raina Larasati janda dengan 2 anak suaminya meninggal karna serangan jantung sekarang dia harus banting tulang untuk menghidupi anak anaknya, dari yang tidak biasa bekerja sekarang Raina harus mencari nafkah......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adca_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Keberangkatan Rania ke Surabaya pun telah tiba Rania sudah berada di mobil bareng Arsen dan Adi,dan sampai di bandara Rania menaiki pesawat dan mencari tempat duduk nya.
Rania duduk bersebelahan dengan Arsen,
"apa kamu mau duduk dekat jendela?"
"Apa boleh pak?"
"boleh kamu duduk disini saja Rania dan Arsen bertukar tempat duduk"
Setelah pesawat lepas landas Rania menatap jendela dan mengagumi ke indahan di atas langit, lama lama Rania mengantuk dan tertidur sampai tidak sadar Rania menyenderkan kepalanya ke bahu Arsen.
Arsen bukannya membangunkan Rania tapi malah membetulkan posisi nya, Rania merasa nyaman sampai sampai dia dibangunkan oleh Arsen
"Rania Rania bangun sebentar lagi kita turun"
Rania tersentak dan menoleh ke Arsen
"maaf pak saya tidak sengaja sambil tertunduk malu"
"kenapa aku malah ketiduran sungguh Rania sangat malu"
"Sudah sudah ayo kita siap siap awas ada barangmu yang ketinggalan"
Rania salah tingkah antara malu dan terlalu nyaman tidur di bahu Arsen.
Setelah sampai di hotel Rania membersihkan tubuhnya karna nanti siang ada janji makan siang bersama Arsen dan Adi.
"Untuk sekarang kita istirahat dulu baru besok nya kita langsung kelapangan"
"baik.. pak Rania melanjutkan makan nya, Arsen terus memperhatikan Rania yang hanya fokus ke makanan nya"
Kenapa dia banyak diam apa dia sakit tanya Arsen dalam hati, setelah selesai makan Adi langsung ke kamarnya karna sudah ingin istirahat sedangkan Rania berjalan jalan sekitar hotel.
Dan tidak sengaja bertemu Arsen
"Rania anak anakmu sama siapa kalau kamu pergi ke luar kota seperti ini, maaf aku menanyakan di luar urusan pekerjaan takut nya kamu tidak fokus disini" Alibi Arsen
"Anak anak bareng ibu saya pak tidak papa mereka sudah mandiri jadi tidak terlalu merepotkan ibu saya kalau mereka ditinggal ke luar kota juga"
Suasana canggung begitu terasa Rania langsung mengalihkan topik
"pak saya permisi mau ke kamar dulu"
"Iya nanti malam kita makan malem bareng lagi sambil membahas untuk besok"
Ke esokan harinya tubuh Rania terasa tidak enak
"seperti nya aku demam ya tuhan tolong jangan sakiti disini aku harus kerja Rania meminum obat seadanya yang dia bawa dari rumah semoga siang nya aku bisa sehat kembali"
"Rania kelihatan pucat"
setelah sampai di lobi Rania bertemu dengan Arsen dan Adi,
"Rania apa kamu baik baik saja sepertinya kamu sedang tidak sehat?" Tanya Arsen
"Tidak pak saya baik baik saja mungkin kurang tidur saja"
"kalau kamu gak enak badan kamu bisa istirahat saja di hotel jangan ikut karna kita akan kelapangan"
"Tidak pak saya tidak papa"
"baik.. kalau begitu kalau kamu sudah merasa lelah kamu langsung istirahat saja.
Mereka pun akhirnya berangkat Arsen yang sedang fokus membahas pembangunan yang sedang berjalan Rania yang dibelakang keringat dingin karna pusing matanya sudah seperti banyak bintang karna teriak matahari yang benar benar diatas kepala dan akhirnya Rania ambruk.
Mendengar suara yang jatuh Arsen menoleh kebelakang
"Rania... kamu kenapa Arsen panik karna wajah Rania benar benar pucat" Arsen buru buru membawa Rania ke ruangan nya Adi mengekor dari belakang
"Adi cepat kamu panggilkan dokter"
Adi langsung menghubungi dokter
"Rania Rania bangun tidak ada respon badan nya demam Arsen memberi aroma terapi di hidung Rania"