NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah sesi kelas pagi yang cukup membuat mata berair karena dosen terlalu bersemangat menjelaskan sistem operasi hingga ke akar-akarnya, Kanza Arumi dan Tasya akhirnya meluncur ke kantin kampus.

Mereka memilih duduk di meja pojok yang cukup strategis: dekat kipas angin dan jauh dari tatapan senior yang suka iseng mencari mangsa.

“Gue lapar banget, Tas,” keluh Kanza sambil menumpuk tiga piring di nampannya dengan rakus.

“Tulang-tulang gue udah kerasa kayak mie instan yang direbus lima kali, lembek dan tak berdaya. Gue butuh nutrisi tingkat tinggi untuk regenerasi sel-sel yang rusak semalam.”

Tasya mengangkat alis, menatap tumpukan lemak dan protein di depan sahabatnya itu.

“Tapi kenapa lo ngambil ayam goreng, tempe, nugget, sama sosis semua sekaligus? Itu piring atau miniatur peternakan?”

Kanza duduk dan meletakkan nampannya dengan bunyi ‘duk’ yang menggelegar, membuat beberapa mahasiswa di sekitar menoleh.

“Gue balas dendam. Semalam gue nggak bisa tidur nyenyak. Perut lapar tapi badan nggak bisa bangun, rasanya kayak dikunci dari dalam. Semua nyeri, Tas! Jalan ke kamar mandi aja gue kayak ngerayap. Mas Hanan sampai masakin bubur ayam jam satu pagi, tapi katanya gue makannya sambil mewek saking capeknya.”

Tasya tertawa setengah mati sampai memegangi perutnya.

“Astaga… lo kayak bayi baru belajar jalan, Kanza!”

“Bayi mana yang digeprek dulu baru belajar jalan? Ini mah namanya pemulihan pasca-bencana!” balas Kanza sambil menyendok nasi dengan semangat juang 45.

Tak lama kemudian, suasana tenang itu terusik. Suara beberapa mahasiswi baru di meja seberang terdengar cukup nyaring, membicarakan topik yang sangat familiar di telinga Kanza.

“Eh iya ya, dosen Matkul Pemrograman itu, yang namanya Pak Hanan Arkan, duh... suara dia tuh kayak madu di pagi hari. Bikin telinga adem tapi hati meronta-ronta.”

“Gue suka banget liat dia jalan kalau lagi masuk kelas. Karismatik banget, kayak lagi jalan di runway Paris Fashion Week.”

“Dan lo liat nggak sih, pas dia buka jas terus cuma pakai kemeja slim fit yang lengannya digulung? Pfffft… fix gue jatuh cinta. Gue rela deh remedial tiap minggu asal yang ngawas dia.”

Kanza yang tengah menyendok ayam goreng, langsung menghentikan gerakannya seketika.

Sendok itu menggantung di udara, sedikit gemetar. Tasya yang menyadari perubahan aura di depannya langsung menatap Kanza waspada.

“Kanza… tenang… tarik napas… istigfar…” bisik Tasya.

Tapi tentu saja, kata 'tenang' tidak ada dalam kamus Kanza Arumi hari ini.

Kanza menoleh pelan ke arah meja sebelah dengan senyum lebar yang dipaksakan, tipe senyum yang menyimpan badai kategori lima.

Aura "Nyai" mulai muncul dari setiap pori-pori wajahnya. Ia berbisik pada Tasya tanpa melepas pandangan dari maba-maba itu.

“Sya… daging ayam ini mendadak terasa hambar, seperti dendam yang harus segera dihidangkan panas-panas.”

Tasya tertawa tertahan sambil menutup mulutnya dengan tisu.

“Kanza, jangan gitu, mereka cuma MABA polos!”

Kanza mengabaikan peringatan Tasya. Ia menoleh sedikit ke arah cewek-cewek itu dan berucap dengan suara yang dikontrol sedemikian rupa agar terdengar jelas.

