Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Ketegangan
Ketegangan begitu terasa bagi tiga keluarga itu, keluarga Pram, Sammy dan tuan muda yang patah hati itu.
***
Kediaman Mark Lewiz.
Pagi-pagi Abi sudah berdiri di depan kamar Randha, Ibu Mark. Dia tidak mau membuat tuan mudanya kesal karena perilaku atau kesalahan kecil dari orang-orang sekitarnya.
"Ada apa?" Randha heran melihat Abi pagi-pagi di depan pintu kamarnya.
"Dinding es itu kembali beku," ucap Abi.
"Apa yang terjadi pada Mark?" Randha faham betul apa maksud Abi.
"Kemaren dinding es itu mencair ketika dia jatuh cinta, tapi wanita yang dia cintai hanya memanfaatkan dia dan pergi dengan laki-laki lain, wanita itu membuat Mark yang dulu kembali," ucap Abi.
Randha bingung harus bicara apa, beberapa tahun ini dia senang, karena Mark bisa bersikap selayaknya manusia normal, bukan pribadi yang angkuh, sombong dan semena-mena lagi. Bahkan dia merasa malu dan takut dengan kebiasaan buruk Mark yang dulu, bagaimanapun dia punya anak perempuan, Randha takut Shima jadi sasaran orang yang dendam pada Mark.
"Saya harap nyonya besar bisa menyesuaikan diri lagi, Mark yang ramah sudah tenggelam," seru Abi.
Randha mengangguk mendengar penjelasan Abi.
"Untuk nona Shima, saya harap nyonya sendiri yang menyampaikan kabar ini," pinta Abi.
"Iya, aku akan kasih tau Shima,"
Abi merasa lega sudah memberi tahu seluruh penghuni rumah itu bagaimana bersikap kepada Mark nanti. Abi kembali kedepan mejanya yang ada di depan ruang kerja Mark. Sambil menikmati secangkir kopi yang disiapkan pelayan yang bekerja di rumah Abi.
Seorang laki-laki paruh baya berjalan ke arah Abi. "Tuan, boleh saya bertanya?" Tanya nya.
"Pak Iqmal? Silahkan," jawab Abi.
"Apa yang terjadi pada tuan muda? Kenapa semua peraturan lama kembali lagi?" Tanya Iqmal.
"Tuan muda sakit hati, dia di khianati," jawab Abi.
"Apakah kebiasaan buruk tuan muda juga akan kembali lagi?" Iqmal sangat khawatir, mengingat kebiasaan lama Mark yang menganggap wanita seperti baju, jika dia menginginkan dia pakai, namun jika dia tidak mau dia lempar begitu saja.
"Aku tidak tahu pak, tapi aku akan selalu mengikutinya,"
Melihat Mark keluar dari kamarnya, Iqmal dan Abi langsung berdiri menghormatinya.
Keadaan rumah Mark yang dulu sempat hangat, kini dingin kembali, deruan nafas Mark saja bagaikan teror bagi penghuni rumah itu. Semua orang kembali merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Mengingat bagaimana Mark yang dulu. Yang tidak mentolelir sedikitpun.
Mark berjalan melewati para pelayan yang melakukan tugas mereka, seketika semua hening, mengentikan aktivitas mereka, bahkan nafas pun serasa tertahan karena ketakutan mereka akan sosok Mark.
Pagi ini Abi menjalankan tugas awalnya di rumah Mark, sedang Gimar mengerjakan tugas di gedung Emanuel Group. Emanuel adalah nama kakek Mark. Pendiri awal perusahaan raksasa yang kini di bawah kendali Mark. Banyak perusahaan yang bernaung di perusahaan yang di pegang Mark, sebab itu Mark menjadi sosok yang sangat di segani setiap orang terkemuka di belahan negara itu.
Gimar sangat menyesal. Karena dia dan Abi kecolongan, hingga Nesya sukses menjalankan misinya. Akibatnya, semua orang merasakan dampak dari kemarahan Mark.
***
Setelah sarapan yang begitu mencekam, Mark dan Abi langsung pergi meninggalkan rumahnya menuju perusahaannya. Semua nampak tegang saat Mark lewat di depan mereka. Walau pun Mark sudah tidak ada lagi, namun Aura rumah itu tetap mencekam, karena jika Mark seperti itu, maka semua cctv rumah juga menjadi menakutkan.
Pak Iqmal dan Halia, adalah cctv aktif di rumah itu.
****
Pram dan Arum masih menemani Ana, mereka menunggu dokter yang masih menangani Sammy. Berulang kali ponsel Arum dan ponsel Pram bergetar. Karena terus bergetar Pram mengankat panggilan teleponnya.
"Hallo?" Ucap Sammy.
"Tuan, non Ara mencoba bunuh diri, dia mengiris pergelangan tangannya," ringis pembantunya di seberang telepon sana.
Wajah Pram panik. "Sudah telepon ambulan?"
"Sudah tuan, itu non Ara sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," pembantu itu menyebutkan nama rumah sakitnya.
Sammy langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak. "Mah, kita ke UGD," seru Pram.
"Ada apa pah?" Arum bingung, kenapa suaminya mengajaknya menuju UGD.
"Ara mencoba bunuh diri, ambulan yang membawa dia dalam perjalan menuju rumah sakit ini," ucap Pram.
"Astaga, apa Ara mendengar--"
"Ayok mah," seru Pram.
