pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.
kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.
kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.
siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.
>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"
Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 13. Camping
Hari berikutnya, Aiden mengajak Oma Laras untuk menjenguk Stella, sebenarnya itu saran dari Sandy, hanya saja dirinya malu untuk berucap langsung dengan orangtuanya.
*Flashback on
"Aiden, ajak Oma jenguk Bunda, yuk?" ucap Sandy menghampiri Aiden yang tengah bermain replika robot Ironman.
Aiden mendongak dan mengangguk antusias. "Oke, Dad."
Aiden segera berlari menghampiri Laras yang sedang bersantai di gazebo tepi kolam renang. "Omaa jenguk Bunda Stella, yuk? Sama Daddy," ucapnya antusias, menunjuk pada Sandy yang pura-pura membaca koran.
Laras menoleh. "Oma ganti baju dulu, ya?" jawabnya mengelus kepala Aiden.
Flashback off*
"Assalamualaikum.." ucap Aiden dan Laras seraya membuka pintu rawat inap Stella. Sedangkan Sandy masih berada di luar untuk mengangkat telepon.
"Wa'alaikumsalam."
Stella menoleh dan terkejut melihat kehadiran Aiden dan juga Laras. "Tante? Aiden?"
Aiden berlari dan langsung naik ke bed pasien, lalu memeluk Stella. "Aiden kangen sama Bunda, Bunda cepet sembuh, ya?"
Stella tersenyum. "Iya, Sayang. Bunda juga kangen sama Aiden," jawabnya mengusapi punggung Aiden dengan sebelah tangannya yang bebas dari selang infus.
Sandy yang baru masuk mengambil duduk di sofa.
"Bagaimana kabarmu, Ste? Maafkan tante baru sempat ke sini," sesal Laras memperhatikan wajah Stella yang pucat.
Stella tersenyum. "Alhamdulillah sudah mendingan, Tante. Maaf sudah merepotkan."
Laras mengelus lengan Stella. "Tidak ada yang direpotkan, bahkan sewaktu Aiden sakit, kamu terus menunggunya sampai sembuh."
"Aku senang menemani pria tampan ini," jawab Stella mencubit pipi Aiden gemas, juga menggosok wajah Aiden dengan dahinya.
Aiden tertawa. "Geli, Bunda," ucapnya berusaha menghindar.
Sandy terdiam memperhatikan kebersamaan Stella dan Aiden, ia ikut tersenyum melihat keduanya tertawa.
"Kamu siapanya Stella?" Laras beralih menatap pada Sari.
Sari mengulurkan tangan hendak mencium tangan Laras. "Saya Sari, Bu. Karyawan di butiknya Mbak Stella."
Laras mengangguk. "Panggil Tante saja."
Sari terkesiap. "Eh? I-ya, Tante," jawabnya sungkan.
"Orangtua kamu dimana, Ste?" tanya Laras kembali memusatkan tatapan pada Stella.
Stella menoleh. "Ayah di Bandung. Ibu sudah meninggal."
"Oh, maaf," sesal Laras tak enak.
"Tidak apa-apa, Tante," tanggap Stella tersenyum maklum.
"Ayah kamu tidak ke sini?" Sandy membuka suara, membuat tatapan mengarah padanya.
"Aku sengaja tidak mengabari kalau aku di rawat," jawab Stella.
"Kenapa, Stella?" Laras menyahut lembut.
"Aku tidak mau merepotkan Ayah dan keluarga barunya," jawab Stella membuat Laras dan Sandy mengernyit bingung.
Sedangkan Sari yang sudah mengetahui perihal keluarga Stella hanya diam sambil mengajak Aiden bermain di sofa.
"Setelah Ibu meninggal, Ayah menikah lagi," terang Stella melihat raut kebingungan dari keduanya.
"Kamu bilang Ayah kamu di Bandung? Lalu, kamu di Jakarta dengan siapa?" tanya Laras penasaran.
Stella melipat bibirnya. "Dulu, setelah menikah, mendiang suami dapat promosi jabatan di Jakarta, kami memutuskan pindah dan menetap di sini."
"Ada family di Jakarta?"
"Kalau family tidak ada, tapi kalau teman rasa family ada," gurau Stella tersenyum kecil.
Sandy tertegun menatap wanita yang terduduk di atas bed pasien tengah menyunggingkan senyuman indah. Sangat Manis.
Stella yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Sandy, keduanya terlibat kontak mata beberapa detik, namun Stella segera mengalihkan tatapan.
