Gayatri, seorang ibu rumah tangga yang selama 25 tahun terakhir mengabdikan hidupnya untuk melayani keluarga dengan sepenuh hati. Meskipun begitu, apapun yang ia lakukan selalu terasa salah di mata keluarga sang suami.
Di hari ulang tahun pernikahannya yang ke-25 tahun, bukannya mendapatkan hadiah mewah atas semua pengorbanannya, Gayatri justru mendapatkan kenyataan pahit. Suaminya berselingkuh dengan rekan kerjanya yang cantik nan seksi.
Hidup dan keyakinan Gayatri hancur seketika. Semua pengabdian dan pengorbanan selama 25 tahun terasa sia-sia. Namun, Gayatri tahu bahwa ia tidak bisa menyerah pada nasib begitu saja.
Ia mungkin hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi bukan berarti ia lemah. Mampukan Gayatri membalas pengkhianatan suaminya dengan setimpal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAYATRI 31
“Ibu yakin ingin menemui Nyonya Nayana itu?” tanya Keandra memastikan keputusan sang ibu yang atanya ingin bericara secara langsung dengan Nayana.
Lalu, Gayatri menoleh, tatapan matanya sempat ragu tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus membujuk Nayana agar mau menyetujui hubungan Keenan dan Shakira, karena hanya dengna cara itu saja ia bisa mengembalikan semangat hidup Keenan.
“Iya, ayo antarkan Ibu ke sana.” Gayatri begitu yakin bisa membujuk Nayana. Mereka sama-sama seorang ibu. Hanya seorang ibu yang rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya.
“Tapi, Bu. Bagaimana jika mereka … “ kata Keandra menggantung. Mengingat bagaimana sikap Nayana pada mereka terakhir kali membuat Keandra pesimis.
“Setidaknya Ibu sudah berusaha. Ingat, kita harus berusaha yang terbaik dulu,” katanya. Sebelah tangannya menarik lengan Keandra agar segera mengantarkannya.
“Ibu, apa sebaiknya kita memberitahu orang rumah dulu? Bagaimana jika mereka mencari kita?” tanya Keandra sebelum mereka benar-benar pergi.
Gayatri membenarkan posisi duduknya, “Nanti Ibu akan mengirim pesan. Lagipula nenek dan kakekmu pasti akan pulang malam, sementara Kaluna sedang menginap di rumah temannya.”
“Baiklah kalau begitu.”
Setelahnya, Keandra mengendarai motor kesayangannya melewati jalan raya. Tak membutuhkan waktu lama untuk mencari kediaman keluarga Mavendra itu. Rumahnya tepat berada di samping yayasan pendidikan yang cukup terkenal.
“Apa benar ini rumahnya?” tanya Gayatri seolah tak yakin.
Keandra mengecek ponselnya sekali lagi untuk memastikan lalu mengangguk. “Benar, ini rumah Kak Shakira.”
Gayatri langsung memencet bel yang ada di samping gerbang, kemudian salah seorang penjaga keluar dan menanyai keperluan mereka.
Belum sempat Gayatri mengatakan maksud tujuannya, sebuah mobil mewah melintasi mereka, hendak masuk ke dalam. Kaca mobil itu terbuka, dan wajah Nayana yang tersenyum sombong langsung menyapa keduanya.
“Kebetulan yang sangat kebetulan,” kata Nayana tanpa turun dari mobil. “Ada perlu apa kalian ke sini?” tanyanya lagi.
Gayatri baru membuka mulut, hendak mengatakan niatnya. Tetapi, Nayana langsung menutup kaca mobilnya.
Keandra dan Gayatri saling berpandangan.
“Nyonya bilang silakan masuk,” kata penjaga itu, mengantarkan Gayatri dan Keandra masuk ke dalam rumah keluarga Mavendra yang begitu megah.
Gayatri dan Keandra memasuki rumah mewah itu dengan tatapan takjub. Mereka tak pernah melihat rumah mewah kecuali di dalam televisi.
“Silakan duduk dulu,” kata Nayana datar. “Aku benar-benar terkejut sekali melihat kedatangan kalian. Bagaimana dengan perjalanan kalian? Mencari rumahku tidak terlalu sulit, kan?”
Gayatri tersenyum ramah, “Tentu saja tidak, kami—”
“Aku tidak suka berbasa-basi, jadi katakan saja apa tujuan kalian datang ke rumahku,” kata Nayana langsung.
Gayatri terdiam sejenak, memikirkan pilihan kata yang tepat untuk memulai percakapan serius mereka.
“Jangan bilang kalau kau datang ke sini untuk melamar putriku. Kau tahu, bukan? Aku sama sekali tidak akan mengizinkannya.” Nayana menatap Gayatri tegas.
“Aku tahu kau akan langsung mengatakan hal itu, Nyonya Nayana. Tapi, sebagai seorang Ibu, bukankah kita hanya menginginkan kebahagiaan untuk anak-anak kita?”
“Benar. Lalu?”
