Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampan namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
baca ceritanya untuk lanjut🫶🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kelelahan Fisik
...Senin pagi di Arkananta Group selalu menjadi momen paling menegangkan bagi seluruh karyawan, terutama bagi mereka yang memegang posisi penting didalam perusahaan. ...
...Namun, bagi Rania Adisti, Senin ini adalah tentang bagaimana caranya mempertahankan kesadaran agar tidak ambruk di lantai lobi....
...Tubuhnya bagaikan sebuah negara yang sedang mengalami krisis energi total. ...
...Selama tiga hari berturut-turut, Rania hidup dengan pola tidur yang hanya bertahan dua sampai tiga jam. ...
...Tubuhnya dipaksa terus-menerus berganti identitas, siang sebagai sekretaris magang yang dihina dan diperas tenaganya oleh Bos kejam, dan malam sebagai Milky yang harus selalu ceria, menawan, dan sigap di bawah tatapan posesif Arkan yang kian menyesakkan....
...Rania berjalan menyusuri koridor lantai tiga puluh....
... Langkah kakinya yang biasanya ringan kini terasa begitu berat....
... Setiap suara langkah di lantai terdengar bergema di dalam tengkoraknya, memicu dentuman nyeri di pelipisnya....
...Dunia di sekitarnya tampak berdenyut. ...
...Warna-warna dinding krem kantor terasa memuakkan, dan lampu neon di langit-langit gedung berkedip-kedip dengan irama yang menyakitkan mata....
... Ia merasa seperti sedang berada di dalam mesin cuci yang berputar kencang, di mana keseimbangan tubuhnya adalah hal terakhir yang bisa ia pertahankan....
..."Rania? Kamu kenapa pucat sekali? Kamu sudah sarapan?" Suara Citra terdengar sayup-sayup, seolah datang dari balik dinding kaca yang tebal....
..."Aku... aku tidak apa-apa, Kak," jawab Rania....
... Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, tipis, kering, dan serak....
...Rania mengabaikan sensasi mual yang merayap naik ke kerongkongannya....
... Ia harus mengantarkan kopi pagi untuk Arkan. ...
...Pria itu sudah menunggu di ruangannya, dan Arkan memiliki kebiasaan buruk atau mungkin kejam untuk menanyakan laporan mingguan tepat saat ia menyesap kopi pertamanya....
...Rania melangkah menuju pantri dengan gerakan yang sangat berhati-hati....
... Ia menyeduh kopi americano tanpa gula sesuai dengan selera Arkan yang dingin dan pahit....
... Tangannya yang dingin gemetar saat memegang gagang cangkir porselen putih itu. ...
...Uap panas kopi menyeruak, namun tidak cukup hangat untuk menembus rasa dingin yang menusuk dari dalam tulang-tulangnya....
...Saat ia berjalan kembali ke ruang kerja CEO, koridor itu terasa semakin panjang, seolah-olah pintu kayu ek di ujung sana sedang bergerak menjauh. ...
...Rania memejamkan matanya sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek dan tidak teratur....
...Sedikit lagi, Rania. ...
...Taruh kopi ini, lalu cari tempat untuk duduk sebentar....
... Kamu bisa melakukannya....
...Ia sampai di depan pintu ruang kerja Arkan. ...
...Dengan sisa tenaga yang tipis, ia mengetuk pintu dan masuk....
... Ruangan itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. ...
...Aroma parfum kayu cendana dan bergamot yang khas dari Arkan menyambut indra penciumannya, dan untuk sesaat, rasa mual itu kembali menghantam ulu hatinya dengan lebih keras....
...Arkan sedang menatap layar monitor besar di mejanya, alisnya bertaut serius....
... Pria itu bahkan tidak menoleh saat Rania masuk....
..."Diletakkan saja di sana," perintah Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya....
...Rania melangkah mendekati meja mahogani tersebut....
... Langkah kakinya terasa goyah, dan lantai di bawahnya mulai berayun-ayun seolah-olah ia sedang berdiri di atas dek kapal yang diterjang badai....
... Pandangannya yang tadi sudah kabur, kini mulai dipenuhi dengan bintik-bintik hitam yang berkedip-kedip....
..."Ini kopi Bapak," ucap Rania....
... Suaranya terdengar sangat jauh....
...Saat ia mencoba meletakkan cangkir itu di atas meja, tangannya kehilangan keseimbangan....
... Cangkir porselen itu tidak mendarat dengan mulus, ia sedikit meleset dari tatakan, menghasilkan bunyi denting yang nyaring di keheningan ruangan....
...Arkan mendongak dengan cepat, raut wajahnya berubah menjadi kerutan jengkel. ...
..."Apa yang Anda lakukan? Bisa tidak melakukan tugas sesederhana ini dengan benar?"...
...Rania mencoba menarik tangannya kembali, namun otaknya tidak lagi mengirimkan sinyal perintah yang benar ke otot-otot tubuhnya....
... Dunia mendadak berhenti berputar. ...
...Suara dentuman di dalam kepalanya meledak menjadi kesunyian yang mencekam. ...
...Pandangannya yang tadinya hanya buram, kini menjadi gelap total....
...Rania merasakan tubuhnya kehilangan kekuatannya secara tiba-tiba. ...
