Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Badai di Puncak Kedua
Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Derek sudah membangunkan Viona. Cahaya abu-abu mulai merembes masuk melalui mulut gua, menerangi wajah Derek yang tampak lebih serius dari biasanya.
"Kita harus segera berangkat," ucapnya tanpa basa-basi. "Ada badai besar yang sedang bergerak dari arah barat. Jika kita tidak segera melewati puncak gunung kedua sebelum siang, kita akan terjebak di tengah jalan."
Viona mengucek matanya yang masih mengantuk. Tubuhnya terasa kaku akibat tidur di atas tanah yang keras. Namun, ia segera bangkit dan membantu Derek merapikan perbekalan. Kuda-kuda sudah diberi makan dan air, dan dalam waktu kurang dari setengah jam, mereka sudah siap meninggalkan gua.
Udara pagi itu terasa sangat menusuk. Meskipun Viona sudah mengenakan mantel tebal, angin dingin tetap merembes melalui celah-celah pakaiannya. Derek berjalan di depan, menuntun kudanya dengan langkah cepat namun hati-hati.
"Kita akan melewati celah sempit di antara dua tebing," jelas Derek sambil menunjuk ke arah depan. "Setelah itu, kita akan mendaki jalur batu yang cukup curam. Kau harus turun dari kuda dan berjalan kaki di sana."
"Apa itu berbahaya?" tanya Viona, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar.
"Tidak, selama kau berhati-hati dan tidak panik." Derek menoleh sekilas, menatap Viona dengan tatapan meyakinkan. "Kau tidak perlu takut. Aku di sini."
Kata-kata itu terdengar sederhana, tetapi mampu menenangkan hati Viona. Ia mengikuti di belakang Derek dengan lebih percaya diri.
Mereka melewati celah sempit di antara dua tebing batu yang menjulang tinggi. Jalurnya sangat sempit—hanya cukup untuk satu ekor kuda berjalan. Di sisi kiri, tebing batu yang licin, sedangkan di sisi kanan, ada jurang yang cukup dalam. Viona memegang tali kekang kudanya dengan erat, mengatur napas agar tetap tenang seperti yang diajarkan Derek.
Setelah berhasil melewati celah itu, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun, Derek terus menatap langit yang mulai berubah warna. Awan hitam tebal mulai menggumpal di ufuk barat, dan angin mulai bertiup lebih kencang.
"Badai akan datang lebih cepat dari yang kukira," gumam Derek, wajahnya sedikit tegang. "Kita harus mempercepat langkah."
Mereka melanjutkan perjalanan dengan tempo yang lebih cepat. Jalur batu yang curam memang memaksa mereka untuk turun dari kuda. Derek berjalan di depan sambil menuntun kudanya, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan Viona masih mengikutinya dengan aman.
Viona merasakan napasnya mulai terengah-engah. Kaki kecilnya yang terbiasa dengan lantai marmer istana kini melangkah di atas batu-batu tajam dan tidak rata. Namun, ia tidak mengeluh. Ia terus melangkah, mengikuti jejak Derek yang kokoh dan yakin.
Saat mereka berada di pertengahan jalur pendakian, badai itu akhirnya tiba. Hujan deras turun secara tiba-tiba, seperti langit yang tiba-tiba robek. Butiran air yang sangat dingin menusuk kulit Viona. Angin bertiup begitu kencang hingga beberapa ranting pohon patah dan terbang melintasi jalan.
"Kita tidak bisa berhenti di sini!" teriak Derek di tengah gemuruh guntur. "Terus berjalan, jangan menoleh ke belakang!"
Viona menggigil hebat, tetapi ia tetap melanjutkan langkahnya. Air hujan membanjiri jalur batu, membuatnya menjadi sangat licin. Di beberapa tempat, Viona hampir terpeleset, tetapi ia selalu berhasil menjaga keseimbangan.
Derek tiba-tiba berhenti dan berlari ke arah Viona. "Tanganmu! Berikan tanganku!"
Viona mengulurkan tangan kirinya yang masih terbungkus perban. Derek menggenggamnya dengan kuat. Tangannya yang kasar dan kokoh itu memberikan kehangatan yang sangat berarti di tengah dinginnya badai.
"Kita akan melewati bagian ini bersama-sama," teriak Derek. "Jangan lepaskan tanganku!"
Viona mengangguk, meskipun air hujan membanjiri wajahnya. Ia berpegangan erat pada Derek. Bersama-sama, mereka melangkah menaiki batu-batu licin itu. Derek bertindak seperti penopang—setiap kali Viona kehilangan keseimbangan, ia menariknya agar tetap tegak.
Di tengah badai, suara gemuruh tiba-tiba terdengar sangat dekat. Viona menoleh dan melihat gumpalan batu dan lumpur mulai bergerak menuruni tebing di sebelah kanan mereka.
"Longsor!" teriak Derek.
Dengan refleks yang sangat cepat, Derek menarik Viona ke dalam sebuah cekungan batu besar di sisi kiri. Ia mendorong Viona ke belakangnya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Batu-batu besar berjatuhan di sekitar mereka, menghantam tanah dengan suara yang menggelegar. Salah satu batu melintas sangat dekat dengan kepala Derek.
