NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Warok tidak langsung mempersilakan orang tua itu melangkah masuk. Ia tetap berdiri tegak di halaman gubuk, mengamati dengan saksama setiap gerak-gerik sang tabib yang mencurigakan.

"Letakkan keranjangmu," perintah Warok dingin.

Orang tua itu hanya tersenyum tipis. Tanpa membantah sedikit pun, ia menurunkan keranjang rotan dari punggung ringkihnya. Warok mendekat, lalu membongkar isinya satu per satu untuk memastikan keamanan gubuk mereka.

Daun-daunan, akar-akaran, bongkahan belerang, jahe hutan, hingga beberapa bilah kulit kayu obat. Tidak ada senjata tersembunyi, tidak ada pula jenis racun yang mencurigakan.

"Sudah puas?" tanya tabib itu dengan nada tenang.

Warok mengangguk kecil, lalu memberi isyarat dengan kepalanya. "Masuk."

Di dalam gubuk, Jangkrik menuangkan semangkuk air hangat dan menyodorkannya. Tabib tua itu menerimanya dengan kedua belah tangan.

"Terima kasih," ucapnya tulus sebelum meminum air itu secara perlahan.

Sepasang matanya yang sarat pengalaman sesekali melirik ke arah punggung Jangkrik. Meski tertutup pakaian, ia bisa merasakan bekas luka cambuk yang bersembunyi di baliknya. "Hmm... luka yang menarik."

Jangkrik langsung memasang sikap waspada. "Kau ini sebenarnya tabib atau cenayang?"

Orang tua itu terkekeh geli. "Aku seorang tabib. Namun, terkadang guratan luka bisa bercerita lebih banyak dari kata-kata." Ia menunjuk ke arah bahu Jangkrik. "Itu bukan luka karena kalah bertarung. Itu adalah luka karena ditempa. Dan orang yang melakukannya..." Ia menoleh ke arah Warok, "...jelas bukan orang sembarangan."

Ki Resa menatap Warok lebih dalam, lalu tersenyum hangat. "Sudah lama tidak bertemu."

Jangkrik tersentak, pandangannya bolak-balik menatap kedua orang itu. "Kalian saling kenal?"

Warok menghela napas pelan, seolah enggan mengungkitnya. "Sedikit."

"Hanya sedikit?" timpal tabib itu penuh teka-teki. "Dulu kau hampir mati di tanganku."

Mata Jangkrik membelalak. Namun, Warok justru menanggapinya dengan tawa kecil. "Itu karena ramuan obatmu terlalu pahit."

"Bukan karena itu," Ki Resa menggelengkan kepala. "Tetapi karena kau nekat bertarung habis-habisan padahal tiga tulang rusukmu sudah patah menjadi beberapa bagian."

Warok tidak membantah ucapan itu. Sementara itu, Jangkrik baru menyadari satu hal penting; selama ini ia mengira Warok adalah sosok penyendiri yang hidup terasing dari dunia luar. Ternyata, gurunya memiliki benang merah masa lalu dengan orang-orang tertentu.

Ki Resa meletakkan mangkuk kosongnya ke atas meja. "Lima belas tahun... dan kau hampir tidak berubah sama sekali."

Warok mendengus remeh. "Kau justru terlihat semakin tua dan rapuh."

"Itu memang sudah menjadi sifat mutlak manusia," balas tabib itu disusul tawa pelan.

Suasana yang semula tegang perlahan-lahan mulai mencair. Namun, Jangkrik menangkap satu hal yang tidak biasa: Warok sangat menghormati orang tua ini. Bukan rasa hormat yang lahir dari ketakutan, tapi karena menganggap sang tabib memang layak mendapatkannya. Ini pertama kalinya Jangkrik melihat gurunya bersikap demikian.

"Siapa sebenarnya dia, Warok?" tanya Jangkrik akhirnya.

Sebelum Warok sempat membuka mulut, tabib itu sudah memotong lebih dulu, "Namaku Ki Resa. Aku hanyalah seorang tabib keliling biasa."

Warok mendengus sinis. "Jangan percaya ucapannya."

Ki Resa tersenyum memaklumi. "Benar. Dulu, puluhan tahun yang lalu, aku juga pernah menjadi seorang pembunuh. Tapi tenang saja, aku sudah lama pensiun dari dunia berdarah itu."

Spontan, Jangkrik meraih gagang belatinya dengan sigap. Ki Resa segera mengangkat kedua tangannya dengan santai. "Tenang, Nak. Itu sudah menjadi masa lalu."

Warok akhirnya membuka suara dengan nada berat. "Kalau bukan karena bantuan orang tua ini dulu, aku sudah menjadi bangkai sejak masih muda."

Jangkrik memandang Ki Resa dengan sudut pandang yang sepenuhnya baru. Orang tua bertubuh kurus yang tampak lemah ini ternyata pernah menyelamatkan nyawa seorang Warok Ponorogo yang ditakuti.

Ki Resa bangkit berdiri lalu mengambil sebuah kantong kain kecil dari dalam keranjang rotannya. "Kemarikan tanganmu."

Jangkrik sempat bergeming ragu, namun Warok memberi perintah singkat, "Turuti saja."

Barulah Jangkrik mengulurkan tangan kirinya yang masih membengkak dan terasa ngilu akibat pertarungan tempo hari. Ki Resa mengoleskan salep kental berwarna hijau tua yang aromanya sangat tajam. Begitu ramuan itu menyentuh kulit, sensasi sedingin es langsung menjalar, menyerap rasa panas dari lukanya.

Jangkrik menghela napas lega, ketegangannya surut. "Ramuan ini... jauh lebih nyaman daripada belerang milikmu, Warok."

Warok tertawa mendengar sindiran muridnya. "Tentu saja. Ramuan buatan tua bangka itu sangat mahal harganya."

Ki Resa menggelengkan kepala perlahan sambil terus memijat lembut pergelangan tangan Jangkrik. "Luka di tubuh bocah ini terlalu sering dipaksa untuk terus bekerja keras. Jika kau terus menempanya tanpa jeda seperti ini, sendi-sendi tangannya akan rusak permanen sebelum ia sempat tumbuh dewasa."

Warok terdiam mendengar penuturan itu.

Ki Resa menghentikan gerakannya lalu menatap lurus ke dalam manik mata Warok. "Itulah yang ingin kutanyakan padamu. Kau ini sebenarnya sedang membentuk seorang pendekar sejati... atau justru sedang mempercepat kematiannya?"

Ruangan gubuk seketika diselimuti kesunyian yang mencekam. Warok hanya menatap kobaran api yang menari-nari di dalam tungku perapian tanpa berkedip. Lama sekali ia terdiam sebelum akhirnya menjawab dengan suara lirih.

"Jika aku terlalu lunak mendidiknya... dia akan mati dengan mengenaskan di tangan musuh-musuhnya kelak."

Ki Resa mengangguk pelan, memahami kepahitan di balik keputusan tersebut. "Aku mengerti maksudmu. Namun ingatlah sepotong nasihat ini; pedang yang ditempa terlalu keras tanpa kelenturan, justru akan menjadi pedang yang paling mudah patah saat berbenturan."

Kalimat bijak itu sukses membuat Warok terpaku dalam keheningan yang cukup lama. Bahkan Jangkrik pun turut merenungkan makna di balik kata-kata sang tabib tua.

Baru kali ini ada seseorang yang berani menegur dan menceramahi Sang Warok secara langsung di depan matanya—dan yang lebih mengejutkan, sang gurunya sama sekali tidak menaruh amarah.

Malam pun turun semakin pekat. Di luar gubuk, riuh suara jangkrik kembali memenuhi keheningan hutan Pegunungan Sewu. Sementara di dalam gubuk yang temaram, Ki Resa memandang Jangkrik dalam waktu yang cukup lama.

Entah mengapa, sorot mata tua itu dipenuhi oleh rasa iba yang mendalam. Seolah-olah, ia mampu melihat sebuah guratan takdir kelam pada diri bocah itu yang luput dari pandangan Sang Warok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!