Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 13
"Accayamualeikum ..!"suara anak kecil terdengar cadel memenuhi seisi rumah.
Halimah dan Andhra menjawab bersamaan. Di ruang tamu mulai terdengar suara Farid dan istrinya bernama Dara tengah menyapa Pak Heru. Sedangkan Si Kecil Rafka menyelonong masuk mencari neneknya.
"Eyaaang atu dapet tue ennyak dali tante titing." Masih berlari mencari eyangnya. Menenteng sebuah paper bag berisi kue.
Suara Dara mengiringi langkah anaknya,
"Hati hati Rafka."
"Om Andlaaa...!" Langsung meloncat ke pelukan Andhra.
"Hati hati. Nanti jatuh. Sudah berat sekarang ya." Membawa Rafka dalam gendongan, Lalu menggelitiki dan menciumi Rafka.
"Kak, kapan sampainya?"
"Baru saja." Ucap Andhra datar beda banget saat menjawab Rafka tadi.
"Ya sudah di lanjutkan, Kak! Aku mau menemui Pak Heru," pamit Farid yang baru pergi setelah mendapat anggukan dari Andhra.
"Kak Andhra sudah makan apa belum?" Setelah Farid pergi, datanglah Dara dengan pakaian rumahan berupa daster batik.
"Belum! Memang kau sudah bisa masak?" Jawab Andhra masih membawa Rafka dalam gendongannya.
"Hai, Kau belum tahu ya. Sejak aku memutuskan menikah dengan bapak kepala desa aku belajar memasak tahu," ucap Dara sambil tersenyum bangga.
"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai dia kabur darimu karna kau malas belajar masak lagi." Auto saja Dara memonyongkan bibirnya.
"Jangan sampai itu terjadi, aku sudah berjuang keras untuk mendapatkannya. Iya kan, Ibu!" Meminta dukungan mertuanya. Memang benar kedua perempuan ini sangat dekat seperti anak dan ibu kandung. Terlebih Halimah sangat mengidam idamkan anak perempuan, cocok banget sama Dara yang manja tapi penurut.
"Mama talau macak lacanya acin om." Si Cadel ikut omong. Halimah menutup mulutnya sendiri menahan tawa. Andhra tersenyum tipis lalu keluar dari dapur.
"Masaklah yang enak aku akan mencobanya kali ini." Sebelum benar benar pergi dari sana. Dara hanya mengangguk dan mulai mempersiapkan bahan bahannya. Semangatnya dua kali lipat dari biasanya.
Dara masih ingat saat Farid menolak cintanya, dia datang menemui Andhra untuk meminta bantuan. Hari itu pertama kali Dara dan Andhra bertemu tepat di acara pelantikan Farid menjadi kepala desa. Dara yang baru tahu jika Farid memiliki saudara, dengan berani dia meminta dukungan.
Melihat kegigihan dan ketulusan Dara dalam memperjuangkan cintanya Andhra bersedia membantu, apalagi kekasih Farid saat itu adalah gadis yang kurang baik menurut pandangan Andhra.
Dan itu terbukti saat kekasih Farid datang kerumah dalam keadaan hamil yang menyebabkan Rahmat terkena serangan jantung hingga meninggal. Farid pun mendapat bogem mentah dari Andhra, bahkan hampir di copot dari jabatannya.
"Aku berani bersumpah demi Allah SWT aku tidak melakukannya," teriak Farid saat itu berulang kali.
"Tapi bagaimana dengan saksi mata yang telah melihatmu itu," teriak Andhra tak kalah tinggi suaranya dengan sorot mata setajam elang.
"Demi Allah Andhra aku tidak melakukannya. Aku tidak kenal mereka siapa." Farid semakin menangis sambil menahan sakit karna pukulan Andhra. Darah segar mengalir di ujung bibirnya. Halimah menangis di samping jasad suaminya dengan perasaan campur aduk. Juga menangis karena kedua anaknya bertengkar.
Sampai akhirnya Andhra menyewa pengacara profesional untuk menangani kasus itu. Dan ternyata Farid bukanlah ayah dari anak yang di kandung kekasihnya. Dari sanalah Dara masuk dalam kehidupan Farid dengan bantuan Andhra.
Di ruang tamu setelah kepulangan pak Heru.
"Bagaimana bisnis kita, Rid?" Andhra menyesap kopi, Rafka sudah turun dari pangkuannya dan bermain mobil mobilan di lantai.
"Semua masih stabil tapi ada dua box yang sepertinya memang sengaja di gelapkan. Aku sudah menyelidiki kasus ini dengan Pak Heru."
