Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aura mencoba fokus selama sisa jam kuliahnya, namun pikirannya terus melayang ke kata-kata Devan dan ekspresi panik Bram saat menyebut nama "Mahendra". Nama itu terdengar seperti nama keluarga besar, namun dalam konteks Devan, Aura tahu itu berarti ancaman yang jauh lebih besar daripada sekadar persaingan antarmagang.
Ketika kelas terakhir usai pada pukul empat sore, koridor kampus mulai sepi. Hujan deras kembali mengguyur kota, menciptakan tirai air yang membatasi pandangan. Aura membereskan buku-bukunya dengan lambat, berharap badai di luar sana mereda, atau setidaknya, Devan lupa pada ancamannya untuk mencarinya kembali.
Namun, harapan Aura hancur saat ia melangkah keluar dari lobi gedung Fakultas Hukum. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap gulita sudah terparkir tepat di depan tangga lobi, mengabaikan larangan parkir taksi atau kendaraan umum.
Pintu kemudi terbuka, dan Kenzo keluar sambil memegang payung hitam besar. Ia berjalan mendekati Aura yang berdiri terpaku di bawah atap lobi.
"Aura," panggil Kenzo, wajah datarnya tidak memperlihatkan emosi sama sekali. "Devan minta gue buat jemput lo."
Aura mundur selangkah. "Aku harus pulang, Kenzo. Ibuku sendirian di rumah, dan aku harus bekerja paruh waktu di kedai kopi nanti malam."
"Gue udah minta Tari buat gantiin shift lo malam ini, dan orang-orang kita sudah memastikan ibu lo di rumah aman, bahkan obatnya sudah diantar," balas Kenzo tenang, namun setiap kalimatnya terdengar seperti tekanan yang terukur. "Devan menegaskan kalau lo harus ikut gue sekarang. Ini bukan lagi soal tugas kampus, Aura. Ini soal keamanan lo sendiri setelah apa yang lo baca di laporan itu."
Aura mengepalkan tangannya. Kebebasannya benar-benar telah dirampas. Rasa kesal yang membakar membuatnya terpaksa melangkah maju, menembus rintik hujan di bawah payung Kenzo, dan masuk ke dalam kursi belakang mobil sedan tersebut.
Perjalanan sore itu membisu. Kenzo fokus mengemudi membelah kemacetan kota di bawah guyuran hujan, sementara Aura menatap keluar jendela, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang perlahan berubah menjadi kawasan pergudangan tua dan pelabuhan logistik di ujung utara kota. Distrik Utara. Tempat yang terkenal sebagai pusat perputaran uang sekaligus kriminalitas yang tinggi.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah kompleks pergudangan besar berpagar besi tinggi. Di sana, beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam tampak berjaga-jaga di bawah guyuran hujan. Kenzo membawa Aura masuk ke dalam salah satu gedung kantor berlantai dua yang terletak di dalam kompleks tersebut.
Begitu pintu ruangan utama di lantai dua dibuka, Aura langsung disuguhi pemandangan yang membuatnya menahan napas.
Ruangan itu tampak seperti pusat komando taktis. Di tengah ruangan, terdapat meja panjang yang dipenuhi dengan monitor pengawas dan beberapa peta digital. Devan berdiri di ujung meja, meregangkan otot lehernya yang tegang. Jaket denimnya sudah diganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan tato sulur hitamnya yang tampak kontras di bawah lampu neon yang terang.
Bram berdiri di dekat jendela sambil memegang sebuah tablet, sementara beberapa pria paruh baya dengan setelan jas rapi tampak berbicara dengan nada rendah yang serius.
"Dia sudah di sini, Dev," ucap Kenzo, memecah ketegangan di ruangan.
Devan menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Aura yang sedikit basah karena air hujan, ekspresi tegang di wajahnya sedikit mengendur, digantikan oleh tatapan tajamnya yang biasa. Ia memberi isyarat dengan tangannya kepada orang-orang berjas untuk meninggalkan ruangan.
"Keluar. Kita lanjutkan evaluasi rute logistiknya nanti," perintah Devan mutlak. Orang-orang itu mengangguk patuh dan segera keluar, menyisakan Devan, Bram, Kenzo, dan Aura di dalam ruangan.
Aura melangkah maju, meletakkan tas ranselnya di atas salah satu kursi kosong. "Kenapa kamu membawaku ke sini, Devan? Ini bukan tempatku."
Devan berjalan mendekati Aura, melipat kedua tangannya di dada. "Gue terpaksa membawa lo ke sini karena lo terlalu pintar untuk dibiarkan berkeliaran di kampus sendirian setelah tahu isi dokumen laporan magang gue."
"Aku sudah bilang, aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun!" seru Aura, frustrasi karena terus-menerus dicurigai. "Aku hanya ingin lulus kuliah dengan tenang!"
"Masalahnya, klan Mahendra baru saja meretas beberapa data sekunder dari firma hukum bokap gue," potong Devan, suaranya terdengar dingin dan serius. "Mereka mencari celah hukum yang sama dengan yang lo temukan semalam. Bedanya, kalau lo mengubah data itu untuk menyelamatkan laporan gue, mereka mencari data itu untuk menghancurkan jalur logistik keluarga gue di Pelabuhan Utara."
Aura tertegun. Ia mulai memahami gambaran besarnya. Dokumen yang ia edit semalam bukan sekadar kertas tugas akhir; itu adalah cetak biru pertahanan legalitas bisnis keluarga Devan.
"Jadi..." Aura menelan ludah. "Kamu membawaku ke sini karena takut aku ditangkap oleh mereka?"
"Gue membawa lo ke sini karena di tempat ini gue bisa mengawasi lo dua puluh empat jam," jawab Devan, melangkah lebih dekat hingga Aura bisa mencium aroma sisa kepahitan kopi dan ketegangan dari tubuh cowok itu. "Kalau mereka tahu ada mahasiswi hukum yang bisa merombak celah hukum klan Bratadikara dalam waktu satu malam, lo bakal jadi target utama mereka untuk diperas."
Aura menggelengkan kepalanya, merasa situasi ini semakin gila dari jam ke jam. "Ini urusan keluargamu, Devan. Bukan urusanku!"
"Sekarang jadi urusan lo, Good Girl," desis Devan.
Tiba-tiba, suara alarm berbunyi nyaring dari salah satu monitor pengawas yang dipegang Bram. Layar monitor menampilkan visual gerbang depan kompleks pergudangan. Tiga mobil jip hitam besar tampak memaksa masuk, menabrak barikade besi pagar depan hingga runtuh. Beberapa pria bersenjata turun dari mobil-mobil tersebut, langsung terlibat baku hantam dengan penjaga klan Bratadikara di luar.
"Dev! Mereka datang!" seru Bram, langsung menarik sebuah pistol dari balik jaketnya. "Orang-orang Gavin Mahendra nekat menyerang gudang utama!"
Kenzo dengan cepat bergerak ke arah meja komando, mengunci semua akses pintu digital gedung kantor. "Sistem pertahanan internal aktif, tapi mereka membawa banyak personel. Kita harus memindahkan Devan lewat jalur belakang."
Aura merasakan seluruh tubuhnya membeku. Suara tembakan terdengar samar dari luar, beradu dengan suara petir yang menggelegar. Ini nyata. Ini bukan lagi sekadar cerita fiksi romansa kampus yang sering ia dengar dari teman-temannya. Ini adalah wilayah perang mafia yang sesungguhnya.
Dalam kepanikan yang mulai menyerang kesadarannya, Aura merasakan sebuah tangan yang besar dan hangat mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Ia mendongak dan menemukan Devan sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat fokus, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Ikut gue, Aura. Jangan lepas dari tangan gue kalau lo masih mau ketemu ibu lo besok pagi," ucap Devan, suaranya terdengar begitu tegas dan protektif di tengah kekacauan yang mulai pecah.
Aura tidak punya pilihan lain. Di bawah bayang-bayang bahaya yang mengancam nyawanya, ia menggenggam balik tangan erat cowok yang paling ia benci di kampus itu, melangkah bersama menembus kegelapan malam di Distrik Utara.