“Aduh, gue tuh ya... suka kasihan sama cewek-cewek yang kebanyakan ngimpi siang bolong. Apalagi kalau ngimpinya sama dosen ganteng... padahal mereka belum tahu, tuh dosen kalau lagi di rumah, aslinya manja minta ampun, suka kentut sembarangan sambil baca skripsi mahasiswanya.”

Cewek-cewek maba itu langsung terdiam kaku. Suasana meja sebelah mendadak sedingin kutub utara.

Tasya nyaris tersedak nasi, wajahnya memerah menahan tawa yang meledak.

“Kanza… tolong... jaga perasaan mereka yang sedang berbunga-bunga itu...”

“Yang jaga perasaan gue siapa, Tas?!” balas Kanza setengah berbisik namun penuh penekanan.

“Mereka naksir suami orang, Tasya! Suami orang! Emangnya mudah jadi istri legal yang kakinya nggak bisa dilipat seharian penuh gara-gara 'servis' Pak Dosen yang mereka puja itu?!”

Tasya langsung memukul meja, tak tahan lagi. Ia tertawa sejadi jadinya, karena melihat kepolosan Kanza.

“Gue juga nggak kuat... hidup ini berat, Tas. Berat kayak badan gue yang nggak bisa diajak berdamai habis dihajar hak suami yang gaspol tanpa rem,” ucapnya sambil menatap langit-langit kantin dengan tatapan penuh drama, seolah meratapi nasib fisiknya yang malang.

Cewek-cewek di sebelah hanya bisa terdiam seribu bahasa, pura-pura sibuk dengan ponsel mereka sambil menunduk malu.

Kanza kembali menyantap makanannya dengan perasaan penuh kemenangan, seolah baru saja memenangkan perang wilayah.

“Yang penting sekarang... nasip aman, hati lega, dan pemilik sah tetap yang berkuasa.”

Tasya mengangguk pelan sambil menyeka air mata saking lucunya.

“Dan satu lagi, Kanza... korban patah hati internasional terselamatkan dari harapan palsu… untuk hari ini.”

Kanza masih dengan ekspresi puas, seolah baru memenangkan lomba sindiran antar-semesta, menyendok nasi sambil sesekali menyuap potongan ayam goreng ke mulutnya dengan gaya kemenangan.

Tasya belum pulih dari tawa. Ia menepuk-nepuk dada sendiri, mencoba menenangkan perut yang mulai keram akibat tertawa terlalu keras.

“Lo itu ya... fix bisa jadi stand-up comedian kalau kuliah ini nggak jalan. Materi lo orisinal banget, dari bilik ranjang langsung ke meja kantin!”

Baru saja Kanza ingin membalas dengan kalimat yang lebih bar-bar, tiba-tiba langkah sepatu berderap memasuki kantin.

Suaranya tenang, namun berwibawa, sanggup membelah kebisingan kantin dalam sekejap.

“Lah...,” gumam Tasya pelan. Ekspresi wajahnya berubah drastis dari geli menjadi cemas luar biasa.

“Kan... KANZA... KANZA ARUMI…”

Kanza mengunyah pelan, alisnya bertaut bingung, lalu ia menoleh. Satu detik. Dua detik.

“ASTAGFIRULLAH—” Kanza nyaris menumpahkan air esnya ke baju sendiri.

Hanan Arkan berdiri di pintu kantin. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang digulung rapi di bagian lengan, memperlihatkan jam tangan maskulin yang melingkar kokoh.

Ekspresinya datar namun tegas. Matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti... tepat pada istrinya yang sedang mengganyang ayam sambil membakar emosi wanita lain beberapa saat lalu.

Kanza mendadak mematung. Mulutnya masih penuh dengan nasi. Matanya melebar seperti rusa yang tertangkap lampu mobil di tengah hutan.

Hanan melangkah pelan mendekat, membawa aura suami dosen tampan bersertifikasi halal yang membuat beberapa mahasiswi di sekitar langsung mendadak sibuk membenarkan kerudung dan duduk tegak sesempurna mungkin.

