Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 13
"Selamat siang-"
Ketika Rain masuk ke dalam rumah dan melewati ruang tamu, langkah kakinya tiba-tiba berhenti. Menatap canggung beberapa tamu tidak asing yang kini sedang menatapnya.
"Em, permisi." Rain menunduk sopan sebagai permintaan maaf kepada mereka.
Awalnya dia ingin segera naik ke atas tapi panggilan Papa menghentikannya.
"Rain, kemari lah."
"Oh. Iya, Pa." Dia menjawab sopan sebelum ikut bergabung ke dalam ruang tamu.
"Duduklah." Instruksi Papa.
Rain bingung. Dia tidak tahu harus duduk dimana karena semua tempat telah di duduki oleh pihak keluarga Deon maupun pihak keluarganya.
Semuanya sudah penuh kecuali sofa panjang yang di duduki oleh Deon.
"Aku..." Rain tidak mau duduk di sana.
"Rain, duduklah di sini." Untungnya Bibi Mei menawarkan tempat duduknya kepada Rain.
"Terimakasih, Bibi Mei." Rain buru-buru mendekati tempat duduk Bibi Mei tapi suara dingin Deon membuat langkah kakinya membeku di tempat.
"Tidak perlu mengambil tempat duduk Bibi, karena di samping ku masih ada tempat kosong." Indikasinya jelas.
Deon ingin Rain duduk di sebelahnya.
Rain tidak mungkin menolak.
"Oh, ya. Terimakasih." Dia lalu duduk di samping Deon.
Gugup rasanya. Rain harus duduk bersama orang yang ia cintai namun disaat yang sama harus ia jauhi.
"Aku dengar kamu sudah tidak pulang ke rumah dari 3 hari yang lalu dan tidak bisa dihubungi. Bisakah aku tahu kemana saja kamu pergi selama 3 hari itu?" Tanya Deon sambil memiringkan tubuhnya menghadap Rain.
Rain tersenyum tipis,"Aku...pergi ke rumah teman." Dia berbohong.
Deon mengernyit,"Teman? Teman yang mana, setahuku kamu tidak pernah memiliki teman. Atau teman yang kamu maksud adalah laki-laki yang menemani mu membeli es krim di mall hari itu?"
Rain tidak punya teman?
Ini bukanlah hal yang aneh karena Rain adalah orang yang suka menyendiri dan sulit bergaul. Yah, dia menjadi seperti ini sejak 5 tahun yang lalu, sejak ia mendapatkan luka itu.
Rain tidak membantah. Memang benar selama 3 hari ini dia bersama Bimo dan anak-anak panti.
"Benar, aku... melakukan banyak hal dengan Kak Bimo."
Ekspresi Deon menjadi gelap, sambil tersenyum ia bertanya,"Oh ya, bolehkah aku tahu apa saja yang dilakukan 'calon istriku' bersama laki-laki lain selama 3 hari itu?"
Rain tersentak,"Ca-calon...istri?"
...🌼🌼🌼...
Membeku, aku menatap bayangan diriku di dalam cermin. Orang yang berdiri di cermin adalah aku tapi aku merasa orang yang ada di dalam cermin bukanlah diriku, melainkan adikku Almira yang masih mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Bohong bila aku tidak merasa bahagia akhirnya bisa menikah dengan laki-laki yang ku cintai dan bohong bila aku tidak merasa bersalah pada adikku yang kini tengah berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit. Aku dilema untuk kebahagiaan dan perasaan bersalah dihati ku. Tapi Tuhan, untuk sekali ini saja tolong izinkan aku untuk bersikap egois. Aku ingin bahagia, aku ingin hidup bersama dengan orang yang aku cintai.
Meskipun hubungan kami dimulai dari sebuah kesalahan tapi aku ingin Engkau menumbuhkan kasih sayang dihati calon suamiku.
Aku tahu bahwa mungkin pernikahan ini tidak akan bertahan lama karena calon suamiku mungkin masih mencintai adikku, tapi aku sangat berharap bahwa hubungan 'sementara' ini juga dirasakan olehnya. Aku ingin pernikahan ini memiliki kesan yang baik di hatinya.
Sedikit saja, tidak apa-apa'kan, Tuhan?
"Puas?" Suara sinis Bibi Mei berhasil mengejutkan ku.
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Bibi Mei sudah berdiri di depan pintu kamarku. Dia berdiri sambil menatapku dengan tatapan sinis nya. Jujur, Bibi Mei sudah biasa memperlakukan aku seperti ini tapi tetap saja aku masih merasakan sakit hati. Aku adalah keponakannya, kedudukan ku seharusnya sama dengan Almira, tapi kenapa Bibi Mei memperlakukan kami berbeda?
Terlahir cacat bukanlah keinginanku tapi mengapa Bibi Mei bersikap bias terhadapku?
Bukankah ini tidak adil?
sok polos...
masih penasaran 💪❤️