NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Sorakan mahasiswa membuat halaman fakultas terasa seperti panggung dadakan.

Dimas masih berlutut di depan Keira, buket bunga raksasa di tangannya hampir menutupi separuh tubuhnya. Wajahnya merah, tetapi senyumnya penuh harap. Beberapa orang mulai merekam. Ada yang bersiul. Mira berdiri di samping Keira dengan ekspresi antara panik dan ingin memukul seseorang.

Keira menarik napas.

Ia harus menolak dengan baik. Dimas bukan ancaman besar. Anak itu hanya salah memilih waktu dan panggung. Kalau ia menghancurkannya terlalu keras, simpati publik bisa berbalik.

"Dimas," ucap Keira lembut. "Aku menghargai..."

"Wah."

Suara Kevin memotong dari belakang kerumunan.

Keramaian terbelah. Kevin berjalan mendekat dengan Vanya di sisinya. Vanya memakai blus pucat dan wajah rapuh, seolah kasus plagiat kemarin membuatnya menjadi korban paling menyedihkan di kampus ini.

Kevin tersenyum sinis pada Keira. "Baru wisuda sudah ramai peminat."

Keira menegang. "Kevin, jangan buat keributan."

"Aku yang buat keributan?" Kevin tertawa pendek. "Tunanganku ditembak pria lain di depan umum. Aku harus tepuk tangan?"

Kata tunangan membuat beberapa mahasiswa langsung berbisik.

Dimas pucat. "Tunangan?"

Kevin menatapnya dari atas. "Kamu tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu karena tergoda nama Tan?"

"Kevin," Keira memperingatkan.

Namun Kevin sedang marah, malu, dan terlalu bodoh untuk membaca siapa yang berdiri di samping Keira.

Ia menunjuk Dimas. "Kamu pikir ada yang sungguhan suka padamu, Keira? Jangan mimpi. Orang-orang mendekat karena keluargamu kaya. Kalau kamu bukan cucu Tan, siapa yang mau repot-repot berlutut?"

Kalimat itu menghantam tempat yang tidak boleh disentuh.

Keira tahu Kevin tidak tahu kebenarannya. Ia tahu itu hanya hinaan sombong. Namun tubuhnya tetap bereaksi seolah rahasianya baru saja diteriakkan. Wajahnya memucat. Matanya panas.

Air mata turun.

Kali ini bukan rencana.

Kerumunan mendadak sunyi.

Vanya menunduk, tetapi Keira melihat bibirnya hampir tersenyum.

Keira mundur satu langkah.

Punggungnya menabrak dada Richard.

Tangan Richard naik dan melingkar di bahunya.

Gerakan itu tidak terburu-buru, tetapi jelas. Satu tangan di bahu Keira, cukup untuk menahan, cukup untuk menyatakan di depan semua orang bahwa ia berdiri di sisi gadis itu.

Suara mahasiswa hilang.

Kevin baru sadar.

"Om Lim..."

Richard menatap Kevin.

Tidak ada bentakan. Tidak ada kata kasar. Namun wajah Kevin langsung kehilangan warna.

"Jason," kata Richard.

Jason maju dari sisi kerumunan. "Ya, Pak Lim."

"Telepon Pak Ong."

Jason sudah mengetik sebelum Kevin sempat bicara.

"Om Lim, ini masalah pribadi saya dan Keira."

Richard berkata datar, "Kalau pribadi, kamu tidak akan mempermalukannya di depan ratusan orang."

Wajah Kevin merah. "Saya hanya..."

"Diam."

Satu kata itu membuat Kevin benar-benar diam.

Panggilan tersambung. Jason menyerahkan ponsel kepada Richard.

"Pak Ong," kata Richard, suaranya rendah dan sangat sopan. "Tolong jemput anak Anda dari kampus UI. Sekarang."

Keira menunduk di bawah tangan Richard, air mata masih menempel di pipi. Di dalam dirinya, rasa sakit bercampur dengan kepuasan yang dingin. Kevin baru saja menyerahkan dirinya sendiri.

Richard menatap Dimas.

"Kamu."

Dimas gemetar. "S-saya, Pak?"

"Jason."

Jason membuka tablet. "Dimas Prasetyo. Dua minggu lalu menghubungi salah satu teman untuk bertanya apakah benar Nona Tan akan mendapat saham Tan Industries setelah menikah. Kemarin membeli buket melalui transfer dari rekening yang baru menerima dana dari akun promosi kampus."

Wajah Dimas semakin pucat.

Mira melotot. "Serius, Dim?"

Dimas menatap Keira dengan panik. "Kei, aku cuma... Aku memang suka kamu, tapi..."

"Tapi kamu juga menghitung untungnya," potong Richard.

Dimas menunduk. Buket di tangannya turun. "Maaf."

Keira tidak menjawab.

Ia tidak perlu.

Rasa malu sudah cukup menghukumnya di depan orang-orang yang tadi bersorak.

Mira mengambil satu langkah maju. "Maafnya ke siapa, Dim?"

Dimas menatap Mira dengan wajah kacau.

"Ke orang yang lo permalukan," kata Mira. "Bukan ke tanah."

Beberapa mahasiswa yang tadi merekam menahan napas. Dimas akhirnya menoleh pada Keira. "Maaf, Kei. Aku salah."

Keira menatap buket bunga itu, lalu menatap wajahnya. "Semoga setelah ini kamu tidak memakai perasaan sebagai alasan untuk menghitung keuntungan."

Kalimatnya pelan. Tidak mempermalukan lebih dari yang sudah terjadi. Justru karena itu, Dimas tampak semakin kecil.

Richard menatap Keira dari samping. Gadis itu bisa saja menghancurkan Dimas dengan satu kalimat. Ia memilih berhenti di batas yang membuat semua orang tahu siapa yang salah tanpa membuat dirinya terlihat kejam.

Terlalu terampil.

Pikiran itu lewat sebentar di kepala Richard, lalu tenggelam oleh air mata yang masih basah di pipi Keira.

Tidak lama kemudian, sopir keluarga Ong datang tergopoh dari mobil hitam di gerbang kampus. Wajahnya pucat saat menunduk pada Richard.

"Pak Kevin, Pak Ong minta Tuan muda pulang sekarang."

Kevin mengepalkan tangan. "Aku bisa pulang sendiri."

"Sekarang," ulang sopir itu, suaranya memohon.

Kevin menatap Keira, lalu Richard, lalu kerumunan yang merekam semuanya. Ia tahu tidak ada jalan keluar yang bagus. Akhirnya, ia menarik tangan Vanya dan berjalan pergi dengan wajah gelap.

Vanya sempat menoleh.

Tatapan Keira bertemu dengannya.

Tidak ada air mata di mata Keira sekarang.

Hanya dingin.

Setelah Kevin pergi dan Dimas menghilang dengan buketnya yang kusut, kerumunan mulai bubar dalam bisik-bisik rendah. Beberapa orang meminta maaf canggung. Mira merangkul Keira dari sisi lain.

"Lo oke?"

Keira mengangguk.

Richard melepas tangannya dari bahu Keira pelan. Kehangatan itu hilang, tetapi bekasnya tetap terasa.

"Aku antar pulang," katanya.

Di mobil, Keira duduk diam. Toga dan buket dari Engkong terletak di pangkuannya. Richard duduk di sebelahnya, tidak melihat ponsel, tidak membaca dokumen.

"Om..." Keira akhirnya bersuara. "Kenapa Om begitu baik pada saya?"

Richard menatap jalan di depan.

Lama sekali ia tidak menjawab.

Ketika akhirnya bicara, suaranya lebih rendah daripada biasa.

"Karena aku berjanji pada ayahmu."

Keira menunduk.

Janji pada Papa.

Alasan yang aman. Alasan yang masuk akal. Alasan yang seharusnya cukup.

Namun entah kenapa, dada Keira terasa sedikit kosong.

Richard melihat wajahnya dari pantulan kaca mobil. "Jawaban itu mengecewakanmu?"

Keira terkejut. "Tidak, Om."

"Kamu terlihat kecewa."

Keira tersenyum kecil, cepat, rapuh. "Saya cuma ingat Papa."

Itu bukan kebohongan.

Hanya bukan seluruh kebenaran.

Richard tidak mengejar jawaban itu. Ia hanya mengambil kotak tisu dari sisi pintu dan meletakkannya di pangkuan Keira.

"Hapus air matamu sebelum bertemu Engkong."

Keira mengambil selembar tisu. "Om takut Engkong khawatir?"

"Aku takut kamu pura-pura kuat terlalu lama."

Tangan Keira berhenti.

Kalimat itu lebih berbahaya daripada pelukan, karena hampir membuatnya ingin jujur saat itu juga, di sana.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!