Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roti dan botol air
Sudah hampir satu bulan lebih, perselingkuhan Eros terkuak olehnya. Namun Aira masih tinggal di rumah mertuanya. Menjadi menantu keluarga mereka seperti biasa. Namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, Aira ingin pisah. Dia tidak mau lagi menjadikan Eros suaminya.
"Selamat pagi," ujar sebuah suara muncul dari pintu. Aira mendongak. Ternyata manajer itu. Ibrar. Aira mulai hapal dengan nama itu. Dan memang seharusnya dia hapal. Tidak mungkin dia tidak tahu nama atasannya.
Melihat pak Ibrar yang datang, Aira berdiri. "Selamat pagi, Pak." Mata Ibrar mengawasi perempuan yang baru saja membungkuk pelan menyambut sapaannya.
"Aku butuh semua berkas soal tenant yang sudah melakukan perjanjian."
"Semua, Pak?"
"Iya. Ada apa?" tanya Ibrar yang menemukan keterkejutan.
"Semua berkas ada di gudang penyimpanan, Pak. Bila bapak membutuhkan semua, saya akan mencarinya. Namun itu perlu waktu lama. Jika bersedia, mohon menunggu satu hari." Aira tidak harus berkata bahwa dia bisa mendapatkan semua berkas perjanjian itu sekarang juga. Setelah kasus yang tidak menyenangkan satu tahun yang lalu, soal tenant itu berganti alih ke pak Yuta. Manajer sementara. Hingga beliau melimpahkan penyimpanan berkas pada dirinya.
"Dimana gudang penyimpanan itu?"
"Di ruangan sebelah, Pak." Ibrar mengangguk.
"Tolong tunjukkan tempat berkas itu." Kedua alis Aira terangkat. Tunjukkan? Apa dia akan mencarinya sendiri? Aira mengambil kunci, dan mengantar pak Ibrar keluar ruangan menuju ke gudang. Tepat di sebelah ruangan, Aira membuka pintu dan terlihat rak-rak yang berjejer rapi berisi berkas lampau.
"Untuk berkas lama saya letakkan di gudang ini. Sementara berkas baru, masih ada di ruangan saya." Aira menjelaskan.
"Untuk berkas tenant ada di mana?"
"Sebentar saya cari, Pak." Aira bermaksud mencari sendiri. Setelah menemukan tulisan rak untuk tenant, Aira berhenti dan memutar tubuhnya ke belakang. Bermaksud memanggil pria itu. Menunjukkan letak semua berkas tenant.
Bruk! Tak di sangka saat memutar tubuh, Aira terhambat sebuah tubuh. Kepalanya menabrak tepat di dada pria itu. Serasa menciumnya karena bibirnya tepat mendarat di dada pria ini
"Maaf," ucap Aira panik sambil menutup setengah wajahnya spontan. Tidak menyangka bahwa pak Ibrar berada tepat di belakangnya. Kakinya mundur sejenak untuk memperlebar jarak berdiri mereka. Lalu sedikit meunduk karena malu langsung menyerangnya.
Ibrar menatap perempuan itu yang jadi gugup karena telah menabrak dirinya.
"Aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu terkejut." Aira hanya mengangguk pelan.
"Aku akan bantu kamu mencarinya," ucapnya tahu tatapan mata Aira saat melirik ke arahnya. "Ini ya, letak berkas itu ..." Tangan Ibrar mulai menyentuh kotak-kotak penyimpanan. "Lebih baik mencari bersama-sama daripada sendirian. Lebih cepat selesainya," ucap Ibrar tanpa menoleh. Dia tahu, perempuan ini masih memandanginya. Mungkin karena terkejut dia mau membantu, atau masih terkejut karena telah mencium dadanya secara tidak sengaja tadi.
"Ah, iya." Aira sadar. Bibirnya berdecak sebal. Merutuki dirinya yang bengong barusan. Mereka berdua mengumpulkan pelan-pelan. Memang butuh waktu yang lama.
"Sudah lama kerja disini, Ai?" Mendengar namanya di sebut dengan nada bersahabat oleh manajer baru ini, membuat Aira tersentak kaget.
"Ah, tidak. Mungkin sekitar tiga tahunan, Pak."
"Mmm ..." Ibrar menggumam. Aira kembali diam. Tangannya memilah-memilah dengan agak cepat. Berharap ini segera selesai. Dan dia harus kembali ke ruang kerjanya. "Ini tidak harus selesai hari ini. Aku bisa kembali lagi meminta bantuanmu beberapa hari kedepan."
Lagi? Berarti pria ini akan terus saja muncul di hadapanku ...
Tiba-tiba pusing menyerang kepalanya. Tubuhnya sedikit oleng dan hampir ambruk. Dengan cekatan Ibrar yang berdiri di sebelahnya menangkap pundak Aira.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ibrar terkejut. Aira memegangi kepalanya sambil menutup mata sebentar. Kemudian mengangguk. "Kamu bisa duduk dulu, Aira." Ibrar membimbing tubuh wanita ini untuk duduk di kursi yang sebenarnya kegunaannya adalah untuk sebagai pijakan kala mengambil berkas yang di atas.
Aira pasrah tubuhnya di bimbing.
"Bersandarlah ..." Aira menurut. "Lepaskan sepatumu."
"A-pa?" tanya Aira terkejut.
"Tinggi sepatumu mungkin juga memicu kepalamu pusing. Itu membuatmu lelah." Aira takjub dengan perintah pria ini. Dia membaca segala kemungkinan penyebab dirinya tiba-tiba pening. Aira perlahan melepas high heelnya pelan.
"Maaf, mungkin ini tidak sopan," ujar Aira merasa canggung.