Cewek-cewek meja sebelah yang tadi ribut langsung diam seperti patung lilin.

Bahkan salah satu dari mereka terlihat hendak sembunyi di balik tas ransel besar, seolah berharap bisa menghilang ditelan bumi.

Hanan tiba di meja Kanza dan Tasya.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya tenang, suaranya rendah namun berwibawa.

Kanza buru-buru menelan makanannya nyaris tanpa dikunyah, membuat tenggorokannya sedikit perih.

“Wa- wa’alaikumussalam, Pak…”

Tasya menunduk dalam-dalam, tiba-tiba menjadi sangat khusyuk memotong telur dadar seolah sedang melakukan operasi bedah saraf.

Hanan memandang Kanza sebentar, lalu dengan santai menarik kursi di sebelah istrinya dan duduk.

“Tumben makan siang di sini. Biasanya kan kamu ngeluh nasi kantin teksturnya kayak kardus bekas.”

Kanza tertawa garing, suaranya naik satu oktav karena gugup.

“H-hehe… itu kan dulu, Pak. Sekarang beda. Kantin kita sudah berkembang pesat. Ada... ada improvement rasa dan estetika…”

Hanan menatapnya tenang, tatapan yang membuat Kanza merasa seperti sedang disidang skripsi.

“Tadi Mas denger dari ujung koridor. Suara kamu merdu sekali sampai luar. Ngomongin dosen yang suka kentut sambil baca skripsi, ya? Menarik juga topiknya.”

Kanza langsung menoleh ke arah Tasya dengan tatapan minta tolong yang putus asa.

“Tasya, tolong. Kalau nanti gue dikeluarkan dari kampus atau dikunciin di kamar, bilang ke Mama... gue gugur dalam tugas negara menjaga kehormatan rumah tangga.”

Tasya menahan tawa sekuat tenaga hingga bahunya berguncang.

Hanan menaikkan alis. “Mas sempat mikir, kamu lagi bahas siapa dosennya... Tapi pas lihat kamu duduk di meja ini sambil melirik maut ke meja sebelah, Mas langsung tahu jawabannya.”

Kanza menatap Hanan, wajahnya campur aduk antara malu, gugup, dan geli yang tertahan.

“Paak... itu tadi cuma bercanda doang. Itu... buat motivasi hidup teman-teman mahasiswa. Supaya nggak cuma bisa ngimpi, tapi juga usaha cari jodoh yang halal dan jelas asal-usulnya. Hehehe…”

Hanan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, tampak sangat menikmati ketidakberdayaan istrinya.

“Motivasi ya... pakai metode menjatuhkan reputasi suami sendiri?”

Tasya diam seribu bahasa. Cewek-cewek meja sebelah semakin menunduk, salah satu dari mereka mulai membereskan alat makannya dengan tangan yang sedikit gemetar karena malu sekaligus takut.

Kanza melirik ke arah mereka dengan iba, lalu berbisik pelan pada suaminya.

“Pak... sudah, jangan bikin mereka trauma makan di kantin. Kasihan mentalnya…”

Hanan tersenyum tipis, senyum yang membuat separuh penghuni kantin menahan napas.

“Mas nggak bilang apa-apa. Cuma lewat dan nyapa istri sendiri, memangnya nggak boleh?”

Kanza mengangguk cepat seperti mesin.

“Boleh, boleh banget. Malah wajib hukumnya. Sunnah muakkad, Pak!”

Tasya akhirnya tak tahan lagi dan melepaskan tawa pelan yang sedari tadi ia bendung.

Hanan berdiri, merapikan kembali jam tangannya dengan gerakan yang sangat tenang.

“Mas balik ke ruang dosen dulu. Jangan membuat keributan lagi ya, Kanza.”

Kanza mengangguk patuh seperti anak TK yang baru saja diomeli guru kelasnya.

Hanan berbalik dan berjalan tenang, meninggalkan jejak aroma parfum maskulin dan aura ‘suami idaman’ yang menyelimuti udara kantin.

