NovelToon NovelToon
Rumah Di Samping Kuburan

Rumah Di Samping Kuburan

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:275.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosa_Nanda

Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.

Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.

Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.

Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.

Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan darah yang sama

"Coba Saya lihat." Bu Dini mendekati kusen pintu yang banyak cipratan-cipratan darah keringnya.

Bu Dini seperti yang tengah menelitinya.

Dia perhatikan ,percikan darah kering itu dengan seksama.

Setelah melihat darah kering itu, matanya menatap wajah Bunga lekat-lekat. Sepertinya tengah mengingat-ingat sesuatu.

Namun...

Nampak tersirat ada keraguan di raut wajahnya.

Membuat Bunga menjadi penasaran.

Bungapun segera bertanya "Ada apa Bu?..."

Bu Dini tidak segera membalas pertanyaan itu. Tetapi, dia menatap tajam ke arah Bunga. Raut wajahnya, seperti yang penuh dengan tanda tanya, yang mengharapkan jawabannya.

"Ada apa, Bu?..." Bunga mengulangi pertanyaannya.

" I.. Ini.. Da... Darah " Ujarnya terputus-putus. Matanya tak lepas menatap Wajah Bunga yang keheranan.

"I... Iya... Bu, Itu cipratan darah. Tapi, entah darah apa dan, dari mana?" Angga menjawabnya.

Diapun dengan segera mendekati Bu Dini.

"Ini... Se... Seper...Ti, dulu ada di rumah Saya." Ucapnya dengan terbata-bata.

Dia tertegun sejenak, seakan ada yang tengah di ingat-ingatnya.

Namun...

Entah apa, Angga dan Bunga saling pandang, mereka merasa kebingungan dengan tingkahnya Bu Dini.

"Bu... Ibu tidak apa-apa?..." Bunga mencoba peduli dengan keadaan Bu Dini.

" Neng...Bunga... I...Ini... Bukan darah biasa." Bisiknya, di telinganya Bunga.

"Maksudnya?..." Bunga sedikitpun tidak mengerti,

"Sebaiknya, kita bicaranya di dalam saja Bu, sambil minum teh hangat, biar santai." Ucap Bunga, mencoba menenangkan Bu Dini yang nampak tegang. Wajahnya mulai memucat, dengan bibir yang bergetar.

Tidak menunggu Jawaban dari Bu Dini, Bunga segera meraih tangannya Bu Dini, kemudian di papahnya masuk ke dalam rumah.

Sedangkan dagangannya, di bawa masuk oleh Angga.

Kedua Suami-istri itu, merasa sangat penasaran dengan perilaku Bu Dini sa'at itu.

Nampaknya, seperti ada yang tengah di sembunyikan. Atau... Ada sesuatu yang ingin di sampaikan olehnya. Namun, Bu Dini seperti yang ragu dan was-was, untuk menyampaikannya.

Bu Dini tidak menolak dengan ajakannya Bunga. Diapun segera berdiri, dan melangkahkan kakinya, menuju ke dalam rumahnya Bu Hindun, mengikuti Bunga, yang mengajaknya.

"Silahkan duduk Bu, ma'af kami belum punya kursi." Ujar Bunga. Dia mempersilahkan Bu Dini, untuk duduk di atas karpet yang di gelarnya di ruang tamu.

"Iya Neng, terimakasih. Tidak apa-apa Neng." Sahut Bu Dini, sembari duduk di atas karpet empuk yang tergelar di sana.

Bunga segera membikin air teh hangat, dan segera pula di antarkannya ke hadapan Bu Dini.

"Silahkan Bu, di minum dulu teh hangatnya." Ucapnya. Diapun lalu duduk bersimpuh di samping Bu Dini, yang nampak masih kebingungan.

"Iya Bu, silahkan! Mungpung masih hangat." Angga menimpali, tangannya langsung mengambil gagang cangkir yang ada di depannya. Sejurus kemudian , dia menyeruputnya.

"Alhamdulillah... Tehnya segar Bu. Silahkan!" Ujarnya, sembari menyimpan cangkir, yang telah di seruput separo

air tehnya.

"Iya Bu... Ayo di minum dulu tehnya. Nanti, setelah minum teh, Bu Dini lanjutkan ceritanya. Saya penasaran, dan ingin tahu tentang percikan darah itu." Bunga berucap lembut.

"Iya Neng, terimakasih." Di minumnya air teh hangat itu.

"Baiklah Neng Bunga." Ujar Bu Dini, sambil menyimpan kembali cangkir teh hangat ke tempatnya semula.

Sebelum meneruskan ceritanya, Bu Dini menghela nafasnya dalam-dalam. Kemudian, mengeluarkannya perlahan. Seakan ada beban yang sangat berat, yang ingin dia keluarkan dari dalam dirinya.

"Begini, Neng Bunga... Bang Angga. " Bu Dini diam sejenak. Dia seperti menelan ludahnya, nampak sedikit ragu dalam perkataannya.

Bunga dan Angga, sudah tak sabar ingin segera mendengar dan mengetahui tentang percikan darah yang ada di rumahnya itu.

Melihat Bu Dini terdiam, Pasangan suami-istri itu, saling tatap tak mengerti dengan tingkahnya Bu Dini, yang ada di hadapannya itu.

"Bang..." Bisik Bunga.

Dia merasa tidak sabar, menunggu penuturan dari Bu Dini, tentang percikan darah yang ada di sekitar rumahnya itu.

"Darah itu... Seperti, darah yang dulu pernah ada di sekitar rumah Saya. Sama persis, dan... Ternyata..." Bu Dini tidak melanjutkan ceritanya.

Dia malah menatap wajahnya Bunga, yang sangat ingin mengetahui ceritanya.

" Di rumah Bu Dini juga pernah ada percikan darah seperti itu?... Kapan Bu...? Dan, darah apa?" Bunga membrondong dengan beberapa pertanyaan.

"Iya Neng.. Beberapa tahun yang lalu. Di sa'at itu,  jualan

Saya lumayan maju. Maklum , waktu itu, hanya beberapa orang yang buka usaha warung di kampung ini." Lanjutnya lagi.

"Lalu... Apa hubungannya dengan percikan darah itu?"

Angga merasa heran, dia belum mengerti, kemana arah pembicaraan Bu Dini.

Bu Dini tersenyum, melihat Angga seperti itu.

"Darah itu, mengitari sekeliling rumah Saya. Sama seperti yang ada di rumahnya Neng Bunga Sekarang ini. Percikan darah itu, ada di kaca jendela, di kusen pintu, kusen jendela, ya... Persis seperti yang ada di rumah Neng Bunga." Lanjutnya.

"Awalnya, Saya juga tidak curiga dengan percikan darah itu, saya menyangka itu adalah darah tikus yang di gigit kucing. Tapi, setelah keesokkan harinya, Ibu saya datang ke rumah. Beliau mengatakan bahwa, beliau memimpikan rumah saya ini, di kelilingi oleh makhluk yang tak kasat mata, yang di suruh oleh seseorang, yang tidak suka sama saya. Dan, ingin menghancurkannya." Bu Dini melanjutkan perkataannya kembali.

Mendengar perkataan Bu Dini, bulu kuduknya Bunga serasa meremang, berdiri dan merinding.

Ceritanya Bu Dini terdengar menyeramkan.

Bunga meraba tengkuknya...

Dia mulai ketakutan.

"Karena, di dorong oleh rasa penasaran, akhirnya saya dan Ibu saya, menanyakan hal itu ke Bu Ustadzah Halimah. Dan... Yang membuat saya sangat kaget, adalah... Ternyata...

Bu Dini diam lagi sesaat, dia seperti yang ragu.

"Lalu... Bagaimana, Bu??" Bunga tak sabar, ingin segera mendengarkan kelanjutan dari ceritanya itu.

"Menurut Bu Ustadzah Halimah, da... Darah itu... Adalah... Darah Ayam tulak, yang sengaja di cipratin oleh seseorang yang membenci kita. Orang itu... Menginginkan, supaya usaha saya bangkrut, lalu rumah tangga saya berantakan. Dan... Dan... Menurut Ustadzah, orang yang melakukannya adalah... Emh.. rumahnya dekat dengan rumah saya, dia merasa iri sama saya." Bu Dini melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata.

Rasa ragu masih jelas terlihat di wajahnya.

Nampaknya, masih ada yang di tutupinya.

Bu Dini belum menceritakan semuanya.

Ini membuat Bunga, semakin penasaran saja.

"Lalu... Siapa yang melakukannya?..." Angga bertanya lagi.

"Saya... Saya... Tidak... Tidak..

Bisa mengatakannya. Sebaiknya... Neng Bunga sama Bang Angga, ke rumahnya Bu Ustadzah Halimah saja. Dan... Nanti, Bu Ustadzah Halimah akan menjelaskannya." Lanjutnya.

"Tapi, Saya tidak tahu tempatnya, Bu." Ucap Bunga.

"Nanti, Saya anterin ke sana.

Kapan Neng Bunga mau kesana?..." Bu Dini bersedia untuk mengantarnya.

"Gimana, kalau nanti agak siangan, setelah saya beres jualan." Ujar Bu Dini lagi.

1
Ira Noviana
ada bagian yg typo
Rosananda: iya, kak ma'af🙏 maklum baru belajar hehe.
Makasih kak sudah mampir, dan makasih pula komennya.
Salam kenal
total 1 replies
Siti Arbainah
trus si Bu Mar jdi bikin usahanya Bunga dan Angga bermasalah gak thor
Siti Arbainah: iya kak😊
total 5 replies
Siti Arbainah
boleh gak sih curiga sama si Eyang Kurdi itu kan dia pernah bilang klo penghuni pohon beringin itu minta tumbal jangan" itu cma rencana dia aja dan skarang rumah itu bnyak teror jga gara" dia lgi
Irka NaArra
nurustunjung aki aki teh,,
Irka NaArra
semangat,,next bikin cerita horror lgi y,
Rosananda: InsyaAllah, terimakasih sudah mampir... dan makasih juga jejaknya.
total 1 replies
Rosananda
makasih sudah mampir
Kak Ya
sukurin kurdi
Kak Ya
jgn d ksh bu 🤭😁
Kak Ya
hindun nya cengeng bgt thorr .. takut dikit nangis. balapan nangis ma anak nya kalo lg ketakutan.
Alief As Syaikh
kok namanya ganti ganti lurr
Jhulie
wah suka nih ma novel horor, aq masukin rak dulu
Rosananda: makasih sudah mampir.
total 1 replies
Bayu Ridwan
mudah"an si kurdi kecebur got kepalanya dulu
Putri Handayani
aku mampir di sini ya kak, semangat upnya 💪💪💪
Edi yuzzardy
action nya kurang...jdi bnyak d skip n males baca lagi,banyak obrolan2 yg gk ke inti cerita...
Rosananda: ma'af kak 🙏 bukannya nyeleweng ke cerita majalah hidayah, tapi itu kan salah satu tokoh yang pernah menempati rumah di samping kuburan itu, dan meninggalnya dengan cara seperti itu. Begitu ceritanya kaka... Terimakasih sudah mampir.
total 2 replies
Edi yuzzardy
jadi nyeleweng ke cerita majalah hidayah ya wkwkwkw..pdhal tema rmh smping kuburan..apa hubungannya...ni jdul nya jgn rmh samping kuburan tp yg lain aza seauai cerita di mjlh hidayah,eyang kurdi susah di kubut hahahahaa....anehhh....jdi gk penting ke isi cerita
Nova Marlina
maaf thor nma ustadz ny soleh apa sulaiman ?
Rosananda: ma'af salah nulis.
total 1 replies
Yuzu💕
semangat thor..

salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
Rosananda: makasih sudah mampir.
Salam kembali 🙏
total 1 replies
Dhina ♑
maaf 🙏🙏

"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.

itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔
Dhina ♑: semangat berkarya, pantang menyerah
total 2 replies
Nova Marlina
ini nama suaminya anjar ap angga sih ?☺️
Rosananda: terimakasih koreksinya 🙏
total 2 replies
Nova Marlina
suka deh ceritanya..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!