NovelToon NovelToon
Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Spiritual / Lari Saat Hamil / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ria

Hidup tanpa cinta memang hampa, tapi kehampaan tercipta karna adanya cinta.
Apakah hanya wanita yang harus menjadi bahan perbandingan dan apakah semua kesalahan harus ditanggung oleh wanita juga.

Lantas, di mana keadilan itu berada? Mereka bilang cinta membawa kebagian dan cinta menuntun kita ke kehidupan baru, tapi yang aku rasakan jatuh terbalik dari pernyataan itu semua.


Hidupku hancur, harga diriku terhina semua orang mencemooh bahkan mengucilkan aku.
Apakah ini yang di namakan hidup baru penuh kebahagiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keberanian

Semua orang menatap heran tingkah Erli, melihat istrinya menjadi pusat perhatian Rafan menarik Erli mendekat kepadanya.

“Lepas Mas!” Netra Erli menatap tajam semua wajah yang berada di sana terutama wajah Denis.

Erli mendekati Wati yang berdiri di depan pria jahat yang berkedok 'kan status om. istri Rafan tersenyum miring dan berjalan mengitari kedua orang yang telah menuduhnya dengan tuduhan yang tidak mendasar.

“Sungguh lucu, kalian cocok menjadi artis dan aktor ternama di Negeri ini. Kamu, kamu masih kecil sudah pandai berbohong!” lanjut Erli kalem.

Tangan istri Rafan tersebut menarik jaket yang dikenakan oleh gadis kecil berambut pirang tersebut, semua barang yang ada di balik jaket pun terjatuh satu per satu.

“Coba jelaskan! Kenapa barang-barang ini kamu sembunyikan?” tanyanya pelan, “tidak bisa jawab? Perlu aku bantu menjawab asal usul barang-barang ini?!”

Lagi-lagi Erli tertawa kecil, sedangkan Wati gelisah, dia sangat ketakutan. Kedua telapak tangannya berkeringat dan jantung gadis kecil itu berdegup sangat kencang.

“T-tentu saja k-kami membeli semua barang ini,” sahut Denis gagap.

“Oh, beli ... kalau begitu, tentunya kalian punya struk pembelian barang-barang ini, bukan?!” cakap Erli pelan.

Denis celingukan, pria tua itu tidak dapat menjawab pertanyaan Erli lagi dan Wati terpaku. Netra gadis muda itu telah mengembun, mutiara bening telah menetes dan beranak membasahi pipinya yang tirus.

“Sudah, jangan menangis! Sini ikut Kakak.” Erli menyekat air mata Wati dan mengajak gadis itu menjauh dari Denis.

“Tapi Kak ....” Wati menarik tangannya dan kembali melangkah mundur mendekati Denis.

Erli meraih ponselnya dari tas, jari-jarinya yang lentik lincah menari di atas layar benda pintar tersebut. Diangkatnya benda pipih itu dan terdengar rekaman suara Wati, Erli dan sopir taksi.

"Apa perlu aku menjelaskan lagi, siapa pria jahat itu?" tanya Erli dengan jari telunjuknya mengarah ke arah Denis—pria jahat yang tega menindas keponakan kandungnya sendiri.

Semua orang menatap tajam Denis yang terpaku di tengah kerumunan masa, sebagian masa bersorak dan ada beberapa pemuda yang maju memukul wajah Denis tanpa belas kasih.

Tiga polisi yang hadir di sana kewalahan melerai masa, Wati menangis dan berteriak histeris melihat om-nya dikeroyok.

“Cukup ... kasihanilah Om saya! Jangan dipukul lagi ...,” teriak Wati sekuat tenaga. Namun, teriakannya tidak dihiraukan oleh masyarakat setempat.

Ada dua orang lelaki yang menghampiri Wati dan dua lelaki tersebut berkata, “Wajar jika dia mati, dia telah melakukan hal yang keji! Dan dengan sengaja memfitnah orang lain.”

