Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.
Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya
Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.
Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon Dari Andrean
Keesokan Harinya..
Darren saat ini berada di kamarnya. Dia sedang menyiapkan beberapa berkas dan beberapa materi kuliahnya. Setelah semuanya terkumpul, Darren memasukkan ke dalam tas.
Ketika Darren sedang sibuk dengan buku-bukunya dan berkas-berkasnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Darren melirik ke layar ponselnya yang ada di sampingnya. Terlihat disana panggilan video call dari ketujuh sahabat-sahabatnya.
Klik..
Darren langsung menggeser tombol hijau ke atas sehingga panggilan tersebut tersambung.
"Woi, anak kelinci!" teriak kompak ketujuh sahabat-sahabatnya.
Pip..
Darren seketika langsung mematikan panggilan tersebut dengan wajah super kesal. Hari masih pagi, ketujuh sahabat-sahabatnya itu sudah mengajak ribut dengan menyebut kata keramat tersebut.
Drtt..
Drtt..
Ponselnya kembali berdering menandakan panggilan video call dari ketujuh sahabat-sahabatnya.
Pip..
Darren kembali mematikan panggilan tersebut. Dia sengaja melakukan hal itu untuk membalas ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
Ponselnya kembali berdering, namun lagi-lagi Darren kembali mematikan panggilannya. Dia tersenyum penuh kemenangan untuk saat ini. Dia tidak peduli jika ketujuh sahabat-sahabatnya itu menyumpah serapah dirinya. Yang jelas untuk saat ini hatinya benar-benar puas.
Selesai dengan urusannya menyusun berkas-berkas dan buku-buku kuliahnya, Darren pun pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju lantai bawah.
^^^
Di ruang makan, ayah dan keenam kakaknya sudah duduk disana. Jika ayah dan keempat kakak tertuanya sudah mulai dengan memakan sarapannya. Berbeda dengan Gilang dan Darka. Keduanya saat ini tengah menunggu adiknya. Mereka ingin sarapan bersama dengan adiknya itu.
Beberapa detik kemudian..
Terukir senyuman manis di bibir Gilang dan Darka ketika melihat kedatangan adik kesayangannya.
"Ren, duduk disini!" seru Gilang dan Darka bersamaan sembari tangannya menunjuk kursi tengah.
Mendengar ucapan serta melihat arah tunjuk kedua kakaknya itu seketika Darren tersenyum. Kemudian dia melangkah mendekati kedua kakaknya itu.
"Ayo, duduk!" Gilang dan Darka membantu adiknya untuk duduk dengan Gilang menyeret sedikit ke belakang kursi tersebut.
Setelah melihat adiknya itu duduk, Gilang dan Darka pun menduduki pantatnya di kursinya. Posisinya sekarang ini adalah Gilang sebelah kanan, Darren di tengah dan sebelah kiri adalah Darka.
"Ini susu untuk kamu. Kakak meminta Bibi untuk buatkan untuk kamu," ucap Darka yang mendorong segelas susu putih kearah Darren.
"Dan ini sop ayam kesukaan kamu. Ini murni kakak yang buat," ucap Gilang menunjuk sop ayam pada adiknya.
Darren melihat segelas susu putih dan semangkuk sup ayam kesukaannya merasakan kehangatan di hatinya.
Tes..
Seketika air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Sejak kejadian itu dia tidak pernah lagi memakan sop ayam buatan kakak kesayangannya itu, walau para pelayan sering membuatkannya sop ayam.
Namun bagi Darren sop ayam buatan kakak bantetnya itu lebih enak.
Melihat Darren yang tiba-tiba menangis membuat hati Gilang dan Darka sesak, terutama Gilang. Gilang langsung paham apa yang membuat adiknya itu menangis.
Sementara untuk Erland dan keempat putra tertuanya itu juga merasakan sakit di hatinya ketika melihat Darren menangis. Mereka menatap dengan tatapan sedih kearah Darren.
"Ada apa, hum?" tanya Gilang yang pura-pura tidak tahu.
"Ini adalah sop ayam pertama yang kakak buat untukku. Terakhir aku memakannya sebelum kejadian itu," sahut Darren.
Detik kemudian..
Grep..
Gilang langsung memeluk tubuh adiknya itu. Dia memeluknya begitu erat.
