NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Rumah Sakit II

...بسم الله الرحمن الرحيم...

.... ...

.... ...

...Sandyakala "Aksa dan Amerta"...

...Karya: Ms_nyms...

***

Mahija memperhatikan setiap gerak-gerik seseorang yang ada di depannya, tanpa suara selama hampir 30 menit Mahija duduk di posisi yang sama.

"Enggh.. "lenguhan suara Mahika.

Mahija langsung beranjak dari tempat nya duduk, keluar dari ruangan tanpa berkata apapun sebelum Mahika benar-benar sadar dari siumannya.

Ia duduk di bangku lorong rumah sakit, meninggalkan Mahika sendirian di ruangannya. Wajahnya kini berubah dari semula yang khawatir menjadi lebih tenang setelah melihat Mahika yang mulai tersadar.

"Lah, mana si jin tomang. Kemana lah ni orang" ucap Fian bertanya pada dirinya sendiri, setelah memasuki ruang rawat Mahika.

Mahika yang sedang mengisi energinya dengan makanan yang diberikan oleh petugas rumah sakit, tertegun sejenak saat melihat Fian yang berdiri di hadapannya.

Jarak lebih kurang 2 meteran mereka saling diam, Fian mendekat ke arah brankar Mahika yang masih memandangi dirinya. Meletakkan semua barang-barang yang dibawanya ke sebuah lemari kecil yang disediakan oleh rumah sakit untuk para pasien.

"Makan dulu kak.. Nanti dijelasin, kenapa gua ada disini. Santai aja kali liatinnya, ya emang gua ganteng sih tapi gak gini juga ngeliatinnya" ujar Fian yang berbicara pada Mahika yang masih memandangi dirinya.

Masih tak percaya orang yang berada di hadapannya adalah orang yang ia temui di pantai dan lobby hotel, Mahika kembali tersadar setelah beberapa detik.

"Karma apa lagi ini, ketemu ni orang aneh" Mahika yang merutuki dirinya sendiri.

Fian pamit sebentar, membiarkan Mahika menyelesaikan makanannya dan mencari Mahija yang ntah dimana keberadaan nya saat ini.

Diujung lorong Mahija sedang menelpon seseorang dengan serius dia berbicara, Fian akhirnya menemukan Mahija setelah berkeliling rumah sakit berjalan mendekati orang yang dicarinya ini sejak tadi.

"Nah, ketemu juga akhirnya. " Fian yang langsung menepuk bahu Mahija yang sedang menelpon.

Mahija hanya menoleh ke arah Fian yang langsung memberikan kode untuk duduk dahulu sembari menunggu dirinya menyelesaikan teleponnya, Fian langsung duduk sebelum diperintah oleh Mahija. Bermain dengan ponselnya Fian dengan tenang menunggu sang abang menyelesaikan pembicaraan nya.

"Assalamu'alaikum.. " Mahija yang baru saja menyelesaikan pembicaraan nya.

"Sudah semua di beli? " tanya Mahija pada Fian yang sudah duduk memakan sebuah wafer.

"Sudah, kak Mahika sudah bangun, kenapa abang di luar? "

"Nanti abang masuk lagi pas dia tidur"

"Jam berapa mau balik ke camp? "

"Habis sholat subuh saja, sudah diatur sama wadanton tadi abang telpon"

Kemudian hanya ada saling diam diantara abang beradik ini, hanya ada suara wafer yang sedang di makan oleh mereka berdua.

Sepertinya malam ini adalah malam yang panjang bagi mereka, bertemu dengan wanita yang mereka tolong untuk ke 3 kalinya bagi Mahija dan ke 2 kalinya bagi Fian.

***

"Hallo.. "

"Dea kamu bisa kesini?"

"mba'e, kenapa? "

"Ini kamu bisa ke rumah aku gak? Tolong ambilin jaket hoodie warna biru danker dan bawa ke rumah sakit sejahtera dekat hotel kita"

"Looh mba kok dirumah sakit, kenapa"

"Udah sini aja dulu, bantuin aku izin keluar RS ya bisa kan? "

" Oke mba, otw kerumah mba dulu. Nanti ikut aku pulang ke kost aja ya "

"Urusan pulang nanti aja, kamu kesini aja dulu"

"Oke mba"

Setelah menutup sambungan telepon, Mahika kembali berbaring dan menunggu Dea agar segera datang secepatnya. Ia tak ingin bertemu dengan pria yang ia temui di pantai bulan lalu.

Lampu kamar rumah sakit yang masih menyala dan suara sayup-sayup orang berlalu-lalang di balik pintu kamar rawat inap, Mahika ingin segera pulang ke rumah saja saat ini.

Pintu kamar terbuka, seorang perawat masuk mengecek infus Mahika dan pasien di sebelahnya, menanyakan keadaan Mahika apakah baik-baik saja saat ini. Mahika akhirnya tersenyum setelah seorang wanita yang tak lain Dea masuk ke dalam kamar, namun dibelakang Dea seorang pria juga ikut masuk ke dalam kamar. Dana manager Mahika.

