Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kepergok Danis
Danis masih mengamati kamar Davis. "Cincin, cincin apaan? Mencurigakan," bisik Danis sembari fokus menatap ke dalam.
Danis masih berkutat memikirkan ucapan Davis tadi di bawah, mengenai perempuan yang dikatakannya merupakan orang yang sudah dekat dengan mereka sejak dulu.
Danis mengerutkan keningnya dalam, hatinya menebak bahwa orang yang dimaksud Davis adalah Silva. Dan mengenai beresiko yang dikatakan Davis tadi, tentu saja beresiko, sebab orang pertama yang akan menghalangi hubungan mereka adalah sang mama. Sang mama hanya menginginkan Silva tetap jadi anak meskipun statusnya anak adopsi.
"Apakah benar Silva? Ya ampun, sepertinya dugaanku benar. Davis sudah keterlaluan," bisik Danis seraya merangsek masuk ke dalam kamar Davis tanpa permisi.
"Silva, Davis, apa-apaan kalian? Kenapa kamu tindih Silva seperti itu? Kalian ini adik kakak. Bangun," sentak Danis mengejutkan mereka berdua.
"Kak Danis, Kak Davis mau balas dendam karena barusan aku gelitik pinggangnya. Lalu Kak Davis menarik tanganku dan tubuhku kebanting di atas ranjang. Huhhh, menyebalkan. Mana, anunya menonjol lagi," adunya dengan bibir mengerucut tajam.
"Apa kamu bilang, anunya menonjol? Ya ampun, Davis. Jangan kelewatan kamu bercanda. Walaupun kalian adik kakak, tapi tidak sepantasnya bercanda seperti itu, tindih-tindih tubuh Silva. Sini kamu. Silva keluar dari kamar kakakmu," usir Danis pada Silva. Silva patuh, dia membiarkan Danis memarahi Davis di dalam kamarnya.
Davis yang sejak tadi berdiri terdiam, hanya menatap datar sang kakak. Ia merasa ketahuan oleh sang kakak.
"Apaan sih kamu, Dav? Jadi curiga. Jangan-jangan perempuan yang kamu maksud itu Silva, iya?" tatap Danis menuntut jawab.
"Lepaskan dulu, jangan tarik kerahku dong, Bang." Davis protes, ia berjalan menuju sofa lalu duduk di sana.
"Jelaskan, siapa perempuan yang kamu maksud itu, apakah Silva?" ulang Danis masih belum berhenti.
"Menurutmu gimana, Bang?" Davis malah balik bertanya.
"Gimana apanya? Aku sedang bertanya samamu, Dav. Jelaskan, siapa perempuan itu? Apakah benar Silva?"
"Iya, perempuan itu Silva. Aku mencintai Silva," akunya sungguh mencengangkan.
"Jadi, benar?" Danis masih ingin menyangkal kalau perempuan yang dicintai adiknya itu adalah Silva.
"Iya, sudah aku katakan, perempuan itu adalah Silva. Dan aku mencintainya." Davis sudah tidak menutupi lagi perasaannya di depan sang kakak. Davis juga tidak mau menyimpan rahasia hatinya dari sang kakak. Satu orang sudah mengetahui, hati Davis sedikit lega.
"Kamu sungguh mencintainya? Apakah kamu sadar resiko terbesar mu adalah mama? Kamu harus bisa meyakinkan mama kalau kamu mencintai Silva, dan itu tidak mungkin. Karena mama hanya menginginkan Silva hanyalah jadi anaknya, bukan jadi anak angkat lalu berubah jadi menantu," tegas Danis.
Diakui Davis, tembok paling tinggi yang akan menentang hubungan dirinya bersama Silva, tentu saja sang mama, diapun tahu.
"Tapi, aku mencintainya, Bang. Aku tidak bisa membendung lagi rasa cinta ini pada Silva. Aku ingin memiliki dan melindunginya. Coba bayangin kalau dia suatu kali menikah dengan lelaki lain, lalu dia dibawa orang itu, tapi ternyata Silva hanya disia-siakan, mama juga pasti tidak akan terima. Lebih baik aku yang memiliki dia. Aku bisa mencintainya dan melindunginya, dengan begitu mama tidak akan kehilangan Silva dari rumah ini, karena yang memilikinya anak mama sendiri," urai Davis berharap Danis mengerti apa yang dirasakannya.
