NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta CEO Galak

Dikejar Cinta CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rifani

Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. ( Senjata Makan Tuan )

Veroz menghela nafas. Drama apalagi sekarang? Belum juga selesai perkara supir taxi yang dianggap bosnya sebagai pria asing, kini muncul drama baru di mana bosnya dan Nona Andrea tak saling bicara. Sungguh, menyelesaikan tumpukan pekerjaan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan menghadapi sikap dua manusia yang saling bertolak belakang.

"Tuan Lucien?"

Tak ada respon. Heran, Andrea iseng menoleh. Dia lalu berdecih pelan saat tak sengaja beradu pandang dengan Lucien.

(Hehe, diam-diam curi pandang padaku ya? Sok sekali tak mau bicara denganku. Rindu 'kan?)

Pura-pura marah, Lucien mengajak Veroz keluar dari ruangan. Setibanya di sana dia mengintip dari celah jendela, memastikan Andrea penasaran dengan sikap dinginnya barusan.

"Tuan, pria asing yang Anda maksud hanyalah seorang supir taksi. Dia membawa Nona Andrea pergi itu hal yang wajar karena memang itu pekerjaannya," ucap Veroz menyampaikan hasil penyelidikan. Hal yang tak penting tapi bisa jadi boomerang jika tak dilaksakan mengingat yang memberi perintah adalah sosok yang sedang mabuk cinta.

"Aku tahu," enteng Lucien menjawab.

"Lalu kenapa Anda begitu marah?"

"Iseng saja. Siapa suruh dia sok jual mahal padaku."

(Bukan Nona Andrea yang sok jual mahal, tapi Anda yang tidak sadar dengan perasaan sendiri)

"Ingat, mulai hari ini jangan biarkan gadis itu berleha-leha santai dengan pekerjaannya. Berikan tugas yang berat. Jika perlu turunkan langsung ke lapangan. Aku tidak mau kekayaanku dinikmati cuma-cuma olehnya!"

"Baik, Tuan," sahut Veroz patuh.

"Aku ingin lihat apakah dia masih akan bersikap jual mahal padaku atau tidak. Sudah sejauh ini masih saja memainkan trik tarik ulur denganku. Dikira aku ini orang bodoh apa?"

(Anda memang bodoh, Tuan. Bahkan hampir mendekati gila. Cuma belum sadar saja)

Andai suara hati Veroz didengar langsung oleh Lucien, entah akan semurka apa tiran itu. Dia yang terlalu percaya diri mengira Andrea menyukainya, tapi dia juga yang tak mau mengakui.

"Kita mau pergi kemana, Tuan?" tanya Veroz sambil mengekor di belakang bosnya.

"Pulang."

"Lalu Nona Andrea bagaimana? Dia masih di dalam."

"Biarkan saja," sahut Lucien acuh. "Paling-paling dia hanya akan menangis setelah tahu kalau kita meninggalkannya sendirian di kantor. Buruknya dia akan menelponku dan meminta untuk dijemput."

Kejam, tapi penuh khayalan tak masuk akal. Veroz yang kembali menjadi saksi hanya bisa mendesah pelan sambil menggelengkan kepala. Dilihat dari sudut manapun Nona Andrea bukanlah sosok yang mudah ditindas. Keberanian terpancar jelas di kedua matanya. Akan tetapi entah kenapa bosnya ini malah berpikir lain, mengira kalau gadis itu adalah sosok lemah yang penakut.

Dengan penuh percaya diri Lucien benar-benar meninggalkan Andrea sendirian di kantor. Dia juga meminta Veroz agar kembali pulang. Tak lupa ponsel terus siaga di tangannya, menunggu detik-detik gadis itu akan menelepon dan merengek.

"Rasanya sudah tak sabar melihatmu tunduk dan mengaku kalah pada ketapananku, Andrea. Hehe," gumam Lucien sembari menggosok kedua telapak tangan. Senyum licik tercetak jelas di bibir sensualnya.

Sementara itu di perusahaan, Andrea yang sedang sibuk mempelajari berkas mulai menyadari kalau Veroz dan Lucien belum juga kembali.

"Pergi kemana mereka. Lama sekali," ujar Andrea bertanya-tanya. "Ah sudahlah bukan urusanku. Lebih baik fokus belajar saja mumpung tidak ada pengganggu."

Tak terasa waktu terus berlalu. Karena terlalu fokus, Andrea tak sadar telah melewatkan jam makan siang. Hingga akhirnya dia pun tertidur dengan posisi berkas menutupi wajah.

Sementara itu di mension, Lucien tengah diterpa perasaan gelisah. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tapi masih belum ada panggilan masuk. Sempat terpikir untuk menghubungi lebih dulu, tapi tak Lucien lakukan mengingat dirinya yang harus menjaga gengsi.

"Telpon tidak ya? Telpon tidak ya?"

"Zaman sekarang dunia jahat sekali ya. Di mana-mana yang selalu jadi korban kejahatan pasti perempuan. Dilecehkan, dirampok, dibunuh, astaga. Kenapa sih harus orang lemah seperti kita yang menjadi korban?"

"Iya betul. Kemarin anak tetanggaku menjadi korban pelecehan gara-gara pulang kerja sendirian. Bayangkan. Seorang gadis yang sedang menata masa depan terpaksa harus kehilangan impian akibat ulah orang bejat. Memikirkan hal itu membuatku jadi takut pulang malam. Takut jadi korban berikutnya."

Lucien langsung menelan ludah saat tak sengaja mendengar obrolan para pelayan. Ini sudah malam dan Andrea sendirian di kantor. Bayangan hal-hal buruk dimana gadis itu menjadi korban kejahatan mulai menghantui pikiran. Panik, Lucien mengumpat kasar lalu berlari keluar seperti orang kesetanan. Penjaga yang melihat hal itu segera menghubungi Veroz dan memberitahukan hal tersebut.

[Veroz: "Cepat ikuti Tuan Lucien. Aku akan segera menyusul kalian."]

"Baik, Tuan."

Ibarat kata pepatah, senjata makan tuan. Itulah yang sedang menimpa Lucien sekarang. Iseng berbuat licik malah dirinya yang kocar-kacir ketakutan. Dan sialnya tak ada nomor yang bisa dihubungi selain nomor kantor. Itupun tak membuahkan hasil.

"Angkat teleponnya, Andrea!" teriak Lucien lalu memukul stir mobil. "Bodoh! Kenapa aku bisa tidak punya nomornya. Argghhhh!"

Sebagai orang desa, hal yang wajar jika Andrea tak memiliki ponsel. Bukan tak bisa, hanya belum memiliki cukup uang untuk membelinya. Dan kini saat dirinya sedang terlelap dengan mimpi-mimpi indah, ada orang lain yang sedang kebakaran jenggot karena tak bisa mengetahui keadaannya.

"Awas saja jika ada yang berani berbuat jahat padanya. Menyentuh seujung kuku saja, ku pastikan dia akan mati dengan cara yang sangat buruk!" geram Lucien lalu sembarang memarkirkan mobil. Dia kemudian keluar dan berlari masuk ke kantor.

"Lho Tuan Lucien, kenapa Anda datang malam-malam begini? Apakah ada berkas yang tertinggal?" tanya security kaget melihat kemunculan bosnya.

"Apa ada orang asing yang masuk ke perusahaan?"

"Seingat saya tidak ada. Hanya Anda, Nona Andrea dan Tuan Veroz saja yang datang pagi tadi."

"Kau yakin tidak ada?"

Security mengangguk bingung. Dan semakin bingung saja melihat bosnya yang begitu tergesa-gesa berlari menuju lift.

"Aneh sekali. Sebenarnya apa yang terjadi? Ah, lebih baik aku cek di cctv saja. Bisa gawat kalau sampai kecolongan," ucap security seketika waspada. Bergegas dia masuk ke ruangan cctv dan mulai memeriksa.

(Dia ... tidur?)

Wajah Lucien pias begitu menemukan Andrea yang sedang tertidur lelap di meja kerjanya. Lemas, dia jatuh terduduk di lantai dengan napas terengah-engah.

"Syukurlah dia baik-baik saja. Aku pikir dia mati."

Cukup lama waktu yang terlewat sejak Lucien datang sampai akhirnya Andrea bangun dan menguap.

"Astaga, sudah malam sekali. Berapa jam aku tertidur?" ucap Andrea kaget sekali begitu melihat jam di dinding. Segera dia menyusun berkas di meja kemudian mengambil tas dan berjalan keluar.

Brukkk

"Akhhh!"

Teriakan Andrea mengejutkan Lucien yang tak sengaja tertidur dengan posisi duduk di lantai. Kakinya yang terjulur menghadang jalan membuat Andrea jatuh terjerembab.

"Uhhh keningku," keluh Andrea seraya mengusap keningnya yang membentur lantai.

"Kau baik-baik saja?" tanya Lucien panik. Lupa dengan gengsinya yang setinggi langit, dia menangkup pipi Andrea penuh khawatir. "Mana yang sakit?"

Antara syok dan juga heran, Andrea menunjuk keningnya yang memerah. Dan yang terjadi selanjutnya membuat sekujur tubuhnya menegang kaku. Lucien meniup keningnya. Catat! Meniup keningnya.

"Lain kali gunakan matamu saat berjalan supaya tak celaka. Seperti anak kecil saja berjalan bisa sampai jatuh."

"Lucien?"

"Hmm?"

"Kau kerasukan ya?"

"Maksudnya?"

(Orang ini kenapa sih. Walaupun ucapannya menyakitkan hati, tapi wajah dan tatapannya seperti orang yang sedang khawatir. Sudahlah, mungkin dia sedang ada masalah. Lebih baik aku tak membuatnya marah dulu)

"Kenapa diam?"

"Tidak apa-apa. Aku mau pulang," jawab Andrea berkilah.

"Biar aku antar." Lucien parno.

"Yakin mau mengantarku pulang? Nanti kalau diturunkan ditengah jalan bagaimana? Ini sudah malam lho."

Kikuk, tanpa mengatakan sepatah katapun lagi Lucien langsung menarik tangan Andrea. Saat akan masuk ke dalam lift, mereka berpapasan dengan Veroz yang datang bersama para bodyguard.

"Minggir. Aku mau mengantar anak kecil pulang."

Veroz cengo, begitu juga dengan Andrea.

(Penyakit gilanya makin parah)

***

1
Fadillah Ahmad
Covernya bagus... Menarik juga... 😂😂😂

Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂
Mak Rifani: Amiinnn m 🙏🙏
total 3 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖
makkkk
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩʏᷞᴜͧᴢᷡᴀͣ.ѕ⍣⃝✰zc❖ : ok mak😘
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!