Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Dapur Tradisional: Mana Tombol Power-nya?
Setelah isak tangis kelegaan mereda dan kelinci buruan berpindah tangan ke atas meja kayu yang reot, Lin Wanru berdiri terpaku di sudut ruangan yang mereka sebut sebagai dapur.
Di dunia modern, dapur Wanru adalah sebuah mahakarya teknologi kuliner, kompor induksi tanam touch screen, oven otomatis bersensor suhu, pembuangan asap digital, hingga lemari es pintar yang bisa memesan bahan makanan sendiri hanya lewat suara.
Namun, apa yang ia saksikan di hadapannya saat ini benar-benar membuat mental seorang CEO agrikultur runtuh seketika.
Tidak ada tombol power. Tidak ada kenop pengatur suhu digital. Yang ada hanyalah sebuah tungku batu hitam yang disusun dari tumpukan tanah liat dan batu kali yang tampak hangus berjelaga di sudut ruangan, dengan tumpukan ranting dan kayu bakar kering berserakan di sampingnya.
Di atas tungku itu, bertengger sebuah periuk tanah liat tua yang permukaannya sudah menghitam karena jelaga bertahun-tahun.
Wanru mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lalu melangkah mendekat. Ia membungkuk, dan mengamati bagian bawah tungku tersebut dengan tatapan menyelidik, seolah mencari-cari kabel listrik atau lubang gas tersembunyi.
"Hmm... sistem pembakarannya konvensional, menggunakan bahan bakar biomassa padat," gumam Wanru pelan kebiasaannya sebagai peneliti terbawa. "Tapi... bagaimana cara menyalakannya? Apakah di sini ada lighter gas, atau kita harus menggosokkan batu secara manual seperti manusia purba?"
Melihat putri sulungnya berdiri mematung di depan tungku dengan kening berkerut dalam, memandang tumpukan kayu bakar seolah-olah benda itu adalah artefak alien yang berbahaya, Nyonya Lin tersenyum getir di sela sisa air matanya.
Ibu Lin mengira jika Wanru kebingungan karena terlalu lemas dan kelaparan hingga kehilangan akal sehat.
Nyonya Lin pun berjalan mendekat, lalu dengan lembut menepuk pundak kurus putrinya.
"Biar Ibu yang urus, Nak," ucap Nyonya Lin dengan suara parau namun penuh kasih sayang, seraya mengambil alih kelinci buruan dari atas meja. "Biar Ibu sembelih dulu kelincinya dan Ibu akan buatkan masakan yang enak buat kalian malam ini. Tubuhmu masih panas dan gemetar. Nak... Kamu istirahat saja dulu di ranjang," bujuk ibunya sambil mengusap kepala Wanru dengan tangan kasarnya.
Wanru yang jiwanya masih penasaran dengan bagaimana cara kerja peradaban kuno ini mengolah makanan, langsung menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Ibu. Aku ingin melihat... ralat, aku ingin belajar bagaimana cara memasak di sini," kilahnya, enggan mengaku bahwa ia sama sekali tidak tahu cara menyalakan api tanpa korek api gas.
Sebelum Nyonya Lin sempat mulai menyiapkan pisau dapur yang sudah berkarat, Lin Bao mendekat dengan mata berbinar-binar menatap kelinci di tangan ibunya. Perut anak itu berbunyi krrr-grukk cukup keras, hingga membuat suasana tegang tadi mendadak cair.
Lin Bao menatap kelinci itu, lalu mendongak menatap kakaknya dengan kagum.
"Kakak hebat sekali!" seru Lin Bao dengan suara kekanak-kanakan yang polos. "Bagaimana cara Kakak menangkap kelinci ini di hutan? Apakah kelinci itu kebetulan pingsan karena melihat wajah Kakak yang terlalu galak?"
Mendengar itu, Wanru hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap adiknya dengan tatapan datar. "Bocah nakal, kalau bicara jangan sembarangan. Kakakmu ini menangkapnya menggunakan strategi perang tingkat tinggi, bukan karena wajah."