Begitu sosok Hanan hilang di balik pintu, Kanza langsung membungkuk dan membenturkan jidatnya pelan ke meja.

“ANJIR... KENAPA SI OM ITU KAYAK PEMBINA UPACARA?! MENGGERTAK DENGAN KESANTUNAN TINGKAT TINGGI!”

Tasya menertawakan Kanza hingga matanya berair.

“Gila… gila lo, Kanza. Itu cowok satu benar-benar pawang lo. Kalemnya kayak air zamzam tapi dinginnya bisa bikin beku seisi kantin!”

Kanza hanya bisa merintih pelan.

“Fix... hari ini gue nggak bisa makan enak lagi. Gue udah kenyang sama rasa malu yang tumpah-tumpah... dan sedikit bumbu cinta yang bikin jantungan.”

Langit mulai berubah jingga, semburat warna emas menandakan matahari bersiap pulang ke peraduannya.

Mahasiswa satu per satu mulai meninggalkan area kampus, menciptakan keramaian di depan gerbang.

Sebagian menunggu jemputan dengan wajah lelah, sebagian lagi masih asyik mengobrol ringan sebelum benar-benar pulang.

Kanza Arumi berdiri di sisi gerbang, satu tangannya menggenggam ponsel erat-erat, sementara tangan lainnya memegang tali tas selempang yang sudah agak miring karena beban buku.

Ia melirik layar ponselnya yang masih gelap, mengetuk-ngetuk sepatunya ke aspal dengan tidak sabar, lalu melirik lagi jam di layar.

“Udah lima belas menit… Mana nih sumber uang dan kebahagiaan gue? Jangan-jangan dibawa lari mahasiswi semester akhir yang butuh bimbingan batin,” gumamnya pelan, mulai menyusun skenario di kepalanya.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu memutuskan duduk di kursi besi pinggir gerbang dengan wajah yang mulai mencurigai seluruh semesta.

“Apa jangan-jangan... Om diculik alien? Atau... digandeng Bu Dosen buat bahas kurikulum baru yang isinya cuma mereka berdua? Atau... JANGAN-JANGAN DIA LAGI MANDANGIN KEMBANG DI TAMAN KAMPUS SAMBIL PUISI-PUISI?! Gak bisa dibiarin!”

Kanza langsung berdiri tegak, gelisah bukan main. Matanya menyapu sekitar dengan radar kecemburuan yang aktif seratus persen.

Sementara itu, jauh di area parkiran khusus dosen yang lebih tenang dan teduh, suasana terasa jauh berbeda.

Hanan Arkan baru saja hendak membuka handle pintu mobilnya, namun gerakannya terhenti saat langkah ringan namun ragu-ragu mendekat dari arah belakang.

Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang; aroma parfum dan irama langkah itu sudah cukup familiar di masa lalu.

“Apa Mas punya waktu sebentar?” suara Zahira terdengar pelan, namun cukup jelas memecah kesunyian parkiran.

Hanan menoleh perlahan. Wajahnya tetap tenang, datar, dan tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan atau ketegangan. Ia berdiri tegak, menjaga jarak profesional yang sangat tegas.

“Ada apa, Zahira?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi sedikit pun.

Zahira berdiri dengan tangan saling menggenggam di depan perut, matanya tampak gelisah.

“Aku cuma… pengin tanya satu hal terakhir. Biar hati ini jelas, Mas. Biar aku nggak terus-terusan berjalan di ruang abu-abu.”

Hanan diam. Menunggu dengan kesabaran seorang pendidik, namun dengan ketegasan seorang suami.

“Mas... beneran nggak pernah punya perasaan sedikit pun sama aku?” tanya Zahira lirih, tapi matanya menatap lurus ke dalam manik mata Hanan.

“Sedikit aja... dari dulu, sebelum semua takdir ini terjadi…”

Hanan menunduk sedikit, menarik napas pendek yang tenang, lalu kembali menatapnya dengan kejujuran yang tajam.