“Aku tidak tahu harus bagaimana memulainya, tetapi ,,, izinkanlah putra dan putri kita untuk bersama. Paling tidak—”
“Tidak akan pernah,” sela Nayana, ekspresinya berubah tak suka. “Aku setuju denganmu soal kita adalah seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan untuk anak-anak kita. Tapi, Bu Gayatri, bukankah terlalu dangkal jika kita mendefinisikan kebahagiaan hanya soal rasa?”
Gayatri tertunduk, kemudian kembali mengangkat kepalanya dengan tegas. “Materi mungkin bisa dicari, Nyonya. Tetapi kebahagiaan anak-anak, bagiku itu yang terpenting. Jujur saja, aku merasa sedih melihat putraku seperti manusia yang tak memiliki semangat hidup. Kau juga pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, bukan?”
Nayana terdiam, tapi kedua telinganya tetap mendengarkan.
“Karena saat kau melihat anakmu bersedih, yang kau pikirkan bukan lagi materi, tetapi kebahagiaan mereka. Di saat seperti itu, seorang ibu bisa melakukan apa pun demi senyuman anaknya,” kata Gayatri lagi.
Nayana tersenyum singkat, “Kau mungkin benar. Tapi tetap saja, aku tidak bisa bertaruh dengan masa depan putriku. Kau juga memiliki seorang putri bukan? Kelak kau pasti akan berpikiran sama denganku,” balas Nayana.
Mendengar hal itu, Gayatri tersenyum kaku. Sepertinya, untuk hal yang satu itu, ia pun tidak bisa melakukan banyak hal, selain membuat anaknya sendiri mengerti.
“Sebenarnya,” kata Nayana lagi. “Aku kagum dengan kegigihan putramu, dia benar-benar seorang pekerja keras. Jika seandainya dia menikahi putriku, aku yakin dia akan membahagiakan putriku. Hanya saja ….” Nayana menelisik penampilan Gayatri dari atas hingga ke bawah.
“Aku akan memikirkannya kembali, Bu Gayatri.”
Mendengar hal itu, Gayatri seperti mendapatkan titik temu. “Benarkah itu, Nyonya? Apakah kau menyetujui hubungan anak kita?” tanyanya memastikan.
“Aku bilang, aku akan memikirkannya,” kata Nayana mengulangi ucapannya.
Gayatri langsung tersenyum senang, jika putranya tahu hal ini, Keenan pasti akan merasa senang. Tiba-tiba saja Gayatri ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Setelahnya, mereka memilih berpamitan pulang setelah berkali-kali mengucapkan terima kasih. Meskipun Nayana mengatakan akan memikirkannya, tapi itu saja sudah cukup membuat hati Gayatri berbunga.
“Kau mendengarnya, kan? Kita harus segera memberitahu kakakmu, Andra!” pekik Gayatri senang.
Keandra turut senang, keyakinan ibunya benar-benar harus ia banggakan. “Ibu sepertinya selalu bisa memecahkan semua masalah kami,” puji Keandra.
***
Sementara itu di tempat lain, seorang pria tengah duduk sambil memainkan pena berharga miliknya. Matanya menatap lurus ke luar jendela perusahaan, ke arah pemandangan malam kota yang gemerlap. Kota yang sudah lama sekali tidak ia kunjungi.
Ia sudah memiliki segalanya, semua hal sudah berada dalam genggamannya, kecuali pasangan. Selama 25 tahun ia terus mencari sang pujaan hati. Namun, sebanyak apapun perempuan yang ia temui, sosok perempuan di masa lalunya tak pernah bisa digantikan.
“Tuan, apa tidak sebaiknya Anda beristirahat? Anda baru saja pulang dari London,” kata sang asisten, mengkhawatirkan kondisi majikannya.
“Aku tidak apa-apa, Nath. Persiapkan saja hal yang kuminta,” katanya tegas. Suaranya dalam namun lembut.
Asisten yang bernama Nathan itu langsung menganggukkan kepala, “Baik, Tuan.”
Selepas kepergian sang asisten, pria itu berdiri menghadap jendela, menarik napas panjang seraya menatap kegelapan malam yang terasa mengerikan baginya. Ia sudah berkelana jauh hanya untuk menemukan satu hal yang kurang dalam hidupnya. Cinta.
Ia lantas menatap pena di tangannya lama. Pena yang pernah diberikan perempuan itu. “Aku bisa gila karena terus mencintaimu tanpa henti,” gumamnya menertawai dirinya sendiri.
“Dua puluh lima tahun, kenapa aku masih belum bisa melupakanmu? Apa ini benar-benar cinta atau hanya kegilaanku saja?” monolognya seraya membenarkan posisi kacamatanya.
Ia menatap ke luar lagi, pantulan dirinya muncul di sana. Wajahnya yang rupawan seringkali menjadi perbincangan. Tak sedikit perempuan mengidolakannya, namun tak ada satu pun dari perempuan-perempuan itu yang bisa memikat hatinya.