Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJADI BAIK
Pagi ini suasana kembali ramai. Raditya telah kembali makan bersama keluarga itu. Nenek dan Bima saling tersenyum memberi kode. Kinan yang sebetulnya menyadari gelagat nenek dan kakaknya hanya berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Shanju turun dari tangga dan bergabung dengan mereka. Wajahnya terlihat murung.
"Kau makan nasi goreng apa mie?" tanya Kinan kepada anaknya.
"Terserah" jawab Shanju ketus. Seisi ruangan langsung menatap anak kecil itu. Tidak biasanya Shanju bersikap demikian. Ia biasanya selalu ceria dan penuh dengan cerita. Beberapa hari ini ia terlihat lebih banyak murung dan tak banyak bercerita. Sungguh seperti bukan Shanju.
"Kau sedang sakit?" tanya Kinan.
Shanju tak menjawab. Ia hanya menyantap makanannya tanpa menatap ibunya sedikitpun.
"Kalau begitu biar Ibu antar sekolah hari ini ya?" Kinan menawarkan diri. Ia masih penasaran dengan sikap anaknya.
"Tidak usah. Aku akan pergi dengan Paman Bima" jawab Shanju.
"Oh maafkan Paman, Shan. Paman tidak bisa mengantarmu hari ini, Paman sedang ditunggu bos paman untuk keluar kota pagi-pagi sekali"
Shanju nampak kecewa. Ia sedang berusaha menghindari Ibunya namun sepertinya ia tetap akan diantar oleh Kinan. Sekolah Shanju cukup jauh dari rumah, sehingga Shanju tidak mungkin untuk berjalan kaki ke sekolah.
"Biar Paman Radit yang antar ya?" ujar Radit menawarkan diri. Shanju hanya terdiam. Ia pun sebenarnya tidak ingin diantar oleh Raditya.
Raditya dan Shanju berangkat ke sekolah dengan motor butut Bima. Bima sendiri berjalan kaki ke toko nya. Sedang Kinan akan ke pasar naik angkutan umum. Hari ini nenek sendirian di rumah setelah dua hari kemarin sibuk dirumah sahabatnya untuk membuat kue.
Selama di perjalanan, Shanju sama sekali tidak berbicara. Raditya merasakan hal yang aneh terjadi pada diri anak itu. Ia pun mencoba untuk bertanya.
"Apa ada yang mengganggumu di sekolah, Shan? Kulihat akhir-akhir ini kau selalu murung. Kau mau bercerita dengan Paman? kau kan suka sekali bercerita"
"Tidak apa-apa" jawab Shanju singkat. Membuat Raditya berpikir untuk mencari topik pembicaraan lain.
"Kau mau es krim? Bagaimana nanti pulang sekolah kita beli es krim di toko langganan mu itu"
"Nanti aku akan pulang sendiri. Paman tidak perlu menjemputku. Aku akan ikut dengan temanku"
"Oh. Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus hati-hati ya"
Sampailah mereka berdua di sekolah Shanju. Anak itu turun tanpa berpamitan kepada Raditya. Ia berlari memasuki gerbang sekolah tanpa sedikitpun menoleh kearah Raditya. Radit mulai bertanya-tanya. Kenapa Shanju terlihat tidak menyukai ku? Ia sangat berbeda dengan Shanju yang dulu sangat dekat denganku? Apakah aku berbuat salah kepadanya atau jangan-jangan...
Raditya memacu motornya dengan cepat. Ia segera menuju ke kedai Kinan. Sepuluh menit kemudian ia telah sampai di kedai Kinan. Wanita itu baru saja pulang dari pasar dan mulai bersiap untuk memasak. Raditya masuk tanpa bersuara, membuat Kinan terkejut dan berteriak.
"Kau sudah gila? apa kau mau membuatku mati kena serangan jantung?"
"Dari kemarin kau bilang aku gila, gila dan gila"
"Kau datang mengagetkanku saja. Ada apa kau kesini?" tanya Kinan sembari melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Shanju terlihat murung beberapa hari ini. Kau tak menyadari itu?" tanya Raditya. Kinan hanya mengangguk.
"Dia tak seperti biasanya. Hari ini sepertinya ia tak menyukaiku. Ia bahkan tidak mau kujemput pulang sekolah. Apa kau tak berpikir mungkin ia melihat kita semalam?"
Kinan berhenti memotong sayur. Lalu melihat Raditya dengan tatapan penuh arti. Jangan-jangan apa yang dibicarakan Raditya ada benarnya.
