Laura seorang gadis yang berkeinginan menjadi model internasional. Laura seorang gadis yang suka berpakaian sexy karena memang bentuk tubuhnya yang aduhai.
Namun pertemuannya dengan Zakia membuat dia tiba-tiba berubah haluan. Laura merubah 100% penampilannya.
Laura yang tidak pernah berpacaran harus menerima perjodohan sebagai syarat untuk menjadi seorang Model oleh Orang Tuanya. Sampailah dia dipertemukan dengan seorang CEO yang terkenal dengan keganasan nya dan gila akan kebersihan.
Akankah Laura bisa menaklukan kerasnya hati sang CEO?
Akankah Laura bisa bersatu?
Yuk ikutin kisahnya..🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Terapy Cinta
Matahari pagi akan selalu setia menyinari bumi. Begitu juga saat ini sang selimut masih setia mendekap Jason dalam hangatnya. Riko sudah dua kali mengetuk pintu kamar Jason, namun sama sekali tidak ada pergerakan atau tanda-tanda pintu akan segera dibuka.
"Kemana Dia? apa dia sedang sakit?" ujar Riko.
Mendadak dengan pemikiran kilat itu membuat Riko sedikit panik. Riko bergegas turun kebawah untuk bertanya pada Bi Inah tentang keberadaan kunci cadangan kamar Jason.
"Bi. Dimana kunci cadangan kamar Tuan Jason?" Riko bertanya tampak tergesa-gesa.
"Ada diatas tuan." Jawab Bi Inah.
"Tolong cepat buka pintu kamar tuan Jason. Tadi saya ketuk-ketuk pintu tidak ada respon, saya takut terjadi sesuatu." Riko berkata sambil berjalan beriringan dengan Bi Inah.
Bi Inah tidak menjawab apa yang Riko katakan. Ia lebih suka banyak bekerja daripada banyak bicara, apalagi banyak tanya tentang hal yang tidak penting. Dengan dua kali putaran kunci, akhirnya pintu pun terbuka. Riko bergegas masuk kedalam untuk melihat keadaan Jason. Jason tampak masih terbaring dengan selimut yang nyaris menutupi seluruh tubuhnya. Riko menyingkap selimut yang menutupi sebagian kepala Jason, wajah Jason tampak pucat dan letih. Riko menempelkan punggung tangannya kearah kening Jason, benar saja hawa panas langsung menyebar kepunggung tangan Riko.
"Son,bangun Son. Bi cepat panggilkan Nyonya Maryam ya!" perintah Riko.
"Baik Tuan." Bi Inah bergegas turun kebawah.
Riko langsung mengambil benda pipih yang ada disaku celananya dan melakukan panggilan pada dokter pribadi keluarga Thomson
"Hallo vin. Loe ke mension sekarang ya, Jason sakit buruan kesini!" Riko berkata tergesa-gesa.
"Siap." Jawab kevin singkat.
Kevin merupakan salah satu dokter umum yang bekerja disalah satu rumah sakit keluarga Thomson. Kevin juga merupakan salah satu sahabat dari Jason dan Riko.
"Ada apa dengan Jason Rik?" Maryam tampak panik seraya mendekat kearah putranya yang masih terbaring.
"Sepertinya Jason demam Mi. Badannya demam tinggi dan kesadarannya menurun," ujar Riko.
"Astaga badan Jason panas sekali," ujar Maryam.
Maryam yang menempelkan tangannya dikening Jason langsung merasakan panas tubuh putranya.
"Ini nyonya air kompres hangat. Mungkin bisa sedikit membantu," ucap Bi Inah.
Bi Inah tampak tergesa-gesa dari arah pintu sambil membawa sebaskom air hangat.
"Terima kasih Bi Inah. Tolong buatkan juga Tuan Jason bubur dan sup ya!" perintah Maryam.
"Baik Nyonya." Jawab Bi Inah.
Bi Inah segera melaksanakan perintah Maryam.
"Mengapa Jason tiba-tiba demam begini? apa kamu sudah menghubungi Kevin Rik?" tanya Maryam.
"Sudah Mi. Kevin sudah jalan kesini," ujar Riko.
"Apa dia terlalu memikirkan tentang perjodohan itu?" tanya Maryam.
Maryam tampak sedih melihat kondisi putranya yang pucat.
"Kita berdoa saja semoga Jason tidak kenapa-kenapa Mi," ujar Riko.
"Oh ya Rik, Mami bisa minta tolong sama kamu buat jemput Sidney dibandara? hari ini dia akan pulang dari australi," ujar Maryam.
"Baik Mi. Jam berapa pesawat Sidney akan tiba dibandara Mi?" Tanya Riko.
"Sidney bilang mungkin sekitar pukul 2 siang." Jawab Maryam.
"Oke Mi." Timpal Riko.
Tidak lama kemudian Kevin datang dengan membawa berbagai peralatan medis dan obat-obatan.
"Vin tolong kamu periksa Jason. Dari tadi dia belum bangun. Mami takut dia kenapa-kenapa," ujar Maryam tampak khawatir.
"Mami tenang dulu ya Mam. Biar Kevin periksa Jason dulu," ujar Kevin.
Kevin pun mulai melakukan serangkaian pemeriksaan pada Jason. Dan setelah menegakkan diagnosa barulah Kevin mengajak Maryam dan Riko berbicara.
