NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 #Ungkapan yang tertahan

​Keesokan harinya, koridor utama Universitas Nusantara tampak ramai seperti biasa. Di antara hilir mudik mahasiswa, Anya berjalan dengan langkah yang diseret. Meskipun dia tetap tampil cantik dengan riasan natural, rambut cokelat bergelombang yang digulung asal namun modis, serta oversized blazer cream yang membungkus tubuhnya, aura ceria yang biasanya memancar dari dirinya menguap entah ke mana. Tatapan matanya kosong, persis seperti orang yang belum tidur tiga hari tiga malam.

​Alena dan Bella yang sedang duduk di bangku taman kampus seketika menghentikan obrolan mereka saat melihat sahabatnya mendekat dengan langkah lunglai.

​"Nya? Kamu kenapa? Kok penampilannya kayak boneka elektrik kehabisan baterai begitu?" sapa Alena, menatap Anya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan dahi berkerut heran.

​Anya menghempaskan tubuhnya ke bangku kosong di sebelah Bella, lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya di atas meja. "Bukan kehabisan baterai lagi, Al... tapi sudah mati total. Mesinnya jebol, korsleting," gumam Anya dengan suara teredam, terdengar sangat frustrasi.

​Bella yang duduk di sebelahnya berniat menepuk bahu Anya untuk menenangkan, namun atensi matanya mendadak terkunci pada sesuatu yang berkilau di jari manis tangan kiri Anya. Sebuah cincin berlian dengan desain klasik namun sangat mewah melingkar anggun di sana.

​"Wah, demi apa?! Cincinnya indah sekali!" seru Bella setengah menjerit, langsung menarik tangan kiri Anya untuk mengamati berlian itu dari dekat.

​Alena ikut mendekat, matanya membelalak. "Wah, jadi makan malam perjodohan semalam sukses besar? Tapi melihat wajahmu yang sekusut kain pel hari ini... apa calon suamimu itu beneran jelek, tua, dan menyebalkan seperti dugaanmu kemarin, Nya?"

​Anya menegakkan tubuhnya, menggelengkan kepalanya dengan kuat sembari mengerucutkan bibirnya kesal. "Calvin—maksudku calon tunanganku itu nggak jelek. Dia malah... ganteng, bersih, dan kelihatan penurut."

​"Lantas? Kalau dia ganteng dan penurut, kenapa muka kamu kayak orang mau pergi melayat begitu?" tanya Alena bingung.

​Anya menarik napas dalam-dalam, menatap kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada mahasiswa lain yang menguping pembicaraan mereka. Dengan suara yang sengaja dipelankan, Anya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kalian tahu... aku bertemu lagi dengan pria arogan yang aku cium di klab malam Heaven seminggu yang lalu."

​"Hah?!" Alena dan Bella berseru kompak, beruntung suara mereka tertutup oleh bisingnya musik dari kantin seberang.

​"Kok bisa?!" tanya Bella dengan mata melotot penasaran.

​"Dia... dia itu pamannya Calvin! Pamannya calon tunanganku sendiri, kalian bayangkan!" seru Anya frustrasi, menjambak rambutnya sendiri dengan gemas. "Namanya Bara Fernandez. Dan gila-nya, dia memegang kendali penuh atas investasi keluarga mereka!"

​Alena menutup mulutnya tidak percaya. "Terus... terus dia bongkar semuanya di depan bokap lu, Nya? Dia bilang ke om Tito kalau kamu yang mencium dia duluan di bar?"

​"Tidak," jawab Anya lemas. "Dia nggak membongkarnya secara langsung, tapi dia itu licik sekali! Dia menggunakan hal itu untuk mengancamku."

​Anya langsung berdiri dari duduknya, berjalan mondar-mandir di depan kedua sahabatnya karena rasa kesal yang tiba-tiba membumbung tinggi. Setiap kali mengingat nama Bara, bayangan wajah tampan dengan rahang tegas yang bersih tanpa jambang itu langsung menari-nari di otaknya. Sialnya lagi, wajah pria berusia tiga puluh lima tahun itu terlalu tampan, membuat Anya kesulitan untuk benar-benar membencinya dengan tulus.

​Anya sengaja tidak menceritakan detail kejadian gila di dalam toilet perempuan semalam. Dia tidak memberi tahu Alena dan Bella tentang bagaimana Bara mengurungnya di antara wastafel, menjepit kakinya, ataupun tentang ciuman panas menuntut yang mendarat di bibir dan lehernya hingga membuat napasnya memburu. Kejadian itu terlalu intim, terlalu memalukan, dan sukses membuat jantung Anya berdebar aneh setiap kali mengingatnya.

​"Pokoknya, aku terjebak! Pria itu memegang kartu as-ku dan sekarang aku berhutang budi padanya karena dia tidak bersuara semalam saat Calvin menyusul ke toilet," ketus Anya, mengentakkan kakinya kesal.

​Bukannya ikut prihatin, Alena justru meletakkan kedua telapak tangannya di pipi lalu bertepuk tangan dengan heboh. Matanya berbinar-binar penuh drama.

