Annisa tak dapat memungkiri betapa hatinya sakit ketika mendapati suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi ia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk dimadu.
Tapi meskipun hatinya sakit, ia tetap berjuang untuk menata hatinya yang remuk, dan memulai menjalin hubungan dengan istri kedua suaminya, layaknya kakak beradik.
"aku tak lagi memiliki cemburu. karena semua
rasa yang kumilki buat suamiku hanyalah sebentuk rindu," bisik Annisa.
"satu hal yang perlu kita ketahui tentang sebuah poligami, jangan sampai kebolehan yang sudah Allah tetapkan itu dijadikan sarana untuk mengumbar hawa nafsu. karena pernikahan itu kan bukan sekedar urusan icip-icip atau rasa merasai, jika di ibaratkan sebuah masakan," ucap Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jannah Zein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jodoh Yang Terbaik
*BAB NIKAH (PERKAWINAN)
Menurut bahasa, nikah berarti berkumpul menjadi satu, sebagaimana dikatakan orang arab "pepohonan itu saling bernikah" jika satu sama lainnya bercondongan dan saling mengumpul.
Menurut syara' adalah suatu aqad yang berisi pembolehan melakukan persetubuhan dengan menggunakan lafadh menikahkan atau mengawinkan. Kata nikah itu sendiri secara hakiki bermakna aqad dan secara mazajiy bermakna persetubuhan, menurut pendapat yang lebih shahih...
Kalimat demi kalimat, baris demi baris isi kitab Fathul Mu'in di bacakan oleh Ustadz Amin dengan di sertai penjelasan yang gamblang. Beliau yang satu ini memang piawai menjelaskan. Karena memang ahlinya di bidang ilmu fikih. Bahkan beliau menjabat di komisi fatwa di MUI kab. Banjar.
Bahkan sesekali beliau juga membacakan Syarah kitab Fathul Mu'in itu, yaitu I'anatut Thalibin untuk mendapat penjelasan yang lebih rinci.
*Sunnah pula berkhutbah sebelum khotbah(meminang) dan sebelum ijabah (penerimaan) pinangan.
Untuk semua khutbah itu, sang khatib membuka dengan puji dan puja kepada Allah, kemudian shalawat salam untuk Rasulullah Saw, kemudian berwasiat agar melakukan taqwa, kemudian dalam khutbah sebelum khotbah (oleh pihak lelaki) mengatakan "saya datang kepada kalian karena senang terhadap wanita/pemudimu yang mulia itu"; Kalau dia wakil, maka mengatakan "Muwakkilku datang kepada kalian untuk meminang wanitaku yang mulia itu,"
Kemudian wali atau wakilnya mengemukakan khutbah seperti di atas, kemudian mengucapkan, "saya bukan tidak suka padamu,'
Sunnah bagi wali atau wakilnya sebelum di laksanakan aqad nikah terlebih dahulu mengatakan "saya akan mengawinkanmu atas perintah Allah Azza Wa Jalla agar di pelihara dengan baik atau di lepaskan dengan bagus.
Ustadz Amin mengakhiri pengajarannya dengan kalimat Hamdallah dan berdoa. Bel tanda waktu istirahat telah berbunyi. Beliau menutup kitab setelah memberi batas pada lembarannya.
Setelah ustadz Amin berlalu meninggalkan kelas, barulah para santriwati berdiri dan berjalan keluar kelas. Zahra menghela nafas lega. Tiba-tiba Ifah menggamit lengannya.
"Zahra, ke kantin yuk."
Zahra menggelengkan kepala.
"Shalat ashar dulu, Ifah. Baru mikir makan."
Zahra berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu kelas. Ifah mengiringi langkahnya yang agak tergesa menuju tempat wudhu.
"Zahra, Aku tu yaa masih aja gak habis pikir, kok bisa-bisanya Abah Kamu itu menjodohkan Kamu dengan laki-laki yang udah beristri."
Astaga.. Masih aja kepo ini anak. Wanita itu menggelengkan kepala.
"Udahlah, Ifah. Ngapain juga itu mulu di bahas? Kaya gak ada topik pembicaraan lain aja."
Zahra segera melepas jilbabnya dan segera berwudhu. Ifah pun juga melakukan hal yang sama.
"Nanti setelah shalat, Kita makan bakso di kantin yuk. Aku traktir deh.."
Mereka tengah melangkah menuju musolla usai berwudhu tadi.
"Asyikk.. Yang gratisan emang selalu di harapkan." Ifah mengacungkan jempolnya.
Lumayan kan uang jajan utuh. Maklum anak santri yang jauh dari orang tua. Hehe..
Sementara Zahra hanya menggelengkan kepala. Mimpi apa dia semalam punya teman sebangku seperti ini..?
*************
Hari ini hari Sabtu. Akhir pekan yang indah. Annisa tengah asyik berkutat dengan laptopnya dengan di temani suara indah syekh Mishari Rashid Al Afasy.
*Hai sekalian manusia, bertaqwa lah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharaan) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila mana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Masih dua hari lagi waktunya untuk bertemu dengan suaminya. Dia menghela nafas. Selama bukan masa gilirannya, dia memang memilih untuk tidak menghubunginya, kecuali kalau darurat tentunya. Dia di tuntut harus bisa menjaga perasaan madunya.
Tok tok tok.
Suara ketukan terdengar dari luar. Annisa segera bergegas berjalan menuju pintu.
Ceklek.
"Assalamu alaikum."
Annisa terpekik gembira.
"Mama." Annisa menghambur ke dalam pelukan ibu.
"Apa kabar Nak?" ibu mengelus kepalanya dengan sayang.
"Nisa baik, Ma. Nisa baik-baik aja."
Dia melepaskan diri dari pelukan ibu. Di layangkannya pandangan. Ah, ternyata beliau rupanya tidak sendiri. Ada kak Rania, istrinya kak Yahya ikut serta.
"Kak," serunya menyalami dan mencium tangannya.
Sebenarnya kak Rania itu seumuran dengannya. Tapi karena dia adalah iparnya, Annisa harus memanggilnya kakak.
Pandangan matanya akhirnya tertuju pada penampilannya saat ini. Perutnya yang terlihat semakin membesar di bandingkan saat kemarin mereka bertemu di salah satu acara keluarga.
Annisa mencoba mengelus perut besar itu..
"Hai Ading.."
Kak Rania tertawa lepas.
"Iya Acil," sahutnya dengan menirukan suara anak kecil.
Annisa terkekeh..
"Ya udah, ayo masuk dulu Kak, Ma." Annisa mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Nak, apakah suamimu memperlakukanmu dengan baik?" tanya ibu setelah Annisa mendaratkan tubuhnya di sofa dekat tempat duduk ibunya
Annisa mengangguk.
"Sangat baik, Ma. Bahkan setelah beristri dua ini, dia tetap memperlakukan Nisa dengan baik. Sama seperti sebelumnya." Annisa berusaha meyakinkan ibunya.
Mereka mengangguk.
"Kamu baru aja di madu, Nisa. Jangan terlalu mudah mengambil kesimpulan." Kak Rania melirik ibu.
"Maksudnya, perjalanan rumah tangga Kalian masih panjang. Masih banyak kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Kamu harus siap ke depannya," sambung kak Rania lagi.
Annisa mengangguk.
"Nisa minta maaf ya Kak, kalau jalan yang Nisa pilih membuat Kalian khawatir. Nisa tahu, itu Kalian lakukan karena kalian semua sayang sama Nisa. Kak Rania, Kak Yahya, Mama, tak perlu merasa cemas."
"Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Dan satu hal, Nisa takkan pernah menyesali keputusan yang Nisa ambil. Begitupun juga, Nisa tak pernah menyesali keputusan almarhum Abah yang menjodohkan Nisa dengan Kak Fikri. Nisa yakin, Kak Fikri adalah jodoh yang terbaik untuk Nisa."
"Jodoh itu sama seperti halnya rezeki, Kak. Sama seperti rezeki, jodoh juga takkan pernah tertukar. Yang Kita lihat tidak baik di dalam pandangan manusia, belum tentu tidak baik juga di mata Tuhan. Begitu pula sebaliknya. Setiap orang sudah di tentukan segala sesuatunya oleh Tuhan. Tinggal Kita saja lagi yang harus memetik hikmah dari setiap peristiwa yang Kita alami."
"Tapi apa kamu tidak sakit hati Nisa? Kalo aku jadi kamu mah, sudah kugugat cerai tu orang?" Pertanyaan itu terdengar begitu sinis.
Annisa tergelak.
"Nisa juga wanita biasa, Kak. Bukannya istri nabi atau istri para Waliyullah. Pastilah juga merasa sakit hati."
"Tapi Nisa rasa, tidak perlulah kesedihan itu berlarut-larut. Karena hidup akan terus berlanjut. Tak perlu merasa dunia telah kiamat karena suami menikah lagi."
"Beberapa hari di awal, Nisa memang sedih, drop, merasa diri tak berharga. Tapi semakin kesini, justru Nisa semakin tenang. Sejak tinggal di rumah ini, Nisa makin memahami skenario Allah, kenapa Nisa harus di poligami. Nisa fokus untuk mendekatkan diri dan mencintai Allah. Dan Nisa menemukan kebahagiaan Nisa, Kak."
Wanita di hadapannya itu tercenung. Kemudian manggut-manggut. Annisa melirik ibu yang duduk di sampingnya. Dia melihat ada yang basah di pipi ibu. Annisa menghambur dalam pelukan hangat ibu. Tak terasa air matanya ikut menetes.
"Mama yang tenang ya. Nisa baik-baik saja koq.*"
Ibu menganggukkan kepala.
"Mama akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu, Nak. Jalanilah apa yang seharusnya Nisa jalani. Mama akan selalu mendukungmu."
Annisa balas menganggukkan kepala.
"Terima kasih, Mama,"
*****************
*Kitab terjemahan Fathul Mu'in jilid 3, Drs. H. Alih As'ad, hal 1 dst.
*Terjemah QS. An-nisa ayat 1-3.