"Tutup matamu!" perintah Derek. Ia menutupi kepala Viona dengan kedua tangannya.
Viona memejamkan mata erat-erat, merasakan tubuh Derek yang sangat kuat melindunginya dari bahaya. Hujan dan lumpur membasahi mereka berdua, tetapi Derek tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap berdiri kokoh, menjadi perisai hidup di antara Viona dan longsor yang mengerikan.
Longsor itu berlangsung selama beberapa menit. Namun, bagi Viona, waktu itu terasa seperti selamanya. Akhirnya, suara gemuruh itu perlahan mereda, dan yang tersisa hanyalah suara hujan yang mulai mereda.
Derek perlahan menurunkan tangannya. Ia menatap Viona dengan napas yang sedikit terengah-engah. Wajahnya basah, rambutnya berantakan, tetapi matanya masih setajam sebelumnya.
"Kau terluka?" tanyanya cepat.
Viona menggeleng, matanya masih terbelalak karena kaget. "Tidak... kau? Kau yang melindungiku."
"Aku baik-baik saja." Derek melepaskan pegangannya, tetapi setelah itu ia terdiam dan menatap Viona lebih dalam.
Udara di sekitar mereka terasa sangat sunyi, hanya suara rintik hujan yang tersisa. Derek dan Viona berada sangat dekat. Viona bisa melihat setiap tetes air hujan yang mengalir di wajah Derek, bisa melihat alisnya yang sedikit berkerut, dan matanya yang terus menatapnya.
Detak jantungku... mengapa berdegup begitu kencang?
"Itu tadi sangat berbahaya," bisik Viona pelan. "Kau bisa saja mati."
"Aku tidak bisa membiarkanmu terluka lagi." Suara Derek lebih lembut dari sebelumnya. "Aku sudah berjanji akan mengantarmu dengan selamat ke Kerajaan Timur."
Namun, saat kata-kata itu keluar, ada sedikit keraguan di matanya. Bahkan Derek sendiri seolah tidak yakin dengan apa yang ia katakan.
Viona menunduk, berusaha menyembunyikan rasa malu yang menjalari pipinya. Aku sudah memiliki Neil. Aku tidak seharusnya merasa seperti ini. Namun, meskipun ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri, ada perasaan yang sulit untuk dipungkiri.
Derek akhirnya mundur satu langkah, memecah momen itu. "Badai sudah mereda. Kita harus terus bergerak sebelum hujan turun lagi."
Viona mengangguk, mencoba mengembalikan sikap profesionalnya. "Baik."
Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini dengan posisi Derek yang selalu berada di samping Viona, bukan di depan. Ia tetap waspada, tetapi ada kehangatan baru di antara mereka. Kehangatan yang lahir dari sebuah momen berbahaya, dan sebuah perlindungan yang tulus.
Tepat saat mereka tiba di puncak gunung kedua, badai benar-benar berhenti. Langit mulai cerah, dan di ufuk timur, Viona bisa melihat pelangi yang indah membentang.
"Kita berhasil," kata Derek, menarik napas lega.
Viona tersenyum. "Ya. Kita berhasil." Namun, ia sadar bahwa 'berhasil' tidak hanya berarti melewati gunung. Ia berhasil membiarkan seseorang masuk ke dalam hatinya—sesuatu yang ia tak pernah duga sebelumnya.
Mereka berhenti di sebuah dataran tinggi, membiarkan kuda-kuda beristirahat. Derek memeriksa perbekalan dan mengeringkan selimut basah di atas batu-batu yang mulai panas terkena sinar matahari.
"Apa kau masih memikirkan Neil?" tanya Derek tiba-tiba, tanpa menatap Viona.
Viona terkejut. "Apa? Maksudmu...?"
"Aku hanya bertanya." Derek tidak menatapnya. "Di tengah badai tadi, apa kau memikirkan Neil?"
Viona diam untuk waktu yang sangat lama. Jujur saja, di tengah badai tadi, ia tidak memikirkan Neil sama sekali. Yang ada di pikirannya hanyalah Derek—tangan Derek yang mencengkeram tangannya, tubuh Derek yang melindunginya, dan suara Derek yang memerintahkannya untuk tidak takut.
"Aku tidak memikirkan Neil," jawab Viona akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar.
Derek akhirnya menoleh. Tatapannya dalam, berisi ribuan pertanyaan yang tidak ia ucapkan. "Kenapa?"
Viona menelan ludah. "Mungkin karena... saat seseorang menyelamatkan nyawamu, kau tidak bisa melupakan orang itu."
Derek tersenyum tipis—senyuman yang terasa pahit dan manis sekaligus. "Kau seharusnya tidak mengucapkan hal itu, Viona. Aku hanya pengantar. Neil adalah takdirmu."
Viona tidak menjawab. Ia hanya menatap pelangi yang membentang di kejauhan, dan bertanya pada dirinya sendiri: Apakah takdir benar-benar tidak bisa diubah?
Hujan memang sudah berhenti, tetapi badai di dalam hati Viona justru baru saja dimulai.