"Tidak masalah. Tunggu di sini sebentar. Aku keluar dulu." Pria itu segera melesat keluar. Entah apa yang akan di lakukannya. Mungkin memanggil seseorang untuk menggantikannya mencari berkas. Namun dugaannya salah. Pria itu datang dengan membawa sebotol air mineral, juga ... roti sandwich dalam kemasan.
Air dan roti? Aira mengerjap karena heran.
"Minum lalu makanlah sebentar." Ibrar menyodorkan botol itu.
"Saya ..."
"Selain dehidrasi mungkin tubuhmu juga butuh makanan." Matanya menatap botol air dan roti di tangan Ibrar. Aira ragu untuk menerima pemberian itu. "Makanan ini tidak di larang untuk ibu hamil bukan?" tanya Ibrar yang langsung membuat Aira terhenyak.
Tidak ada satupun di perusahaan ini yang tahu akan keadaannya yang tengah hamil. Justru pria ini sudah mengetahui soal itu. Bola mata Ibrar menatap Aira lurus. Bukan dengan tatapan tajam, tapi tatapan perhatian. Dia menemukan luka saat menyebut kata hamil barusan.
Mendengar ada yang membahas kehamilan, Aira memang merasa berat. Manajer baru ini tidak bisa di salahkan juga. Karena tanpa sengaja pria ini tahu soal keadaannya. Dia mungkin juga sudah berpikir dua kali untuk tidak memberikan sembarang makanan padanya. Yah ... bagaimanapun juga dia adalaj seorang suami yang sudah pernah merawat istri yang hamil. Dia pasti sudah berpengalaman.
Aira menyambar pemberian itu setelah menghela napas. "Terima kasih." Aira meneguk air pelan-pelan sambil menoleh ke arah lain. Karena di depannya, manajer ini masih berdiri di sana memperhatikannya.
Dia memang telah memuntahkan sarapan paginya di kamar mandi tadi. Hingga kini perutnya terasa kosong. Namun dia tidak ada niatan untuk kembali mengisi dengan cemilan atau semacamnya.
Tiba-tiba Aira terkejut melihat apa yang di lakukan pria ini. Ibrar membuka kemasan roti yang berada di tangannya.
"Saya bisa membukanya sendiri." Tangan Aira mengambang untuk menggapai roti yang sebentar lagi akan jadi miliknya. Dia tidak ingin di layani atasannya. Itu tidak sopan.
"Ini bukan pekerjaan berat. Tenanglah. Aku akan membukakan untukmu." Aira menarik lagi tangannya karena manajer baru ini bertekad membukakan plastik kemasan roti sandwich itu. Aira menggelengkan kepalanya pelan menanggapi bantuan pria ini. Menunduk lagi.
Mungkin bagi Ibrar itu hal baik yang di berikan pada anak buahnya, tapi bagi Aira itu beban. Perlakuan yang membebaninya.
"Ini." Ibrar sudah membuka kemasan roti itu setengahnya. Membuatnya sebagai pegangan agar tangan kotor Aira tidak menyentuh roti itu. Setelah Aira menerima roti itu, pria ini kembali berkutat dengan kegiatan tadi. Merasa biasa saja dengan perlakuannya tadi.
Mulut Aira mengunyah roti itu perlahan. Berkali-kali helaan napas kesal menderanya.
"Hei, tunggu." Yeri mencegah Aira yang berjalan keluar dari pintu karyawan. Aira berhenti dan menoleh.
"Apa?" tanya Aira.
"Aku lihat tadi pak Ibrar ke gudang berkas bersamamu."
"Lalu?"
"Dia membantumu mengambil berkas?"
"Ya. Dia juga ingin tahu letak berkas."
"Kenapa dia terburu-buru mengambil botol air dan roti milik pak Yuta, ya?" Aira yang awalnya tidak terlalu peduli dengan pertanyaan Yeri kali ini terkejut.
"Jadi air dan roti itu milik pak Yuta?" tanya Aira terpana.
"Ya. Bahkan pak Ibrar menyambarnya dengan cepat sebelum pak Yuta berhasil menyentuhnya. Agak syok juga lihatnya. Kayak pak Ibrar lagi kelaparan saja. Wajahnya bukan wajah kelaparan sih ... Itu hanya wajah panik dan cemas. Namun enggak sinkron liat dia yang menyambar roti, tapi dia yang panik."
Aira tidak mengatakan apa-apa lagi selain menunjukkan keterkejutannya. Dia sungguh tidak menyangka ada sebuah cerita unik di balik roti dan air mineral yang di telannya tadi.
"Hei ... kamu denger apa yang aku omongin kan? Kok jadi terbengong-bengong gitu?" Yeri mengguncang-guncangkan bahu Aira pelan.
"Ya. Aku dengar." Sangat jelas sekali semua kalimat yang di katakan Yeri di gendang telinganya barusan. Sungguh miris. Dia yang baru saja mengenalnya, sudah bisa merasa panik. Sementara Eros yang sudah lama mengenalnya, terasa canggung saat mengetahui kehamilannya.
Itu tidak bisa di salahkan. Pria yang berstatus suaminya itu memang sudah tidak punya hati. Wajar sikapnya seperti itu. Tanpa sadar Aira mendengkus. Merasa lucu membandingkan Eros dan Ibrar. Siapa dia? Yeri tidak paham maksud dari dengkusan yang terlontar barusan.
"Kamu kelihatan sedang menertawakan sesuatu. Memangnya aku mengatakan hal yang lucu?" tanya Yeri jadi penasaran.
"Ya. Sangat lucu." Aira tersenyum dan menarik lengan sahabatnya itu. "Ayo pulang."
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?