Lintni Syahrain seorang wanita yang mengalami pelecehan dalam satu malam yang membuat hidupnya hancur, bahkan terpaksa menikah dengan pria yang tidak disukainya.
Askelan Harrad seorang pria yang berhasil mencapai kekuasaan dengan segala cara, tapi dia sangat mencintai ibunya hingga terpaksa menikah demi membahagiakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Geisya Tin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Baju Yang Sama
Baju Yang Sama
setelah Askelan menghilang dari balik pintu kamarnya, Lintani berjalan ke bagian yang ada di paling ujung, bukan tanpa alasan dia memilih pintu itu karena untuk menghindari kontak lebih banyak dengan Askelan.
Sampai di dalam, dia tidak menyalakan lampu kamar tapi, langsung menutup pintu dan menangis. Dia bersandar padanya lalu, tubuhnya melorot ke lantai dengan lemas seperti tak bertulang, dia kelaparan, kehausan dan tidak punya uang, bagaimana dia akan bertahan hidup?
Tinggal di rumah bagus seperti ini nyatanya tidak menjamin hidupnya akan bahagia. Dia menangisi kebodohannya, yang menyetujui begitu saja saat Askelan akan membayarnya di akhir perjanjian. Lalu dari mana dia akan menghasilkan uang untuk makan dan pakaian.
Setelah begitu lama dia menangis, tanpa sadar gadis itu tertidur di tempatnya menangis. Dia tampak seperti rubah yang kedinginan di musim dingin yang beku, meringkuk hingga punggungnya melengkung membentuk bulatan di tanah, yang lembab tanpa kehangatan karena bulunya hilang.
Keesokan harinya, Jordan datang lebih pagi dari biasanya, saat masuk, dia melihat Askelan sudah bersiap pergi bekerja dan tengah memakai jasnya.
Asisten pribadi yang setia itu menarik sepasang sepatu dari deretan sepatu lain di lemari, lalu menyimpannya di dekat sofa agar Askelan lebih mudah memakainya. Dia melihat sekeliling dan tidak mendapatkan Lintani di mana pun.
Dia pun bertanya, “Di mana, Nona, Tuan? Apa dia masih tidur di kasur Anda karena kelelahan melayani Anda semalaman?”
Askelan menatap Jordan sekilas, lalu, duduk di sofa untuk memakai sepatunya.
“Aku tidak tahu di mana dia tidur.”
“Apa Anda tidak mengajaknya tidur sekamar? Kalian sudah menikah!”
“Jode, aku menyesal mengikuti saranmu, perempuan itu sangat menyebalkan, lagi pula aku menikah hanya dengan catatan sipil saja, kau juga tahu, kan, aku belum mengucap janji suci apa pun dengannya?”
Jordan menahan tawanya, dia justru senang, karena keberadaan Lintani, membuatnya punya kesempatan untuk memberi perintah pada pria yang mematikan. Entahlah, dia lebih senang Estevan dengan istrinya dari pada dengan Haifa karena dia merasa ada yang aneh dengannya.
Dia pernah sekali bertanya tentang kejadian sensitif di pondok kayu pada Haifa, tapi jawabannya terkesan di buat-buat dan tidak sama dengan cerita Estevan padanya.
“Ingat, Jode. Jangan memberiku saran yang lain karena aku hanya akan menikah dengan Haifa.”
“Baik ..., tapi, apa Tuan tidak akan memberinya uang atau makanan?” Jordan berkata demikian karena dia tahu bila di rumah itu tidak pernah ada makanan apa pun.
Estevan tidak menjawab pertanyaan Jordan, dia berjalan dengan langkah lebar ke luar rumah tanpa melihat apa yang di lakukan asistennya.
Jordan mengambil bekal makanan dari dalam tasnya, itu adalah nasi dan sup yang sering dibuat oleh ibunya kalau dia berangkat untuk bekerja dan tidak sempat sarapan. Dia berharap Lintani menyukainya.
Beberapa jam berlalu setelah Askelan pergi, Lintani membuka matanya dan melihat samar-samar sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela yang berwarna hijau muda. Semua kain yang ada di ruangan itu pun berwarna sama, dari seprei, selimut, taplak meja kecil juga.
Gadis itu menggerakkan tubuh secara perlahan sambil mengusap mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Dia bangkit dan berusaha berdiri dengan segenap tenaga yang tersisa, melangkah ke jendela dan membuka tirainya. Dia duduk di kursi yang ada di sana, lalu, kembali menangis.
Tuhan, garis apa yang harus aku lalui ini, apakah garis ini yang harus terus aku lewati sampai aku tiada nanti? Batin Lintani di sela-sela isakan tangisnya.
Seandainya saja membunuh dirinya akan menyelesaikan masalah yang ada, maka dia akan melakukannya, tapi, dia akan mencari tahu dulu, apakah dalam rahimnya hidup sebuah nyawa? Dahulu saat dia dipaksa melayani seorang pria yang hampir mati pun dia bisa hamil. Apa lagi sekarang, dia sudah melakukannya lagi dengan pria yang punya kekuatan yang sama.
