Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marahnya Byan
Eva sudah selesai berganti pakaian dan bersiap. Saat ingin keluar kamar, ponselnya tiba-tiba berdering. Eva mengambilnya di atas nakas, melihat telepon dari teman kerjanya.
"Hallo iya Kak?"
"Laporan yang aku minta kerjakan kenapa belum selesai juga? Ibu Rumi sudah meminta padaku, tapi kau belum mengirimkan file nya padaku"
Eva menghela napas pelan, karena kemarin Byan yang membawanya pergi saat jam kerja, jadi dia tidak sempat menyelsaikan pekerjaan apapun.
"Tapi 'kan Kak, seharusnya laporan ini bukan tugasku. Harusnya ini Kakak yang menyelesaikan"
"Berani sekali kamu membantah, kau yang harus menyelesaikannya. Karena aku memberikan tugas itu padamu. Jadi itu sudah menjadi tugasmu!"
Eva menghela napas panjang, ternyata hidup di dunia kerja perkantoran memang seperti ini. Ketika dia adalah orang baru dan akhirnya harus menuruti semua permintaan senior di tempat kerja, meski sebenarnya itu bukanlah tugas dan tangungjawabnya.
"Baik Kak, hari ini akan aku selesaikan"
Setelah sambungan telepon terputus, Eva menatap ponselnya sambil menghela napas pelan. Hari ini pekerjaannya akan sangat banyak, belum lagi tugas dari Bu Rumi yang belum dia selesaikan.
"Lembur lagi deh"
Saat Eva berjalan ke arah pintu, tiba-tiba pintu kamar sudah terbuka duluan. Byan muncul disana, menatapnya lekat. "Siapa yang meneleponmu tadi?"
"Teman kerja, kita berangkat sekarang? Sudah siang"
Byan mengangguk, dia menggandeng wanitanya dan membawanya keluar dari Apartemen ini. Mereka pergi bersama ke Perusahaan. Meski Eva merasa ini cukup canggung, takut jika nanti ada yang melihat mereka berdua. Karena mereka semua belum tahu tentang hubungan ini, dan entah Byan akan mempublikasikan hubungan mereka atau tidak.
"Kita sarapan dulu, kau mau makan apa?" tanya Byan.
Eva masih diam, membuat Byan menoleh dan menatap Eva yang sedang melamun sambil menatap keluar jendela. Byan mengerutkan keningnya, melihat wanitanya yang seperti sedang tertekan.
"Ada apa? Kenapa kau melamun seperti itu?"
Eva mengerjap, dia menoleh pada Byan dan menggeleng pelan. Tekanan di tempat kerja ini sudah lama dia rasakan. Bukannya Eva tidak sadar jika dirinya sedang di manfaatkan beberapa seniornya, tapi dia juga tidak berani melawan karena dia adalah seorang karyawan baru.
"Jadi mau sarapan apa?"
Eva menggeleng pelan, dia menyandarkan tubuhnya di kursi. "Tidak usah, nanti beli di Kantin Perusahaan saja. Aku sudah harus sampai di Kantor, ada banyak pekerjaan karena kemarin aku tidak masuk kerja"
Byan menguspa lembut kepala Eva, merasa ada sesuatu yang terjadi pada kekasihnya ini. "Cerita padaku jika ada masalah. Apa ada orang yang merundungmu di Kantor? Katakan padaku siapa dia? Akan aku buat hidupnya hancur!"
"Tidak papa Sayang, aku hanya perlu cepat menyelesaikan beberapa laporan bulan ini. Kalau tidak aku akan kena marah Ibu Rumi"
"Siapa dia berani memarahimu"
"Dia 'kan atasan aku, kepala devisi. Jadi aku harus mengerjakan semuanya, karena aku sekretarisnya juga"
Saat sampai di parkiran Perusahaan, Eva menatap sekitarnya dulu sebelum membuka pintu dan keluar dari mobil Byan.
"Terima kasih ya, aku masuk duluan ya Sayang"
Eva segera berjalan duluan masuk ke dalam Lobby. Byan bukannya tidak mengerti kenapa wanitanya bersikap seperti itu.
"Maaf, karena aku belum bisa memberitahu semua orang tentang hubungan kita"
*
Hari sudah malam, dan pekerjaan Eva masih belum selesai. Semuanya harus selesai hari ini, dan dia terpaksa untuk kerja lembur hari ini. Matanya sudah mulai lelah melihat layar komputer dan juga berkas, dia melepas kacamatanya sejenak, memijat pelipisnya dengan lembut. Mencoba menghilangkan dari rasa pening.
"Kenapa belum pulang?"
Seseorang yang tiba-tiba menggebrak mejanya pelan dengan kedua tangannya, membuat Eva terkejut. Dia sejenak memejamkan mata, sampai tidak sadar ada yang berjalan mendekat ke meja kerjanya. Eva menatap Byan dengan cukup terkejut.
"Kamu belum pulang, Mas?"
"Aku sudah pulang, tapi ada yang ketinggalan disini jadi aku kembali lagi. Ternyata kau masih disini, kenapa?"
Eva menghela napas pelan, dia meregangkan tangannya yang terasa kaku dan pegal. "Masih ada berkas yang harus aku selesaikan"
Byan mengitari meja kerja dan berdiri di belakang kursi kerja Eva, melihat layar komputer di depannya dan juga berkas yang di maksud Eva itu. Byan mulai mengerutkan keningnya bingung saat melihat laporan yang sedang di kerjakan wanitanya ini.
"Kalau kau sekretaris kepala Devisi, seharusnya ini bukan tugasmu. Kenapa malah kau yang mengerjakan?"
Eva menunduk diam, sebenarnya dia tidak mau mengadukan ini pada Byan. Tapi karena pria itu tiba-tiba berada disini sekarang dan terlanjur melihat semuanya, Eva tidak akan bisa berbohong lagi.
"Kau mendapatkan perundungan di sini?"
Eva mengangguk pelan, tangannya saling bertaut di bawah meja. "Mereka memintaku mengerjakan pekerjaannya, karena aku karyawan baru disini"
Tangan Byan yang bertumpu pada meja kerja, mengepal erat. Memukul meja kerja dengan cukup keras, membuat Eva terlonjak kaget dengan itu.
"Siapa yang berani memperlakukanmu seperti ini? Katakan padaku!"
Eva masih diam, dia memegang lengan kekasihnya untuk menenangkan Byan yang terlihat sangat marah sekarang. "Sayang, sudah tidak papa. Mungkin ini hanya karena aku karyawan baru, nanti juga tidak akan lagi"
"Perundungan tidak boleh terjadi dimana pun dan pada siapapun!"
"Tapi cuma ini aja kok, yang lainnya mereka kerjakan sendiri"
"Sayang jangan menutupinya lagi, katakan padaku siapa yang berani merundungmu!"
*
Pagi ini suasana Kantor sedikit lebih terasa tegang, meski Eva tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dia mendengar karyawan lain membicarakan tentang kemarahan Asisten Albyan. Eva tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ketika kekasihnya di sebut, dia mulai penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di dalam lift juga mendengar karyawan lain membicarakan hal yang sama. Dengan sedikit keberanian, Eva bertanya pada mereka.
"Em, maaf ada apa ya dengan Tuan Albyan?"
"Dia memarahi habis-habisan karyawan yang berani membebankan tugasnya pada orang lain. Bahkan sampai di pecat"
Eva terdiam, ingat tentang pembicaraan semalam. Sudah pasti ini tentang pekerjaan Eva yang menumpuk karena juga harus mengerjakan tugas orang lain.
"Bagaimana bisa?"
"Tuan Albyan itu memang terlihat ramah, hangat dan baik. Tapi jika ada saja yang membuat kecurangan dan tidak sesuai dengannya, maka marahnya dia mengalahkan Bos kita sendiri"
Eva juga baru teringat saat melihat marahnya Byan di ruangan Bara, saat dia mengetahui kebohongan Eva. Tatapan matanya memang sangat mengerikan.
Aduh, apa yang sedang dia lakukan sekarang ya.
Bersambung¹