"Sus, ini sudah bisa di bawa pulang ya, berkas2 sudah diurus dan sudah ada dokter dan perawat pribadi di rumah" ucap Dana dengan lugasnya ia berbicara tanpa menatap Mahika sembari membereskan barang-barang Mahika.

Dea hanya diam mendengarkan dan memberikan jaket hoodie yang diminta oleh Mahika saat berbicara melalui telepon tadi, ia tampak sangat bingung harus bagaimana sebenarnya saat mengetahui Mahika masuk rumah sakit padahal baru saja pulang bekerja dari hotel beberapa jam yang lalu. Akhirnya satu-satunya jalan yang ia ketahui hanya Dana seorang yang bisa membantu nya saat itu juga, Dana yang mempunyai kewenangan terhadap karyawan nya.

Dana membantu Mahika untuk bersiap turun dari brankar nya, perawat membawakan kursi roda untuk membantu Mahika berjalan keluar dari kamar rawat.

"Nanti Dea nginap di rumah kamu aja beberapa waktu sampai kamu bisa jalan, Dea masuk sift malam saja agar pagi bisa mengurus keperluan Mahika dan pulangnya nanti saya antar ke rumah. Tidak perlu khawatir kalau pulang larut malam. " ujar Dana menjelaskan semuanya, Dea mengangguk pertanda mengerti atas ucapan managernya itu.

Dea mendorong kursi roda sampai di depan rumah sakit, Dana membantu Mahika masuk ke dalam mobil begitu pula Dea yang membawa barang-barang Mahika. Mobil Dana pergi meninggalkan area rumah sakit.

"Loh kemana kak Mahika? " Fian yang terkejut saat melihat brankar Mahika sudah kosong, barang-barang Mahika juga tidak ada. Hanya sebuah hoodie biru danker yang terlipat rapih diatas brankar.

"M-maaf, kakak itu sudah dibawa pulang sama temennya" ucap pasien disebelah brankar Mahika.

Mahija hanya diam melihat hoodie biru yang di tinggalkan Mahika terlipat rapih, Ia kembali menyusun barang-barang yang dibawa Fian tadi dan bersiap untuk menuju camp pelatihan.

"Ayo pergi" Mahija membuka suara.

"Siap"

Fian hanya menuruti perkataan dari Mahija yang melangkah keluar dari dalam kamar rawat inap, mengikuti nya menuju parkiran rumah sakit. Fian hanya diam menyetir menuju camp pelatihan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mahija diam memegang hoodie yang didapat nya diatas brankar tadi.

Jalanan berlumpur menjadi penanda bahwa sebentar lagi Mahija sudah sampai, wajahnya tampak biasa saja seperti tidak ada yang terjadi. Turun dari dalam mobil yang baru saja berhenti, meninggal kan Fian tanpa sepatah kata pun. Fian hanya diam memutar kemudi dan kembali pulang menuju barak asrama, menyapa para prajurit yang bersantai dengan segelas kopi panas di depan api unggun yang menyala. Bernyanyi dan memainkan gitar adalah hal yang wajar di camp pelatihan saat malam hari, Fian tersenyum melihat para prajurit yang menyapanya dengan riang.

"LETTU. MAHIJA...!! " panggil seseorang dengan suara baritonnya, menoleh ke asal sumber suara.

"Wiiih gimana kabar?? " tanya pria tersebut yang kini sedang berada di hadapan Mahija.

"Baik."

"Tanding lagi gak? "

"Silahkan"

"Oke besok kita tanding antar pleton. Pleton siapa yang menang dia akan ditraktir makan daging steak satu pleton, jika kalah maka akan menuruti permintaan pleton yang menang selama 3 hari. Gimana?? " Tawarnya dengan optimis.

"Ya Yan, silahkan terserah lo" ucap Mahija meninggalkan Riyan, masuk ke dalam tenda merapihkan tempat tidurnya.

"Woii JAA!! "

Riyan Zafrenda, Letnan Satu lulusan Akademi Militer Magelang. Menjabat sebagai Danton di Batalyon infanteri 133, perwira yang pernah memimpin pasukan di satuan tugas RI.

Riyan Zafrenda, teman semasa SMA Mahija, Rival yang menjadi lawan Mahija sejak semester 2 kelas 1 menjadikan Mahija target paling setara dengan Riyan. Wajah soft boy namun tegas, berkepribadian ramah dan pintar mengambil keputusan adalah ciri-ciri dari Riyan Zafrenda. Dirinya tak menyangka akan bertemu dengan Mahija saat latsar akademi di Kalimantan, bertemu dengan dirinya di kapal KRI bersama para taruna AKMIL,AAU,AAL,AKPOL dan praja IPDN.

Kemana dia..

Mahija menutup matanya, mencoba tenggelam kedalam alam bawah sadarnya. Menyingkirkan pikiran yang sedang berputar di kepalanya tentang Mahika, ia harus fokus pada hal yang di depannya.

Suara para prajurit yang menyanyi di depan api unggun menjadi teman malam Mahija, di dalam tenda yang dibangun oleh anggota nya yang sedang bersantai sebelum hari esok pelatihan ketat dan kejam mereka lalui tanpa henti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!