Dia tidak tahu apakah dia mengandung benihnya atau tidak. Sebab kalau tidak, maka dia akan segera melompat dari atas tebing atau menusuk jantungnya dengan pedang seperti kematiannya para samurai di negara matahari pagi. Ya! Dia akan melakukannya.
Namun, kalau ada sebuah nyawa di perutnya, maka dia akan kembali bertahan demi teman hidupnya yang menjadi penyemangat lagi di segala kondisi.
Setelah puas menangis, Lintani beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu dia kembali memakai baju yang sama karena dia tidak berminat sama sekali, untuk membuka lemari besar yang ada di samping tempat tidurnya. Dia tidak penasaran melihat isi di dalamnya.
Lintani menyisir rambut ala kadarnya menggunakan alat yang ada di meja rias, menguncir rambutnya di atas kepala. Saat keluar kamar, dia melihat ada bekal nasi yang berwarna cukup cantik di atas meja makan, gadis itu memakannya sampai habis. Dia kenyang dan merasa bahwa ternyata Askelan adalah seorang pria yang perhatian. Sekarang dia bisa meredam suara perutnya terus berbunyi sejak semalam.
Setelah kenyang dia membersihkannya bekasnya lalu dia melihat secarik kertas yang menempel di dekat pintu kamarnya. Dia membaca tulisan tentang beberapa peraturan yang harus dilakukannya. Mungkin peraturan itu ditulis tangan oleh Askelan. Pria itu memiliki tulisan tangan yang rapi dan tajam, itu tisan yang terlalu bagus untuk seorang pria dengan watak dingin seperti dirdiriny
Di situ tertulis sebuah aturan di mana dia harus menengok ibunya setiap hari dan harus menemaninya mengobrol lalu, membuatnya tersenyum karena itu adalah hal yang paling penting untuk Elliyat. Pada beberapa artikel tentang kesehatan menyebutkan, apabila seorang yang memiliki beberapa penyakit kebanyakan dikarenakan pola pikir dan beban hidup. Pemicu sesungguhnya berapa penyakit pada manusia pun disebabkan oleh karena tidak bahagia, tekanan dan stres.
Lintani mengangguk membacanya dia mengerti bahwa tugasnya yang utama adalah membahagiakan Bibi Elliyat. Itu hal yang mudah. Namun, dia tidak mungkin menemani Ibu Askelan sepanjang hari karena harus mencari pekerjaan demi menyambung hidup.
Ketika Lintani sampai di halaman gedung apartemen, dia sudah di sambut oleh seorang sopir dengan kendaraannya. Sopir itu berjalan menghampiri saat melihatnya keluar dari lift. Pria bertubuh kurus itu bernama Honu dan memperkenalkan dirinya dengan cara yang sopan dan ramah.
Setelah berada di sisi Lintani dia berkata, “Saya yang akan mengantar Nona ke Villa sesuai dengan perintah Tuan Askelan.”
Dan Lintani pun menurutinya begitu saja.
Sesampainya di Villa, gadis itu langsung di sambut oleh para pelayan yang mempersilahkan dirinya masuk dengan sopan.
“Hai, Lin. Apa kau tidak mengganti pakaianmu?” tanya Elliyat ketika Lintani sudah berada di sisi wanita itu. “Apa ini bajumu yang kemarin?” Elliyat menunjukkan perhatiannya yang besar.
Saat itu mereka duduk bersama di depan jendela yang ada di tengah ruangan.
Lintani menyadari betapa besar perhatian Elliyat kepadanya, berbeda sekali dengan anak lelakinya yang tidak akan peduli jika dia memakai baju yang sama.
“Bukan begitu, Ibu ... ini baju yang berbeda dan aku sudah menggantinya, tapi, aku tidak menyadari kalau warna dan modelnya sama!” Lintani berkata sambil tertawa tergelak seolah dia benar-benar tidak menyadarinya padahal Ia sedang berbohong.
“Baiklah kalau begitu, kau harus mengganti pakaianmu. Aku tidak suka kalau melihatmu memakai baju yang sama walaupun, itu baju yang berbeda. Ayo, kemarilah!”
Elliyat mengajak Lintani ke kamarnya dan memperlihatkan isi lemari yang dia bebas memilih pakaian mana pun dia sukai serta pas di tubuhnya. Gadis itu memperlihatkan ekspresi yang tercengang bahkan nampak bahagia.
Lintani sudah tidak asing dengan kebaikan yang ditunjukkan Eliat, walaupun, di dalam hati dia menolak dan tidak menyukai hal-hal mewah seperti itu karena dia tidak terbiasa. Apalagi dia berniat mencari pekerjaan, tidak cocok kalau dia harus memakai pakaian yang mewah. Bagaimana mungkin orang akan percaya kalau dia butuh uang bila menggunakan pakaian seperti itu.
Lintani memilih pakaian hitam yang tertutup di bagian lehernya dengan lengan berenda sebatas siku, sedangkan panjang pakaian sampai menutupi sebagian betisnya
“Kau memiliki selera yang bagus, Lin. Tidak salah aku menikahkanmu dengan putraku lihat saja nanti dia akan tercengang melihatmu.”
Bersambun
xixixixxiixixi
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu