Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Malam Hangat
"Nanti Mama...bental lagi mandinya!"
Athaya masih betah merebahkan kepalanya di pangkuan Mama Andin, dengan kaki diselonjorkan menimpa paha Papi Arya.
Marisa dan Rendi sudah pergi ke rumah Mama Rita. Hanya mereka bertiga yang kini tinggal di ruang keluarga.
"Kakak mau cium adek nggak?" Dengan ekstra sabar, Andina membujuk Athaya dengan triknya. Dari tadi anak itu malas-malasan untuk diajak mandi.
"Mauuu--" mata Athaya berbinar. Dia kini terduduk ditengah-tengah Mama dan Papi.
"Kalau mau cium adek, kakaknya harus mandi dulu karena kakak keringetan, bau acem, dan bajunya kotor abis main di kebun. Kasihan nanti adeknya bisa gatal-gatal dan nangis kalau dicium kakak yang belum mandi."
"Iya Ma, kaka mau mandi tapi mandinya sama Mama." Athaya beralih duduk di pangkuan sang Mama, nemplok.
"Mandi sama Papi aja, kak. Papi juga belum mandi. Yuk?" Arya menggelitiki pinggang Athaya. Membuat anak itu tertawa-tawa geli.
Tetap saja, Athaya tidak bisa dibujuk. Maunya mandi dengan Mama Andin. Arya mengalah, ia mandi di kamar atas.
Dengan bernyanyi-nyanyi, Athaya mengikuti Mama Andin masuk ke kamar. Di dalam boxnya, Baby Aqila menggeliatkan tangan dan kepalanya saat sang kakak memanggil-manggil.
"Kak, jangan dipanggil-panggil. Nanti kalau adek bangun, Mama nggak bisa mandiin Kakak. Sini, sayang." Andina melambaikan tangannya yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Athaya menurut, berlari menghampiri sang Mama.
"Masyuk kaki kili, kelual kaki kanan." Pekik Athaya. Mengingat pelajaran yang diberikan Mama Andin.
"Anak pinter." Andina memberikan pujiannya. Mengusap kepala Athaya yang mengajaknya masuk bersamaan, dengan memperhatikan dulu kakinya yang akan dilangkahkan. Kaki kiri.
.
.
Malam, menjelang tidur. Athaya merengek minta dibacakan cerita. Tapi Andina masih memberikan asi untuk Aqila. "Sebentar ya sayang, ade lagi mimi dulu."
Arya yang baru selesai dari ruang kerja, menatap heran anak sulungnya yang cemberut. "Kakak kenapa cemberut?" Arya duduk di tepi ranjang. Mencowel pipi gembul Athaya.
"Kakak pengen dibacain cerita, tapi aku lagi tanggung nih. Sama Papi dulu baca ceritanya ya?" Andina menunjuk dirinya yang lagi repot menyusui Baby Aqila. Meminta Arya yang menggantikan peran menjadi narator.
Arya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung harus cerita tentang apa, lebih tepatnya nggak bisa. "Ah, kalau presentasi mah gampang. Tapi jadi narator kok susah ya ini lidah. Padahal sama-sama berbicara. Aku nyerah."
Andina terkekeh. Suaminya malah curhat bukannya memulai cerita. "Bedanya, jadi narator itu harus improvisasi biar tidak jemu, Papi."
Akhirnya Baby Aqila kembali tidur. Sepertinya ia mengalah untuk kakaknya yang butuh perhatian sang Mama.
Senyum cerah Athaya kembali terbit. Dengan memeluk guling kesayangannya, mata Athaya lekat menatap wajah Mama Andin yang akan mulai bercerita.
"Kakak dengarkan baik-baik. Ini cerita tentang Abu Nawas. Siapakah Abu Nawas itu? Beliau laki-laki soleh, pinter dan jenaka atau suka becanda. Nanti kakak kalau sudah sekolah SD bisa belajar sejarah lengkapnya ya." Andina mengelus kepala Athaya. Otaknya berpikir untuk memilih kata yang mudah difahami anak seusianya.
Pada suatu hari, ada seorang laki-laki datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu mengeluh dan sedih rumahnya terasa sempit karena ditinggali banyak orang. Bayangkan Kak, di rumah itu ada anaknya berjumlah 8 orang, tambah mamanya anak-anak dan juga bapak itu. Jadi jumlah penghuninya 10 orang.