"Hiks... Kakak. Aku begitu merindukan kakak, terutama aku merindukan sop ayam buatan kakak... Hiks,"
Gilang menangis ketika mendengar ucapan dari adiknya. Hatinya benar-benar sakit karena sudah membuat adiknya memendam kerinduan akan sop ayam buatannya.
"Maafkan kakak yang sudah buat kamu tertekan selama ini. Maafkan kakak yang terlalu bodoh karena tidak membela kamu terang-terangan. Maafkan kakak yang buat kamu tersiksa akan kerinduan kamu akan sop ayam buatan kakak." Gilang berucap dengan deraian air mata.
Grep..
Darka ikut memeluk adiknya itu. Dia juga menggumam kata maaf kepada adiknya.
"Kakak juga mau minta maaf sama kamu. Maafkan kakak yang tidak membela kamu ketika Papa dan keempat kakak kita nyakitin kamu. Maafkan kakak yang hanya diam disaat mereka bersikap buruk kepada kamu. Sekarang kamu tidak sendirian lagi. Ada kakak dan kak Gilang. Kita berdua akan selalu ada untuk kamu," ucap Darka.
"Jangan tinggalkan aku. Dan jangan pernah benci aku."
"Nggak akan!" Gilang dan Darka menjawab bersamaan.
Tes..
Air mata Erland dan keempat putra tertuanya yaitu Davin, Andra, Dzaky dan Adnan mengalir membasahi pipinya. Mereka menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga putranya/adiknya itu.
"Darren, Sayang!"
"Ren!"
Gilang dan Darka kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu, keduanya menghapus air mata adiknya itu.
"Sudah, jangan nangis lagi."
"Sekarang makanlah."
"Hm."
[Mama, Oma! Sekarang kak Gilang dan kak Darka sudah kembali padaku. Mereka tidak membenciku. Justru mereka selama ini mempercayai aku. Mereka diam selama ini karena tidak ingin melihat aku mendapatkan perlakuan yang lebih buruk lagi]
[Mama, Oma! Aku bersumpah akan membalas kematian kalian. Aku janji]
Darren berucap di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap makanan di depannya, sesekali dia menatap kearah dua kakak kesayangannya.
Sementara untuk Erland dan keenam putranya kini dalam keadaan menangis. Mereka menangis terisak terutama Erland dan keempat putra tertuanya.
Air mata mereka jatuh begitu deras membasahi pipinya. Mereka menangis karena mendengar isi hati Darren.
Darren tiba-tiba melihat kearah Gilang dan Darka. Dan seketika dia terkejut ketika melihat kedua kakaknya itu menangis.
"Kak, kenapa menangis?" tanya Darren.
Setelah bertanya kepada kedua kakak kesayangannya, Darren melirik sekilas kearah ayah dan keempat kakak tertuanya. Dia juga melihat ayah dan keempat kakak tertuanya itu juga menangis.
Setelah itu, Darren kembali menatap kearah kedua kakak kesayangannya.
"Ada apa?"
Gilang dan Darka langsung menghapus air matanya. Setelah itu, mereka tersenyum.
"Tidak ada apa-apa," jawab Darka.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa nangis?" tanya Darren.
"Kakak nangis karena bahagia. Bahagia karena bisa meluk kamu, bahagia bisa buatkan sop kesukaan kamu lagi." Gilang menjawab pertanyaan dari adiknya.
"Hm." Darka berdehem bersamaan anggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku percaya."
Setelah itu, Gilang dan Darka serta Darren memulai sarapannya. Begitu juga dengan ayahnya dan keempat kakak tertuanya.
Ketika Darren, ayahnya dan kakak-kakaknya sedang sarapan, tiba-tiba ponsel miliknya berdering menandakan panggilan.
Mendengar bunyi ponselnya, Darren langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.
Ketika ponselnya di tangannya, Darren melihat nama 'Andrean' di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan dari Andrean.
"Ndre, ada apa?"
"...."
"Iya, kenapa?"
"...."
"Wah, benarkah?"
"...."
"Baguslah. Itu akibatnya karena terlalu ikut campur urusan orang lain. Terus apa yang dia lakukan? Nggak mungkinkan dia akan diam saja melihat perusahaannya yang akan segera bangkrut?"
"...."
