NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Panti Asuhan Saint Maria

Pagi itu, Raven, Aurora, Leo, dan Elena berangkat menuju Panti Asuhan Saint Maria.

Bangunan tua itu berdiri di pinggiran kota, dikelilingi pepohonan rindang yang membuat suasananya tenang. Cat dindingnya mulai memudar, tetapi tempat itu masih tampak terawat.

Begitu turun dari mobil, Raven memandangi gerbang besi yang berkarat.

Entah mengapa, ada perasaan asing yang muncul di dalam hatinya.

Seolah-olah ia pernah berada di tempat itu.

"Kenapa?" tanya Aurora.

Raven menggeleng pelan.

"Aku merasa tempat ini tidak asing."

Mereka berjalan masuk hingga disambut seorang biarawati tua.

"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"

Raven memperlihatkan dokumen yang dibawanya.

"Kami ingin mencari data lama tentang keluarga Valerio."

Mendengar nama itu, wajah biarawati tersebut langsung berubah.

"Kalian... dari keluarga itu?"

Raven mengangguk.

"Saya Raven Valerio."

Wanita tua itu terdiam beberapa saat, lalu mempersilakan mereka masuk ke ruang arsip.

Di ruangan yang dipenuhi lemari kayu itu, ia mengambil sebuah buku besar yang telah menguning dimakan usia.

"Sudah lebih dari dua puluh tahun tidak ada yang menanyakan keluarga Valerio."

Ia membuka halaman demi halaman hingga berhenti pada sebuah catatan.

"Tanggal ini..."

Biarawati itu menarik napas panjang.

"Malam setelah tragedi pembantaian keluarga Valerio."

Raven menatap catatan tersebut dengan saksama.

Di sana tertulis bahwa seorang pria membawa seorang bayi laki-laki ke panti asuhan.

Nama pria itu sengaja disamarkan.

Namun di kolom keterangan terdapat satu kalimat.

"Bayi ini harus dilindungi. Jangan beri tahu siapa pun identitasnya."

Raven mengepalkan tangan.

"Apakah bayi itu masih di sini?"

Biarawati menggeleng.

"Tidak."

"Beberapa bulan kemudian, seseorang datang mengadopsinya."

"Siapa?"

Wanita tua itu tampak ragu.

"Saya tidak bisa mengingat dengan pasti."

"Tapi saya masih menyimpan berkas adopsinya."

Ia berjalan menuju lemari paling belakang.

Saat hendak mengambil map tersebut...

Brak!

Jendela ruang arsip tiba-tiba pecah.

Dor!

Sebuah peluru menghantam lemari kayu hingga serpihan beterbangan.

"Merunduk!" teriak Raven.

Ia langsung menarik Aurora berlindung di balik meja.

Leo dan para penjaga membalas tembakan ke arah luar gedung.

Dor! Dor! Dor!

Suasana panti yang semula tenang berubah menjadi kacau.

Anak-anak kecil berteriak ketakutan.

Aurora segera berlari membantu para biarawati mengevakuasi mereka ke tempat yang aman.

Raven bersama Leo mengejar para penyerang.

Namun para pria bertopeng itu segera melarikan diri menggunakan mobil hitam.

"Sial!" geram Leo.

Saat mereka kembali ke ruang arsip, biarawati tua itu terduduk lemas di lantai.

Map adopsi yang tadi hendak diambil telah hilang.

"Mereka... mengambilnya..." ucapnya dengan napas tersengal.

Raven menutup matanya sesaat.

Musuh mereka kembali selangkah lebih cepat.

Namun sebelum pergi, salah satu penyerang ternyata menjatuhkan secarik kartu kecil.

Raven mengambilnya.

Di atas kartu itu hanya ada sebuah alamat.

Rumah Sakit Harapan, Ruang Arsip Bawah Tanah.

Di bagian belakang kartu tertulis satu kalimat.

"Kalau ingin menemukan saudaramu, datang sendiri."

Aurora memandang Raven dengan cemas.

"Itu pasti jebakan."

Raven menggenggam kartu tersebut erat.

"Mungkin."

"Tapi ini juga petunjuk pertama yang benar-benar mengarah pada saudara kandungku."

Tatapan Raven berubah penuh tekad.

Apa pun yang menantinya di Rumah Sakit Harapan, ia telah memutuskan untuk menghadapi semuanya.

Karena kini, ia bukan hanya mencari kebenaran tentang masa lalunya.

Ia juga mencari satu-satunya keluarga sedarah yang mungkin masih hidup.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!