"Tidak mungkin. Sudahlah, jangan dibahas lagi" ujar Kinan mencoba untuk berpikir positif. Raditya menghampiri Kinan, lalu meraih tangannya.
"Apakah arti ciuman semalam adalah kau juga menyukaiku?"
"Apakah aku seperti gadis gila yang mau mencium laki-laki secara random?" tanya sinis Kinan. Raditya tertawa puas.
"Radit.. aku ingin kau mengabulkan permintaanku"
"Apa itu?"
"Kembalilah ke rumahmu dan kembalilah bekerja di perusahaan."
Raditya terdiam namun kemudian mengangguk.
"Baiklah kalau itu permintaan kekasihku" jawab Radit dengan menggoda Kinan. Wanita itu seketika memukul punggung Radit.
"Kau ini kukira sangat dingin dan angkuh, ternyata bisa jadi bucin juga"
"Apa itu bucin?"
"Budak Cinta. Ha..ha..ha..ha" kelakar Kinan. Radit hanya manyun namun juga merasa bahagia. Ia memang sedang berada di langit-langit. Melayang karena hatinya penuh dengan kupu-kupu. Ia tak pernah merasakan jatuh cinta yang seperti ini sebelumnya.
Kinan memang hanya gadis biasa. Wajahnya sangat manis namun jika dibandingkan dengan para wanita cantik yang mengelilingi Radit, penampilannya terlalu sederhana. Kinan tak pernah berdandan, wajahnya selalu polos. Satu-satunya make up yang ia pakai adalah lipstik. Itupun sangat tipis karena ia menghemat pengeluaran untuk dirinya sendiri.
Ketika di luar rumah, ia pun berpenampilan sangat kasual. Biasanya ia memakai celana jeans, kaos ataupun sweater. Jarang sekali ia memakai gaun atau rok. Ia hanya mempunyai satu gaun yang biasa ia pakai untuk datang ke hajatan. Gaun itupun sudah bertahun-tahun ia punya.
Kinan hanya beberapa kali berkencan dengan laki-laki. Setelah bercerai dengan Shandy, ia sebenarnya beberapa kali membuka hati kepada laki-laki di luar sana. Namun seringkali hubungannya kandas karena status Kinan yang mempunyai anak satu. Kini, akhirnya ia mampu untuk menyukai laki-laki lagi dalam hidupnya. Yang bahkan seseorang yang tak pernah ia bayangkan bisa menyukai dirinya yang sederhana.
Raditya Abhimanyu, seorang pengusaha muda yang hanya menjentikkan jari untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan, jatuh cinta kepada seorang gadis yang bahkan tak pernah terlintas dibenaknya untuk disukai. Raditya mempunyai segalanya, wajah tampan, badan sempurna, kaya raya, berpendidikan tinggi, status sosial dan lingkungan yang luar biasa. Dengan itu semua, ia adalah pangeran impian banyak gadis di luar sana. Namun apa yang terjadi padanya saat ini, ia bahkan tak mempedulikan segala yang ia miliki. Ia hanya ingin bersama dengan Kinan.
...***...
Sebuah mobil mewah berhenti di lobi sebuah gedung pencakar langit. Seorang laki-laki keluar dari mobil yang dengan segera disambut oleh satpam. Satpam itu lantas menunduk sambil menengadahkan tangan bermaksud meminta kunci mobil bosnya.
"Pak Heru, di dalam mobil ada parsel buah. Ambil saja dan bagi-bagi dengan satpam yang lain ya. Ini ada sedikit uang untuk beli rokok" Raditya menyerahkan kunci mobil dan beberapa lembar uang. Satpam itu hanya melongo sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih. Raditya berlalu sambil tersenyum. Ia merasa lucu melihat ekspresi para sekuriti yang melihatnya.
Raditya memasuki kantor dengan wajah berseri-seri. Setelan jas, sepatu mengkilat, rambut tertata rapi juga bau parfumnya begitu menarik setiap mata yang melihatnya berjalan dengan sangat percaya diri. Satu hal yang paling mencolok adalah senyum di wajahnya. Raditya yang biasa dikenal karyawannya adalah bos dingin yang bahkan tak pernah mau bicara dengan bawahannya. Kali ini, ia bahkan menyapa setiap karyawan yang ia temui.
Raditya berjalan menuju Pantry. Sesampainya di sana ia langsung mencari Bang Miko. Beberapa OB dan OG juga sedang berada di pantry terkejut melihat Radit kembali ke kantor.
