itu artinya, kau tak rela saya menikahi mantan istrimu. Selamat Aqilla, misi balas dendam kita berhasil. Kalau pria brengsek ini melarang saya menikahi kamu, itu artinya dia tak rela dan cemburu melihat kamu menikah sama laki-laki lain," batin Radit, diam-diam melayangkan seringai tipisnya.
"Boleh saya tau apa alasannya? Kenapa saya harus pikir-pikir dulu buat menikahi mantan istri kamu?" tanya Radit, berdiri tegak lalu melangkah mendekat.
Ilham terdiam sejenak dengan kepala menunduk, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari alasan yang tepat agar atasannya itu bersedia membatalkan pernikahan. Jika ia gagal membujuk Aqilla, maka dirinya memiliki kesempatan untuk meracuni otak Radit. Bukankah Tuhan berada di pihaknya sekarang? Batin Radit, merasa menang.
"Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Radit. Bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan mantan istri saya, tapi saya rasa Anda terlalu sempurna untuk Aqilla," jawab Ilham, seraya menoleh dan menatap wajah Radit yang menghentikan langkah tepat di sampingnya. "Dia tidak sebaik yang Anda lihat. Itu sebabnya saya menceraikan dia. Eu ... saya ngomong kayak gini bukan karena saya cemburu, tapi karena saya kasihan sama Anda. Saya tak mau Anda salah memilih istri."
"Persis seperti dugaan saya. Kamu pasti akan meminta saya membatalkan pernikahan ini," batin Radit, duduk di ujung meja seraya memandang lekat wajah Ilham membuat pria itu seketika gugup.
"Jangan liatin saya seperti itu, Pak," pinta Ilham seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. "Saya jadi ngerasa gak enak. Kesannya seperti saya tak rela mantan istri saya menikah sama Anda. Padahal, saya hanya tak ingin Anda termakan tipu muslihatnya Aqilla."
"Kamu masih punya perasaan sama dia?"
"Hah? Ti-tidak, Pak. Saya sudah punya istri baru, Pak. Mana mungkin saya masih punya perasaan sama Aqilla."
"Apa kamu tau kapan saya bertemu sama Aqilla?"
"Tidak, Pak."
"Saya bertemu sama dia di jembatan."
"Hah?"
"Dia putus asa dan mau mengakhiri hidupnya dengan melompat ke sungai. Saya jadi penasaran, sebenarnya apa yang udah kamu lakuin ke dia sampe dia nekat mau bunuh diri."
Ilham terkejut, kedua matanya membulat. "Hah? A-Aqilla sempat mau bu-bunuh diri?"
Bersambung ....