NovelToon NovelToon
Surat Terakhir Bapak

Surat Terakhir Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachman Santoso

**Surat Terakhir Bapak**

*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*

Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.

Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.

Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.

*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Lamaran

Ibu menaruh foto itu di pangkuannya, menghadap ke bawah, seolah wajah dua puluh tiga tahun yang tertawa di sana masih terlalu terang untuk dipandang.

"Namanya Darmawan Sentosa," katanya. "Dulu Ibu memanggilnya Mas Darma."

Tak seorang pun menyela. Bahkan Bima, yang sejak tadi tak bisa diam, berhenti mondar-mandir dan bersandar di bufet.

"Ibu kenal dia waktu masih kerja di toko kain Pak Lim. Dia anak pemilik ekspedisi, sopan, rajin, pandai bicara. Setahun Ibu dekat dengannya sebelum dia melamar. Orang tua Ibu sudah tiada, jadi Budhe yang mengurus semuanya. Hari lamarannya sudah ditentukan, kebaya sudah dijahit, tenda sudah dipasang." Ia tersenyum pahit. "Persis seperti tenda biru di luar itu."

"Lalu Ibu kabur?" tanya Sekar pelan.

"Ibu tidak datang."

Ibu menarik napas panjang. "Pagi itu Ibu sudah didandani, sudah duduk di depan cermin. Lalu Ibu sadar bahwa Ibu tidak mencintainya. Ibu menghormatinya, takut mengecewakannya, tapi tidak mencintainya. Dan di toko mebel yang baru dibuka Bapakmu, di pinggir pasar, ada seorang tukang yang sering mengantar kursi pesanan ke tempat Ibu bekerja. Bicaranya hemat, tangannya kasar, tapi dia satu-satunya orang yang pernah bertanya apakah Ibu sudah makan."

Laras menelan ludah. Kalimat itu terlalu akrab. Ia ingat telepon tiga minggu sebelum Bapak meninggal.

"Ibu meninggalkan ruang rias lewat pintu belakang, dan Ibu berlari ke bengkel Bapakmu. Hanya Ibu, kebaya, dan sandal yang basah." Ibu mengusap pelan sudut matanya. "Bapakmu tidak bertanya apa-apa. Dia memberi Ibu segelas teh, lalu mengantar Ibu ke rumah Budhe dengan sepeda motor tuanya."

"Dan Darmawan?" tanya Bima.

"Tamu-tamu pulang tanpa makan. Keluarganya malu setengah mati. Dan ..." Ibu menatap Pak Surya, yang mengangguk pelan seolah mengizinkan. "Mas Darma ternyata adalah penyandang dana bengkel Bapakmu. Dia yang meminjamkan modal awal, atas nama persahabatan. Setelah hari itu, dia menarik semuanya sekaligus."

"Bapak hampir bangkrut," ucap Pak Surya. "Bu Wulan benar. Beliau menggadaikan motor, menjual perkakas, bahkan tidur di bengkel selama enam bulan. Tapi beliau bertahan. Dan itu yang tidak bisa dimaafkan Pak Darmawan."

"Kenapa?" tanya Laras.

"Karena yang dia harapkan adalah Bapak kalian hancur. Bukan berhasil."

---

Dimas bergerak di kursinya, dan semua mata beralih kepadanya. Ia tidak terlihat nyaman menjadi pusat perhatian.

"Ibu saya pernah bilang, orang itu tidak pernah menikah," katanya. "Padahal kaya, tampan, banyak yang mau. Dia menyimpan sesuatu seperti dendam yang dirawat sampai berbuah."

"Dendam atas apa?" tanya Bima tak sabar. "Ibu cuma batal dilamar. Itu dua puluh tiga tahun lalu, orang normal sudah move on."

"Dia bukan orang normal, Bim," sahut Ibu lirih.

"Atau ada sesuatu yang Ibu belum bilang."

Ibu tidak langsung menjawab. Ia menunduk menatap foto di pangkuannya, dan tangannya yang tadi meremas ujung kerudung kini berhenti, seperti kehabisan tenaga.

"Ada," katanya akhirnya. "Tapi bukan sekarang."

"Bu," potong Laras, lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Sejak pagi kata Ibu itu terus. Bukan sekarang. Nanti. Tidak sekarang. Kami sudah kehilangan Bapak, sudah menemukan adik, sudah tahu Sekar bukan ..." Ia menghentikan dirinya, melirik Sekar, dan mengubah kalimatnya. "Kami sudah tahu sebagian besar. Satu lagi apa bedanya?"

"Bedanya," kata Ibu, dan suaranya tiba-tiba keras, "yang satu ini bisa menghancurkan lebih dari Ibu."

