Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Penyerangan 3
Pria yang sedang berlari dipermukaan rawa payau itu terkejut. Dia langsung jatuh masuk rawa begitu berhenti.
"Siapa kau ??!"
Pria itu bertanya dengan suara yang cenderung membentak. Bagaga menatap pria itu dengan wajah beku. "Kau masih berani kurang ajar dan berkata kasar pada dewa kematian yang berdiri di depan mu ?!"
Pria itu tertegun. Rasa dingin memenuhi hatinya mendengar suara Bagaga Alam. Dia bisa melihat tapak sepatu Bagaga Alam berasa satu jengkal diatas permukaan air rawa.
Terbang...???!@ orang ini bisa berdiri diudara ? Apakah dia benar Dewa Kematian ?? Tapi kenapa dia terlihat seperti manusia biasa....
Bangsat...! Kau berani masuk ke wilayah Gerombolan Rawa Belong ? Meski kau adalah Dewa Kematian, kau juga harus mati di sini."
Pria itu membentak dan kembali naik, berdiri dipermukaan rawa. Ada sebilah kayu sepanjang dua jengkal atau lebih sedikit terikat pada tapak sepatu nya.
Pati Muda Rajung Malapir dan Ni Kirana mengucek mata mereka melihat Bagaga Alam yang berdiri di udara. Ilmu meringankan tubuh setinggi apa itu ? Pemikiran yang sama memenuhi kepala Pati Muda Rajung Malapir dan Ni Kirana.
Dua orang itu merasa sangat kecil di depan Bagaga Alam. Pati Muda Rajung Malapir tidak begitu nervous, karena dari awal dia sudah menaruh rasa hormat kepada Bagaga Alam.
Ni Kirana malah merasa sangat malu. Dia merasa sungguh dia telah berlaku kurang ajar dan tidak tahu diri. Saat pertama bertemu, Ni Kirana berfikir Bagaga Alam; orang yang ditunggu tunggu ayahnya ki Ageng hanyalah orang biasa saja.
Tapi dari hari kehari dia dan kakang Danang Wesi nya selalu terkaget-kaget. Sekarang dia malah melihat dengan mata kepala sendiri Bagaga Alam terbang dan berdiri tegak di udara.
Hhhhhhhh....
Ni Kirana hanya bisa menghela dan menghembuskan nafas berat.
"Jadi kau benar adalah anggota Gerombolan Rawa Belong ? Kalau begitu tolong sampaikan salam ku kepada penjaga neraka."
Bagaga Alam menunjuk lurus ke jantung pria itu dan berbisik. Pukulan tanpa ujud.
Crooooozzzztt....
Pria itu langsung terjengkang, jatuh dan menghilang ditelan rawa. Dada dan jantungnya bolong dilewati oleh energi mendalam yang sangat kuat.
Bagaga Alam tiba-tiba menghilang. Saat muncul kembali dia berada jauh di udara. Tidak ada satu orang pun yang menyadari kehadiran Bagaga Alam.
Ada sekitar sepenanakan nasi Bagaga memperhatikan situasi di markas Gerombolan Rawa Belong. Bagaga Alam kembali menghilang dan muncul di sebelah Ni Kirana.
"Kang mas ??" Ni Kirana kaget ketika Bagaga Alam muncul tiba tiba disebelah nya. Matanya tidak menyembunyikan perasaan yang ada dalam hatinya.
"Mari kita kembali." Bagaga Alam segera meluncur.
Ni Kirana dan Pati Muda Rajung Malapir segera mengikuti Bagaga Alam yang sudah bergerak. Mereka segera kembali ketempat mereka meninggalkan Boneng.
Namun mereka bertiga terkejut tidak menemukan Boneng. Hanya tinggal bekas ikatan yang terserak di dekat pohon. Namun sosok Boneng tidak terlihat sama sekali.
Bagaga Alam segera mengamati dengan teliti semua tempat. Bagaga malah menyebarkan persepsi nya yang tajam. Beberapa waktu kemudian, Bagaga mengangguk kecil.
"Ayo kita kembali." Ajak Bagaga Alam kepada semua.
"Tapi bagaimana dengan Boneng Kang mas ?"
"Boneng sudah pergi kearah kota Jayagiri. Orang yang kalian lihat berlari diatas rawa payau tadi. Dia telah membebaskan Boneng."
"Kalau begitu mari segera kembali Pahlawan Besar. Aku rasa benar Boneng menuju kota Jayagiri, karena aliran energi mendalam nya telah anda kunci."
Mereka kemudian melesat dengan cepat menuju tempat Adipati Muncak Gede dan Pasukan Macan Perak menunggu.
Malam harinya, Bagaga Alam, Adipati Muncak Gede, Pati Maung Sakti dan Pati Muda Rajung Malapir serta Danang Wesi dan Ni Kirana membahas rencana penyerbuan.
"Tidak ada peluang untuk mengarungi rawa payau tanpa ketahuan. Penjagaan pada markas Gerombolan Rawa Belong sangat rapi dan kuat. Semua sisi yang menghadap ke daratan, terdapat beberapa pos pengawas. Setiap pos ada empat sampai enam orang. Bahkan mereka memiliki dua pos pengawas yang menghadap kearah laut. Itupun dijaga oleh enam orang di tiap pos."
Semua terdiam. Mereka melihat kepada Bagaga Alam dengan wajah kebingungan. "Kalau begitu hanya Kang mas saja sendiri yang bisa ke markas Gerombolan Rawa Belong itu." Ucap Ni Kirana dengan wajah sedikit kecewa.
Gadis cantik itu sangat ingin ikut bertempur. Dia ingin menguji perkembangan ilmu kanuragan nya. Dia ingin menguji terutama dasar dasar ilmu dua belas langkah ajaib.
Adipati Muncak Gede menghela nafas berat. Keningnya berkerut dalam untuk memikirkan jalan keluar. Sementara Pati Maung Sakti bertukar pandang dengan Pati Muda Rajung Malapir.
"Apakah engkau tidak melihat ada cara yang bisa kita lakukan Rajung Malapir ?"
"Saat kami disana, Ni Kirana melihat ada sosok berlari melintasi rawa payau. Menurut Pahlawan Besar Bagaga yang melihat langsung dari dekat. Orang itu berlari dengan menggunakan balok kayu kecil yang diikatkan di telapak kakinya."
Pati Maung Sakti melihat Pati Muda Rajung Malapir dengan sorot mata aneh. Kemudian dia bertanya dengan suara rendah.
"Kau bilang orang itu melintas di tengah rawa. Bagaimana cara Pandeka Pedang Suling Kumala menghalangi jalannya ?"
"Terbang." Pati Muda Rajung Malapir menjawab dengan suara rendah dan hanya bisa didengar oleh Pati Maung Sakti.
"Apa...??!!" Pati Maung Sakti terkejut. Dia bersuara dengan keras.
Semua orang melihat kepada Pati Maung Sakti dengan heran.
Pati Maung Sakti jadi salah tingkah. Namun dengan cepat Pati Maung Sakti kembali tenang. Dia balas menatap Bagaga Alam.
"Maafkan aku Pandeka Pedang Suling Kumala. Aku sudah mendengar semua dari Pati Muda Rajung Malapir. Aku pikir, Pandeka pasti punya jalan keluar terbaik untuk kita."
Pati Muda Rajung Malapir kaget. Dia merasa sangat tidak enak hati, ketika Pati Maung Sakti menyebut namanya. Adipati Muncak Gede menatap Pati Maung Sakti dengan heran.
Danang Wesi melihat kepada Ni Kirana dengan sorot mata penuh tanya. Ni Kirana hanya tersenyum dan mengangguk. Wajah gadis itu kembali cerah.
"Apa maksudmu paman Pati Maung Sakti ?" Adipati Muncak Gede bertanya dengan perasaan kacau kepada Pati Maung Sakti. Adipati Muncak Gede merasa tidak enak hati kepada Bagaga Alam.
"Maaf Tuan Adipati. Pandeka Pedang Suling Kumala mengerti dengan ucapan hamba." Pati Maung Sakti memberi sembah kepada Adipati pangeran Muncak Gede.
Bagaga Alam menghela nafas dan mengangguk. "Baiklah. Sesuai rencana kita melintasi rawa payau dengan perahu kecil yang sudah di siapkan.
Aku akan menyebrang lebih dulu. Kalian baru menyebrang setelah situasi terlihat kacau.
Untuk itu kita berangkat dari sini nanti dipuncak malam. Akan ku atur kalian mulai melintasi rawa payau ketika matahari telah naik sepenggalah."
Setelah itu semua beristirahat. Petugas perbekalan dan penjaga kuda tetap menunggu di tenda mereka.
"Kang mas Bagaga. Bolehkah Nana ikut Kang mas untuk menyebrang pertama kali ?"
"Bukan aku tidak mau membawa mu Kirana. Tapi terlalu beresiko. Kamu ikut dengan perahu pertama. Aku tidak ingin kamu terluka jika ikut bersama ku."
"Tapi Kang mas..."
"Dengar dan ikuti perkataan ku Kirana. Akan ada kekacauan besar sebelum perahu kalian meluncur."
Ketika malam telah berada di puncak nya. Pasukan Macan Perak mulai bergerak dengan cepat. Waktu Parak siang, semua telah berdiri siaga dibalik semak pinggir rawa payau.
Debur ombak terdengar cukup jelas diujung malam. Angin berhembus kearah rawa, terasa dingin. Malam terasa sangat gelap, seakan gumpalan awan gelap mengawang dilangit. Hanya beberapa bintang yang terlihat.
"Semua beristirahat dalam kondisi siaga. Aku akan melintas menuju hutan bakau yang menjadi markas Gerombolan Rawa Belong."
"Bagaimana caranya saudara ku ?" Adipati pangeran Muncak Gede menatap Bagaga dengan penuh tanya.
Pati Maung Sakti memperhatikan Bagaga Alam dengan serius. Danang Wesi juga menatap Bagaga Alam dengan sedikit bingung. Hanya Pati Muda Rajung Malapir dan Ni Kirana yang terlihat tenang. Eh Ni Kirana agak sedikit manyun. Dia sangat ingin pergi bersama Bagaga.
"Baiklah, aku pergi dulu." Ucap Bagaga, lalu melayang naik tinggi dan melesat menuju pulau hutan bakau.
\=\=\=\=\=***\=©