...Lututnya lemas, gravitasi seolah-olah menariknya dengan kekuatan yang tidak tertahankan. ...
...Ia tidak lagi peduli pada tumpahan kopi, pada kemarahan Arkan, atau pada identitas rahasia yang ia jaga selama ini....
...Tubuhnya limbung ke depan....
... Tidak ada upaya untuk menahan diri. ...
...Ia membiarkan dirinya jatuh, pasrah sepenuhnya pada kegelapan yang menyambut dengan tangan terbuka....
...Namun, sesaat sebelum tubuhnya menghantam lantai marmer yang keras, sepasang lengan yang kokoh dan tegas menyambar tubuhnya dengan kecepatan kilat....
...Arkan, yang tadinya duduk dengan angkuh di kursinya, kini berdiri dengan gerakan refleks yang mengejutkan, menahan tubuh Rania sebelum gadis itu menyentuh tanah. ...
...Lengan Arkan mencengkeram bahu dan pinggang Rania dengan kuat, menahan bobot tubuhnya yang terasa begitu ringan seolah-olah gadis itu sudah kehilangan seluruh berat badannya karena kelelahan yang parah....
..."Rania!" suara Arkan yang biasanya dingin dan tegas, kini dipenuhi oleh nada syok dan panik yang tidak pernah terdengar sebelumnya....
...Rania tidak bisa mendengar suara itu. ...
...Ia sudah benar-benar tenggelam dalam ketidaksadaran....
... Kepalanya terkulai lemas di dada Arkan, napasnya terasa sangat lambat dan dangkal....
...Arkan menatap wajah Rania dari jarak yang sangat dekat. Tanpa kacamata yang biasa membingkai wajah itu saat jatuh ke lantai, wajah Rania tampak jauh lebih muda, rapuh, dan menyedihkan....
... Lingkaran hitam tebal di bawah matanya sangat terlihat jelas, dan pipinya yang biasanya pucat kini tampak seolah baru saja dihisap seluruh darahnya....
...Arkan merasakan denyut jantung yang lemah namun cepat dari gadis di pelukannya....
... Sifat kejam dan tuntutan profesionalitasnya mendadak runtuh, digantikan oleh rasa cemas dan khawatir. ...
...Ia menatap wajah sekretaris yang selama ini ia maki-maki setiap hari, lalu melihat ke arah tumpukan dokumen yang ia berikan sebagai beban kerja ekstra....
...Perasaan bersalah yang menusuk, tajam, dan tidak terduga menghantam dada Arkan. ...
...Ia baru saja menyadari bahwa manusia di depannya ini bukanlah robot. ...
...Manusia ini adalah seorang gadis yang sedang berjuang keras, entah untuk apa dan dia, dengan seluruh angkuh telah membuat sekretaris magangnya itu tumbang karena beban yang ia berikan....
..."Rania... bangun," gumam Arkan, suaranya parau dan penuh kekhawatiran yang tidak ia mengerti....
...Ia mengangkat tubuh Rania dengan mudah, membawa gadis itu menuju sofa panjang di sudut ruangannya. ...
...Arkan membaringkan tubuh Rania dengan sangat hati-hati, seolah-olah dia sedang menangani porselen paling rapuh di dunia....
...Arkan menatap wajah Rania yang tertidur lelap dalam ketidaksadaran....
... Tangannya yang gemetar bergerak menyisir anak rambut yang menutupi dahi Rania. ...
...Pria itu menyadari satu hal lain yang membuatnya terpaku, aroma tubuh gadis ini. ...
...Meski berbau debu, ada aroma yang sangat samar, aroma yang sangat akrab, aroma yang selalu ia cari di balik tembok kafe setiap malam....
...Aroma stroberi....
...Arkan terdiam, matanya menatap lekat-lekat wajah pucat Rania....
... Sesuatu di dalam kepalanya mulai berputar, menghubungkan titik-titik yang selama ini ia tolak untuk diakui....
... Rasa posesif yang ia miliki terhadap pelayan "Milky", amarah yang ia rasakan saat sekretaris ini terlambat sepuluh menit, dan kini... kesadarannya akan betapa hancurnya kondisi fisik gadis ini....
...Sebuah kenyataan mulai merayap naik, dingin dan menakutkan, ke dalam benak Arkananta Narendra. ...
...Namun, sebelum ia bisa memprosesnya lebih jauh, ia harus memastikan bahwa gadis di hadapannya ini kembali membuka mata dan sadar sepenuhnya....
...Arkan meraih ponsel di atas meja dan menekan tombol speed dial untuk dokter pribadi perusahaan dengan tangan yang masih sedikit gemetar....
..."Datang ke ruangan saya sekarang. Bawa semua peralatan medis darurat. Sekarang!" perintahnya tegas, lalu menutup telepon tanpa menunggu jawaban....
...Ia kembali menatap wajah Rania....
... Untuk pertama kalinya, sang Bos kejam merasa tidak berdaya....
... Ia telah menghukum gadis ini terlalu keras, dan sekarang, ia hanya bisa menunggu di samping sofa, menatap setiap hembusan napas yang lambat dari gadis yang diam-diam telah mengusik jiwanya jauh lebih dalam daripada yang pernah ia akui pada dirinya sendiri....