Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA BELAS
[Diterima transfer masuk dari Kaellan Zain Alfatih sebesar Rp20.000.000,00]
Raut wajah Sandi yang tadinya tegang seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum lebar mengembang di bibirnya.
"Ahhh, Zain! Aku benar-benar cinta padamu!" seru Sandi heboh, memeluk tas medisnya erat-erat.
"Aku masih normal!" sahut Zain datar dan dingin, memalingkan wajahnya. "Sebaiknya kamu mencari pria lain."
"Emang dasar sinting!" Sandi terkekeh geli. Uang transferan serba mendadak dari sahabatnya itu setara dengan total gajinya selama dua bulan penuh bertugas di rumah sakit.
Sandi merapikan peralatan medisnya, lalu berjalan mendekati Zain. Pria itu menepuk bahu tegap sahabatnya dengan raut wajah yang mendadak berubah hangat namun penuh penekanan.
"Kaellan Zain Alfatih... kamu itu benar-benar manusia gedebok pisang," bisik Sandi pelan namun menusuk. "Hidupmu yang kaku, dingin, dan keras seperti batu itu harus segera diubah. Perbaiki sikapmu pada Amara."
Zain tidak membalas, hanya tatapan matanya yang sedikit bergetar.
"Aku benar-benar salut padanya," lanjut Sandi menghela napas panjang. "Amara sudah membuang masa mudanya selama empat tahun berturut-turut, terjebak hidup bersama batang kayu bernapas sepertimu. Kasihan dia, Zain... Nasib yang dia tanggung itu rasanya lebih berat daripada beban ibu-ibu yang punya anak lima. Setidaknya ibu-ibu itu masih lebih beruntung karena punya suami yang mau menunjukkan perhatian. Berjuang sendirian dalam pernikahan itu sangat melunaskan dan melelahkan, Zain."
Zain menyipitkan matanya, mengibaskan tangan Sandi dari bahunya. "Urusi saja hidupmu sendiri! Mau jadi perjaka tua, huh? Tahun depan usiamu sudah genap empat puluh tahun!"
Sandi tertawa lepas, mengangkat tangannya membentuk tanda hormat. "Siap, Profesor Zain! Kamu ini selalu saja mengungkit masalah usia!"
"Berisik," desis Zain balik. "Jika tugasmu sudah selesai, cepat pergi dari rumahku. Amara butuh banyak istirahat."
"Ya, ya! Untung saja hari ini kamu membayarku sangat mahal!" Sandi melangkah menuju pintu kamar, lalu berbalik sejenak dengan raut wajah amat serius. "Ingat pesanku baik-baik, Zain. Jangan sampai kamu menyesal saat dia benar-benar lelah dan memilih pergi."
Sandi akhirnya menghilang di balik pintu, meninggalkan keheningan yang kembali mencengkeram kamar utama itu.
Begitu kepergian Sandi menyisakan sepi, dada Zain mendadak dipenuhi gelombang amarah yang dingin dan gelap.
Pria itu teringat kembali pada setiap detail kejadian semalam. Kondisi Amara di belakang panggung tadi malam sangat tidak wajar. Kesadaran gadis itu hilang dan bertingkah seperti orang mabuk, tubuhnya membakar oleh gairah liar yang tak terkendali, padahal Zain tahu pasti, dalam acara pesta perpisahan kampus semalam, tidak ada satu pun sajian minuman beralkohol yang disediakan secara bebas.
Seseorang telah memberikan sesuatu pada Amara. Seseorang telah sengaja menjebak istrinya.
Napas Zain memburu, rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di pipinya menegang. Rasa amarah yang amat pekat menjalar di dalam dadanya. Pria itu ingin membunuh siapa pun yang berani menyentuh dan merusak Amara.
Zain merogoh ponsel di sakunya, memanggil sebuah nomor kontak dengan label nama 'Jaya'.
"Jaya," panggil Zain begitu sambungan diangkat di seberang sana. Suaranya terdengar begitu dingin dan mencekam.
"Ya, Profesor Zain. Ada perintah?" sahut suara tegap di seberang telepon.
"Periksa seluruh rekaman CCTV di gedung aula utama kampus untuk acara semalam," perintah Zain tanpa basa-basi. "Cari tahu secara detail apa saja yang dilakukan Amara, dengan siapa dia berbicara, dan siapa bajingan yang telah menjebaknya."
Zain menghentikan kalimatnya sejenak, matanya berkilat membahayakan. "Jika kamu sudah menemukan pelakunya... culik orang itu secara diam-diam. Bawa ke tempat tersembunyi kita."
"Baik, Profesor. Setelah diculik, apa yang harus kami lakukan pada orang itu?"
"Jangan lakukan apa pun terlebih dahulu," desis Zain penuh intimidasi. "Tunggu sampai saya sendiri yang datang ke sana."
"Dimengerti, Profesor."
Sambungan telepon diputus. Zain memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Pria itu membalikkan badan, melangkah perlahan mendekati kasur tempat Amara terbaring lelah dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.
Zain berlutut di tepi tempat tidur, menatap dalam-dalam wajah pucat Amara yang kini tertidur lelap akibat pengaruh obat. Jemari Zain terangkat, membelai lembut helai rambut basah yang menempel di dahi istrinya. Pria itu menundukkan kepalanya perlahan, mendekatkan wajahnya ke bibir tipis Amara yang teratup, berniat mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana.
Namun, hanya berjarak satu senti dari bibir Amara, Zain mendadak menghentikan gerakannya. Pria itu memejamkan mata erat-erat, mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu menarik tubuhnya mundur.
’Jangan sekarang, Zain... Jangan biarkan dirimu menjadi bajingan yang memanfaatkan kerapuhannya lagi,’ bisik Zain pada dirinya sendiri dalam hati.
Pria itu membetulkan letak selimut Amara hingga menutupi dada gadis itu dengan sempurna. Zain berdiri tegap, menatap wajah istrinya untuk terakhir kali sebelum berbalik melangkah keluar kamar.
Ia harus bergegas kembali ke penginapan sederhana tadi untuk membereskan barang-barang milik mereka yang tertinggal, melunasi seluruh pembayaran kamar, dan menghapus setiap jejak yang bisa membahayakan nama baik Amara.
Namun, tepat saat langkah kaki Zain mulai menjauh dan menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat, mata Amara yang tadinya terpejam rapat perlahan-lahan terbuka sedikit.
Di balik kesadarannya yang masih setengah terkumpul, di tengah rasa pusing dan dingin yang menyiksa fisiknya, sebuah gema suara yang sangat jernih dan sarat akan penderitaan mendadak bergetar kembali di dalam kedalaman benak Amara. Suara yang berasal dari jiwa pria yang baru saja melangkah pergi.
’Tunggu aku kembali, Mara... Demi Tuhan, aku akan menghancurkan siapa pun yang telah membuatmu menderita seperti ini, meski aku harus mengotorinya dengan tanganku sendiri...’
Amara membelalakkan matanya yang layu, jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dada. Suara batin Zain... suara itu bergema lagi secara nyata, tepat di dalam kepalanya.
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