Pram dan Arum meninggalkan Ana, mereka berjalan cepat menuju UGD, menunggu ambulan yang membawa Ara.
Ana terduduk lemas di kursi yang berjejer di dekatnya. "Gildan, kenapa kamu melakukan ini," Ana menahan tangisnya, memikirkan suaminya yang terkena serangan jantung karena ulah Gildan, juga memikirkan Ara yang pastinya sangat terpukul ditinggal Gildan begitu saja, padahal persiapan pernikahan sudah mulai di persiapkan.
Ara dan Sammy di rawat di rumah sakit yang sama, Ara sudah berada di ruang perawatan. Sedang Sammy masih berada di ruangan Icu.
****
Di gedung Emanuel Group.
Mark masih membolak-balik berkas laporan yang berisi tentang keluarga Gildan. Seseorang yang bertugas mencari tahu hal lainnya lagi selain laporan yang Abi berikan tadi malam. Orang itu hanya berdiri menunggu perintah dari Mark.
"Dia anak Sammy pemilik perusahaan Wahana Putra Group." Gerutu Mark sambil membolak balik kertas laporan yang dia pegang.
Plakkk!
Beberapa foto terjatuh dari map yang dia pegang. Mark memungut foto yang jatuh. Dia menatap tajam foto-foto yang jatuh.
"Dia Gildan?" Tanya Mark sambil memperlihatkan satu foto laki-laki yang nampak seumuran dengannya. Karena rasa sakitnya, tadi malam dia tidak melihat jelas foto Gildan yang ada dalam berkas yang diberikan Abi.
"Iya tuan muda, itu Gildan," jawab Abi
"Cuih!!!" "Apa istimewanya dia sehingga Nesya memilih dia," gerutu Mark.
"Ini?" Tanya Mark sambil memperlihatkan foto dua gadis remaja yang tidak asing baginya.
"Yang seksi itu, Tsamara, anak Pramana Hanung, pemenang tender yang mengundurkan diri itu, gadis cantik itu calon istri Gildan,"
"Aku tahu dan rasanya aku kenal siapa dia," Mark memandangi foto Tsamara lekat.
"Abi, dia model yang aku rekrut sebagai tebusan agar Nesya tidak ber urusan dengan hukum itu kan?" Tanya Mark. Mark tidak terlalu mengingat wanita-wanita yang bereliaran di sekitar dia, dia hanya fokus pada Nesya.
"Iya benar tuan, dia model yang ada dalam naungan perusahaan ini," jawab Abi.
"Siapa gadis yang berpakaian aneh ini? Apa negara ini punya musim dingin selamanya?" Tanya Mark, wajahnya nampak jijik memandang wanita yang ada di foto yang di pegang itu.
"Dia adik Gildan, anak kedua Sammy, juga sahabat wanita cantik itu, tapi dia cantik tuan," jawab anak buah Mark.
"Cantik?" Mark mengerenyitkan bibirnya masam. "Tapi style berpakaian dia, setiap kali aku bertemu dia, dia selalu berpakaian seperti saat musim dingin," seru Mark.
"Hei, hubungan yang paling indah adalah sahabat yang setia, hubungan yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan dari sahabat," gerutu Mark. Sesuatu tebersit dipikiran Mark.
"Abi! Hemmm, aku punya rencana, Abi, suruh Gimar temui Sammy dan kamu temui model ini, sedang kalian semua keluar, aku sudah selesai" perintah Mark.
Setelah anak buahnya yang lain keluar dari kantor itu Mark langsung membicarakan rencananya pada Abi.
***
"Maaf tuan muda, gadis itu tidak bersalah, kenapa tuan muda menghukum dia?" Abi merasa keberatan dengan rencana Mark.
"Rupanya aku kurang tegas! Kamu orang yang paling patuh saja berani membangkangku!" Bentak Mark.
"Maaf tuan, semua akan berjalan seperti apapun yang tuan muda inginkan." Jawab Abi.
Keluar dari ruangan Mark, Abi menyiapkan beberapa berkas. Abi menyampaikan salah satu tugas yang harus dijalankan oleh Gimar, sedang dia melanjutkan tugas yang harus dia jalankan. Abi dan Gimar, pergi meninggalkan gedung Emanuel Group.
Gimar dan Abi adalah sekretaris Mark, pengorbanan masa lalu keluarga Gimar pada kakek Mak, membuat kakek Mark memberikan kepercayaan penuh pada dua keluarga itu. Belum lagi kedekatan Haka ayah Mark dengan ayah Gimar. Sedang Abi, merasa berhutang jasa pada Haka ayah Mark, yang tidak mungkin bisa dia tebus dengan apapun jasa-jasa Haka padanya, hanya mengabdi pada keluarga itu sebagai balas budi Abi atas kevaikan Haka selama ini padanya. Kini Abi dan Gimar juga bukan cuma mendapatkan kedudukan yang sangat berpengaruh. Tapi Mark mempercayakan semuanya pada dua sekretaris handal itu.
Apa yang mereka katakan, itu adalah titah langsung dari Mark. Mereka berdua juga sosok yang sangat di takuti oleh para pengusaha di sekitar mereka. Mencari masalah dengan dua orang itu, sama halnya cari mati. Karena yang turun tangan adalah utusan dari Mark Lewiz Emanuel, pewaris Emanuel Group.
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark