Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Runtuhnya Labirin dan Penghormatan yang Layak
Cahaya matahari pagi yang hangat menerpa wajah Askara saat kakinya melangkah keluar dari celah batu. Setelah berhari-hari terjebak di dalam kegelapan yang lembap dan penuh dengan atmosfer maut, udara segar dunia luar rasanya begitu nikmat merasuk ke dalam paru-parunya. Di belakangnya, Guntur dan Jaka berjalan sembari memapah beberapa anggota yang masih pincang. Sisa-sisa debu pertarungan dan bercak darah kering masih mengotori zirah besi mereka, menandakan betapa berdarah-darahnya misi yang baru saja mereka selesaikan.
Tepat ketika kaki anggota terakhir kelompok Wild Boar menginjak rumput hijau di luar gua, sebuah getaran hebat mendadak mengguncang tanah di bawah kaki mereka.
KREEEKKK... BOOOMMM!
Suara gemuruh yang memekakkan telinga terdengar dari dalam celah batu tersebut. Lorong tempat mereka keluar perlahan-lahan runtuh. Batu-batu raksasa dari langit-langit gua berjatuhan, saling mengunci dan menutup total jalan masuk ke dalam labirin kuno tersebut. Hanya dalam hitungan menit, pintu masuk menuju sarang Inferno Kong dan sang penjaga kegelapan itu kini telah rata, berubah menjadi tumpukan puing batu mati yang mustahil untuk ditembus kembali.
"Sial, tepat waktu," gumam Jaka sembari menoleh ke belakang, napasnya berhembus lega melihat jalan di belakang mereka sudah tertutup tanah. "Sedikit saja kita terlambat melangkah, kita pasti sudah terkubur hidup-hidup di dalam
sana."
Guntur yang sedang memegang kantung kain berisi lingkaran logam ganda mengangguk pelan. "Ini adalah fenomena yang biasa terjadi di dunia petualang. Sebuah dungeon memiliki sirkulasi energinya sendiri. Begitu item sihir yang menjadi inti atau jantung dari dungeon tersebut berhasil diambil, maka seluruh struktur magis penopangnya akan runtuh secara instan. Tempat itu telah mati."
Guntur kemudian membalikkan badannya, menghadap ke arah seluruh anggota tim yang kini sedang terduduk lemas di atas rumput. Atmosfer di antara anggota Wild Boar terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat mereka pertama kali berangkat. Tidak ada lagi pandangan dingin, sinis, atau meremehkan yang tertuju kepada Askara. Sebaliknya, sepasang mata para petualang itu kini menatap sang Nirmala dengan binar kekaguman dan rasa hormat yang teramat sangat.
Sebelum mereka melangkah keluar dari ruang altar kemarin, Guntur telah menceritakan segalanya kepada seluruh anggota tim yang baru siuman. Pria paruh baya itu menjelaskan dengan jujur dan gamblang mengenai siapa sosok yang sebenarnya telah menyelamatkan nyawa mereka dan menghancurkan monster penjaga tingkat tinggi tersebut di saat semua orang sudah tidak berdaya.
Salah seorang penyihir wanita yang kemarin sempat diselamatkan Askara dari bola sihir hitam berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapan Askara. "Askara... Ketua Guntur sudah menceritakan semuanya pada kami. Terima kasih banyak. Jika bukan karena kecepatan mu menyerap serangan mematikan itu, aku... aku pasti sudah menjadi mayat di dalam sana. Maafkan kesombongan kami yang sempat menganggap mu sebagai beban sebelum misi ini dimulai."
"Benar, Askara," timpal petualang lain sembari menepuk dadanya sendiri dengan bangga. "Mulai hari ini, siapa pun di Kota Gada yang berani menghina seorang Nirmala di depan kami, mereka harus berhadapan dengan kapak dan sihir milik Wild Boar. Kau adalah bagian dari keluarga kami sekarang."
Askara yang melihat perubahan sikap itu hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk tulus. "Kalian tidak perlu berlebihan. Kita masuk sebagai satu tim, jadi sudah kewajibanku untuk memastikan kita semua bisa keluar hidup-hidup."
Jaka yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa terdiam, memandangi lencana besi berlogo babi hutan milik Askara.
Rasa bersalah sempat melintas di wajahnya yang garang, namun ia membuang muka demi menyembunyikan rasa gengsinya, meskipun di dalam lubuk hatinya, rasa hormatnya pada Askara kini sudah setinggi langit.
Keesokan harinya, suasana di dalam aula utama kantor cabang Guild Wild Boar di Kota Gada tampak sangat ramai. Aroma bir, daging panggang, dan gemerincing koin emas memenuhi ruangan. Kelompok Guntur berkumpul di depan meja resepsionis utama yang dijaga oleh seorang petugas serikat dengan pakaian formal.
Di atas meja kayu tebal itu, Guntur meletakkan lingkaran logam ganda berpendar perak yang mereka bawa dari ruang inti dungeon. Petugas serikat kota memeriksa benda tersebut menggunakan sebuah kaca pembesar magis khusus sebelum akhirnya matanya membelalak takjub.
"Luar biasa... Ini adalah Artefak Cincin Kronos kuno yang sudah hilang selama ratusan tahun. Nilai sejarah dan magis dari benda ini sangat tinggi," ucap petugas itu dengan suara yang bergetar penuh semangat. "Sesuai dengan kesepakatan kontrak misi penjelajahan dungeon baru, serikat kota akan menukar item sihir langka ini dengan nominal yang sangat besar, ditambah dengan upah pembersihan area untuk setiap anggota tim yang terdaftar."
Petugas tersebut menarik beberapa kantung kain yang sangat berat, memicu suara gemerincing koin emas yang memikat telinga di atas meja. Guntur membagi upah tersebut secara adil di depan seluruh anggotanya. Ketika giliran Askara tiba, Guntur memberikan satu kantung penuh yang ukurannya paling besar.
"Ini bagianmu, Askara. Jangan membantah, kau yang paling berhak mendapatkan jumlah ini setelah apa yang kau lakukan di ruang altar," ucap Guntur dengan nada tegas yang tidak menerima penolakan.
Askara menerima kantung emas tersebut sembari mengangguk. "Terima kasih, Ketua Guntur."
Namun, di sela-sela pembagian upah tersebut, petugas serikat sempat melirik ke arah lembar laporan misi yang ditulis oleh Guntur. Ia mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Tunggu sebentar, Ketua Guntur. Di dalam laporan tertulis bahwa ada dua item langka,. Satu adalah artefak perak ini, dan yang satu lagi adalah Air Mata Efrit—sebuah pusaran sihir penyembuhan mutlak yang legendaris. Di mana wujud fisik dari item kedua itu? Serikat kota harus mendatanya secara fisik jika kalian ingin mencairkan bonus tambahannya."
Mendengar pertanyaan itu, Jaka dan Guntur secara serentak melirik ke arah Askara yang berdiri tenang di barisan belakang. Mereka tahu persis bahwa benda itu tidak akan pernah bisa ditunjukkan kepada siapa pun secara fisik. Benda itu berupa cahaya murni yang telah menyatu, meresap, dan langsung masuk ke dalam daftar kemampuan rahasia di dalam jiwa Askara tanpa meninggalkan bentuk kebendaan sedikit pun.
Guntur berdeham keras, mencoba mengalihkan perhatian petugas serikat. "Ah, tentang hal itu... Laporannya mungkin sedikit keliru, Petugas. Pusaran cahaya itu meledak dan energinya langsung menguap ke udara saat monster itu hancur total akibat benturan sihir pamungkas kami. Tidak ada wujud fisik yang tersisa untuk dibawa pulang. Kami hanya sempat mengamankan artefak perak ini saja sebelum ruang dungeon runtuh."
Petugas serikat itu mendesah kecewa, namun ia tetap menuliskan catatan pembatalan di lembar dokumennya. "Sayang sekali... Sihir penyembuhan tingkat mutlak seperti itu sangat jarang ditemukan. Tapi setidaknya, kalian membawa pulang artefak ini hidup-hidup."
Askara diam-diam menyentuh dadanya sendiri di balik pakaian kain usangnya. Di dalam sana, ia bisa merasakan sebuah simbol abstrak berwarna hijau zamrud berbentuk tetesan air melayang stabil di dekat sisa-sisa sihir api dan sihir hitam yang ia simpan. Item itu memang tidak memiliki bentuk fisik di dunia luar, namun kekuatannya nyata. Askara tahu, selama dia bisa menyerap energi sihir dari orang lain atau monster di masa depan, energi serapan itu bisa langsung ia konversikan menjadi bahan bakar untuk mengaktifkan Air Mata Efrit demi menyembuhkan luka fisiknya sendiri secara instan tanpa membutuhkan mana dasar sedikit pun.
Jaka yang sejak tadi memperhatikan Askara, akhirnya melangkah mendekat setelah proses administrasi selesai. Ia menyilangkan tangannya di dada, menatap Askara dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Hei, Bocah... Jadi sekarang kau punya dompet penuh emas, kemampuan menghancurkan monster tingkat tinggi, dan sihir penyembuhan rahasia di dalam tubuhmu. Sepertinya panggilan Nirmala atau pecundang sudah sama sekali tidak cocok untukmu lagi."
Askara tertawa kecil mendengar ucapan Jaka. "Aku tetaplah Askara yang tidak punya sihir dasar, Jaka. Hal itu tidak akan pernah berubah."
Guntur berjalan mendekati mereka berdua, menepuk pundak Askara dengan hangat. "Perjalananmu masih sangat jauh, Askara. Uang dari misi ini cukup untuk membekali perjalananmu ke ibu kota atau wilayah luar lainnya. Apa rencana pertamamu setelah meninggalkan Kota Gada?"
Askara menatap lencana besinya, lalu mengarahkan pandangannya ke luar jendela kantor guild, menembus langit luas yang membentang di utara. "Aku akan mencari tempat berlatih yang lebih keras, Ketua. Aku ingin menguji seberapa banyak batas energi yang bisa ditampung dan digabungkan oleh wadah kosong ini sebelum aku benar-benar siap menghadapi dunia yang sesungguhnya."