Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setiap hari Nathalie bolak balik, antara rumah Drake dan rumah sakit.
Setelah mandi dan sarapan yang disiapkan pelayan, Drake akan mengantarnya ke rumah sakit dengan mobilnya yang mewah. Di sana, Nathalie menghabiskan berjam-jam di sisi ayahnya yang masih terbaring di ruang perawatan intensif pasca-operasi. Ia memantau setiap perubahan kecil denyut nadi, hasil lab, bahkan ekspresi wajah ayahnya yang mulai perlahan membaik.
“Ayah harus sembuh,” bisik Nathalie setiap kali menggenggam tangan keriput ayahnya.
Harapannya satu-satunya adalah melihat ayahnya bisa tersenyum lagi, berjalan, dan kembali menjadi sosok pelindung seperti dulu.
Setelah Drake selesai tugas, pria itu akan berganti menemani Nathalie menjaga ayahnya. Namun, kedekatan itu tak luput dari perhatian seseorang.
Sela, seorang dokter yang cantik dengan rambut hitam panjang dan postur tubuh yang anggun, sudah lama menaruh hati pada Dokter Drake. Selama bertahun-tahun bekerja bersama, Sela selalu berusaha mendekatinya. Dia membawakan kopi, membuatkan bekal,, tersenyum manis saat briefing, bahkan sengaja lembur hanya untuk bisa berada di dekatnya.
Tapi akhir-akhir ini, ia melihat Drake berubah. Pria dingin dan profesional itu kini sering tersenyum tipis saat melihat Nathalie datang, tangannya selalu menyentuh pinggang wanita itu dengan posesif, dan tatapannya penuh kepemilikan. Itu membuat darah Sela mendidih. Rasa cemburu membakar hatinya setiap hari.
Suatu sore, saat Nathalie berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju kantin untuk membeli makan malam untuk dia dan Drake, langkahnya tiba-tiba terhenti. Seorang wanita berjas putih berdiri di depannya, menghadang jalannya dengan sikap angkuh.
“Ikut aku,” ucap Sela dingin tanpa basa-basi. Tangannya langsung menyambar lengan Nathalie dengan kuat, menariknya paksa menyusuri koridor samping yang sepi.
“Hei, tunggu!” Nathalie terkejut, tapi ia tak sempat menolaknya.
Sela menariknya masuk ke sebuah ruang penyimpanan peralatan yang kosong dan jarang digunakan. Begitu pintu tertutup, Sela menghempaskan tangan Nathalie dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang dan hampir menabrak rak obat.
Nathalie menstabilkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang. “Ada apa ini?” tanyanya, suaranya tetap sopan meski ada ketakutan yang mulai merayap.
Sela berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada, tatapannya tajam seperti pisau. Wajah cantiknya kini dipenuhi ekspresi jijik dan amarah yang tertahan. “Ada hubungan apa kamu dengan Drake?” tanya Sela langsung, suaranya rendah tapi penuh ancaman. “Jangan pura-pura bodoh. Aku lihat kekdekatan kalian setiap hari. Dia mengantarmu, menjemputmu, bahkan memimpin operasi ayahmu sendiri. Apa sih yang kamu pakai sampai dia segitu perhatiannya?”
Nathalie mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding dingin. “Maaf, anda siapa? Saya tidak mengenal anda,” jawabnya sopan, berusaha menjaga nada suara tetap tenang meski tangannya mulai gemetar.
Sela tertawa kecil, tapi tawanya penuh sindiran. “Kau tidak perlu tahu siapa saya. Yang jelas, jauhi Drake, atau kau akan berurusan dengan ku.” Matanya menyipit, langkahnya mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa puluh sentimeter
“Drake itu milikku. Sudah lama aku yang selalu ada di sisinya. Kamu cuma pendatang baru yang memanfaatkan situasi ayahmu yang sakit. Murahan sekali.”
Nathalie merasa dadanya sesak. Kata-kata Sela menusuk seperti duri. Ia ingin membantah, tapi ingatan akan malam-malam bersama Drake, pelukan paksa, dan ancaman halus pria itu membuat lidahnya kelu. “Saya… saya tidak mencari masalah,” ucap Nathalie pelan.