"Ehem!" Laras berdehem menyadarkan Sandy dari keterpesonaannya terhadap Stella.
Sandy yang mendengar sindiran Laras segera berdehem kecil, mengusap belakang lehernya untuk mengalihkan kegugupannya.
Sedangkan Laras dan Sari mengulum senyum melihat keduanya salah tingkah, khususnya Sandy yang ketahuan basah menatap Stella.
...***...
Beberapa hari terakhir, Laras rutin mengunjungi Stella di rumah sakit. Ia merasa kasihan, sebab tak ada satupun keluarga Stella yang menemani, setidaknya itu bentuk balas budinya terhadap Stella dulu.
Tidak dengan Sandy, karena pria itu tengah berada di luar negeri untuk urusan bisnis selama satu minggu, dan berlanjut ke luar kota selama satu bulan.
Selama Sandy di luar kota, Laras mengizinkan Aiden sering berkunjung ke butik Stella untuk sekedar bermain. Tentunya setelah Stella diperbolehkan pulang oleh dokter.
Bahkan hampir setiap hari, sepulang sekolah, Aiden mampir ke butik Stella, tak jarang Laras juga ikut berkunjung sekedar bertegur sapa.
Jerry yang awalnya kaget dengan kehadiran Aiden di butik Stella, lama kelamaan mulai terbiasa, bahkan Jerry sempat terkejut akan panggilan Bunda yang diucapkan Aiden.
"Ste, dia anak siapa?" tanya Jerry penasaran, —kala itu.
"Ini Aiden, anakku," jawab Stella asal.
Jerry melotot. "Sejak kapan kamu menikah, Ste? Kenapa kamu tidak mengundangku?" protesnya.
Stella tergelak. "Aku bercanda, Jer." Stella menepuk pundak Jerry. "Dia anak temanku," imbuhnya memperhatikan Aiden yang tengah mengerjakan tugas sekolah.
Jerry memicing tajam. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.
Stella mengangguk.
Jerry menghembuskan nafas kasar. "Tapi, kalaupun dia anakmu, itu tidak masalah, Ste. Dia pria kecil yang tampan," ujar Jerry tersenyum menggoda.
Stella mendelik.
"Hei, tampan, siapa namamu?" tanya Jerry menunduk, karena posisi Aiden yang tengah lesehan.
Aiden mendongak. "Aiden, Om."
"Bagaimana kalau besar nanti, kamu jadi menantuku?"
"Menantu itu apa, Om?" tanya Aiden polos.
Plak!
Stella memukul lengan Jerry. "Jangan mengajari hal buruk padanya, Jerry," peringatnya menatap tajam. Ia beralih menatap Aiden. "Aiden, jangan dengarkan Om ini, ya? Aiden lanjut mewarnai saja, oke," Stella mengedipkan sebelah matanya pada Aiden.
Aiden mengangguk dan melanjutkan kegiatannya mewarnai.
"Hei, kenapa? Dia akan aku jodohkan dengan Caramel," jawab Jerry protes.
Plak!
Lagi, Stella memukul lengan Jerry. "Kamu lupa? Caramel baru berumur lima bulan, Jerry," desisnya mendesah jengah. "Kamu Ayah yang gila," imbuhnya mengucap dengan gerakan bibir. Stella tidak ingin Aiden mendengar kata-kata yang kurang baik.
Jerry tergelak. "Kenapa kamu yang marah, Ste? Mungkin kalau aku bicara dengan orangtuanya, mereka akan setuju," goda Jerry menaik turunkan alisnya.
Stella memicing menatap Jerry yang masih terbahak. "Dasar gila," cibirnya pelan.
*
Tidak beda jauh dengan Jerry. Rega yang beberapa kali mengunjungi butik selalu melihat Aiden di sana. Ia juga penasaran kenapa anak itu memanggil Stella dengan Bunda?
"Kenapa dia memanggilmu Bunda, Ste?" protes Rega tidak terima.
"Memangnya kenapa?"
"Dia bukan anakmu, Ste. Bagaimana kalau orang lain salah paham?"
Stella berbalik menatap Rega. "Aku tidak peduli tanggapan orang lain, Ga. Aku tidak merasa keberatan Aiden memanggilku Bunda, lagipula aku yang memintanya memanggilku seperti itu," jawabnya.
"Tapi bagaimana dengan orangtuanya?"
"Ibunya meninggal, dan Ayahnya sama sekali tidak keberatan," balas Stella acuh. Ia merasa sikap Rega terlalu berlebihan hanya karena Aiden memanggilnya Bunda.
Rega melotot. "Jadi dia anak seorang duda?" tebaknya meninggikan suara.
Stella mengangguk. "Iya."
"Lalu, dimana Ayahnya?" tanya Rega penasaran. Sebenarnya ia kesal karena Stella dekat dengan anak seorang duda, Rega merasa mempunyai saingan.
"Ke luar kota."
"Apa tidak ada keluarganya? Kenapa dia selalu berada di sini, Ste? Dia bukan siapa-siapamu?" Rega masih terus mengungkapkan aksi protesnya.
Stella mengernyit, tidak terima saat Rega mengatakan bahwa Aiden bukan siapa-siapa baginya. Meskipun pada kenyataannya memang benar. "Ada apa denganmu, Ga? Kenapa kamu bicara seperti itu?"
Rega mendekat, memegang kedua lengan Stella. "Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya, Ste," ucapnya melembut.
Stella mundur beberapa langkah, keningnya mengerut semakin dalam. "Apa maksudmu, Ga?"
Rega meraup wajahnya, kemudian mengacak rambutnya frustasi. "Kamu dekat dengan anak seorang duda, sangat mungkin kamu juga dekat dengan Ayahnya, Ste. Aku tidak menyukai kamu dekat dengan laki-laki lain," tuturnya kesal.
Stella terkesiap, sebenarnya sudah lama ia mengetahui bahwa Rega mempunyai perasaan padanya, namun Stella menampik pikiran itu. Ia merasa tidak pantas untuk seorang Rega yang masih belum pernah menikah, tampan dan kaya, sedangkan dirinya seorang janda. "Ke-napa?" tanyanya mendadak gugup.
"Karena aku —"
"Bundaaa."
Teriakan Aiden menghentikan ucapan Rega, membuat Rega mengerang frustasi.
"Aku pergi dulu, Ste," Rega gegas berbalik meninggalkan Stella yang berdiri di tempatnya.
Stella menatap Rega yang berjalan keluar dari butiknya. "Maafkan aku, Rega," ucapnya lirih
...***...
Dua hari berikutnya, Stella menemani Aiden camping di puncak, mengikuti acara sekolah.
Itu permintaan dari Laras serta Aiden, Aiden terus saja merengek agar Stella mau menemaninya camping, Aiden berujar kalau semua temannya pergi dengan Mommynya, ia juga ingin ditemani Mommy.
Aiden tidak mau pergi dengan Fara, dia tidak suka dengan Fara. Lagipula, Stella juga tidak begitu yakin dengan Fara, alhasil Stella setuju untuk menemani Aiden camping selama dua hari.
Di sana, tentu saja Stella bertemu dengan Erin. Dan Erin sangat terkejut melihat Stella yang datang bersama Aiden.
"Lo ada hubungan apa sama bokapnya Aiden?" selidik Erin setelah keduanya duduk di kursi panjang, mengawasi anak-anak bermain pasir.
"Enggak ada, Rin. Gue cuma dekat dengan Aiden tidak dengan Daddynya."
Erin memicing. "Elo yakin?" tanyanya penuh selidik.
"Yakin. Lagipula, Sandy sudah punya calon istri," jawab Stella mengangkat bahu.
Erin tampak mengingat. "Oh, iya, gue pernah melihat Aiden diantar seorang wanita, jadi itu benar calon ibu tiri Aiden?" tanyanya memastikan.
Stella mengangguk. "Sepertinya begitu," jawabnya singkat.
Erin menggeser duduknya lebih dekat. "Tapi, Ste. Gue lebih setuju kalau lo yang jadi ibu tiri Aiden," bisiknya.
Stella menarik kepalanya. "Jangan ngaco."
"Ih, gue serius, Stella. Lagipula, Aiden kelihatan akrab banget sama lo," Erin menjeda ucapannya. "Dan lo tahu? Bokapnya Aiden itu ganteng banget, Ste. Duren, duda keren, tajir, siapa yang nggak mau sama doi?" sambung Erin tersenyum menerawang.
Stella menoel pipi Erin. "Jangan bayangin yang enggak-enggak. Elo udah punya suami, udah ada Vini juga."
Erin mencebik karena Stella mengacaukan bayangannya. "Cuma bayangin doang, Ste," balasnya menyengir.
~•
•~
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia
aneh sich
tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya