NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panik setengah malam

Ditinggal sendirian di remang taman malam yang sepi, rasa canggung dan cemas mulai menyelimuti Lily. Untuk mengusir kekosongan, jemarinya bergerak mengeluarkan ponsel dari saku. Ia berpura-pura sibuk mengusap layar, memotret setangkai bunga merah muda pemberian Kino tadi, lalu mengunggahnya ke story WhatsApp-nya.

Namun, rasa penasaran akhirnya menang. 

“Kak Javin kemana, sih?” gumamnya kesal.

Lily akhirnya memutuskan turun dari jok motor. Langkah kakinya menyusuri jalan setapak di tepi taman, berusaha menembus remang malam sembari memanggil nama laki-laki itu, “Kak Javin! Kamu di mana?!”

“Di sini, Ly,” sahut suara Javin tak jauh dari posisinya.

Lily mengembuskan napas lega lalu melangkah mendekati asal suara. Begitu sampai di balik rindangnya pepohonan, matanya membelalak kecil. Di sana, Javin sedang berjongkok santai, dikelilingi oleh beberapa ekor kucing liar yang sibuk berebut makanan. 

Laki-laki itu mengusap lembut salah satu kepala kucing dengan raut wajah yang jauh lebih hangat dari biasanya.

Sementara itu, di kediaman Wijaya, Owen dan adik-adiknya baru saja sampai. Langkahnya terhenti di depan pintu depan yang masih terkunci rapat.

“Loh, kok pintunya masih dikunci? Apa Lily belum pulang, ya?” tanya Owen dengan kening berkerut cemas.

Rafa yang berdiri di sampingnya mencoba menenangkan. “Siapa tahu dikunci dari dalam, Bang. Takut ada maling, lagian dia kan sendirian di rumah.”

“Iya juga, sih,” gumam Owen seraya mengangguk setuju. Ia segera merogoh saku celana, mengeluarkan kunci rumah, dan memutar knopnya.

Begitu pintu terbuka, Ell langsung menerobos masuk. “Kak Lily! Kak Lily di mana?!” serunya memanggil.

Tak ada sahutan. Keheningan malam menyambut mereka. Ell dengan cepat berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, mengincar kamar kakaknya. Namun, begitu pintu kamar dibuka, ruangan itu gelap gulita. Ketika lampu dinyalakan, kamar itu kosong. Ell bahkan memeriksa kamar mandi, tetapi hasilnya tetap nihil.

Pikiran buruk mulai memenuhi kepala Ell, terlebih mengingat Lily pulang bersama Javin.

“KAK LILY!” teriakan panik Ell menggelegar, memantul di sepanjang koridor rumah.

Ia berlari menuruni tangga dengan napas memburu hingga hampir bertabrakan dengan Wafa.

“Kenapa sih, Ell? Pakai teriak-teriak segala. Udah tidur kali Lily-nya,” tegur Wafa.

“Enggak ada, Bang! Tadi Ell udah cek di kamar sama kamar mandi, tetap enggak ada!” seru Ell dengan mata berkaca-kaca.

Seketika, raut wajah Wafa berubah tegang. Ketakutan yang sama mulai menjalarinya, meski ia berusaha keras mempertahankan wajah tenangnya di depan sang adik. 

“Coba... coba lu chat dulu.”

Jemari Ell yang gemetar langsung mengetikkan pesan dengan cepat di ponselnya.

📱 Ily Cantik🩷🩷📱

- Kak

- Kakak

- P

- Ily

- Jawab Ell!

- Kamu dimana kak?

Ell mengusap wajahnya frustrasi. “Centang satu doang, Bang. Tapi dua puluh menit yang lalu dia sempat bikin story WhatsApp.”

Wafa merampas ponsel Ell dan menatap layar. "Bunga? Bunga dari siapa?" gumamnya heran sebelum menarik tangan Ell. 

“Ayo bilang ke abang-abang!”

Merek berdua berlari kencang menuju dapur.

“Kak Owen! Kak Lily enggak ada di kamarnya!” seru Ell panik.

