NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

di balik ancaman keluarga kuno

Di tengah keheningan yang pekat di dalam aula kuno itu, terlihat sekelompok orang yang berpakaian serba hitam berjalan beriringan dengan langkah yang serempak dan teratur. Di barisan paling depan berjalan seorang sosok yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat yang menjuntai hingga menyapu lantai. Kerudung besar yang menutupi kepalanya tergantung sangat jauh ke bawah, sehingga hampir seluruh bagian wajahnya tersembunyi—hanya terlihat samar garis hidung, bibir, dan dagunya yang tegas dan kokoh.

Ia berjalan sejajar dengan orang-orang yang mengikutinya, langkah kakinya tegap dan mantap meski luasnya aula ini seolah tak memiliki ujung yang jelas. Tubuhnya terlihat jangkung dengan bahu yang lebar, sesekali ia sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan saat melewati lorong panjang itu, seolah setiap langkah yang diambilnya membawa beban tugas yang sangat berat di pundaknya. Ketika akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju, sosok itu berlutut dengan tenang dan tertib, menempelkan telapak tangan kanannya di dada sebelah kiri, lalu menundukkan kepalanya lebih dalam saat menyampaikan salam dengan penuh hormat:

“Hamba telah kembali ,Yang Mulia.”

Di hadapan mereka terentang deretan anak tangga batu yang lebar, kokoh, dan menjulang sangat tinggi ke atas. Di puncak tangga itu, terlihat sosok lain yang duduk dengan tenang di atas sebuah singgasana batu yang terlihat megah namun dingin sepenuhnya. Ia meletakkan salah satu kakinya bersilang di atas kaki lainnya, sementara kedua tangannya bertumpu dengan santai di sandaran lengan kursi yang lebar itu—seolah tidak ada satu pun beban berat yang terasa menekan hatinya.

Seluruh tubuhnya tertutup rapat oleh jubah berwarna hitam pekat yang ujungnya terhampar luas di lantai batu. Tudung jubah itu jatuh panjang menutupi seluruh bagian atas wajahnya, sehingga tidak ada sepasang mata yang terlihat oleh siapa pun—hanya samar terlihat garis hidung, bibir, dan dagunya yang tegas terbayang di balik kegelapan. Tepat di belakang singgasana itu, terlihat ukiran patung naga raksasa yang terlihat begitu nyata seolah hidup, seolah ikut berdiri menjaga segala keagungan dan kekuatan yang tersimpan dalam diri sosok yang duduk diam itu. Hanya dengan kehadirannya saja, udara di seluruh ruangan itu terasa semakin dingin, berat, dan menekan dada siapa pun yang berada di sana.

Tak lama kemudian, sosok itu perlahan membuka suaranya. Nada bicaranya terdengar berat, tenang, dan terucap dengan lambat—namun entah bagaimana, setiap kata yang keluar terdengar sangat jelas hingga mencapai sudut paling jauh di seluruh penjuru aula yang luas itu.

“Bagaimana hasil pencarian kalian selama ini?”

Orang yang tadi melapor sambil menunduk dalam itu menjawab dengan suara yang terdengar getir sekaligus penuh rasa bersalah yang mendalam. “Ampun, Yang Mulia. Hamba dan seluruh pasukan telah menyisir setiap penjuru negeri sesuai dengan segala perintah yang Yang Mulia berikan. Namun sampai saat ini, belum juga berhasil menemukan jejak yang dicari.”

Tidak ada perubahan raut wajah yang bisa dibaca dari sosok yang duduk di atas singgasana itu, sebab seluruh wajahnya tertutup rapat oleh bayangan gelap—hanya terlihat garis bibirnya yang bergerak perlahan saat ia kembali berbicara dengan nada yang tetap dingin dan tak tergoyahkan. Tanpa mengubah sedikit pun posisi duduknya, ia perlahan mengangkat tangan kanannya ke atas, dengan telapak tangan yang menghadap ke langit-langit aula itu. Di permukaan kulit telapak tangannya, terlihat terbentuk sebuah pola lukisan yang rumit dan indah, berisi gambaran samar sosok naga yang berwarna hitam pekat. Perlahan namun pasti, tanda itu mulai memancarkan cahaya samar, dan seketika itu pula menyebar sebuah aura gelap yang terasa sangat asing, kuat, dan menakutkan bagi siapa pun yang merasakannya.

