Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 (Bar-bar)
.
.
.
.
"Pa!" panggilan dengan nada berat itu membuat lelaki yang tengah asik membaca koran, masih terlihat gagah di usia tua itu menoleh ke arah sang putra yang terlihat begitu serius.
Wajah Bara Dirgantara terlihat begitu serius, membuat wajah Yahya mengerut tipis.
"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?" tanya Yahya pelan.
Bara mendesah pelan. Beruntung pagi ini ia tidak di recoki oleh ke dua wanita berbeda usia. Kepala Bara menoleh ke kanan dan ke kiri. Seakan sedang mengawasi apakah sang Ibu ada di sekitar ruangan tamu. Diam-diam Yahya mengulum senyum lucu. Melihat bagaimana sang putra terlihat awas. Jika tentang Aurora, maka Bara tidak akan terlihat awas seperti saat ini. Dapat ia tebak jika sang putra pasti nya bertanya tentang sang istri.
"Mama mu sedang keluar bersama Aurora. Katakan saja apa yang ingin kau katakan," ujar Yahya mendapatkan tatapan tak percaya dari Bara,"Papa tau wajah awas mu itu di tunjukan pada siapa. Tidak usah tercengang begitu," lanjut sang Ayah dengan nada tenang.
Yahya meletakan koran di atas meja dengan perlahan. Menyadarkan punggung belakang nya di sofa.
"I--itu, apakah Mama memang bar-bar saat muda?" tanya Bara dengan hati-hati.
Sontak saja, tawa keras meledak. Tuan besar Dirgantara terlihat tak mampu menahan tawa. Pertanyaan yang di lemparkan oleh sang putra terdengar lucu. Apakah Bara Dirgantara tidak melihat siapa Ibu nya dengan jelas. Sampai bertanya padanya.
"Pa!" Kesal lelaki bermata elang itu pada sang Ayah.
"Tunggu!" Seru Tuan Dirgantara mencoba meredakan tawanya."Mama mu." tutur Yahya pelan. Kerutan kecil di dahi terlihat jelas. Seakan Tuan besar Dirgantara itu tengah berpikir keras.
"Susi dulunya adalah gadis bebas. Nyaris tomboy, selalu bertindak semaunya. Sedangkan Papamu ini adalah lelaki yang pendiam dengan kadar kepekaan yang di bawah standar. Sama seperti Aurora, itulah kenapa ia bersikeras ingin Aurora menjadi istri mu. Di banding Nana yang lemah lembut dan elegan. Aurora lebih cocok bersamamu," jelasnya dengan nada berat.
"Aurora, cocok dengan ku?" ulang Bara dengan wajah bodoh. Yahya Dirgantara mengangguk pelan, meng'iyakan pertanyaan sang putra.
"Tentu. Kau yang pendiam, serba serius, jarang berterus terang cocok dengan Aurora. Yang apa adanya, meski bar-bar dia adalah gadis yang jujur. Tidak pernah mencuri perhatian orang dengan berpura-pura baik dan elegan. Dia lebih menjadi dirinya tidak seperti gadis-gadis lain. Yang melakukan banyak hal dengan berpura-pura di depanmu. Menjadi gadis yang manis hanya untuk bisa menarik perhatian mu," papar sang Ayah dengan hangat.
"Itu tidak bisa di percaya Pa! Selama aku di besarkan di keluarga Dirgantara. Mama begitu tenang dan elegan. Tapi sejak Aurora di sini, Mama terlihat bar-bar dan menakutkan. Aku tidak yakin jika Mama juga wanita yang bar-bar." Bantah Bara dengan menggeleng kan kepalanya.
"Mama mu seperti itu hanya karena tidak ingin mencoreng wajah Papa saja. Jika berdua dengan Papa, jangan tanyakan bagaimana ke bar-bar Mama mu, Bara! Papa pernah merasakan tinju mautnya saat dia salah paham. Kau tau bukan menjadi sebagai wakil Jendral banyak wanita yang mengelilingi. Meski Papa sudah menolak dengan mentah-mentah mereka tetap tidak jera. Hingga, Papamu ini mendapat tinju maut Mamamu." Ujar Yahya mengusap perut sebelah kanan nya. Rasa nyeri itu masih terasa, bagaimana kuatnya Susi sama seperti Aurora.
Bara melongo."Kenapa harus ada dua wanita bar-bar di kehidupan keluarga Dirgantara, jika dia benar-benar menjadi istri ku Pa?" Keluh Bara dengan gelengan pelan.