Laras terdiam.

Ibu memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi dengan wajah yang sudah dirapikan, kembali menjadi Ibu yang tenang dan tak tertembus.

"Besok kita temui dia," katanya. "Ibu yang bicara. Kalian cukup diam dan jangan menandatangani apa pun, apa pun yang dia tawarkan."

"Ibu mau kami ikut?" tanya Bima. "Setelah semua ini?"

"Dia minta kalian semua hadir, dan kalau Ibu datang sendirian, dia akan menganggapnya pengecut." Ibu berdiri pelan, sendi-sendinya berbunyi. "Ibu sudah cukup lama jadi pengecut."

---

Malam turun tanpa kabar.

Tenda biru akhirnya dibongkar, tukang yang tadi pagi itu pulang setelah mendapat uang lelah dari Bima. Rumah kembali kosong dan terlalu luas. Dimas menolak menginap. Ia hanya meninggalkan nomor teleponnya di selembar kertas dan pamit sopan di pintu, tetapi Sekar, di luar dugaan, menyusulnya sampai ke gerbang.

Laras melihat dari jendela dapur. Tak ada pelukan, tak ada kata-kata besar. Sekar hanya berdiri di depan Dimas, mengatakan sesuatu yang singkat, dan Dimas mengangguk. Lalu ia pergi, berjalan ke ujung gang dengan ranselnya, tanpa menoleh.

"Dia mau datang besok," kata Sekar saat masuk. Matanya masih sembab tetapi tenang. "Aku yang minta."

"Kamu yakin?"

"Enggak." Sekar tersenyum kecil. "Tapi dia saudaraku, Mbak. Kembaranku. Dan aku capek merasa sendirian di keluarga sendiri."

Laras memeluknya, lama, dan Sekar membiarkannya.

Setelah Sekar naik ke kamar, Laras mendapati Ibu masih duduk sendirian di meja makan, di bawah lampu kuning yang redup. Foto itu masih di depannya, kini dibalik menghadap atas. Ibu menatapnya tanpa berkedip.

"Bu."

"Tidurlah, Nak."

"Aku mau tanya satu hal." Laras menarik kursi di seberangnya. "Kapan hari lamaran itu? Tanggal berapa?"

Ibu tidak langsung menjawab. Jemarinya berhenti di tepi foto.

"Kenapa?"

"Karena Juli 1991 itu setahun sebelum Ibu menikah dengan Bapak. Tapi Ibu kabur di hari lamaran, dan Ibu bilang Ibu langsung ke bengkel Bapak. Jadi selang waktunya ..." Laras menghitung pelan dalam kepala, tanpa benar-benar ingin menyelesaikannya. "Aku lahir September 1993. Berarti Ibu dan Bapak menikah paling lambat akhir 1992."

"Laras."

"Itu nggak masuk akal, kan? Kalau lamarannya Juli 1992 dan Ibu menikah dengan Bapak Desember, dan aku lahir sembilan bulan kemudian ..." Ia berhenti. Dadanya mengencang. "Bu, tolong bilang aku salah hitung."

Ibu menatapnya, dan di matanya tidak ada kebohongan. Hanya kelelahan yang terlalu dalam untuk dijelaskan.

"Tidurlah, Laras," bisiknya. "Besok."

"Bu ..."

"Besok," ulang Ibu lagi, dan suaranya begitu lembut sampai Laras tidak sanggup mendesak.

---

Di kamar lamanya, Laras duduk di tepi ranjang yang sprei-nya masih berbau pelembut yang sama sejak SMA. Ia menatap langit-langit lama sekali, lalu mengambil ponselnya untuk mematikan alarm kerja yang tak lagi berarti.

Layar menyala sebelum ia sempat menyentuhnya. Satu pesan baru dari nomor tak dikenal, bukan nomor yang tadi mengirim pesan kepada Bima.

Laras membuka pesan itu. Isinya hanya dua baris.

*Selamat malam, Laras. Tolong tanyakan pada ibumu kapan tepatnya ia meninggalkan saya di hari lamaran itu.*

*Dan kenapa kamu lahir sembilan bulan kemudian.*

Ponsel itu jatuh dari tangannya, memantul sekali di kasur, lalu diam. Layarnya masih menyala di antara selimut. Di bawah dua baris tadi, tiga titik kecil mulai berkedip, tanda seseorang di seberang sedang mengetik balasan berikutnya.

1
ceuceu
Ternyata kerumitan keluarga ini bermula dari kebejatan ibu
ceuceu
Rumit
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, mampir juga yuk ke sc akuu
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!