Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dalam kamar, pria bad boy itu terus memperhatikan gadis yang berada di hadapannya. Dia masih tidak percaya jika wanita ini adalah Bian si wanita hitam yang ia tinggalkan di jalan.
"Kau itu siapa? mana mungkin dalam semalam si hitam berubah jadi si putih bagaikan mutiara begitu silau dan indah di pandang mata." Nathan terus menatap Bian dari atas sampai bawah dari bawah maju ke atas. Pria itu tidak bisa melepas pandangannya dari wanita di hadapannya ini.
"Ck, sudah ku bilang aku Bian, si hitam yang kau buang di jalan. Minggir!" Bian mendorong dada Nathan dari hadapannya karena tadi Nathan begitu tergesa membawa ke kamar tamu dan sekarang mereka berdua berada di dalam satu ruangan dengan Bian menyender di dinding di halangi oleh Nathan yang menumpu kan satu tangannya ke tembok dan satunya di masukan ke saku celana.
Nathan mundur beberapa langkah ke belakang, matanya memperhatikan pergerakan wanita di hadapannya. Bian duduk di tepi ranjang, matanya melotot tajam ke arah pria menyebalkan itu.
"Kau ngapain masih di situ? keluarlah! Aku mau istirahat!" ujarnya ketus.
"Ck, seharusnya kau yang keluar. Ini kamarku, apa kau tidak bisa melihatnya?" Nathan masih terus memandangi wajah wanita itu. Entahlah, matanya seolah enggan mengalihkan penglihatannya.
Bian mengedarkan pandangannya, ternyata benar, kamar itu milik Nathan sebab terlihat ada beberapa foto Nathan bahkan ada foto seorang wanita cantik dan juga sexy sedang di peluk oleh Nathan tersimpan di atas laci dekat lampu tidur. "Apa wanita itu kekasihnya?" batin Bian.
"Kau sudah punya kekasih?" tanya Bian penasaran mengambil foto itu.
"Hei, itu milikku!" Nathan merebut fotonya memasukannya ke dalam laci.
"Aku tahu, aku hanya ingin melihat kekasihmu saja. Ternyata dia cantik ya, sexy, modis, cocok dengan pria tampan sepertimu." Bian berkata jujur seraya menatap Nathan.
"Jelas lah, dia itu wanita yang ku cintai. Dia begitu istimewa tidak sepertimu yang terlahir dari rahim seorang wanita malam, tinggal di lingkungan pendosa dan ku yakin jika kau juga seperti ibumu..." Nathan mencondongkan wajahnya tepat di hadapan Bian. "MURAHAN!" ucapnya menatap jijik.
Bian terlihat menghelakan nafasnya tak menjawab perkataan Nathan. Gadis itu malah menjatuhkan punggungnya rebahan, lalu memejamkan mata tak memperdulikan Nathan yang sedang menahan sesuatu akibat baju Bian sedikit tersingkap memperlihatkan perut rampingnya dengan pusar di tindik.
Glek...
"Ada apa denganku, tiba-tiba terasa panas?" ucap batinnya seraya matanya terus menatap perut Bian beralih ke atas. "Oww shi*t..! Dia begitu menggoda."
Tok.. tok... tok..
"Nathan, apa Bian ada bersama mu?" pekik Abraham mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
"Ck." Nathan melangkah menuju pintu, lalu membukanya dan Bian bangun dari rebahannya. "Ada apa?" tanya Nathan.
Abraham tersenyum pada mereka. "MUA nya sudah tiba, waktunya Bian berhias. Kau pun siap-siap Nathan! Ayo Bian!"
Kedua anak muda itu menghelakan nafasnya, mereka tak bisa menolak apalagi kabur dari acara tersebut. Keduanya sudah di beritahukan kalau mereka akan menikah hari ini juga. Nathan yang tadinya menolak habis-habisan seakan bungkam tak bisa menolak lagi setelah melihat wajah asli Bian.
************
Kini, Bian sudah siap dengan gaun pengantinnya. Gadis itu tengah duduk memikirkan nasib dirinya setelah menikah nanti. Rebecca mengusap punggung tangan putrinya.
"Maafkan Ibu, gara-gara Ibu kau harus mengalami ini semua. Jika kau tidak sanggup, kita bisa membatalkan perjanjian ini!"