Andina mengangkat kedua tangannya. Menunjukkan jumlah 10 jarinya. Athaya ikut mempraktekan dengan tangan mungilnya.
Abu Nawas, anak-anak dan istriku suka mengeluh rumah terasa sempit dan tidak nyaman. Kami ingin pindah dari rumah itu, tapi tidak mempunyai uang. Tolonglah Abu Nawas, apa yang harus aku lakukan," kata lelaki itu.
Mendengar hal itu, Abu Nawas lalu berpikir sebentar. Aha! Sebuah ide muncul di kepalanya.
Kamu mempunyai Domba di rumah?"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Aku tidak punya Domba, katanya.
Mendengar kata domba, Athaya berseru. Ia teringat saat tadi di Lembang. "Ma, tadi kaka liat domba di kebun Opa. Lagi makan lumput, ada buanak Dombanya." Athaya menunjukkan kelima jarinya. Andina tersenyum menanggapinya.
Abu nawas pun menyuruh membeli seekor domba di pasar. Lalu dombanya harus di simpan di dalam rumah. Dan lelaki itu menuruti usul Abu Nawas.
Besoknya, lelaki itu datang lagi ke rumah Abu Nawas dengan sambil mengeluh. "Bagaimana ini, setelah mengikuti usulmu, rumah menjadi tambah sempit dan berantakan."
Lalu, Abu Nawas memberikan usul lagi. "Kalau begitu, kamu harus menambah dua ekor domba lagi dan pelihara di dalam rumah." Lelaki itu menurut. Dia membeli dua ekor domba di pasar.
Besoknya, lelaki itu datang lagi ke rumah Abu Nawas dengan perasaan jengkel. Dia mengadu, menceritakan kalau rumahnya makin sesak dan istrinya menjadi suka marah-marah.
Akhirnya, Abu Nawas menyarankan untuk menjual semua domba yang dimiliki.
"Dombanya jadi habis dong Ma?" Athaya membuat analisanya, yang mendapat anggukan dari Mama Andin.
Besoknya lagi, keduanya bertemu kembali. Abu Nawas bertanya, "Bagaimana keadaan rumahmu sekarang, apakah sudah lega?
Setelah menjual domba-domba yang aku miliki, rumah menjadi nyaman untuk ditinggali. Istri pun tidak lagi marah-marah," ujar lelaki itu sambil tersenyum.
Akhirnya, Abu Nawas bisa menyelesailan permasalahn lelaki itu dengan rumah sempitnya.
"Abu Nawas pinter ya Kak. Padahal penghuni rumahnya menjadi kembali ke semula, 10 orang. Tapi membuat keluarga itu sekarang merasa nyaman dan tenang." Andina menepuk-nepuk punggung Athaya di akhir ceritanya.
Athaya ikut tersenyum senang dengan cerita yang didengarnya. Cerita itu dia simpan di memori otaknya, hingga kantuk pun datang ikut.membawa kisah itu ke dalam mimpinya.
Arya menyerahkan segelas air putih. "Istriku pasti haus. Nih--"
"Papi tau aja." Andina langsung meneguknya sampai habis.
"Kamu hebat sayang. Bisa hafal banyak cerita sejarah. Abu Nawas itu seorang sufi dan pujangga Arab kan ya?"
"Betul Mas. Beliau hidup pada masa kesultanan Harun Al Rasyid. Tingkahnya selalu jenaka. Aku hobi membaca sejak SMP, dari buku juga internet. Jadi ya sedikit tahu kisah-kisah inspiratif dunia."
Arya memeluk Andina dengan erat, mengecup pipinya mesra. "Andinaku memang istri dan ibu yang hebat. Makin cinta deh." Andina hanya terkekeh geli karena Arya menggesekkan hidung di leher jenjangnya. Kecupan terakhir mendarat di bibir ranum sang narator.
Keduanya bermesraan, di tengah atmosfer ruang kamar yang hangat. Hangat dengan cinta dan kasih sayang. Anak-anak yang lucu terlelap dalam tenang dan damai karena aliran kebaikan dan keikhlasan orangtuanya sampai, menyerap ke dalam segumpal darah. Bersinergi membentuk karakter soleh soleha. Segumpal darah itu, HATI.
...Bersambung...
Dukung othor pakai poin ya say. Met istirahat semuanya. See u tomorrow 😍