“Iya, tadi kita chat cuma centang satu. Lagian Lily enggak bakal berani tidur kalau sendirian di rumah,” tambah Wafa memanasi suasana. Ia kemudian berbalik menatap Rafa. “Bang, coba lu chat Bang Javin! Takutnya Lily masih sama dia!”

Rafa langsung mengeluarkan ponselnya dan mengacak-acak daftar kontak.

📱 Japin Bloon📱

Rafa

- Vin, lu masih sama adik gue?

- Ini kenapa rumah kosong, Lily enggak ada di rumah juga

Beberapa detik berlalu sampai sebuah balasan masuk. Bukan pesan teks, melainkan sebuah foto. Foto seorang gadis dari arah belakang yang tampak sibuk menggendong seekor kucing di tengah taman.

Javin

- (Foto)

- Iya, ini Lily masih sama gue

- Masih asyik main sama kucing dia

Rafa

- Buruan bawa dia pulang!

- Iya, ini bentar lagi pulang

- Kenapa dia di-chat cuma centang satu?!

Javin

- Ini Lily, baterai hp Lily abis bang

- Iya bentar lagi pulang, Bang

Rafa

- Buruan! Ell udah nangis nyariin

Javin

- Iya OTW

Dua puluh menit kemudian, deru mesin motor Javin akhirnya terdengar di halaman. Setelah mematikan mesin, Javin dan Lily berjalan masuk berdampingan.

“Kak Lily dari mana aja, sih?! Ell cariin tau, Ell khawatir banget sama Kakak!” jerit Ell begitu melihat kakaknya. Tanpa membuang waktu, anak laki-laki itu berlari dan merangkul Lily erat-erat sembari sesenggukan.

Wafa melipat kedua tangannya di dada, mendesis pelan. “Manja banget sih lu, Ell.” Padahal, jauh di dalam hatinya, selapis rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya.

“Ell tuh beneran khawatir! Takut Kak Lily kenapa-napa!” bela Ell tak mau kalah, matanya masih sembap.

Lily tersenyum hangat, mengusap lembut rambut adiknya. “Kakak baik-baik aja kok, Ell. Udah ya, ayo Kakak antar kalian berdua ke kamar.”

Lily menggandeng tangan kedua adiknya. Sebelum melangkah naik ke tangga, ia menoleh ke belakang. “Oh ya... makasih ya, Kak Javin.”

Javin membalas ucapan itu dengan mengangkat satu tangannya pelan, mengulas senyum tipis.

Namun, senyum itu tak bertahan lama. Begitu mereka menghilang di balik tangga, Rafa melangkah maju. Matanya menatap Javin tajam, menusuk tanpa ampun.

“Lu tadi bawa Lily ke mana, Vin?” tanya Rafa dengan nada dingin yang menuntut penjelasan.

“Ngasih makan kucing di taman,” jawab Javin santai. Tanpa beban, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk ruang tengah. “Main PS yuk, Raf!”

Owen menghela napas panjang, menatap sahabat adiknya itu dengan raut penuh ketegasan. “Lain kali izin dulu, Vin. Kasihan si Ell sampai menangis kejar gitu.”

Mendengar teguran itu, Javin meringis malu, merasa sedikit bersalah. “Iya, Bang, maaf... salah gue.”

Lima menit berlalu. Setelah memastikan Ell dan Wafa benar-benar terlelap di kamar mereka, Lily melangkah pelan menuruni anak tangga menuju ruang tengah. 

Langkahnya terhenti ketika mendapati sosok yang ia kira sudah melaju pulang.

“Loh... Kak Javin enggak pulang?” tanya Lily heran.

Javin menoleh sekilas dari layar televisi tanpa menghentikan jemarinya pada stik kontroler. “Iya Ly, lagi asyik main PS nih.”

“Tadi padahal katanya buru-buru...” gumam Lily pelan, hampir tak terdengar. Ia lantas mengalihkan perhatiannya pada Owen yang duduk bersedekap, sibuk mengawasi pertandingan sengit antara Rafa dan Javin.

“Kak Owen, lihat deh,” ucap Lily seraya memamerkan dua buket bunga cantik di genggamannya.

Owen menoleh sekilas. “Bunga dari siapa?” tanyanya dengan nada suara yang terkesan dingin dan ketus.

“Halah, palingan juga beli sendiri,” sahut Rafa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

“Sembarangan! Enggak, ya!” sangkal Lily cepat. “Ini tadi Lily dapat dari Kino. Dia lagi bagi-bagi bunga buat ngerayain anniversary orang tuanya.”

“Dapat dua gitu?” tanya Owen lagi, alisnya bertaut curiga.

Javin mendadak menyela sembari tetap fokus menatap layar. “Yang satu lagi itu dari gue, Bang. Gue juga dikasih sama Kino. Ya kali gue laki bawa-bawa bunga, alhasil gue kasih ke Lily aja.”

Rafa menyenggol lengan Javin dengan sikutnya lalu berbisik goda, “Udah berani ngasih-ngasih bunga aja nih...”

Mendengar bisikan itu, sudut bibir Javin terangkat, menahan senyum tipis yang mendadak muncul.

Lily yang tak memedulikan godaan itu berjalan menuju dapur. Ia mengambil sebuah vas kaca, mengisinya dengan air bersih secukupnya, lalu kembali ke ruang tengah. Dengan telaten, Lily mulai merangkai bunga-bunga itu. Namun, di tengah kesibukannya, matanya sesekali melirik ke arah Owen yang duduk terdiam dengan bibir tertekuk cemberut.

“Kak Owen kenapa?” tanya Lily cemas, menghentikan kegiatannya.

“Enggak apa-apa. Ini Kakak lagi lihat kamu memindahkan bunga,” jawab Owen. Suaranya terdengar datar, begitu pula ekspresi wajahnya yang tanpa nada.

“Tapi kenapa cemberut gitu?” Lily berdiri, melangkah mendekat, lalu duduk tepat di samping Owen.

“Enggak apa-apa. Cuma agak capek aja,” balas Owen, masih dengan nada dingin yang kaku.

Lily menatapnya khawatir. “Kalau capek, istirahat aja Kak. Tidur...”

“Ya terserah Kakak lah, mau tidur atau enggak!” potong Owen mendadak dengan nada yang sedikit meninggi.

Lily tersentak pelan. 'Kak Owen kenapa, sih? Kok aneh banget...' batinnya heran. Karena tak ingin memperkeruh suasana, Lily memilih bangkit dan kembali ke posisinya semula, melanjutkan merapikan bunganya dalam diam.

Lima menit kemudian, dua tangkai bunga itu sudah tertata cantik di dalam vas. “Yey, selesai!” ujar Lily girang, mencoba mencairkan keheningan.

Rafa menyandarkan punggungnya ke sofa lalu menguap lebar. “Ayo tidur lah, Vin. Gue udah ngantuk banget ini.”

Javin sejujurnya ikut bingung dengan perubahan sikap Owen yang mendadak ketus. Namun, ia menerka-nerka sendiri mungkin Owen masih jengkel karena ia membawa Lily ke taman tanpa izin tadi.

Rafa dan Javin beranjak berdiri, berjalan menuju kamar di lantai atas, disusul oleh Owen yang mengekor dari belakang tanpa kata.

“Duluan ya, Ly,” pamit Javin ramah.

Lily tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Sementara itu, kedua kakaknya berlalu begitu saja tanpa menengok.

Melihat punggung ketiga laki-laki itu menghilang di belokan tangga, Lily menghela napas panjang. 

“Kakak sama Abang pada kenapa, sih? Kok aneh banget malam ini?” gumamnya pada diri sendiri, benar-benar tidak paham dengan atmosfer canggung yang mendadak tercipta.

“Ya sudahlah... mungkin mereka beneran lagi capek.”

Lily menggeleng pelan, lalu membereskan sisa-sisa vas dan mematikan lampu ruang tengah sebelum akhirnya melangkah naik menuju kamarnya untuk beristirahat.

