Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Menetap
Pertemuan di Kota Batu sore itu diakhiri dengan sebuah kesepakatan keluarga yang matang. Tidak ada proses pacaran, tidak ada kencan dua berduaan setelahnya. Rayyan dan Zaza sepakat untuk melanjutkan masa perkenalan mereka melalui jalur khitbah resmi, sebuah komitmen suci yang didampingi oleh kedua belah pihak keluarga.
{1 Bulan Kemudian...}
Satu bulan berlalu dengan cepat, dan Kota Malang kembali ke rutinitasnya yang dingin dan sibuk. Namun bagi Rayyan, hari-hari pasca-pertemuan di Batu terasa seperti sebuah lembaran hidup yang baru. Ia tidak lagi menghabiskan waktu malamnya dengan nongkrong tanpa tujuan di kafe-kafe mahal hingga larut. Ada tanggung jawab baru yang pelan-pelan mulai ia pikul: memantaskan diri untuk menjadi seorang imam.
Sore itu, koridor utama kampus tampak sedikit lengang karena jam perkuliahan terakhir baru saja usai. Zaza berjalan beriringan bersama Tyas menuju gerbang luar. Langkah Zaza tenang, namun ada binar yang berbeda di sepasang matanya.
"Zaza!"
Sebuah suara yang kini sangat familiar menghentikan langkah mereka berdua. Zaza menoleh dan mendapati Rayyan sedang berjalan cepat ke arah mereka. Pemuda itu tidak lagi membawa skateboard, penampilannya sore ini terlihat kasual namun jauh lebih rapi dengan kemeja katun berkerah yang lengannya digulung hingga siku.
Tyas yang sudah tahu kelanjutan cerita dari sahabatnya itu langsung tersenyum penuh arti, menyenggol lengan Zaza dengan jahil. "Uhuk! Kayaknya ada yang mau bicarain urusan masa depan nih. Gue duluan ke halte ya, Za? Takut ketinggalan angkot."
"Eh, Tyas, tunggu—" Belum sempat Zaza menahan, sahabatnya itu sudah melesat pergi sambil melambaikan tangan dengan jahil.
Zaza hanya bisa menghela napas pelan, lalu membalikkan badannya menghadap Rayyan. Ia tetap mengambil jarak dua langkah mundur, menjaga batas kenyamanan yang selama ini menjadi prinsipnya. Pandangan matanya dijaga agar tidak menatap langsung netra elang pemuda di depannya.
"Assalamualaikum, Zaza," sapa Rayyan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan penuh hormat dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu di tempat yang sama.
"Waalaikumussalam. Ada apa, Rayyan?" jawab Zaza setenang mungkin, meskipun debaran halus di dadanya tetap tidak bisa dibohongi.
Rayyan merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua, lalu mengulurkannya dengan jarak yang aman. "Ini... dari Mama. Kemarin Mama habis pulang dari Surabaya, senggaja beli ini buat kamu. Kata Mama, ini tanda pengikat kecil sebelum acara resmi bulan depan. Aku diminta buat nyerahin langsung ke kamu di kampus kalau ketemu."
Zaza menatap kotak kecil itu sekilas, lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sembari tersenyum tipis. "Terima kasih, Rayyan. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya juga buat Tante... eh, Mama kamu. Tapi, bukankah lebih baik kalau barang seperti ini dititipkan lewat Umi saja saat kunjungan keluarga besok Sabtu?"
Rayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit kikuk namun sekaligus kagum dengan keteguhan Zaza yang tidak pernah goyah oleh barang-barang pemberian material.
"Iya, kamu bener. Maaf ya, aku cuma jalanin amanah Mama," ucap Rayyan sambil menarik kembali tangannya, menyimpan kotak itu dengan hati-hati. Ia menatap Zaza, tatapannya melembut. "Zaza... jujur, aku masih sering merasa gak percaya kalau takdir bisa bawa kita sampai ke titik ini. Dari yang dulunya kamu ketus banget kalau aku sapa, sampai sekarang kita tinggal selangkah lagi."
Zaza mendongakkan wajahnya sedikit, menatap batas dagu Rayyan dengan senyuman yang sangat tulus. "Saya tidak ketus, Rayyan. Saya hanya sedang membatasi rasa. Saya takut kalau saya membiarkan hati ini berjalan tanpa arah, Allah akan mencabut berkah dari perasaan ini."
"Dan sekarang?" tanya Rayyan penasaran.
"Sekarang... rasa itu sudah berada di tempat yang tepat. Jarak yang kita jaga kemarin ternyata bukan untuk memisahkan, melainkan untuk memastikan bahwa saat kita dipersatukan nanti, hati kita benar-benar siap karena rida-Nya," jawab Zaza dengan kalimat yang tertata indah, membuat hati Rayyan berdesir hangat.
Rayyan mengangguk mantap, ada rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya. "Terima kasih ya, Za. Terima kasih karena sudah dingin sama aku dulu. Kalau kamu gak bersikap kayak gitu, mungkin aku gak akan pernah tahu rasanya sujud di sepertiga malam untuk minta nama kamu."
Zaza tersenyum malu-malu, rona merah muda kembali menghiasi pipinya. "Sama-sama, Rayyan. Kalau begitu, saya permisi dulu. Angkotnya sudah mau jalan."
"Iya, hati-hati di jalan, Za. Sampai ketemu hari Sabtu besok bersama Abi dan Umi," ucap Rayyan dengan senyuman terbaiknya.
Zaza mengangguk hormat, lalu berbalik dan melangkah dengan anggun menuju gerbang luar kampus. Angin sore Kota Malang yang berembus pelan bertiup menerpa ujung pashminanya, membawa pergi sisa-sisa sunyi dan keraguan yang selama ini menggelayuti hatinya. Di belakangnya, Rayyan berdiri menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik tikungan jalan, membawa sebuah janji suci yang kini telah menetap kokoh di dalam doa-doa mereka yang telah dikabulkan oleh langit.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe