Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 12
Hansen sejak tadi terus memperhatikan perdebatan mereka, sampai merasa jengkel dengan Ares yang tidak bisa menangani pekerjaan nya.
"Ares!"
Mereka langsung mendongak bersama ke asal suara.
"Hanya seorang gadis yang bahkan tidak punya tenaga untuk melawan, kamu tidak bisa mengatasi nya!" ejek nya dari lantai atas.
Ana merasa suara yang ia dengar terasa mirip dengan Hansen. Ia menatap lekat sosok pria itu yang semakin mirip dengan siluet tubuh Hansen.
ia tidak percaya dengan tebakan nya. tiba-tiba hati nya terasa sangat sakit. Ia ingin memastikan bahwa pria di hadapan nya itu bukan lah Hansen.
"Paksa dia tanda tangan!" Tegas Hansen, suara nya memecah lamunan Ana.
Ana tersadar saat ini situasi nya sedang kesulitan.
Ares langsung meminta kedua anak buah nya untuk mengatasi Ana, setelah mendapat perintah dari Hansen.
Ana tertegun panik, saat kedua pria besar itu berjalan mendekat. Ia tau dia tidak akan bisa melawan mereka yang bertubuh besar.
"BERHENTI!" teriak nya. Panik.
"Beri aku alasan yang jelas, aku akan menanda tangani kertas itu, jika semua nya jelas!" Ucap nya, mengulur waktu. Mencari cara untuk kabur.
Mendengar permintaan Ana. Ia setuju dengan mudah
Hansen mengisyaratkan Ares untuk menjelaskan soal jantung yang di miliki Ana saat ini.
.
.
Ana terpaku kaget saat mendengar semua yang di katakan Ares. Ia tidak pernah tau soal pendonor jantung yang ia miliki sekarang. Bahkan kedua orang tua nya pun tidak pernah mengatakan Apapun soal pendonor yang memberikan jantung nya.
Ana tergolek lemas di lantai. "Apa dunia mempermainkan aku!" Gumam nya, putus asa.
Ares melangkah pelan lalu berlutut di depan Ana, menyerahkan kertas dan pulpen untuk di tanda tangani.
Ana menatap pucat selembar kertas di hadapan nya, ia tau orang-orang itu tidak akan melepaskan nya begitu saja.
ia meraih pulpen bersiap untuk tanda tangan. Namun ia berubah pikiran, tangan nya terhenti. Ia merobek kertas itu menjadi beberpa bagian lalu melempar nya pada Ares.
"Ini bukan salah ku!" Tegas nya. Bangkit.
Ares menoleh pada Hansen yang berwajah datar. Ia tau apa yang harus di lakukan.
ia mengambil selembar kertas yang sama lalu di berikan pada Ana.
Namun Ana kembali merobek kertas itu lalu membuang nya lagi. Seakan menantang.
Hansen mengerutkan dahi, wajah nya tidak senang melihat sikap Ana. "Berikan semua kertas perjanjian itu pada nya!" menatap dingin "Sampai kapan dia akan menghancurkan nya!"
Ares kembali mengambil setumpuk surat perjanjian lalu di letakan di depan Ana yang tertegun jengkel.
Ana semakin menantang dan merobek tanpa henti hingga surat perjanjian yang menumpuk itu habis tak tersisa.
Ares sampai menepuk kening melihat Sikap keras kepala Ana yang menantang Hansen.
ia melirik pada Hansen yang sudah di liputi awan hitam di sekitar nya.
Hansen menatap tajam pada Ana "Kurung dia di dalam gudang, berikan dia kesempatan untuk hidup satu Hari!" tegas nya. Kejam.
kedua anak buah nya langsung membawa Ana ke gudang bawah tanah.. Ia memberontak saat di bawa.
Ana di dorong masuk kedalam gudang yang hanya di terangi bohlam kuning serta ruangan berdebu. Ia meringkuk takut. Yang ia takut
bukan gelap, tetapi takut jika ada serangga kecil seperti kecoa dan tikus.
Ia menggedor pintu beberpa kali agar di keluarkan. namun. semua sia-sia. Tidak ada yang mendengar suara nya yang Bahakan tidak terdengar dari luar.
Ana menangis tersedu-sedu melihat nasib nya yang sangat malang. mereka bahkan mengambil ponsel nya.
Ana terduduk bingung menatap setiap ruangan yang hanya tembok usang dan jendela kaca kecil yang Bahakan tidak cukup untuk di lewati orang dewasa.
Ia tidak mau pasrah begitu saja menunggu mati, ia sudah berjanji kepada kedua orang tua nya akan hidup dengan baik.
selama setengah hari Ana memikirkan cara agar bisa kabur dari Gudang itu hingga akhirnya ia mendapat ide.
.
.
Bersambung..