Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Berhasil
Hai readers dan para author kece tekan LIKE sebelum membaca, kasih komentar setelah membaca. Makasih banyak banyak buat kalian yang sudah memberi Like setiap episode. Tekan❤ untuk mendapatkan notif kelanjutan ceritanya.
Terima kasih😚😍 selamat membaca, semoga suka. Ailopyu all...
*****
"Kali ini ibu maafkan, tapi jangan di ulangi!" kata ibu tegas
"Ibu tidak suka kalian jalan tanpa izin dari ibu." Sambung ibu.
"Ibu tidak akan melarang kalian menjalin hubungan selagi kalian bisa menjaga batasan." Tegas ibu.
"Ingat. ibu tidak suka jika kau menyentuh Ziya, meski ibu setuju dengan hubungan kalian." Ibu memperingati Redo.
Ziya meringis melihat ibunya menginstimidasi Redo, Redo tersenyum kaku mendapati perlakuan ibu Ziya. Ziya menyentuh lengan ibu berusaha menghentikannya.
"Bu..." Lagi-lagi ucapan Ziya terpotong karena ibu menyelanya.
Setelah puas memberi wejangan untuk kedua insan yang dia rasa sedang di mabuk asmara, ibu mempersilahkan Redo untuk pulang.
Redo merasa lega karena akan keluar dari ketegangan yang tengah dia rasakan.
"Saya pamit Bu. Ziya aku pulang." Pamit Redo
Sebelum Redo melangkah, ibu kembali bersuara.
"Besok-besok kalau ke sini bawa makanan ya!" celetuk ibu yang berhasil membuat Redo berbalik.
"Iya Bu," jawab Redo dengan mengangguk.
Redo melangkah meninggalkan rumah Ziya menaiki mobil, mobil melaju seiring dengan suara klakson berbunyi. Setelah bayangan mobil Redo menghilang Ziya bersuara.
"Ibu apa-apaan sih?" gerutu Ziya
"Dia itu bukan pacarku bu," Sambungnya
"Ibu malu-maluin aja," Lanjutnya
Ibu tersenyum mendekati Ziya lalu memegang lengannya.
"Tidak perlu malu, ibu pernah muda sepertimu. Ibu mengerti, ibu kan sudah katakan tadi, ibu tidak melarang kamu berhubungan dengan dia. Jadi tidak usah merahasiakan ini dari ibu." Tutur ibu
"Ibu, dia bukan pacar Ziya. Ziya tidak punya pacar." Jelas Ziya kembali meyakinkan ibu.
"Sudahlah, ibu tau kamu malu sama ibu. Malu mengakui kalau kamu punya pacar. Ibu mengerti, tidak apa-apa." Jawab ibu menepuk pelan pundak Ziya kemudian berlalu memasuki rumah.
Ziya mendesah karena tidak mampu meyakinkan ibu untuk meluruskan kesalahpahaman ibunya. Dia merutuki dirinya yang tidak bisa mengelak saat Redo meminta singgah.
Redo mengendarai mobil dengan santai, masih tersisa ketegangan di wajahnya. Nada dering ponsel mengalihkan pikirannya, dia meraih ponselnya tertera nama Khaira di sana.
Sebelum menjawab panggilan dari Khaira, Redo terlebih dahulu menepikan mobilnya.
"Ya hallo," jawab Redo setelah menekan tombol hijau di layar ponsel miliknya.
"Bagaimana?" tanya Khaira di seberang sana.
"Misi berhasil," ucap Redo
"Bagus." Balas Khaira
"Kau harus membayar mahal untuk ini. Kau tau? aku mendapat ultimatum dari ibunya." Tegas Redo
"Maksudmu? kau bertemu ibunya? apa ibunya tidak menyukaimu?" Khaira membrondong Redo dengan pertanyaan
"Kau membuatku pusing. Bisakah kau bertanya satu-satu. Aku bertemu ibunya karena aku singgah ke rumahnya, kau tenang saja meski aku mendapat banyak wejangan tapi ibunya menyukaiku," jelas Redo
"Bahkan ibunya mengira kami mempunyai hubungan dan dia menyetujui hubungan kami." Ucap Redo tertawa
"Wah bagus itu, kerja bagus." Timpal Khaira
"Langkah kita semakin mudah, dengan restu ibunya tidak sulit untukmu menaklukkan hatinya." Sambungnya
"Tentu saja, tidak sulit bagiku menaklukkan seorang gadis dengan ketampananku ini. Bahkan ibunya mengakui ketampananku." Kata Redo bangga
"Cih, kau membuatku geli." Jawab Khaira
"Selesaikan tugasmu, buktikan apa ketampananmu bisa menjerat hati Ziya." Tantang khaira.
"Tentu saja. Jika itu terjadi kau harus ingat janjimu." Tegas Redo
"Oke, tujuh hari waktumu dari sekarang." Balas Khaira.
Panggilan terputus setelah Khaira mengakhirinya, Redo kembali menyalakan mesin dan melajukan mobilnya menuju ke kediamannya. Tidak lama mobil mewah itu memasuki gerbang menjulang tinggi, tampaklah rumah mewah dengan desain modern ala Eropa terpampang di sana.
*****
Pagi ini Ziya sudah siap di kelas, dia sengaja datang lebih pagi tidak sabar ingin bertemu Khaira. Tidak lama orang yang dia tunggu tampak memasuki kelas mendekat ke arahnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Khaira menduduki kursinya dan menyapa Ziya yang memasang wajah masam.
"Hai Ziy, kau kenapa pagi-pagi sudah masam begini?" tanya Khaira heran
"Kenapa kau menggunjing di belakangku?" tanya Ziya kesal
"Kenapa kau menceritakan semua tentangku pada Redo? kau ingin mempermalukan aku?" Sambungnya
Khaira mengernyit, "semua?" tanyanya heran.
"Bisa-bisanya kau menggunjing temanmu." Kata Ziya
"Aku tidak menggunjingmu, aku hanya menceritakan yang baik-baik tentangmu. Aku memberitahu dia kalau aku punya sahabat baik sepertimu, aku bangga mempunyai sahabat sepertimu membuatku tidak bisa mengontrol diriku saat membahas tentangmu." Jelas Khaira
Ziya mengerutkan dahi, "membahas? kenapa kalian membahas tentangku? apa yang kalian bahas? kalian membicarakan aku?" Ziya membrondong Khaira dengan pertanyaan
Khaira merutuki dirinya yang lepas kontrol mengakibatkan dia keceplosan. Dia gelagapan mendapati pertanyaan dari Ziya. Setelah beberapa detik terdiam dia menemukan jawaban untuk alasannya.
"Bukankah aku sudah katakan, aku bercerita bukan membahas. Aku hanya menceritakan kebaikanmu dan dia penasaran denganmu. Dia ingin bertemu denganmu, dia juga ingin dekat denganmu. Ya.. ya itu, karena itu aku mengenalkanmu padanya kemarin." Kata Khaira meyakinkan Ziya.
"Kau begitu penasaran? apa jangan-jangan kau tertarik padanya?" Khaira menggoda Ziya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku dukung kau bersamanya. Dia laki-laki baik, tampan, tajir, ramah. Lengkap, semua ada padaya." Sambungnya
"Sepertinya dia juga tertarik padamu, aku bisa lihat itu dari matanya." Kata Khaira meyakinkan.
Ziya berdecak, "Aku baru saja mengenalnya, bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan seperti itu. Kau sama saja dengan ibuku, menyebalkan." Ucap Ziya kesal
"Sama dengan ibumu?" tanya Khaira pura-pura tidak tahu.
"Sudahlah, aku malas membahas itu." Balas Ziya acuh
Ziya menyudahi perbincangannya dengan Khaira, dia yakin jika tidak di hentikan perbincangan bisa panjang.
Dia malas membahas kejadian kemarin yang kembali mengingatkan dia pada ibunya yang salah paham.
Dia tidak mau bertambah pusing dengan pertanyaan yang akan di lontarkan Khaira padanya jika tau apa yang terjadi.
Bel berbunyi, jam pelajaran terakhir sudah berakhir. Tampak murid berhamburan keluar kelas, Ziya dan Khaira jalan beriringan menuju gerbang. Seperti biasa di depan gerbang mereka berpisah, Khaira melangkah menuju mobil jemputan sementara Ziya menuju halte depan sekolah.
Ziya menyeberang jalan menuju halte, setibanya di seberang tampak mobil merah yang dia kenali menghampirinya. Kaca mobil terbuka menampakkan wajah Redo di dalam sana dengan senyum mengembang di wajahnya. Redo turun menghampiri Ziya.
"Hai Ziy, mau pulang?" kata Redo
Ziya terperangah dengan kedatangan mobil Redo di hadapannya, membuat dia terdiam tidak menjawab.
"Ziy." Sapa Redo sedikit membungkuk mendekati wajah Ziya.
Ziya tersadar saat wajah Redo tepat di depan wajahnya. Redo kembali menegakkan tubuhnya saat Ziya mundur selangkah.
"Aku antar pulang oke!" Pinta Redo
Redo mendekati pintu dan membukanya untuk Ziya, "Masuklah!" kata Redo lembut
Ziya seperti terhipnotis dengan perlakuan manis Redo, dia melangkah memasuki mobil. Redo menutup pintu dan memasuki pintu kemudi lalu melajukan mobil menuju rumah Ziya.
"Kau tidak keberatankan jika aku mengantarmu pulang mulai hari ini?" tanya Redo meminta persetujuan Ziya.
Bersambung...
*****
Bagi readers yang membaca novelku CINTA TERPENDAM dan THE POOR GIRL, makasih banyak banyak. Mungkin ke depannya salah satu novel aku tidak di lanjutkan ceritanya. Tolong bantu aku, kasih saran novel mana yang sebaiknya aku lanjutkan?
Jujur, ini berat bagiku. Tapi aku harus pilih salah satu, aku tidak bisa fokus menulis 2 novel sekaligus. Sering ke tuker nama tokohnya.
Tulis di kolom komentar, novel mana yang kalian pilih untuk di lanjutkan. Terima kasih😍😍
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