Lin Bao mengerjap-ngerjap, lalu mendekati kelinci yang tergantung lemas dan mencolek telinganya dengan jari telunjuknya. "Wah, bulunya lembut sekali... Tapi Kak, kalau dia bisa bicara, dia pasti akan protes. 'Hei manusia, aku kan cuma jalan-jalan pagi cari rumput, kenapa aku malah dijadikan menu makan malam?'" ucap Lin Bao sambil menirukan suara kelinci melengking, hingga membuat Nyonya Lin yang tadinya bersedih langsung terkekeh pelan.
"Sudah, jangan banyak tingkah, Bao-er. Cepat ambilkan air bersih dari kendi di sudut sana untuk mencuci panci," perintah Nyonya Lin sambil tersenyum kecil, seraya mencubit hidung anaknya dengan gemas.
Dengan gerakan terlatih seorang wanita desa yang terbiasa hidup susah, Nyonya Lin mulai menyembelih kelinci tersebut dengan cepat dan higienis seadanya, kemudian menampung darahnya di mangkuk kecil. Setelah itu, tibalah pada tahap pencucian.
Lin Wanru memperhatikan setiap detail prosesnya dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. Di era modern, daging ayam atau kelinci yang ia beli sudah bersih, dikemas rapi dalam plastik steril di supermarket hypermarket. Di sini? Semuanya manual.
"Bao-er, airnya kurang!" teriak Nyonya Lin saat mencuci jeroan kelinci di dalam baskom kayu yang agak bocor.
Lin Bao bergegas membawa gayung batok kelapa berisi air sumur. Namun karena terlalu bersemangat dan kakinya tersandung batu lantai, akhirnya byur! Sebagian besar air justru tumpah mengenai celana pendek Lin Bao sendiri.
"Aduh! Celanaku basah!" pekik Lin Bao kaget sambil melompat-lompat dengan satu kaki, hingga membuat Nyonya Lin menggelengkan kepala sementara Wanru menutup mulutnya menahan tawa.
Kekacauan kecil di dapur reyot itu seketika menghapus aroma keputusasaan yang sempat menyelimuti rumah mereka sejak kemarin.
"Lucu sekali tingkah anak ini."
Setelah daging kelinci dipotong-potong kasar dan dibumbui dengan sedikit garam kasar serta bawang hutan seadanya, tibalah pada babak paling klimaks dan paling mengerikan bagi sang mantan CEO modern, yaitu Memasak dengan Kayu Bakar.
Nyonya Lin menyerahkan sepotong batu api dan sehelai serabut kelapa kering kepada Wanru.
"Wan-er, coba bantu Ibu menyalakan api di tungku. Ibu harus meracik bumbunya dulu," kata Nyonya Lin sambil menyerahkan batu api tersebut.
Wanru menatap batu hitam kecil dan sehelai sabut kelapa di tangannya, lalu menatap tungku batu yang gelap gulita. Di dalam hatinya, ia merasa ini adalah ujian logika fisika yang paling konyol sepanjang sejarah peradaban manusia.
"Baiklah. Gesekan mekanis menghasilkan panas, panas memicu percikan api, percikan api membakar serat selulosa kering. Konsep dasarnya termodinamika sederhana," batin Wanru menenangkan diri.
Ia lalu mengambil posisi jongkok di depan mulut tungku yang berlubang hitam. Dengan penuh konsentrasi, ia memegang dua buah batu api, lalu mulai membenturkan keduanya di atas serabut kelapa kering.
Trik! Trik! Traktak!
Percikan api kecil sempat muncul sekali, namun langsung padam tertiup angin kecil dari celah dinding gubuk.
Wanru mencoba lagi, kali ini dengan tenaga lebih kuat. Trik! Trik!
Namun, bukannya api yang menyala, jari telunjuknya justru tidak sengaja terbentur batu dengan keras. "Aduh!" desis Wanru kesakitan, lalu meniup-niup jarinya yang langsung memerah.
Lin Bao yang melihat kakaknya kesulitan langsung mendekat sambil membawa kipas dari anyaman bambu usang. Dengan gaya menggurui selayaknya orang dewasa, bocah itu berkata, "Kak, bukan begitu caranya. Ibu bilang kalau menyalakan api itu harus pakai perasaan, bukan pakai emosi. Kalau Kakak marah-marah, batunya jadi takut menyala!"
Wanru mendelik tajam ke arah adiknya. "Bocah tengil, kalau kau pintar, coba sini selesaikan!" tantang Wanru, seraya memberikan batu api itu kepada adiknya.
Dengan bangga, Lin Bao mengambil alih. Ia duduk bersila, lalu menggesekkan batu api tersebut tiga kali dengan gaya dramatis, dan ajaibnya, sabut kelapa itu benar-benar mengeluarkan bara kecil!
"Yey! Menyala!" teriak Lin Bao girang, lalu meniup-niup bara tersebut hingga asap abu-abu tebal langsung mengepul keluar dari mulut tungku.
Saking semangatnya melihat api menyala, Lin Bao langsung memasukkan sepotong kayu bakar basah ke dalam tungku.
Akibatnya? Fatal.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Bukannya api yang berkobar, tungku itu justru menyemburkan kepulan asap hitam pekat yang mengepul memenuhi seluruh ruangan dapur yang sempit. Dalam hitungan detik, gubuk reyot itu tampak seperti rumah yang sedang mengalami kebakaran hebat.
"Bao-er! Kenapa kau masukkan kayu basah, hah?!" seru Nyonya Lin panik sambil melambaikan tangannya mengusir asap, sementara matanya berair karena perih.
"Aku... aku hanya ingin apinya cepat besar, Ibu!" jawab Lin Bao sambil terbatuk-batuk, wajah kecilnya kini sudah tercoreng oleh noda jelaga hitam legam, dan membuatnya tampak seperti anak kucing comel yang baru keluar dari cerobong asap.
Lin Wanru yang duduk paling dekat dengan tungku langsung terkena terjangan asap paling telak. Ia batuk-batuk hebat, air matanya bercucuran, dan rambutnya yang dikuncir berantakan kini berbau asap kayu bakar.
Bagi Wanru, ini adalah cara memasak paling aneh, paling tidak higienis, dan paling menyiksa yang pernah ia alami seumur hidupnya.
Di era modern, ia tidak pernah mencium bau asap kayu bakar kecuali saat sedang barbeque mewah di halaman vila pribadi. Sekarang, ia harus jongkok di lantai tanah berdebu, dan menangis karena asap dapur, demi memasak seekor kelinci liar.
Namun, di tengah kepulan asap hitam dan suara batuk mereka bertiga, sebuah senyuman kecil terukir di bibir Wanru.
Ia menatap ibu dan adiknya yang tertawa di tengah kepedihan asap. Suasana hangat ini, yang tidak pernah ia rasakan semasa hidupnya sebagai CEO kaya raya yang selalu sendiri di penthouse megah, ternyata memiliki nilai yang jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan modern yang ia tinggalkan.
"Awas, biarkan aku yang memegang kendali," ucap Wanru dengan suara serak karena asap. Ia mengambil alih kipas bambu dari tangan adiknya. Dengan perhitungan aliran udara dan prinsip aerodinamika sederhana yang dikuasainya, ia mengatur posisi kayu bakar kering dan meniupkan udara secara teratur.
Dalam beberapa menit, asap hitam itu mereda, berganti dengan nyala api merah yang stabil dan hangat. Periuk tanah liat di atasnya pun mulai mendidih, dan mengeluarkan aroma gurih daging kelinci bercampur bawang hutan yang mengundang air liur.
"Aku penasaran, bagaimana rasanya daging kelinci itu jika di masaknya dengan cara begini," batin Lin Wan.
Bersambung...