Keesokan harinya, jarum jam dinding baru menunjukkan pukul 05.40. Lily sudah melangkah menuruni anak tangga dengan anggun, tubuhnya dibalut rapi seragam sekolah lengkap.

“Selamat pagi, Kak!” sapa Lily ceria begitu menginjakkan kaki di dapur.

Namun, sapaan hangat itu hanya dibalas keheningan singkat. Owen yang sibuk di depan kompor sama sekali tidak menoleh ke arahnya. “Pagi,” sahutnya singkat dan datar.

Lily mengerutkan kening, rasa heran akan perubahan sikap kakaknya sejak semalam kembali membayang. Namun kali ini ia enggan memikirkannya terlalu jauh. Sembari mengulas senyum tipis, Lily menghampiri Owen untuk membantu menyiapkan perlengkapan sarapan di meja makan.

Dua puluh menit berlalu begitu cepat di tengah kesibukan dapur yang sunyi.

“Ly, tolong bangunin yang lain sana. Udah jam enam,” ujar Owen seraya menata piring terakhir.

Lily mengangguk patuh. “Siap, Kak.”

Tujuan pertamanya adalah kamar Wafa. Sesuai dugaannya, anak laki-laki itu masih bergelung nyaman di balik selimut tebalnya. Lily melangkah mendekat, lalu menggoyangkan bahu adiknya pelan. “Waf, bangun... Udah jam enam, nanti telat.”

Wafa bergumam tidak jelas. “Iyaaa...” sahutnya serak. Dengan mata setengah terpejam, ia mendudukkan diri, mengucek matanya yang masih berat, lalu melangkah gulai menuju kamar mandi.

Lega melihat Wafa bergerak, Lily beralih ke kamar berikutnya kamar Ell. Namun, baru saja jemarinya hendak menyentuh gagang pintu, pintu kayu itu sudah lebih dulu terdorong dari dalam. Ell muncul di ambang pintu, tampil rapi dan sudah menggunakan seragam sekolah.

“Ell udah bangun, Kak,” lapor anak itu bangga.

Lily terkekeh pelan seraya mengusap puncak kepala adiknya. “Pintar. Ya udah, Ell langsung turun ke bawah buat sarapan ya. Kakak masih harus bangunin Bang Rafa.”

Ell mengangguk patuh lalu melangkah mendahuluinya menuruni tangga.

Kini tersisa satu pintu lagi di ujung koridor. Lily berjalan mendekati kamar Rafa, lalu mengetuk pintunya pelan.

Tok...

Tok...

Tok...

Hanya butuh beberapa detik sampai terdengar helaan napas dari dalam, disusul suara gagang pintu yang diputar. Namun, begitu pintu terkuak lebar, Lily langsung terpaku di tempatnya.

Bukan Rafa yang berdiri di hadapannya, melainkan Javin dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur dan bertelanjang dada.

Sentakan kejutan terasa bagai sengatan listrik yang membuat Lily membeku seketika. Pandangannya terpaku pada bahu tegap Javin yang sama sekali tak terhalang helai kain, sementara laki-laki itu yang setengah sadar tampak terbelalak lebar saat memproses siapa yang berdiri di hadapannya.

Efek kantuk Javin menguap seketika, digantikan oleh kepanikan luar biasa. Mengira yang mengetuk pintu tadi adalah Owen atau Ell, wajah Javin langsung memerah padam sampai ke ujung telinga.

Brak!

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Javin membanting pintu rapat-rapat di depan wajah Lily. Suara dentuman keras itu bergema tajam di sepanjang koridor lantai dua.

Lily masih berdiri mematung, kedipan matanya perlahan kembali. Jantungnya berdegup kencang, antara kaget dan menahan tawa membayangkan ekspresi panik Javin tadi. 

"Kak Javin...?" panggil Lily pelan dari balik pintu kayu yang kini tertutup rapat. "Disuruh Kak Owen turun buat sarapan."

Dari dalam kamar, terdengar suara grasak-grusuk panik, disusul suara benda jatuh, sebelum jawaban serak Javin terdengar samar-samar. "I-iya, Ly! Makasih! Nanti gue turun!"

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!