"Jason nggak kenapa-kenapa kok Mi. Dia cuma kecapek'an saja. Ditambah tubuhnya sedikit kekurangan cairan yang menyebabkan tubuhnya dehidrasi.
Maryam bernafas lega."Ah...syukurlah. Mami sangat takut Jason memiliki penyakit yang serius," ucap Maryam sambil mengusap puncak kepala Putranya itu.
Kevin tersenyum."Dia akan sembuh setelah minum obat ini Mi. Mami tidak perlu khawatir, nanti tolong suruh Jason memperbanyak lagi minum air putih agar panasnya cepat turun dan tidak lagi dehidrasi."
"Apa sebaiknya di opname saja Vin?" tanya Maryam.
Belum sempat Kevin menjawab Jason sudah memotong omongan Kevin.
"Tidak mau. Itu tidak perlu Mam, aku cuma perlu istirahat dan sedikit minum obat." Jawab Jason.
Jason mencoba duduk dan bersandar dikepala ranjang.
"Bilang aja loe takut ama jarum suntik," ujar Kevin menggoda Jason.
"Mana ada begitu?" jawab Jason sambi memalingkan wajahnya karena takut ketahuan.
"Alah...siapa yang duluan kabur setiap ada program suntik vaksin disekolah?" Riko menambahkan.
"Pokoknya sekali nggak mau, tetap nggak mau!" tukas Jason.
Hilang sudah wibawa Jason saat mendengar kata jarum suntik.Bayangan paranoid selalu menghantui dirinya. Cuma satu yang Jason fikirkan selama ini, bagaiman kalau jarumnya patah dan tertinggal didalam. Sungguh pemikiran yang konyol. Riko, Kevin dan Maryam mengulum senyum saat melihat tingkah Jason yang seperti kelinci imut karena takut diajak opname.
"Baiklah tuan Jason. Jangan lupa diminun obatnya setelah makan, perbanyak minum air putih dan satu lagi...jangan terlalu sibuk bekerja nikmati hidupmu." Nasehat Kevin.
"Baik dokter Kevin," kata Jason sambil mengedipkan matanya.
"Mi. Kevin langsung kerumah sakit ya," ujar Kevin.
"Sarapanlah dulu Vin. Biar kerjamu fokus kalau perutmu terisi," ujar Maryam.
"Makasih Mi. Tapi kebetulan Kevin tadi sudah sarapan sendwich dijalan, tadi Kevin buru-buru kesini, jadi langsung dibawain bekal sama Mama," ucap Kevin menolak halus.
"Baiklah kalau gitu Mami titip salam buat Mama kamu ya Vin," ujar Maryam seraya mengantar Kevin kedepan pintu.
"Oke Mi." Jawab Kevin sambil mengacungkan jempol dan melambaikan tangan kearah Riko dan Jason.
"Sepertinya jadwal terapi hari ini kembali ditunda lagi. Kayaknya kamu memang nggak cocok mengikuti terapy semacam itu Son," ujar Riko.
Riko mengambil mangkok bubur yang sudah diletakkan Bi Inah diatas nakas.
"Kenapa?" tanya Jason. Jason sudah melirik waspada.
"Mungkin yang kamu butuhkan bukan terapy alergi. Melainkan terapy cinta," Maryam mengulum senyum mendengar kata dari Riko.
"Jangan bicara yang nggak bermutu. Bukannya sembuh nanti malah membuatku tambah sakit kepala," ujar Jason. Wajah Jason tampak masam.
"Ya udah Mi, Riko berangkat kantor dulu ya buat hendle kerjaan jason beberapa hari kedepan," ucap Riko.
Riko menyerahkan mangkok bubur pada Maryam agar tugas menyuapi Jason bisa digantikan.
"Kamu hati-hati ya nak. Kalau senggang jangan lupa istirat agar nggak ikut sakit, jangan lupa ntar jemput sidney," ujar Maryam
"Baik Mi," ucap Riko.
Riko segera pergi kekantor seorang diri.
"Nak. Apa benar kamu sakit karena kecapek'an? apa karena memikirkan tentang perjodohan yang Papi ajukan semalam?" tanya Maryam.
Maryam mengusap lembut puncak kepala putranya.
"Jason cuma kecapek'an Mi." Jawab Jason.
"Mami nggak mau kamu tertekan.Tapi mami juga harus mengingatkan kalau Mami tidak akan pernah merestui kamu untuk kembali dengan wanita itu," ujar Naryam.
Jason mengerti siapa yang Maminya maksud.
"Iya Mi." Jawab Jason singkat.
"Apa kamu sudah bisa move on dari dia?" tanya Maryam.
Maryam menaikkan alisnya tanda menyelidik.
"Untuk saat ini sepertinya sudah.Tapi Jason tidak tahu setelah bertemu dengannya." Jawab Jason berkata jujur.
"Lupakanlah dia. Wanita yang baik tidak akan menghianatimu hanya karena harta dan tahta. Riko bilang sepertinya kamu menyukai seorang gadis?" Maryam menatap dalam kearah Putranya.
"Jangan dengarkan dia. Jason nggak mau Papi sampai salah faham." ujar Jason terkesan cuek.
"Sayangnya Papi sudah mendengar hal itu," ujar Maryam.
"A-apa?....