Sejak bangku SMA Lili dan Anjas bersama, berangan-angan menikah dan memiliki pernikahan impian, memiliki banyak anak dan hidup menua bersama.
Rencana itu begitu indah, hingga sebuah malapetaka menguji cinta mereka.
"Gugurkan, dia bukan anakku," ucap Anjas.
Lili termenung, menyentuh perutnya yang berdenyut nadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DW Bab 13 - Kita Berdua
"Ini sudah jam 9 An, lebih baik kita pulang sebelum malam semakin larut," ajak Gala, dia bahkan mulai mengambil jasnya yang ia letakkan di kursi samping, ingin cepat-cepat pulang.
"Gisel dan Lili pasti sedang menunggu kita di rumah," kata Gala lagi saat dilihatnya Anjas tidak melakukan pergerakan apapun. Bahkan nampak jelas jika Anjas enggan meninggalkan tempat itu.
Saat ini mereka sedang berada di Cafe langganan, tempat yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul bersama sahabat.
Anjas, Gala, Gisel, Lili, Usman dan Robby adalah sahabat 1 SMA. Keenam orang itu sudah layaknya keluarga. Hubungan yang terjalin begitu dekat bahkan sampai hubungan orang tua mereka juga.
Anjas masih terdiam, membuat Gala mulai membenarkan pikiran yang sejak tadi ada di dalam kepala. Tiba-tiba Anjas meminta bertemu dan tak ada pembahasan yang serius, pria itu juga tak ingin pulang seolah menandakan sedang ada masalah di rumah.
Gala menghela nafasnya panjang, dia tahan diri untuk tidak bangkit.
"Kamu sedang bertengkar dengan Lili?" tanya Gala, dia menatap dengan serius.
Anjas masih diam, hanya membalas tatapan itu.
"Kalau ada masalah lebih baik segera diselesaikan, jangan malah menghindar seperti ini."
"Tidak, kami baik-baik saja," balas Anjas dengan cepat. Sungguh, tentang masalah ini tak berani dia bagi dengan siapapun.
Karena baginya aib Lili adalah airnya juga, dia juga merasa malu ketika semua orang mengetahui tentang kebenaran itu.
Jadi yang bisa Anjas lakukan sekarang hanyalah menutupinya, meski rasanya begitu berat untuk menanggung sendirian. Tak ada tempat untuk berbagi.
"Kita sudah menikah An, tidak bisa seperti dulu lagi, beradu ego siapa yang menang. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menekan ego, lalu membicarakan semuanya dengan istri," ucap Gala, meski tak tau masalah apa yang sedang dihadapi oleh Anjas tapi dia hanya bisa mengatakan tentang hal itu.
Mereka sudah sama-sama menikah, jadi harus saling mendukung satu sama lain untuk pernikahan masing-masing. Gala juga akan senang jika pernikahan Anjas dan Lili bahagia.
Dan mendengar ucapan Gala itu lagi-lagi Anjas hanya diam.
"Sudah lah, lebih baik kita pulang sekarang," putus Gala mantap, dia juga langsung bangkit dari duduknya.
Mau tidak mau Anjas pun mengikuti.
Tiba di area parkir Cafe itu mereka segera menuju mobil masing-masing dan pulang.
Anjas mengemudikan mobilnya pelan sekali, hingga tiba di rumah dia butuh waktu 1 jam.
Jam 10 Anjas membuka pintu rumahnya dan Lili langsung mendengar, jadi wanita itu langsung berlari ke ruang tamu.
Benar saja, dilihatnya sang suami tiba.
Syukurlah. batin Lili, dia paling takut jika Anjas tidak pulang.
Jadi selarut apapun Lili akan menunggu, demi pikirannya sendiri agar tetap tenang.
"Anjas," panggil Lili dengan lembut, dia hendak menyambut dengan sentuhan lembut.
Namun Anjas tetap berlalu dan mengabaikan dia.
Lili tak marah, dia buru-buru mengekor.
"Kamu sudah makan? jika belum ayo aku temani makan," ajak Lili, diantara jalannya yang tergesa mengikuti langkah kaki sang suami.
Anjas masih diam, dia justru berjalan menuju anak tangga dan naik ke lantai 2.
Itu artinya Anjas ingin langsung menuju kamar, tidak ingin makan dulu.
Lili tetap mengikuti.
"An, malam ini kita tidur bersama ya?" tanya Lili lagi, dia terus saja bicara.
Namun akhirnya hanya suara gebrakan pintu yang menjawab.
Brak! Anjas menutup pintu kamarnya dengan kuat, sampai membuat Lili mematung di luar sana.
Entah sudah berapa lama, mereka terus tidur di kamar terpisah seperti ini.
"Huh!" Anjas membuang nafasnya dengan kasar. Di satu sisi dia sebenarnya merasa tak nyaman dengan pernikahan yang seperti ini, tapi mau bagaimana?
Kini tiap kali melihat Lili hanya ada rasa kesal di hati.
Di luar sana, Lili pun membuang nafasnya perlahan.
"Tidak ada apa-apa sayang, nanti lama-lama papa juga akan menerima kamu. Kita berdua harus sabar," ucap Lili, bicara pada anaknya yang masih berada di dalam kandungan.
rasa sayangmu pada anakmu itu wajar walaupun hasil pelecehan.
dan rasa sakit hati anjas juga wajar karna hargadiri laki itu besar
yg salah kalian tidak bicarakan tuntas dr awal sebelum menikah...
tidak ada anak haram dan rasa sayang pada anak itu alami bagi setiap ibu terlepas itu hasil dr hal bejat.