Bian menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Aku tidak bisa membatalkan perjanjiannya. Kalau aku batalkan, Ibu akan masuk penjara dan kita harus membayar denda 3x lipat dari uang yang kita pinjam."
Ya, Bian dan Tuan Abraham telah melakukan perjanjian di atas kertas. Abraham sengaja melakukan itu demi bisa membuat Bian setuju dan tidak bisa mundur lagi.
Rebecca memeluk, menangis, merasa bersalah pada Bian yang telah mengorbankan kebahagiaan dan masa depan putrinya demi dirinya. "Doa terbaik untukmu, sayang. Ibu doakan kau mendapatkan kasih sayang tulus dari suami dan keluarga barumu."
***********
Di taman belakang, semua tamu undangan telah memenuhi area tersebut. Pendeta juga telah berada di depan menunggu kedua pengantinnya.
"Saya kira putramu akan menikah dengan kekasihnya, Abraham." Ujar Daniel teman sekaligus rekan bisnisnya.
"Saya tidak setuju dengan wanita itu. Saya tahu siapa dia dan saya tidak akan membiarkan Nathan jatuh padanya." Jawab Abraham tengah duduk di samping Daniel.
Daniel mengangguk setuju. Matanya mencari sosok wanita yang telah mencuri hatinya. Rebecca, wanita yang selama ini ia sewa untuk melayani nafsunya. "Dimana mereka? calon pengantin beserta Istri dan Ibunya Bian."
Abraham pun mengedarkan pandangannya. "Oh, iya, kenapa belum ada. Pendeta sudah standby di depan." Abraham meminta Billy menghampirinya dan Billy mendekat.
"Iya Bos."
"Kau susul Meta dan yang lainnya, acaranya agan di mulai!" titahnya pada Bian.
"Baik, Bos." Billy undur pamit masuk ke dalam mencari Meta, Nathan, Bian, dan Rebecca.
***********
"Nathan, buruan ajak Bian ke belakang! Pendeta sudah menunggu dan acaranya akan segera di mulai!" Meta menghampiri kamar Nathan yang ada di kamarnya membujuk pria itu.
"Ayolah, Mah. Aku tidak mau menikah, bagaimana dengan kekasihku?" Nathan enggan datang karena barusan kekasihnya menelpon untuk tidak menikahi wanita itu.
Meta mengela nafas. "Sampai kapan kau akan terus di perbudak oleh cinta palsunya Eliza? dia tidak mencintaimu, Nathan. Dia hanya mendekatimu demi popularitas agar dia bisa mencapai impiannya."
"Eliza mencintaiku, Mah. Akupun mencintainya, aku tidak mungkin mengkhianati dia." Nathan tetap tidak percaya kalau dia hanya di manfaatkan saja.
"Jika sekarang kau tidak percaya maka nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang waktunya kau menikah. Ayo!" Meta menarik paksa lengan keponakan sekaligus anak sambungnya.
"Jangan menolak jika kau tidak ingin Papamu menghancurkan Eliza!" sambungnya tegas. Ketika menuju halaman belakang, mereka berpas-pasan dengan Bian dan Rebecca begitupun dengan Billy.
"Nyonya, kalian sudah di tunggu!" ujar Billy.
"Kami akan ke sana sekarang," jawab Meta. Nathan yang sedang di tarik tangannya tak berontak sebab matanya terpesona pada wanita yang berjalan anggun di tutupi kerudung.
************
Nathan dan Bian sudah berada di depan saling berhadapan dengan pendeta. Acara-demi acara telah di mulai, Pendeta pun mulai memberkati kedua mempelai tersebut. Pernikahan tersebut terasa begitu sakral. Nathan yang tadinya malas mendadak serius di saat seperti ini. Entah apa yang terjadi padanya dia sendiri tidak mengerti itu. Raga ingin menolak tapi jiwa tak dapat bergerak malah mengikuti setiap pemberkatan.
Pernikahan tersebut di akhiri dengan kedua mempelai saling bertukar cincin dan Nathan mengecup kening Bian di depan pendeta dan para tamu undangan. Pria itu seolah menunjukan keseriusannya dalam pernikahan ini. Bian sendiri mematung di kala bibir pria di hadapannya mengucap keningnya.
Sekarang dia sudah resmi menjadi seorang istri dari Jonathan Fernandez. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, Bian tidak tahu. Dia hanya menjalaninya saja, selebihnya Author yang menentukan.
Bersambung.....