Indah berpikir jika rumah tangganya baik baik saja. Ternyata tidak. Sikap manis suaminya hanya untuk menutupi watak aslinya yang sudah mendua di belakang Indah.
Yang membuat Indah sangat sakit hati. Ternyata perselingkuhan Rama didukung keluarganya. Dan wanita selingkuhan itu juga sudah hamil.
Cerai adalah jalan terbaik tapi kehidupan Indah tidak tenang sampai disitu. Keluarga Rama terus meneror Indah seakan tidak ingin melihat wanita itu bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Giska
"Jahat kamu mas. Jadi kamu menginginkan aku hanya untuk menginginkan seorang anak. Kamu kira aku pabrik anak," kata Giska. Giska sangat marah mengetahui alasan Rama berselingkuh dengan dirinya hanya karena anak. Apalagi hal itu diungkapkan kepada Indah yang jelas jelas adalah saingannya. Giska melampiaskan kemarahannya dengan memukul dada Rama yang sedang memeluk dirinya.
"Tenang, tenang dulu Giska. Aku berkata seperti itu supaya Indah tidak semakin marah.
"Sama saja kamu tidak adil mas. Kamu menyatakan cinta kepada istri mandul mu itu tapi tidak menyatakan cinta kepadaku."
Rama mengacak rambutnya. Dia memang mencintai Giska tapi tidak tega mengatakan hal itu di hadapan Indah.
"Indah istriku Giska dan seharusnya lah aku menjaga perasaannya."
"Jadi karena aku belum menjadi istrimu. Perasaanku tidak perlu dijaga. Ingat mas, aku mengandung darah daging mu. Penerus mu. Dan sepantasnya lah aku diprioritaskan."
"Bukan seperti itu maksudku beb. Tolong dulu mengerti posisiku."
"Selama ini aku mengerti posisi mu mas. Tapi kamu yang terlalu perduli dengan perasaan istri mu itu sehingga tidak bisa melihat apa yang aku lakukan kepada mu. Jika mas, menginginkan anak ini lahir pada waktunya. Ceraikan Indah sebelum kita menikah mas."
"Giska, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Sampai kapanpun, aku tidak akan menceraikan Indah."
"Brengsek kamu mas. Kamu serakah. Seharusnya kamu memilih salah satu diantara kami."
"Giska, mengapa kamu berubah. Bukankah sedari awal kamu setuju menjadi yang kedua?"
"Itu dulu mas, ketika aku belum melihat watak asli istrimu. Melihat sikapnya tadi. Aku tidak menjamin jika kami bisa akur sebagai kakak dan adik madu."
"Meskipun Indah sudah mengetahui hubungan ini. Kita tetap menjalankan seperti rencana awal. Kamu tetap tinggal di rumah ini setelah kita menikah."
"Aku tidak mau mas. Aku tetap menginginkan kamu bercerai dari istri mu itu. Lagipula apa yang kamu harapkan dari dia. Anak?. Sudah jelas mandul. Membantu ekonomi keluarga. Indah hanya seorang pengangguran."
"Karena aku masih mencintai Indah, Giska. Tidak ada yang bisa mengatur aku termasuk kamu," kata Rama penuh penekanan. Sampai kapanpun Rama tidak akan menceraikan Indah. Rama sangat yakin kata cerai yang keluar dari mulut Indah tadi, itu hanya karena istrinya itu marah besar dan kecewa kepada dirinya. Rama sangat yakin jika Indah juga masih sangat mencintai dirinya.
Giska merasakan dadanya seperti diremas karena mendengar perkataan calon suaminya. Rama terang terangan mengakui perasaan cintanya kepada Indah tanpa memperdulikan rasa sakit hati dan cemburu yang melanda hatinya. Giska terpaksa harus mengalah karena bersikeras meminta Rama bercerai rasanya tidak mungkin. Untuk menjauhkan dari Rama juga lebih tidak mungkin mengingat janinnya butuh sosok ayah ketika dirinya melahirkan nanti. Giska juga menduga jika keluarga dan kerabatnya di kampung sudah mengetahui rencana pernikahan mereka. Dan akan semakin membuat malu keluarga besar jika Giska memutuskan hubungan dengan Rama.
"Aku pulang sekarang. Jaga dirimu baik baik. Aku akan menghubungi Mona supaya cepat kembali ke rumah," kata Rama. Bersama Giska pikirannya semakin kalut. Giska berubah menjadi sosok penuntut. Lagipula, Rama berpikir jika menenangkan hati Indah lebih penting saat ini karena Rama juga sadar jika istrinya itu pihak yang tersakiti karena perselingkuhan dirinya.