"Aku paham, tapi mama tidak mungkin punya pikiran sesederhana itu. Tahu sendiri mama seperti apa orangnya, mama itu keras dan sekali dia menyayangi orang itu sebagai anak, maka mama akan menyayanginya hanya sebagai anak. Kecuali jika kamu bisa menaklukan mama," balas Danis membuat hati Davis menciut, karena dia tahu sang mama seperti apa,
"Lalu bagaimana dengan perasaanku, Bang? Tidak pantaskah aku memperjuangkannya? Lagian Silva bukan darah daging mama dan papa, wajar aku mencintainya." Davis terlihat bingung, kini tangannya mengusak jambul tipisnya kasar.
"Lakukan dengan cara ksatria. Kamu datangi mama baik-baik dan selami hatinya. Saat mama luluh, kamu ceritakan maksudmu. Sesekali pakai pelicin buat memanjakan mama," usul Danis.
"Mama itu tidak butuh disogok, mama sudah banyak duit," tepis Davis.
"Kalau begitu, pikir saja sendiri caranya bagaimana. Ak hanya bisa kasih saran seperti itu. Otakku sudah buntu melihat kelakuanmu yang jatuh cinta pada adik sendiri." Danis berlalu dari kamar Davis setelah dirasa tidak ada lagi saran yang bisa meringankan beban hati Davis.
"Huhh, Bang Danis. Tidak bisa diandalkan ternyata. Lalu aku harus bagaimana? Aku tetap harus berterus terang sama mama kalau aku mencintai Silva," renungnya bicara sendiri.
Sementara itu, Silva yang tadi meninggalkan kamar Davis, perasaannya kini seakan tidak karuan. Dia kepikiran dengan sikap kakaknya Davis.
"Kenapa dengan Kak Davis, sudah beberapa hari dengan hari ini, sikapnya sangat aneh? Ihhhh, kenapa pula tadi anunya menonjol saat tubuhnya menimpa tubuh aku?" Silva tidak habis pikir dengan sikap Davis akhir-akhir ini. Dia merasa Davis bukanlah kakak yang selama ini dia kenal.
Sementara di lantai bawah, Silva sudah mendengar mama dan papanya pulang. Mama Verli dan Papa Vero disambut oleh Danis. Mereka bahagia melihat Danis ada di rumah.
"Dan, mana istrimu, apa tidak kamu ajak ke sini?" tanya Papa Vero heran.
"Sintia sudah Danis antar pulang, Pa. Papa tahu sendiri, dia ingin melahirkan di kampungnya dekat dengan mamanya. Lagipula Sintia sudah mengajukan cuti tiga bulan ke depan. Sepertinya tinggal menghitung hari, Sintia akan segera melahirkan," terang Danis.
"Lalu, kapan kamu menyusul?" Mama Verli ikut nimbrung.
"Nanti, Ma. Kalau Sintia menghubungi, Danis segera cabut."
"Kamu nginap saja di rumah ini selama Sintia di kampung halamannya. Rumahmu biar dijagain ART. Kamu sesekali saja melihat rumah. Berangkat kerja juga bisa dari rumah mama," usul Mama Verli.
"Iya, Ma. Untuk sementara Danis memang bermaksud tinggal di sini, sampai Sintia menghubungi."
"Baguslah."
"Ngomong-ngomong, di mana adikmu, Silva dan Davis, tumben sepi?" tanya Mama Verli seraya menatap lantai dua.
"Mereka ada di kamarnya masing-masing. Ma, Danis bawa oleh-oleh untuk Mama dan Papa. Bika ambon dan lapis legit yang lagi viral itu," ajak Danis menuju ruang makan lalu menunjukkan bika ambon rasa pandan dan lapis legit kesukaan Mama Verli, yang kini sudah dibelah-belah Bi Acah di atas piring.
"Sungguh, ini bika ambon yang direview sama salah satu food vloger Farida Nuhun itu?"
"Iya, Mama. Dan ini bika ambon maupun lapis legitnya bersih serta higienis. Coba deh mama cicip, pasti ketagihan," ujar Danis seraya mendudukkan sang mama di kuris makan.
"Kalian, sampai heboh banget cuma makanan saja. Tinggal hap juga," sela Papa Vero seraya meraih satu potongan lapis legit, lalu langsung melahapnya.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