“Kalau dari dulu Saya punya perasaan itu, Saya nggak akan pernah memutuskan untuk menikah dengan orang lain,” jawabnya datar namun menusuk tepat ke sasaran.

“Saya nggak pernah bermain dengan dua hati, Zahira. Apalagi dalam hal komitmen yang seserius ini. Bagi saya, janji di depan penghulu adalah akhir dari segala pencarian.”

Zahira terdiam membatu. Matanya sedikit berkaca-kaca, ada luka yang akhirnya mendapatkan jawaban mutlak.

Namun, ia tidak menangis di sana. Ia hanya mengangguk pelan, mencoba menyelamatkan sisa harga dirinya.

“Maaf sudah bertanya hal bodoh,” ucapnya singkat, sebelum berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang tampak berat.

Hanan tak menahan atau menambahkan kata apa pun. Ia hanya menatap punggung Zahira yang perlahan menghilang di balik deretan mobil, lalu menghela napas tipis.

Hatinya tetap tenang seperti telaga. Ia tahu persis apa yang dilakukannya dan kepada siapa seluruh hidupnya kini telah ia labuhkan.

Sementara itu, di gerbang kampus, Kanza sudah hampir meledak.

“MasyaAllah ini musang satu, jangan-jangan jatuh cinta sama pohon beringin di parkiran ya? Udah kayak orang ilang. Masa iya ketiduran di ruang dosen sambil meluk tumpukan skripsi?!”

Baru saja ia hendak menekan tombol panggil di ponselnya, sosok Hanan Arkan muncul dari kejauhan dengan langkah tenang yang menyebalkan karena tetap terlihat tampan meski di bawah tekanan omelan.

“CIH, MUNCUL JUGA NIH PRIA!” seru Kanza dalam hati, wajahnya langsung disetel ke mode drama Korea episode 48: bagian protagonis tersakiti.

Hanan berjalan mendekat. Begitu tiba di depan istrinya, Kanza langsung nyerocos tanpa titik koma.

“Mas... KANZA INI HAMPIR DICULIK SOPIR TAKSI ONLINE GARA-GARA NUNGGU DI GERBANG KELAMAAN! Mana tadi ada nyamuk kampus yang gigit-gigit, rasanya kayak lagi nunggu antrean sembako!”

Hanan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasanya langsung memadamkan api amarah Kanza.

“Maaf. Tadi ada yang ngajak ngobrol sebentar di parkiran. Nggak enak kalau langsung ditinggal begitu saja tanpa penjelasan.”

Kanza menyipitkan mata, menatap suaminya dengan penuh kecurigaan tingkat tinggi.

“Ngobrol? Sama siapa? Kenapa nggak jawab chat? Kenapa nggak bilang dulu kalau mau ada sesi konferensi pers di parkiran? Kenapa nggak bawa Kanza juga buat jadi saksi?!”

Hanan terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus puncak kepala Kanza dengan lembut, merapikan anak rambutnya yang keluar melalu cela hijap dikeningnya sebab terkena angin sore.

“Bukan sesuatu yang penting buat dibagi, Kanza. Intinya semua sudah selesai. Sekarang Mas sudah di sini, di depan kamu. Yuk, pulang.”

Kanza masih manyun, bibirnya maju beberapa senti, tapi akhirnya ia mengangguk juga karena usapan tangan Hanan memang selalu ajaib.

“Kanza pengin dibeliin es krim. Tiga mangkuk. Buat nutupin rasa sakit hati, rasa haus, dan pegel berdiri di gerbang kampus yang tidak berperasaan ini.”

Hanan tertawa renyah, merangkul pundak istrinya untuk menuju mobil.

“Baik, Yang Mulia Ratu Drama. Kita beli es krim sebanyak yang kamu mau sebelum pulang ke rumah.”

“Awas ya kalau pelit!” ancam Kanza, meski tangannya kini sudah melingkar erat di lengan suaminya, merasa aman dan menang.

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!