NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rombak

Siang bolong itu, matahari Jakarta sedang terik-teriknya. Di dalam mobil sport-nya, Devan terus menggerutu sepanjang jalan dari kantor pusat menuju mansion. Ada berkas penting tentang proyek perluasan lahan yang tertinggal di laci meja kamarnya, dan ia harus segera mengambilnya sebelum rapat internal divisi keuangan dimulai dua jam lagi.

"Sialan, gara-gara kepikiran tingkah si Cesa semalam, gue sampai teledor begini," gumam Devan sambil memukul setir mobilnya dengan gemas. Urat di pelipisnya terasa berdenyut-denyut. Tensi darahnya belakangan ini rasanya selalu berada di ambang batas normal akibat kelakuan istri dadakannya yang barbar nya kelewat batas itu.

Begitu mobil sportnya memasuki gerbang utama mansion Mahardika yang megah, dahi Devan langsung berkerut dalam. Ada dua truk boks besar berlogo toko furnitur premium terparkir di halaman depan. Belasan pelayan dan pekerja luar tampak sibuk menggotong berbagai macam barang masuk ke dalam rumah.

"Mereka lagi ngapain?" bisik Devan dengan perasaan yang mendadak tidak enak.

Devan langsung turun dari mobil, membanting pintunya dengan keras, lalu melangkah lebar-lebar memasuki lobi utama mansion. Baru dua langkah melewati pintu jati raksasa itu, langkah kaki Devan mendadak terkunci di lantai marmer. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka, dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Darah Devan langsung berdesir naik ke kepala. Demam darah tinggi instan menyerangnya saat itu juga.

Lobi utama mansion yang dulunya bertema *classic European* yang elegan, maskulin, dan didominasi warna cokelat kayu serta emas tua yang berkelas, kini telah berubah total menjadi arena sirkus modern yang luar biasa mencolok. Karpet bulu domba import berwarna putih gading milik kakeknya sudah digulung dan digantikan oleh karpet bulu tebal berwarna merah muda neon yang sangat kontras dengan lantai marmer.

"Geser kanan dikit! Ya, di situ! Biar kalau suami gue pulang, dia langsung silau melihat kemewahan visual ini!" teriak sebuah suara cempreng yang sangat familiar dari arah tangga.

Devan mendongak perlahan, tangannya mencengkeram erat map kosong yang ia bawa. Di atas tangga marmer, berdiri Alice Sabrina Catrine—alias Cesa. Si istri sultan barbar itu sedang memakai jubah tidur warna hitam di padukan dengan baju tidur tipis satin berwarna putih, dipadukan dengan kacamata hitam berbentuk hati, dan tangan kanannya memegang sebuah corong pengeras suara portabel alias toa masjid mini berwarna pink.

"CESAAAAA!!!" teriak Devan dengan volume suara yang menggelegar, sanggup membuat lampu kristal di langit-langit bergetar pelan. Semua pekerja dan pelayan di dalam ruangan langsung menghentikan aktivitas mereka secara refleks, menunduk ketakutan melihat wajah sang tuan muda yang sudah memerah padam seperti kepiting rebus.

Cesa yang diteriaki malah menurunkan kacamata hatinya ke ujung hidung. Bukannya takut, ia justru tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan santai ke arah Devan. "Eh, ada Pak Direktur Jengkol! Kok udah pulang? Kangen ya sama wajah cantik istri lo yang paripurna ini?" ucap Cesa tanpa dosa, suaranya menggema karena menggunakan toa.

Devan melangkah lebar-lebar menaiki tangga, merebut toa dari tangan Cesa dengan kasar, lalu menunjuk ke sekeliling lobi dengan jari yang gemetaran karena menahan emosi tingkat dewa. "Lo... lo apain rumah bokap gue, hah?! Kenapa karpetnya jadi warna pink stabilo begini?! Terus itu... itu patung singa marmer peninggalan kakek gue kenapa dipasangin pita pink di lehernya?! Lo kira itu kucing anggora?!"

Cesa mendengus remeh, merebut kembali toanya dari tangan Devan dengan bar-bar. "Heh, Devan kampret! Jangan merusak estetika desain interior gue, ya! Ini namanya tema *'Barbie Sultan Reborn'*. Rumah lo ini dulunya suram banget tahu gak, kayak rumah hantu di pasar malam. Makanya, sebagai nyonya muda yang berbakti dan visioner, gue berinisiatif merombak estetikanya biar ada unsur keceriaan finansial!"

"Keceriaan finansial matamu!" bentak Devan, napasnya memburu. "Gue cuma ditinggal kerja beberapa jam, dan lo udah ngacak-ngacak mansion ini! Lo tahu gak patung-patung dan lukisan di sini harganya miliaran?!"

"Tahu kok, makanya gue gak buang. Cuma gue kasih aksesoris biar makin modis," jawab Cesa santai. Ia kemudian mengarahkan toanya ke bawah, ke arah para pekerja. "Ayo para pekerjaku yang tampan dan perkasa! Gotong itu sofa kulit warna kuning kunyit desainer Paris yang baru datang! Letakkan di tengah-tengah! Biar serasi sama dress kantor gue kemarin!"

Devan melihat ke arah pintu dan benar saja, sebuah sofa berdesain abstrak dengan warna kuning terang benderang sedang digotong masuk. Devan memegangi dadanya, merasa kepalanya mendadak pening luar biasa. Demam darah tingginya benar-benar sudah mencapai stadium akhir.

"Cesa... stop. Hentikan semuanya sekarang juga atau gue—"

"Atau apa? Mau telepon Papa Kenan?" potong Cesa cepat dengan senyum licik andalannya. Ia menopang dagunya di atas pegangan tangga, menatap Devan dengan tatapan menantang yang sangat menyebalkan. "Telepon aja silakan. Kemarin kan Papa Kenan dan Kakek udah bilang sendiri di depan muka lo yang kusut itu, kalau fasilitas belanja bulanan gue dilipatgandakan dan lo harus nurutin semua kata-kata gue. Ini semua dibayar pakai kartu hitam tambahan yang dikasih Kakek tadi pagi, tahu! Jadi secara hukum keluarga, perombakan mansion ini sah dan direstui oleh pemegang saham tertinggi keluarga Alister!"

Devan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu ia kalah telak lagi. Melawan Cesa di rumah ini sama saja dengan memancing kemarahan Papa Kenan dan Kakek yang sudah sepenuhnya terhipnotis oleh bualan jengkol cewek barbar ini,tingkah cesa benae benar buat dia pusing

Tiap hari ada saja ide gila cewek bar bar ini yang bisa buat devan darah tinggi tiap saat tiap detik tiap jam.

"Lo... bener-bener titisan makelar licik," desis Devan dengan keras

"Terima kasih atas pujiannya, suamiku sayang," balas Cesa dengan kedipan mata centil. Ia kemudian menepuk pundak jas Devan dengan bar-bar menggunakan ujung toanya. "Sudah sana, ambil berkas lo yang ketinggalan terus balik ke kantor kerja cari duit yang banyak. Biar bisa mendanai ide-ide kreatif istri lo selanjutnya. Dadah, suami panda emosian!"

Devan tidak menjawab. Ia membalikkan badannya dengan hentakan kaki kasar, berjalan menuju kamarnya untuk menyambar berkas yang tertinggal dengan hati yang dongkol setengah mati. Pagi di kantor penuh tekanan, siang di rumah kena serangan darah tinggi. Devan benar-benar menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah tenang lagi selama Alice Sabrina Catrine masih menyandang status sebagai istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!