​"Wah, Anya! Ini sih plot twist terbaik sepanjang abad ini!" seru Alena tertawa cekikikan. "Kamu sadar nggak, sih? Kamu sekarang lagi diperebutkan oleh dua generasi dari satu keluarga yang sama! Keponakannya yang ngasih cincin, Eh pamannya yang dapat ciuman!"

​"Alena! Ini tidak lucu!" semprot Anya, wajahnya mendadak memerah karena mengingat kembali ciuman panas Bara semalam. "Aku bisa mati kalau Papa sampai tahu!"

.

.

​Di sudut lain kota Jakarta yang agak menjauh dari kebisingan pusat bisnis, alunan musik jazz ber-tempo lambat terdengar mengalun tenang di sebuah restoran sederhana namun sangat aesthetic bernama Jasmine Food & Bakery. Desain interiornya didominasi oleh kayu hangat, tanaman hijau merambat, dan aroma manis adonan kue yang baru matang, menciptakan atmosfer yang sangat meneduhkan.

​Di sinilah Calvin Fernandez berada. Pria muda berjas rapi itu duduk di meja sudut dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil. Calvin selalu memilih menghabiskan jam istirahat makan siangnya di restoran ini hampir setiap hari.

​Namun, kedatangan Calvin ke sini bukan semata-mata karena makanannya yang lezat. Tanpa diketahui oleh siapa pun, termasuk oleh orang tuanya atau pamannya, Bara. Calvin menaruh hati pada sosok pemilik restoran ini.

​Wanita itu bernama Melati. Sosok wanita anggun yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Calvin. Melati adalah seorang janda tanpa anak yang beberapa tahun lalu dicampakkan oleh mantan suaminya demi wanita lain. Kedekatan antara Calvin dan Melati sebenarnya sudah berjalan selama dua tahun ini. Namun, karena perbedaan usia yang cukup jauh dan status sosial mereka, Melati selalu membatasi diri dan hanya menganggap Calvin tak lebih dari seorang adik yang menggemaskan.

​Awalnya, Calvin hanyalah seorang pelanggan biasa yang tidak sengaja mampir karena ingin mencari suasana baru. Namun, ketenangan yang terpancar dari diri Melati perlahan membuat Calvin nyaman, hingga akhirnya dia menjadi pelanggan tetap yang selalu datang setiap hari.

​"Bagaimana rasanya, Vin? Kamu loh orang pertama yang cobain ini sebelum aku rilis resmi ke menu baru minggu depan," suara lembut Melati memecah lamunan Calvin.

​Melati berjalan mendekat, menatap sepiring kecil kue spons dengan siraman saus karamel emas yang masih mengepulkan uap hangat di atas meja Calvin. Wanita itu kemudian duduk di hadapan Calvin, tersenyum manis dengan apron putih yang masih melekat di pinggangnya. Di mata Calvin, Melati selalu terlihat luar biasa dengan kesederhanaannya yang matang.

​Calvin mengambil garpu kecilnya, memotong sedikit bagian kue lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Dia mengunyahnya perlahan sembari merasakan tekstur lembut dan manisnya karamel yang lumer di lidah.

​"Hmm... rasanya enak, Mbak. Pas, manis," puji Calvin tulus, sepasang matanya menatap lekat pada wajah teduh di depannya. "Tapi... masih lebih manis Mbak Melati."

​"Ih, kamu ini... masih saja pintar merayu ya. Bisa saja," sahut Melati dengan tawa kecil yang khas, pipinya sedikit merona mendengar pujian klise dari pria muda yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu.

​Namun, tawa Melati perlahan mereda saat pandangan matanya tidak sengaja jatuh pada tangan kiri Calvin yang sedang memegang garpu. Di jari manis pria itu, melingkar sebuah cincin perak berdesain formal yang sangat familiar di mata Melati sebagai simbol sebuah ikatan.

​Melati tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis, meskipun ada sedikit binar redup yang melintas cepat di matanya. "Wah... kamu punya status baru sekarang kok nggak bilang-bilang sih sama Mbak?" tanya Melati lembut, menunjuk ke arah cincin di jari Calvin. "Selamat ya, Vin. Siapa wanitanya? Kok nggak pernah dikenalin ke Mbak, sih?"

​Calvin seketika menghentikan gerakannya. Dia menatap cincin di jarinya dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sendu dan dingin. Cincin yang melambangkan ikatannya dengan Zevanya Anneliza sejak semalam.

​"Iya, Mbak... nanti kalau ada waktu, aku kenalkan," jawab Calvin lirih, memaksakan sebuah senyuman tipis yang terlihat sangat kaku.

​Sebenarnya, di dalam lubuk hati yang terdalam, Calvin ingin sekali berteriak. Dia ingin mengatakan bahwa jika saja dia memiliki sedikit saja keberanian untuk melawan titah Tomi Fernandez dan Isyana Fernandez, dia tidak akan pernah sudi menyetujui pertunangan bisnis ini. Calvin ingin mengatakan bahwa hatinya sama sekali tidak berada pada gadis cantik bergaun merah semalam, melainkan sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada sosok wanita anggun yang selalu meneduhkan hatinya, yang kini sedang duduk tepat di hadapannya ini.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!