"Farid, siapa Pak Heru?" Andhra menatap lawan bicaranya sekilas namun kembali memperhatikan Rafka yang sedang asyik mainannya.
"Dia salah satu organ produksi kita yang paling aktif, Kak."
"Selain itu?"
Andha menyesap kopi lagi.
Farid menatap wajah Andhra cukup dalam, "Dia tak patut dicurigai."
"Asal usul nya."
"Sedikit saja orang mengetahui kebenarannya. Ada yang bilang dia dari Jakarta. Ada pula yang bilang dia dari kampung Dukuh. Tapi pertama kali ke sini, dia mencari makam Kakek Suluh.
Andhra bergeming menyimpulkan beberapa kemungkinan. Tapi dia juga tidak bisa mengatakannya kepada Farid.
"Aku ingin informasi tentang Pak Heru, Rid" Tegas Andhra yang di jawab jempol oleh Farid
"Bagaimana perkembangan kasus, kita!"
"Satu mobil sudah kita ketemukan dalam kondisi utuh. Berada di luar kota menuju Malang. Ada yang menginginkan kehancuran usaha kita." Farid mengepalkan tangannya.
"Berapa kerugian kita saat ini?" Andhra pada intinya.
"Tiga ratus juta, Kak. Itu adalah perkiraan satu mobil box yang belum kita ketemukan." Terang Farid lagi.
"Kau selesaikan masalah ini secepatnya, Rid
Dan untuk menutup kerugiannya kita ambil dari kas yang kita miliki sepertinya cukup. Berikan bonus kepada mereka yang jujur dan jangan segan kepada mereka yang mencoba bermain main dengan kita."
"Itu pasti, Kak!"
"Aku akan menyuruh Ozan untuk mengirim seseorang agar membantumu di sini." Andhra
Memainkan korek yang berada di atas meja."Berapa tempat reproduksi yang kita miliki sekarang?"
"Sekitar seratus sepuluh kandang di daerah yang berbeda. Dan tentang penghasilannya bervariasi. Ayam broiler kita super dengan masa produksi 30-35 hari. Tapi ada juga permintaan yang ingin masa produksi lebih lama."
Dari dapur, datanglah Dara membawa nampan berisi dua gelas kopi.
"Dek, tolong ambilkan berkas di meja kerjaku beserta laptopnya." Titah Farid kepada istrinya setelah kopi itu mendarat sempurna di meja. Yang di perintah pun menurut.
"Ini hasil kinerja kita bulan ini dan untuk selengkapnya akan aku kirim lewat email." Farid memperlihatkan hasil reproduksi bulan ini. Dia juga membuka laptopnya dan mulai berselancar.
"Kenapa untuk daerah ini jumlahnya berkurang?" Menunjuk sebuah data.
"Di desa itu cuacanya kurang bersahabat. Sehingga mudah terkena penyakit. Tapi jika musim panas tiba, daya reproduksinya naik pesat. Jadi kita bisa menutup kegagalan di tempat A dengan keuntungan di tempat B." Andhra manggut manggut mendengarkan penjelasan Farid.
"Katakan kepadaku kira kira berapa ton dalam satu box."
"Kira kira sekitar lima ton." Andhra membaca lagi berkas yang ada di hadapannya.
"Kalian ini. Kalau bertemu selalu saja membahas pekerjaan! Cepat singkirkan itu dan ayo kita makan malam yang sudah telat ini." Omel Halimah. Keduanya hanya saling pandang dan mengulum senyum.
"Ayo kita makan dulu, Kak." Farid membereskan dulu semua berkas yang tercecer di meja sebelum si Rafka menemukannya.
"Hemmmh lumayan lezat!" Farid berkomentar sambil menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.
"Lumayan kok sampai mulutnya penuh seperti itu, Rid!" ejek Halimah. Dara tersenyum simpul menggoda suaminya. Sedangkan Andhra makan tanpa bicara.
"Andhra, apa kau tidak ingin menikah?" Halimah bertanya dengan hati hati sambil menuangkan lauk ke piring Andhra.
"Iya percuma di sunat, tapi tidak pernah kepakai."
"Huss! Kalau ngomong tuh lihat sekeliling, ada anak kecil juga." Semua melirik Rafka yang masih asik dengan mainannya.
"Dia tidak mendengarkan ibu!" Farid mendengkus.
"Jika sudah cocok dengan seseorang segeralah menikah, Nak!"
"Iya betul itu, sepertinya ada satu gadis yang cocok denganmu?" celetuk Dara mengingat seseorang dalam ingatannya.
"Siapa!" Farid dan Andhra kompak.
To be continued
Wah siapa calon Andhra hayooo
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri