NovelToon NovelToon
Istri SAH Yang Disia-siakan

Istri SAH Yang Disia-siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Identitas Tersembunyi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Irmayani Mursid

Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."

​Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Korek api di atas bensin

Sarah menatap layar ponselnya lama sekali. Nama "Tyas" di pesan singkat itu terasa seperti benang merah yang mendadak menyambungkan semua keanehan Ardi selama beberapa bulan terakhir. Pulang larut malam dengan alasan rapat, wangi parfum yang mendadak berubah, dan sikap defensifnya yang makin menggila.

Sarah menarik napas panjang. Dia menaruh ponsel rahasianya kembali ke dalam laci tersembunyi setelah membalas pesan itu dengan satu kalimat pendek: “Selidiki. Tolong cari tahu sedetail mungkin.”

Dia tidak menangis. Anehnya, rasa cinta yang selama lima tahun ini dia agungkan seolah mendadak mati rasa, digantikan oleh logika yang mendingin. Namun, ketenangan di dalam kamar lantai bawah itu tidak bertahan lama. Dari luar pintu, suara langkah kaki menyentak lantai, disusul ketukan kasar yang merusak keheningan.

"Sarah! Keluar kamu! Jangan cuma bisa sembunyi di kamar setelah bikin kacau!" Itu suara Rika, melengking seperti biasa.

Sarah memutar bola matanya malas. Dia bangkit, membuka kunci pintu, dan langsung mendapati Rika berdiri dengan tangan di pinggang, sementara Ibu Widya duduk di sofa ruang tengah sambil mengipasi wajahnya dengan selembar brosur.

"Ada apa lagi, Mbak? Ini sudah jam sembilan malam. Kalau mau ribut, besok-besok saja," ucap Sarah santai, bersandar di bingkai pintu dengan tangan bersedekap.

"Kamu tuh ya, benar-benar tidak punya empati!" Rika maju selangkah dengan wajah menantang. "Ardi di luar sana sedang pusing keliling kota mencari pinjaman uang ke teman-temannya buat bayar utang Mama, kamu malah enak-enakan mengunci diri di kamar. Minimal kamu bikin sesuatu kek di dapur, buatkan jamu atau makanan yang menenangkan pikiran. Benar-benar istri pajangan!"

Sarah terkekeh—tipe kekehan kecil yang paling dibenci Rika karena terdengar sangat meremehkan. "Mbak Rika, sejak kapan jamu bisa melunasi utang tiga miliar? Kalau memang Mbak peduli sama pikiran Ardi, kenapa Mbak tidak jual saja tas-tas bermerek di kamar Mbak itu? Atau jual mobil sport yang tahun lalu Mbak minta dibelikan oleh Ardi? Itu kalau ditotal lumayan, lho, bisa buat cicil bunga."

Wajah Rika langsung merah padam. "Itu barang-barang pribadi aku, ya! Kenapa jadi bawa-bawa harta aku?!"

""Oh, jadi kalau harta Mbak Rika itu barang pribadi, tapi menantu miskin dan yatim piatu yang tidak punya apa-apa ini dipaksa menyerahkan sisa uang makannya?" tembak Sarah telak. "Mbak, selama lima tahun ini kalian selalu menghinaku karena aku tidak punya harta. Tapi begitu dikejar utang, kenapa kalian malah mengemis pada orang yang kalian sebut tidak punya apa-apa ini? Logika judinya tolong jangan dibawa ke sini."

"Sarah! Jaga mulutmu!" Ibu Widya akhirnya ikut bersuara dari sofa, nadanya bergetar menahan amarah. "Kamu itu keterlaluan. Bagaimanapun Rika itu kakak iparmu! Dia lebih tua dari kamu!"

"Dan harusnya dia lebih bijaksana dari aku, Ma," potong Sarah cepat. Dia berjalan tenang menuju dapur untuk mengambil air minum, mengabaikan tatapan menusuk dari kedua wanita itu.

Tepat saat Sarah sedang menuang air ke gelas, pintu depan terbuka. Ardi masuk dengan penampilan yang benar-benar hancur. Kemejanya kusut, dasinya entah ke mana, dan rambutnya acak-acakan. Begitu melihat ibunya dan Rika yang sedang emosi, lalu melihat Sarah di dapur, Ardi langsung mengembuskan napas berat.

"Belum selesai juga berantemnya?" tanya Ardi, suaranya serak dan terdengar sangat lelah.

Ibu Widya langsung bangkit, menghampiri putranya. "Ardi... bagaimana, Nak? Teman kamu si pengusaha itu bisa bantu? Debt collector itu cuma kasih waktu sampai lusa, Di. Mama takut."

Ardi menggeleng lemah. Dia duduk di sofa sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Sandi tidak bisa bantu, Ma. Bisnisnya juga lagi ketat. Teman-teman yang lain... mendadak susah dihubungi begitu tahu aku mau pinjam miliaran."

Rika mendengkus kencang, matanya melirik sinis ke arah dapur. "Ya iyalah susah. Lagian di rumah ini kan ada yang punya simpanan, Di. Tapi ya gitu, egonya setinggi langit. Lebih milih melihat mertuanya diseret orang daripada kehilangan emas-emas pajangannya."

Ardi mendongak. Tatapannya langsung tertuju pada Sarah yang baru saja keluar dari dapur sambil memegang gelas. Rasa frustrasi di tempat kerja digabung dengan penolakan teman-temannya mendadak membuat sumbu amarah Ardi memendek.

"Sarah," panggil Ardi, nadanya berat dan menuntut. "Kita bicara di ruang kerja. Sekarang."

Sarah tidak membantah. Dia berjalan mendahului Ardi menaiki tangga menuju ruang kerja di lantai atas. Begitu pintu ditutup, Ardi langsung berbalik dan menatap Sarah dengan pandangan frustrasi yang mendalam.

"Aku minta tolong sama kamu, Sarah. Sekali ini saja, tolong turunkan ego kamu," ucap Ardi, mencoba menahan suaranya agar tidak berteriak. "Aku tahu kamu masih marah soal ucapan Mama di meja makan waktu itu. Tapi ini masalah hidup dan mati keluarga aku. Kalau rumah Mama disita, mau ditaruh di mana muka aku sebagai pengusaha sukses di kota ini?"

"Muka kamu, atau gengsi keluargamu, Ardi?" tanya Sarah tenang, meletakkan gelasnya di atas meja kerja.

"Dua-duanya!" Ardi akhirnya membentak sambil memukul meja kayu di dekatnya. "Kamu tidak mengerti rasanya jadi aku! Aku yang cari uang di rumah ini, aku yang banting tulang! Kamu yang dulunya sebatang kara dan tidak punya apa-apa, aku tampung di sini sampai bisa hidup enak. Kamu pikir jadi kontraktor itu gampang?! Uangku miliaran itu semua berputar di proyek, tertahan di semen dan besi! Aku tidak pegang uang tunai sekarang! Saat keluargaku butuh kamu ikut berkorban, kamu malah pelitnya setengah mati!"

Pertanyaan itu membuat Sarah terdiam sejenak. Dia menatap wajah laki-laki yang dinikahinya selama lima tahun ini. Laki-laki yang dulu berjanji di depan makam ayahnya bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Sarah menangis.

"Aku bertahan di rumah ini, menerima semua makian ibumu setiap hari, itu karena aku masih cinta sama kamu, Ardi," ucap Sarah. Suaranya mendadak melunak, sengaja memasang topeng seorang istri yatim piatu yang terluka dan tidak berdaya. "Tapi cinta tidak pernah mengajariku untuk menjadi bodoh. Aku ini anak yatim yang tidak punya apa-apa, Mas. Mas tahu sendiri dari mana aku bisa punya uang sebanyak miliaran untuk menutupi utang Papa?"

Ardi terdiam sejenak, napasnya masih memburu kasar. "Kamu kan bisa pinjam ke teman-teman kerjamu, atau setidaknya jual sisa gelang emas mahar pernikahan kita dulu! Apa saja, Sarah! Bantu aku!"

Sarah menatap suaminya lekat-lekat, menyembunyikan kilat dingin di matanya di balik tatapan kecewa. Dalam hatinya, Sarah mencemooh kelakuan laki-laki di depannya. Dia memintaku berkorban sampai titik darah penghabisan, padahal kas perusahaannya sendiri dikuras demi wanita lain.

"Aku tidak punya kenalan orang kaya yang bisa meminjamkan uang miliaran dalam semalam, Mas. Dan emas kawarku tidak akan cukup untuk membayar bunga utang judi itu," kata Sarah lirih, nadanya terdengar pasrah namun mutlak menolak. "Jawabannya tetap tidak, Ardi. Aku tidak bisa membantu. Selesaikan sendiri masalah yang dibuat oleh keluargamu."

"Sarah! Kamu benar-benar keterlaluan!" Ardi berteriak, melangkah maju dan mencengkeram lengan Sarah dengan emosi yang memuncak. Dia merasa frustrasi karena mengira istrinya yang miskin ini benar-benar tidak berguna dan tidak mau mengusahakan apa pun untuknya. "Kalau sampai lusa utang itu tidak dibayar dan rumah Mama disita, aku bersumpah kita—"

Brak!