“Dokter Drake hanya membantu ayah saya. Itu saja.” imbuhnya.
“Jangan bohong!” bentak Sela, suaranya meninggi. Ia menunjuk wajah Nathalie dengan jari telunjuknya. “Aku tahu tipe perempuan seperti kamu. Mendekat ke dokter kaya dan terkenal hanya untuk naik status. Kalau kamu tidak mau menjauh, aku bisa buat hidupmu susah di sini. Aku kenal banyak orang di rumah sakit ini. Satu kata saja, reputasimu bisa hancur. Apalagi kalau orang tahu bagaimana kamu membayar operasi ayahmu.”
Udara di ruangan kecil itu terasa semakin pengap. Nathalie merasa pusing. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi ia berusaha menahannya. Di satu sisi ia takut pada ancaman Sela, di sisi lain ia tahu betapa kuatnya Drake melindunginya. Tapi apakah Drake benar-benar akan melindunginya dari segalanya?
Sela melangkah mundur, tersenyum sinis. “Ingat kata-kataku. Jauhi Drake. Atau aku pastikan kamu menyesal seumur hidup.” Setelah mengucapkan ancaman terakhir itu, Sela membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan dengan langkah cepat, meninggalkan Nathalie sendirian di dalam ruang kosong yang dingin.
Nathalie bersandar lemah di dinding, tangannya memegang dada. Napasnya tersengal. Ia merosot pelan hingga duduk di lantai, lututnya ditekuk ke dada. Pikirannya berputar kencang. Haruskah ia menceritakan ini pada Drake? Atau diam saja agar tidak memperburuk keadaan?
Sementara itu, di luar, suara langkah orang-orang di koridor terdengar samar, mengingatkannya bahwa dunia luar terus berjalan, termasuk rutinitas bolak-balik antara rumah sakit dan rumah Drake yang semakin mengikatnya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Pesan dari Drake. "Kamu beli makanan dimana? Kenapa lama sekali? Aku tunggu di parkiran"
Nathalie menatap layar ponsel dengan mata berkaca-kaca. Ia menghapus air matanya, berdiri perlahan, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai. Ancaman Sela masih bergema di telinganya, tapi bayang-bayang Drake yang kuat dan posesif juga semakin jelas.
Kehidupannya kini seperti berada di antara dua kekuatan yang sama-sama menekan, satu dari luar, satu dari dalam pelukan pria yang telah mengubah segalanya. Dan Nathalie tahu, pilihan yang harus diambilnya tak akan mudah.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetik balasan. “Sebentar lagi, aku sedang mengantri.” katanya berbohong.
Nathalie langsung memasukkan ponsel ke saku celananya, lalu menghela napas panjang. Ia keluar dari ruangan dengan langkah gontai.
Dengan pikiran kalut, Nathalie menuju kantin di lantai dasar. Ia membeli dua porsi nasi goreng hangat dan dua botol air mineral untuk dibawa pulang.
“Berapa bu?” tanya Nathalie pelan.
“Seratus dua ribu neng,” jawab penjualnya ramah.
Nathalie mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan satu lembar lima ribuan, lalu menyerahkannya. “Kembaliannya nggak usah bu,” katanya datar sebelum langsung berbalik dan pergi meninggalkan kantin tanpa menunggu respons.
Tas plastik berisi makanan itu terasa berat di tangannya, sama beratnya dengan beban di dada Nathalie saat ia melanjutkan langkah pulang menuju parkiran, di mana Drake pasti sudah menunggu di sana.
Bugh....
Nathalie masuk kedalam mobil, dia duduk di bangku samping kemudi.
Tanpa dia sadari Sela melihat Nathalie masuk kedalam mobil Drake. Wanita itu memotretnya, dan mengirimkannya pada seseorang.
"Kamu beli apa aja?" tanya Drake sambil mulai melajukan mobilnya.
"Cuma nasi goreng sama air mineral" jawab Nathalie singkat.
"Cuma itu doang kenapa lama sekali" omel Drake.
"Lama karena penjualnya harus menggoreng nasinya dulu. Yang beli juga banyak, bukan cuma aku doang" kesal Nathalie.