Di lain tempat waktu yang bersamaan wanita yang mereka bicarakan tengah berada di butik besar. Nyonya Dirgantara terlihat begitu bersemangat memiliki Gaun malam untuk calon menantu nya. Setelah memakai pakai gaun pengantin. Maka harus di ganti dengan gaun malam bukan? Hem.
Pesta pernikahan Bara dan Aurora sudah di rancang dengan meriah oleh Susi. Banyak hal yang sudah wanita itu persiapkan. Seakan dia yang akan menikah. Bukan putranya, benar-benar calon mertua yang baik.
"Berapa lama lagi?" tanya Susi pada Manager Butik.
"Sebentar lagi akan keluar Nyonya Dirgantara." Jawab wanita cantik itu dengan nada ramah dan senyum membingkai wajah nya.
Belum sempat bibir itu terbuka. Tirai terbuka memperlihatkan bagaimana cantik dan seksi nya Aurora.
"Bagaimana yang ini, Ma?" Tanya Aurora malu.
"Wah cantiknya," seru Susi dengan suara takjub,"Coba yang lain nya sayang!" lanjut Susi memberikan titah.
Tanpa bantahan, Aurora masuk kembali dan tirai di tutup perlahan. Sudah tau, dan sangat tau. Pasti, calon Ibu mertua nya akan membuat ia mencoba banyak gaun malam. Dan berakhir tidak tau mau pilih yang mana.
***
Deru napas terdengar teratur. Hembusan angin sore begitu menggoda untuk terlelap. Lelaki berwajah animasi itu awalnya hanya ingin duduk menikmati apa yang alam tawarkan. Hembusan angin yang begitu sejuk, rumput-rumput yang hijau, tidak ada air yang membeku. Ikan koi yang berkeliaran di kolam kecil di samping teras belakang.
Permainan game di ponsel tidak lagi berjalan. Lelaki itu terlelap, langkah kaki samar tak dapat ia tangkap. Gadis cantik itu menatap sang Hot Jendral yang kini terlelap lepas tanpa beban. Terlihat polos dan lucu, di matanya.
"Si es kalau tertidur terlihat lebih baik dari pada berdiri di atas menara berteriak keras. Dengan kata 'Berguling ke kanan! Guling kiri! Ayo masuk ke dalam lumpur. Aku bilang jangan berhenti lari lagi!' itu benar-benar menyebalkan!" Tutur Aurora meniru bagaimana suara Bara memberikan perintah kala memakai seragam kebanggaan nya.
Gadis itu tersenyum evil kala ia mendapat ide mengerjai Bara. Manik mata coklat itu melirik ponsel yang di genggaman oleh sang Jendral. Dengan perlahan ia membungkuk dan mengarahkan tangannya ke ponsel.
Belum sepat tangannya sampai di ponsel. Manik mata elang dingin penuh intimidasi membuat ia membeku dengan posisi seorang pencuri tertangkap basah. Kala ingin mencuri.
"Apa yang kau inginkan?"
Seruan berat dengan mata elang itu membuat Aurora sudah payah menelan air liur yang tersangkut di kerongkongan. Beberapa kali mata Aurora menggerjab pelan.
"I--itu, aku ingin-- melihat betapa tampannya dirimu, Kakak Ipar," seru Aurora dengan gagu.
"Tegap kan tubuhmu. Orang-orang akan salah sangka melihat bagaimana posisi kau dan aku. Dan untuk wajah ku ini, menang sudah tampak sejak lahir tidak perlu di lihat lagi." Ujarnya memotong dahi Aurora dengan jari telunjuk nya.
Aurora mendengus pelan. Tak lupa bibirnya mencabik kesal. Alasan bodoh! Itulah makian pelan di hati Aurora Samar-samar dapat ia dengar langkah kaki dan suara wanita dari dalam rumah menuju ke arah mereka.
"Sampai kapan wanita gila itu akan mengejar lelaki es ini. Membuat aku sudah saja," hati Aurora mendongkol.
"Kak aku ingin-"
Akh!
"Hei! Hati-hati!" Seru Bara kala tubuh Aurora jatuh dalam pelukannya.
"Maaf, Kak!" seru Aurora dengan nada pura-pura bersalah.
"Astaga!" seru Jenni menjerit kecil.
Kepala Keyla berasap. Diam-diam Aurora tersenyum tipis. Dengan wajah menyeringai membuat Keyla mengepalkan ke dua tangannya.
"You! Game over!" Gerakan bibir Aurora dapat di baca oleh Keyla.
Sedangkan Bara seakan mengerti apa yang terjadi. Memilih diam saja, membiarkan posisi body Aurora berada pada pahanya.
TBC
Vote+ comen!
Don't forget 🤣🤣🤣🤣
kasian tp lucu 😅😅
konspirasi konspirasi