Gadis malang itu hanya tertegun melihat adik ayahnya dikeroyok, walau dia sering diperlakukan dengan tidak baik, tetapi dia tetap memiliki rasa belas kasih terhadap Denis.

Betapa ganasnya masa menghajar Denis. Orang yang mengantre di minimarket pun berhamburan melihat secara dekat kejadian ini. Tidak sedikit dari mereka mengabadikan peristiwa tersebut dan ada pula yang sengaja melakukan siaran langsung ke sosial media demi mendapatkan pengikut yang lebih banyak.

Melihat keadaan semakin kritis Andika melepaskan tembakkan ke udara demi melerai masa yang mengamuk. Benar saja, mereka semua memberhentikan pengeroyokan itu, wajah Denis dipenuhi oleh darah yang mengucur.

Hampir tidak dapat dikenali wajah Denis akibat pukulan masa, ada beberapa gigi yang hilang dan kedua pelipisnya pecah yang mengakibatkan darah tidak berhenti mengalir.

“Terima kasih telah membantu kami meringkus tersangka,” ucap Andika kepada Erli, “kamu jangan khawatir! Kami akan melindungi keselamatan kamu dan adik laki-laki mu.” Janji Andika terhadap Wati.

Gadis muda yang selalu tertekan hidupnya selama ini.

Sungguh pemberani istriku ini. Kagum aku pada sikap dan tindakannya, gumam Rafan dalam batinnya.

“Ayo, Pak berangkat! Kita hampir ketinggalan pesawat,” ujar Erli gugup.

Rafan tersenyum tipis melihat kepanikan istrinya, di sepanjang perjalanan Rafan terus menatap wajah istrinya yang cantik. Namun, di saat Erli balik melihatnya bergegas Rafan memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Kamu kenapa sih, Mas? Aku perhatikan sejak tadi sikapmu aneh sekali,” tanya Erli dengan kepala yang miring.

Rafan menoyor kepala Erli tanpa menjawab pertanyaan istrinya.

“Ish, nyebelin! Bukannya jawab malah menoyor kepalaku yang sangat berharga,” gerutu Erli bersungut-sungut.

Rafan kembali melihat wajah Erli, tetapi kali ini tatapannya sangat dalam dan hal itu membuat Erli salah tingkah.

“Jauhkan wajahmu dari wajahku yang cantik nan imut ini!” ucap Erli tanpa keragu-raguan.

“Apa aku tidak salah dengar? Siapa yang bilang, kalau wajahmu itu cantik dan imut? Yang benar itu, wajahmu persis sama marmut yang suka ngerusak keasrian alam!” ejek Rafan sembari menyenggol bahu Erli.

Istrinya itu mendengus kesal dan kedua tangannya menyilang di depan dada.

Awas aja nanti kalau ngajak aku ngomong, enggak bakalan aku jawab! gerundel Erli dalam hatinya.

Seketika suasana berubah menjadi hening tidak ada perdebatan atau perbincangan di antara mereka, saat sopir taksi mengawali pembicaraan dengan kompaknya sepasang suami istri itu membentak.

“Diam ...!” Erli dan Rafan saling menatap satu sama lain.

“Kita tela—” suara sopir taksi tercekat.

Kedua orang itu celingukan melihat keluar jendela, lagi-lagi mereka berbicara dengan kompaknya.

“Maafkan kami Pak, telah membentak Bapak. Sungguh kami tidak sengaja!” kata mereka berbarengan.

Sopir taksi tersebut tertawa kecil mendapati kekompakan sepasang suami istri.

“Terima kasih kembali buat Tuan dan Nyonya yang telah memberi bintang lima atas pelayanan saya. Sangat bersyukur saya bertemu pelanggan seperti kalian, sudah baik bijak sana lagi!” sanjung sopir taksi seraya membungkukkan badannya di hadapan Erli dan Rafan.

\*\*\*

Pesawat yang ditumpangi mereka telah mendarat di bandara Sukarno-Hatta. Saat mereka menyusuri lorong Erli berjalan sempoyongan bahkan dia hampir terjatuh karena kondisinya.

“Badanku terasa lemas,” kata Erli lirih.

“Kamu kenapa?” tanya Rafan yang berdiri sejajar dengan Erli.

“Tubuhku serasa tidak bertenaga! Aku butuh merebahkan tubuhku,” jawab Erli lemas.

Mata Rafan nyalang melihat sekeliling bandara yang sangat luas, ketika Rafan melihat petugas bandara dia meninggalkan Erli berlari mendekati staf bandara tersebut.

Setelah berbincang sebentar Rafan kembali menghampiri Erli, “Masih bisa berjalan atau tidak?” tanya Rafan.

Erli mengangguk pelan, tas jinjing Erli dan kopernya dibawakan oleh sang suami. Baru saja melangkah beberapa langkah, mereka berdua berhenti mendadak saat mendengar seorang wanita yang berteriak memanggil nama Rafan.

“Kalian mau ke mana? Aku sudah menunggu kalian selama satu jam, loh ...,” tegur Marlita dengan suara napas yang tersengal-sengal.

“Mau ke Musholah, untuk beristirahat sejenak. Kenapa kamu repot-repot menjemput kami?” Bola mata Rafan bergolak.

“Aku ‘kan kangen sama kamu. Uops, keceplosan!” Marlita tersenyum jahat setelah mengucapkan kalimat barusan.

“Sudah cukup, jangan bercanda Lita! Kasihan Erli sudah kelelahan,” Rafan mengernyitkan keningnya.

Berulang kali Erli menggelengkan kepalanya dan perlahan pandangan mata Erli kabur, hal itu membuatnya sedikit khawatir. Namun, dia tidak ingin menambah beban pikiran Rafan.

Ada apa denganku dan apa yang mereka bicarakan? tanya Erli dalam hatinya.

Tiba-tiba tubuh Erli melemas dan dia pun jatuh ke lantai, hal itu membuat Rafan panik bukan main.

“Erli bangun, Sayang ....” Rafan menepuk pelan pipi istrinya berulang kali.

1
it's me oca -off
semangat makkk
auliasiamatir
apa vina bakal jahat yah
👑Ria_rr🍁
begitulah kecanggungan Erli saat bersama Rafan kk, thanks ya udah baca karya acak Adul ini
auliasiamatir
lanjut... tambah keren
auliasiamatir
tuh kan, jangan bilang gak berhasrat yah fan.
auliasiamatir
yang benar rafan... tar bucin loh
auliasiamatir
erli manggil suami itu yah, mas, sayang, Hanny, suamiku.. gitu kek, ni malah manggil anda .. hum.. kamu terlalu
auliasiamatir
ya Allah rafan manis dikit kalimatnya napa sih
auliasiamatir
untung Katrin ibu yang bijak yaj
auliasiamatir
galang kamu itu usil nya yah....🙄🙄🙄
auliasiamatir
😀😀😀
auliasiamatir
rafan.... 🙄🙄🙄
auliasiamatir
mantap erli hempas kan bibit bibit pelkaor itu
auliasiamatir
penganten barunya belum sempat tempur kok tante 🤭
auliasiamatir
mimpi buruk kah
auliasiamatir
penasaran, apa yang terjadi sebelum nya.
🦢 DARAH BIRU
yang merajuk di biarkan saja begitu sampai reda sendiri 🤭

kemasan isi cerita yang menarik 💞 keren 💕semangat selalu sahabat q sayang👍
🦢 DARAH BIRU
ibu muda yang sedang gamang hatinya semoga mendapat ketetapan.

tes..
that's right answered🤭

miss you thor♥
👑Arsy Penduduk bunian🌿
kerennn 🥰🥰lanjut beb sayang 💕
TK
☕ pait untuk othor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!