"Boss!!" pekik Bang Miko melihat Raditya. Raditya tersenyum lalu memeluk Bang Miko. Hal itu membuat Bang Miko membeku. Ia tak menyangka Raditya mau memeluknya. Ia bahkan tak berani membalas pelukan bossnya itu. Teman-teman Miko saling berpandangan. Mereka juga terkejut dengan tingkah Raditya.
"Aku merindukanmu Bang. Bagaimana jika kau buatkan aku kopi dan kita minum kopi di ruanganku. Aku ingin bercerita banyak hal denganmu. Okay?"
"Okay" jawab Bang Miko dengan kaku. Tapi ia terlihat sangat bersemangat. Raditya melihat sekeliling. Ia nampak mencari seseorang.
"Kau, dimana kekasihmu?" tanya Raditya kepada salah satu OB.
"Maaf Boss, saya tidak akan berpacaran di kantor lagi. Pacar saya sudah resign kok" jawabnya terbata-bata. Ia nampak ketakutan. Raditya menghampirinya lalu menepuk pundak OB itu.
"Aku yang minta maaf. Bagaimana bisa aku memisahkan dua orang yang sedang jatuh cinta? kalian pasti tengah bekerja keras untuk mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan, kan? Ajak pacarmu bekerja kembali di kantor. Aku akan menaikkan gaji kalian semua mulai bulan depan."
Raditya kembali membuat seluruh pegawai pantry melongo. Alih-alih bersorak karena gembira, mereka malah tak percaya dengan sikap Raditya. Bang Miko bahkan mencubit tangannya, mencoba untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi saat ini. Raditya keluar pantry dengan tertawa cekikikan. Ia tak menyangka berbuat baik malah membuat mereka bingung.
"Bang Miko, apakah itu benar-benar boss Raditya? Apa yang terjadi padanya?" tanya seorang OB dengan masih memperhatikan Raditya yang berjalan menjauhi pantry.
"Aku bahkan masih merinding sekarang. Dia benar-benar berubah." jawab Miko.
...***...
Kinan terdiam di depan pintu kamar VVIP. Ia ragu untuk membuka pintu ataukah kembali. Seorang suster keluar dari balik pintu, membuat Kinan terkejut dan melangkah ke belakang dengan tiba-tiba. Ia hampir terjatuh karena tidak seimbang.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya suster itu sambil memegang tangan Kinan. Kinan mengangguk lalu melongok mencari tahu keadaan di dalam kamar. Suster itu nampaknya mengerti.
"Masuk saja Bu. Ibu Merliana baru saja bangun dari tidur."
Kinan menggeleng pelan, "Saya minta tolong saja ya suster. Tolong berikan ini kepada beliau." ucap Kinan sembari memberikan sebuah rantang kecil berisi makanan. Suster itu tersenyum lalu masuk ke dalam kamar.
Kinan segera berlari menjauhi kamar itu. Ia tak ingin Bu Merliana melihatnya. Ia masih terlalu takut untuk bertemu dengan Ibu Raditya. Ia benar-benar tidak mempunyai nyali untuk itu.
Sesampai di depan lift, ia bertemu dengan Nuri yang baru saja keluar. Nampaknya ia akan menuju kamar Bu Merliana. Mereka berdua sama-sama terkejut. Nuri dengan cepat menarik tangan Kinan dan membawanya ke lorong sepi.
"Apa yang kau lakukan disini? kau mau mendekati Bu Merliana?" tanya Nuri dengan nada ketus.
"Aku hanya ingin menjenguknya. Tidak lebih dari itu"
"Kau tahu ini!" Nuri menunjukkan cincin di jari manisnya, "Aku dengan Raditya telah bertunangan. Kami hanya tinggal menentukan hari untuk menikah. Kumohon sadarlah! kau bukan siapa-siapa. Pergilah sejauh mungkin, jauhi tunanganku! Aku tidak mau bersaing dengan wanita sepertimu" ancam Nuri dengan sungguh-sungguh. Matanya penuh dengan amarah.
Nuri meninggalkan Kinan sendirian. Sedangkan Kinan hanya terdiam. Tak bereaksi sama sekali. Ia merasa bersalah. Ia berpikir apa yang dikatakan Nuri ada benarnya. Bagaimanapun juga Raditya adalah tunangan Nuri, betapa lancangnya ia mencium laki-laki yang telah bertunangan? Lebih lancang lagi karena ia mulai mencintai laki-laki itu.
...***...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?