"Oh, jadi dia tengah berusaha untuk membuat imeg yang baik di depan para CEO dari ke delapan perusahaan besar itu? Dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah CEO perusahaan yang memiliki pengalaman yang besar di dunia bisnis?"
"...."
"Wah! Demi mendapatkan dukungan dari kedelapan perusahaan besar dan terkenal di dunia sampai rela melakukan hal licik itu?"
"...."
"Apa yang ingin dia lakukan padaku?"
"...."
"Oh! Jadi dia sudah tahu tentang apa yang terjadi terhadap ibuku dan Omaku?"
"...."
Darren seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Andrean yang mengatakan bahwa wanita yang datang ke rumahnya untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan ayahnya itu telah mengetahui tentang dia yang sebagai pemilik perusahaan Accenture.
"Biarkan saja. Aku mau melihat sampai dimana dia akan berkoar-koar di depan semua orang dengan menyangkut pautkan kejadian yang menimpa ibuku dan Omaku."
"...."
"Disinikan hanya aku dan ketujuh sahabat-sahabatku yang memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaannya. Masih ada tujuh perusahaan besar lainnya yang masih bertahan."
"...."
"Dia tidak jadi menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan wanita sialan itu setelah mendengar kabar akan kondisi dari perusahaan calon rekan kerjanya itu."
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darren membuat Erland seketika langsung paham. Begitu juga dengan keempat putra tertuanya. Seketika Erland merasakan sesak disaat putra bungsunya itu tidak menyebut kata 'Papa', melainkan kata 'dia'
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Darren membuat Andrean di seberang telepon seketika langsung paham.
"Intinya! Wanita sialan itu akan mendapatkan kejutan besar disaat dia berniat ingin membuatku malu di depan semua orang. Aku akan mendatangkan CEO dari delapan perusahaan terkenal di dunia dan di kota Hamburg, ditambah dengan delapan perusahaan besar lainnya yang mana delapan perusahaan tersebut adalah relasi dari kedelapan perusahaan terkenal itu. Mereka sudah menjalin hubungan kerjasama sekaligus persahabatan sejak lama."
"So."
"...."
"Yup! Anda benar sekali, tuan Andrean! Dia pasti akan berpikir bahwa kedatangkan para 16 CEO itu adalah usahanya. Tujuannya adalah untuk mempermalukanku sekaligus menghancurkan aku. Padahal fakta yang sebenarnya, akulah yang meminta mereka untuk datang dengan mengatasnamakan perusahaan Accenture dan Micro Sinopec."
"...."
"Iya. Di hari itu juga dan saat itu juga, hidup wanita itu sudah tidak ada artinya lagi. Dengan kata lain, hancur total!"
"...."
"Boleh aku meminta sesuatu darimu?"
"...."
"Eeemmm... Rebut perusahaan wanita itu, tidak peduli perusahaannya itu bangkrut. Ditanganku, perusahaan itu akan kembali sukses. Aku juga mau semua apa yang dimiliki oleh wanita itu dan semua anggota keluarganya hilang seketika. Dengan kata lain, mereka tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini. Dan terakhir, Boikot mereka dari semua dunia bisnis."
Mendengar ucapan sekaligus permintaan dari putra bungsunya/adik bungsunya membuat Erland dan keenam putranya seketika terkejut dengan tatapan matanya membelalak menatap kearah Darren. Mereka semua tak menyangka jika putranya/adiknya akan meminta hal itu kepada orang yang ada di seberang telepon.
"Siapa kamu sebenarnya, Nak?" batin Erland.
"...."
"Baiklah."
Tutt..
Tutt..
Panggilan dimatikan oleh Andrean. Seketika Darren tersenyum di sudut bibirnya setelah berbicara dengan Andrean dan mendengar informasi darinya.
[Kau sudah salah bermain denganku, Nona Wina! Kau tidak tahu siapa aku dan orang-orang di belakangku. Tunggu saja apa yang menantimu dan kejutan apa yang akan aku berikan diacara yang kau buat itu]
Erland dan keenam putranya saling memberikan tatapan ketika mendengar isi hati Darren. Mereka meyakini bahwa akan terjadi sesuatu di tempat acara yang akan diselenggarakan oleh wanita yang bernama Wina.
penasaran kelanjutannya
semangat
up lagi ya
kasian Darren
semangat trus kak