Tanpa peringatan atau kata-kata lebih lanjut, kekuatan yang tersimpan di dalam telapak tangannya itu seketika menyambar sosok yang sedang melapor tadi. Tubuh orang itu terangkat mendadak ke udara seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang mencekik lehernya dengan sangat kuat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk meronta dan melepaskan diri, namun tidak ada sedikit pun kekuatan yang tersisa untuk melawan apa yang sedang terjadi. Tergantung di udara sambil napasnya terasa semakin sesak dan sulit ditarik, suaranya akhirnya terdengar pecah memohon belas kasihan. “Am…pun Yang Mulia… mohon ampunilah kegagalan hamba…”

Sosok yang duduk tenang di kursi itu tetap menjawab dengan nada bicara yang sama tenang dan datarnya, seolah apa yang terjadi di hadapannya adalah hal yang sangat biasa saja baginya. “Bukankah sudah kukatakan sejak awal kepada kalian semua? Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh kembali menghadapku sebelum berhasil menemukan pemilik darah murni itu. Aku tidak ingin lagi mendengar jawaban yang sama berulang kali dari mulut kalian. Jika kalian masih tetap gagal juga sampai batas waktu yang kutentukan, maka aku akan melenyapkan kalian semua tanpa sisa.”

Ia perlahan menutup telapak tangannya hingga mengepal rapat, lalu membukanya kembali secara perlahan. Seketika itu juga cengkeraman tak kasat mata yang menahan tubuh orang itu lenyap sepenuhnya, membuat tubuhnya jatuh tergolek ke atas lantai batu yang keras dengan suara yang cukup nyaring, sementara napasnya masih terlihat memburu dan tersengal-sengal hebat.

Meskipun tubuhnya terasa sakit dan lemas setelah kejadian itu, ia segera berusaha bangkit kembali lalu bersujud sedalam-dalamnya di hadapan singgasana itu sebagai tanda terima kasih dan penghormatan. “Terima kasih banyak atas kebaikan hati Yang Mulia yang masih bersedia memberi kesempatan kepada hamba. Hamba berjanji akan terus mencari dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga, persis seperti segala perintah Yang Mulia.”

Melihat hal itu, seluruh orang yang hadir di dalam ruangan itu perlahan mundur beberapa langkah dengan tertib, lalu berbalik badan satu per satu dan meninggalkan aula kuno itu dalam keheningan yang sempurna. Kini tinggal sosok yang duduk di atas singgasana batu itu sendirian di tengah kegelapan yang masih pekat.

Suaranya terdengar pelan namun penuh dengan ketegasan yang tak tergoyahkan saat ia mulai bergumam seorang diri memecah keheningan itu. “Tidak mungkin… ramalan itu tidak mungkin keliru atau salah. Pasti masih ada satu keturunan yang membawa darah murni itu selamat dari garis keturunan keluarga kita dan kini bersembunyi di suatu tempat yang belum kita ketahui. Aku harus menemukannya secepat mungkin”

Tangannya mengepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya terlihat memutih, sementara urat-urat di bagian lehernya tampak menegang keras menahan segala amarah serta keinginan yang meluap-luap di dalam hatinya.

Sementara itu, langit di tempatku berada masih berwarna abu-abu lembut pertanda pagi yang baru saja menyapa, dan cahaya matahari belum terlihat muncul sama sekali dari balik cakrawala. Sambil sesekali mengucek mataku yang masih terasa berat karena kantuk, aku meraih telepon genggam yang tergeletak di tepi kasur. Ternyata waktu baru menunjukkan pukul enam pagi. Aku pun bangkit perlahan dari tempat tidur sambil menguap lebar, lalu dengan rapi merapikan kembali letak seprai, selimut, dan bantal-bantal itu sebaik kemampuanku.

Setelah itu aku mengumpulkan pakaian yang kemarin kupakai, membawanya menuju ruang pencucian, lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci. Rambutku yang masih terurai panjang itu kuikat tinggi dengan sebuah jepit rambut yang cukup besar agar tidak mengganggu saat aku bergerak ke sana kemari. Saat hendak bersiap menyiapkan bahan makanan untuk dimasak pagi ini, tiba-tiba aku baru teringat bahwa aku lupa membeli kebutuhan bahan makanan kemarin sore. Ada sedikit rasa menyesal menyelinap di hati, namun akhirnya aku memutuskan untuk mulai merapikan dan membersihkan seluruh isi rumah terlebih dahulu—aku menyalakan alat pembersih debu yang bisa berjalan sendiri menyusuri setiap sudut ruangan tanpa perlu dipandu, lalu segera bergegas pergi mandi dan merapikan diriku.

Setelah selesai mandi dan mempersiapkan diri dengan rapi, aku mengenakan gaun panjang berwarna biru langit yang lembut itu. Kainnya terasa sangat halus dan ringan, seolah tidak terasa berat sama sekali saat menempel di kulitku. Di permukaannya terhias corak bunga-bunga samar yang memancarkan kilau keemasan halus setiap kali terkena cahaya. Bagian pinggang gaun itu dihiasi jumbai-jumbai benang halus yang bergoyang pelan mengikuti setiap langkah yang kuambil, sementara ujung kainnya bertumpuk-tumpuk jatuh lembut hingga hampir menyentuh lantai. Di kedua bahuku terpasang selembar kain selendang tipis berwarna putih susu yang menjuntai lebar ke bawah, melindungi kulitku dengan cara yang sangat anggun.

Aku menyelipkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna biru muda di samping rambutku, lalu menyandang sebuah dompet kecil di tanganku. Saat aku berjalan perlahan menuruni anak tangga yang luas itu, kain gaun itu terlihat melambai lembut mengikuti arah langkahku, seolah-olah sedang membawa serta kesegaran udara pagi yang masih sejuk ke setiap sudut ruangan yang kulalui.

Aku pun berjalan keluar menuju halaman depan di mana kendaraan sudah menunggu seperti biasa. Namun saat aku mendekat, ternyata sosok yang berdiri di sana dan bersiap membukakan pintu mobil adalah seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pria itu segera menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat begitu aku berhenti tepat di hadapannya.

“Selamat pagi, Nyonya Zara. Izinkan hamba melapor, mulai hari ini sayalah yang ditugaskan untuk menjadi sopir pribadi Nyonya menggantikan yang lama,” ucapnya dengan nada bicara yang sopan dan tenang.

Aku tertegun sejenak berdiri diam di tempat mendengar ucapannya. Orang baru? Lalu ke mana perginya sopir yang kemarin menemaniku? Apakah ada sesuatu yang terjadi sehingga ia diganti? Banyak pertanyaan yang langsung muncul berjejer di dalam benakku, namun entah mengapa aku tidak berani untuk mengucapkannya keluar. Akhirnya aku hanya mampu menganggukkan kepalaku perlahan sebagai tanda mengerti, lalu segera masuk dan duduk dengan tenang di dalam mobil.

Sesampainya di pusat perbelanjaan yang cukup besar itu, aku langsung melangkah masuk dan mengambil sebuah keranjang dorong yang terbuat dari besi. Aku terlebih dahulu memeriksa dengan teliti setiap jenis daging yang tersedia di sana, memastikan jenisnya serta tingkat kesegarannya terjamin, sebelum akhirnya memilih dan mengambil beberapa potong daging sapi dan daging ayam yang terlihat paling baik. Tak lupa pula aku memasukkan ke dalam keranjang cumi-cumi dan udang yang masih terlihat sangat segar dan berwarna cerah.

Setelah selesai memilih bahan-bahan dari laut dan daging, aku pun berjalan menuju deretan rak yang berisi sayuran hijau segar. Aku memilihkan sawi putih, daun bawang, wortel, kentang, dan berbagai jenis sayuran lainnya yang terlihat masih segar dan baru saja datang dari pasar. Tak ketinggalan aku juga berhenti cukup lama di bagian buah-buahan: aku mengambil anggur yang manis, apel yang keras dan renyah, kiwi, kesemek, buah naga, melon, serta ceri yang warnanya merah merona. Aku mengambil segala jenis buah yang terlihat tampak lezat dan belum pernah kucoba sebelumnya, hingga perlahan keranjang yang kubawa itu menjadi penuh sesak. Sebelum berjalan menuju tempat pembayaran, aku sempat juga membeli beberapa botol pengharum ruangan yang wanginya terasa menenangkan dan tidak menyengat hidung.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!