Suara pintu ruang kerja dihantam dari luar memotong kalimat ancaman Ardi. Rika mendobrak masuk setelah berlari menaiki tangga dengan wajah pucat pasi. Ponselnya bergetar hebat di genggaman yang gemetar.

"Ardi! Ardi! Orang-orang berjaket kulit itu... mereka nekat, Di! Ini sudah jam sembilan malam tapi mereka tidak peduli aturan!" teriak Rika histeris dengan napas terengah-engah. "Satpam depan kompleks barusan telepon, mereka menerobos gerbang bawa truk! Mereka bilang kalau utang tidak dibayar malam ini juga, mereka mau menjarah dan mengangkut isi rumah kita sebagai jaminan!"

Wajah Ardi seketika ikut memucat. Dia tahu penagihan di jam seperti ini sudah melanggar hukum, tapi menghadapi rentenir ilegal kelas kakap yang membawa massa dan truk di malam hari seperti ini adalah mimpi buruk. Gengsinya sebagai pengusaha sukses di kompleks elite itu terancam runtuh dalam semalam jika para tetangga sampai keluar rumah.

Sementara itu, Sarah yang berdiri di sudut ruangan hanya menatap mereka dengan tatapan datar. Di dalam hatinya, dia justru tersenyum dingin. Bagus. Datanglah malam-malam. Semakin kalian melanggar hukum, semakin mudah bagi tim hukum Mega Group untuk menjebloskan kalian—dan keluarga parasit ini—ke penjara.

1
Anonim
SANDI SAHA?
Alodiee: Sandi itu teman pengusaha yang ditanyain sama Mama Widya di atasnya itu, Kak hehe. Dia nggak bisa bantu modalin Ardi.
total 1 replies
Ma Em
Sarah kamu jgn bodoh mau dihasut Tyas dan ibunya Ardi ,Sarah banyak uang kalau skrg jaman sdh modern yg penting uang Sarah bisa hamil dgn cara bayi tabung untuk apa kamu menangis bikin malu saja dan orang2 yg benci sama darah jadi merasa puas .
Sofia
mantap thor👍
aku
maafin saya yg mengakak krn kalian dikasih kejutan sm sarah 🤣🤣🤣
stela aza
Sarah kamu kan pinter ,,, jangan mudah percaya sama pelakor ,,, selidiki dulu benar g nya itu anak si Ardi atau bukan ,,, kamu kan punya uang banyak punya koneksi luas dan kuat ,,, bisa j s Ardi emang mandul dan itu bukan anaknya ,,, ayo Sarah jgn mudah terprovokasi oleh si pelakor licik itu ❤️
Alodiee: Bener! Gemes banget kalau Sarah langsung percaya gitu aja.
total 1 replies
partini
happy birthday Thor i wish all the best thing for you 🎂
Alodiee: Aww thank you! Makasih banyak ya udah sempetin ngucapin. 🥰
total 1 replies
aku
keluar ruang sidang disambut oleh polda metro jaya 🤣🤣🤣🤣
stela aza
lanjut thor lagi nanggung tau bacanya 🤭
aku
lah dalaaaaahhh semaput dia 😂😂
Alodiee: Kebayang gak kalau kamu yang di posisi dia? Pasti ikut semaput juga kan? 😂
total 1 replies
stela aza
mantap kali kau dapat kejutan bertubi-tubi,,, untung g jantungan trs kena stroke 🤭
Alodiee: Wkwkwk bener banget! Makasih ya udah setia ngikutin petualangan mereka sampai bab ini. ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor dikit bgt up-nya
Alodiee
wkwkwk sabar yahh Kak..Komentar kakak bener-bener bikin aku makin semangat buat lanjut nulis bab berikutnya. Ditunggu kelanjutannya ya!" 🥰
stela aza
lanjut thor up-nya double y
stela aza
aduh Thor ceritamu bikin gregetan udh g sabar pingin liat s kutukupret Ardi jantungngan 🤭🙏
Alodiee: Sama dong! Rahasia plot ke depan bakal bikin si kutukupret makin pusing. Stay tuned ya! ❤️
total 1 replies
stela aza
lanjut thor
stela aza
keren bgt istrinya ❤️❤️❤️
Alodiee
Kalau suka dengan ketegasan istri sah kita, jangan lupa klik bintangnya ya! Sampai jumpa di bab besok!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!