"Mas, kenapa harus pulang. Indah pasti tidak akan bertanya tentang keberadaan kamu karena sudah mengetahui kamu ada di rumah ini," kata Giska kesal. Giska dapat merasakan jika Rama lebih mengutamakan Indah daripada dirinya.
"Aku juga ingin merasakan pelukan mu begitu terbangun di pagi hari mas," tuntut Giska lagi. Rama tidak menjawab, laki laki itu keluar dari kamar kemudian mengambil sepatunya.
"Mas, kamu mementingkan Indah daripada aku. Kalau begitu aku ikut ke rumahmu. Toh, Indah sudah tahu kan?" kata Giska lagi. Giska mengancam, berharap dengan ancamannya Rama bersedia tidur di rumah itu.
"Jangan sampai sikap kamu yang seperti ini. Membuat aku muak kepada mu Giska. Apa kamu tidak sadar, kita menyakiti hati Indah. Dan memang seharusnya aku berada disisinya saat ini."
Rama sangat sadar akan perbuatannya itu yang menyakiti hati Indah. Selama ini, Rama berpikir perselingkuhan itu akan bisa tersimpan rapat dengan menciptakan cerita tentang keberadaan dan kehamilan Giska nantinya. Tapi pemikirannya itu tidak bisa terwujud. Indah sudah mengetahui perselingkuhannya dengan Giska.
Rama masih mencintai Indah dan tidak ada niat untuk menceraikan wanita itu meskipun Indah tidak kunjung hamil. Sebelum terlambat, Rama ingin memohon maaf kepada istrinya itu. Berharap, Indah memaafkan dirinya. Rama tidak sadar bagi sebagian besar istri di dunia ini. Perselingkuhan suami adalah akhir dari rumah tangga. Sebesar apapun cinta itu untuk si suami. Si istri akan rela meninggalkan karena sudah terlanjur sakit hati.
Giska menangis, Giska merasa dirinya bukan seperti wanita kedua lainnya yang dipuja, dicintai dan rela melakukan hal apapun termasuk meninggalkan istri sah. Rama terlihat tidak memikirkan perasaannya sedikit pun. Mesin Rama sudah mendapatkan segalanya dari dirinya.
"Tega kamu mas, jelas jelas aku mengandung anakmu tapi sedikit pun kamu tidak menjaga perasaanku."
Rama menghentikan langkahnya. Melihat Giska menangis, jujur hatinya juga kasihan. Tapi dirinya juga kasihan melihat air mata dan kekecewaan Indah kepada dirinya tadi. Andaikan Giska tidak menahan dirinya tadi. Rama pasti menyusul istrinya itu. Bukan hanya kasihan, Rama juga mengkhawatirkan keselamatan Indah berkendara dalam keadaan hati yang tidak baik.
Rama mengusap wajahnya frustasi. Dia berpikir, Giska akan mengerti posisi dirinya yang sudah memiliki istri.
"Besok, aku akan datang lagi," kata Rama sebelum naik ke atas Mobil. Bahu Giska semakin terlihat terguncang. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Aku pastikan kamu tidak melihat ku di rumah ini besok," ancam Giska. Wanita itu tidak main main dengan perkataannya. Giska membuka Sandi pengaman ponselnya kemudian mencari kontak seseorang.
"Mau menghubungi siapa kamu?" tanya Rama sambil merampas ponsel itu. Melihat kontak yang dipanggil oleh Giska adalah ibu Yanti. Rama memijit keningnya. Dia tidak suka hal seperti ini melibatkan orang tua. Rama menyimpan ponsel Giska ke saku celananya.
"Aku mau pamit kepada tante Yanti. Tante harus mengetahui jika aku hendak pergi dari rumah ini. Biar sekalian saja pernikahan kita dibatalkan."
"Jangan bersikap kekanakkanakan Giska. Hal seperti ini tidak perlu diketahui mama."
"Tidak, tante Yanti harus tahu bagaimana kamu memperlakukan aku mas. Apa kamu tidak sadar?. Tante lebih menginginkan aku sebagai menantunya daripada istri mu itu. Tahu karena apa mas?. Itu karena anak ini sangat berharga. Jauh lebih berharga daripada istri mu itu. Sekarang kamu boleh memilih mas. Istrimu itu atau anak ini!"
banyak kok yg begitu thor
atau ksh pekerjaan di tmpt orng tua indah thor kasian intannyaa dia gk prnh makan nangka tapi dia yg kena getahny , gk lucu kan thor
berarti kelanjutan nya juga menjadi yg sangat saya nantikan kehadiran nya 👍👍🤗
kalau sy ngebut baca kaya gini, berarti cerita ini sangat-sangat udah bikin saya tertarik banget bacanya 👍👍👍🤗
ditunggu kelanjutannya 👍😘💞💞💞